Jenaka Vawa, di atas kasur di dalam kamar kosnya dia berbaring menatap langit-langit putih kamar kos dengan kualitas premium, kasur latex putih, AC 2pk, LCD TV. Kos-kosan ini juga dilengkapi fasilitas laundry, catering bahkan cleaning service. “Kalau udah nggak mau lanjut, ya buruan cabut, banyak yang mau masuk sini.” Hanya saja masih menggunakan sistem pembayaran manual, yang menggunakan Ibu Kos sebagai tukang tagih sebagaimana kos-kosan biasa lainnya. Jenaka tidak ingin menyia-nyiakan malam terakhir sisa hidup nyamannya ini, meski sedang berpikir keras di mana dia akan membawa koper dan kotak yang berisi barang-barangnya yang sudah selesai dia pack. Belum lagi besok dia harus menemui dosen pembimbing itu. “Masa gue bawa sih barang-barang ini?” Jenaka mencoba menghubungi Pipin, sala

