“Jangan terbiasa mencampurkan urusan pekerjaan dengan masalah pribadi, memang kamu pikir siapa yang mau bayar kuliah kamu kalau kamu mengundurkan diri?” Rangga mendekatkan diri ke arah Jenaka dan bicara pelan agar Razqa tidak terlalu mendengar obrolan mereka. Kemudian Rangga kembali ke posisinya dan berbicara normal seperti biasa. “Ekhem, saya udah dengar cerita kamu dari Mama,” ucap Rangga. Jenaka terpaku menunggu kalimat selanjutnya. “Untuk jasa dan kerja keras kamu selama menjadi tutor Razqa, secara professional saya ucapkan terima kasih.” Razqa mengangguk dan tersenyum mendengar pidato ayahnya. “Tapi untuk masalah kemarin, saya tunggu di perpustakaan saya setelah makan malam nanti.” Rangga melanjutkan makannya. “ “Jam berapa, Pak?” Jenaka tidak ingin terjebak tanpa petunjuk w

