12. BIARKAN KAMI BERJUANG SENDIRI SENDIRI

1688 Kata
Begitu mengetahui istrinya sudah melahirkan, Dimas berniat membesuknya. Namun Dimas ragu ragu datang sendiri. Dia tak berani berhadapan dengan mertuanya yang cerewet itu. “Mbak Yu, temanilah aku menemui mertua dan istriku. Aku dengar Kinan sudah melahirkan, bayinya lelaki?” Ujar Dimas saat sedang bertandang kerumah mbakyunya, meminta bantuannya agar ditemani menemui istri dan mertuanya. “Lah kau ini Dimas, dari dulu selalu minta ditemani, pergilah sendiri, itukan anak dan istrimu,”tolak sang kakak ipar. “Ah mas ini, seperti tak paham saja. Kalah besar mulutku ini dengan mertuaku. Kalau mbakyu Erma kan.. em.., hehe,”Dimas menggarut kepalanya yang tak gatal itu. “Em apa? Pake cengengesan lagi,”sindir mbaknyu Erma. “hahahaha, kau takut ya? Iya ya, kau temanilah adik bungsu tersayangmu ini Erma. Tapi jangan kau harap aku juga mau menemani ya. Kalian sajalah sana,”tolak Mas Danu lagi, lalu meninggalkan dua kakak beradik itu diruang depan. “Kau dengar sendiri kan? Mana mau masmu itu menemani,”ujar Ermalia pada adiknya setelah suaminya berlalu masuk kamar. “Ya mbakyu saja yang menemani aku. Ndak usah ajak Mas Danu kalau gitu. Aku juga sudah tahu, mana mau mas Danu menemani. Tapi kalau Mbakyu, ya mana mungkin menolak, ya kan mbak?”ujar Dimas cengengesan. Dimas memang selalu bersikap manis bahkan terlihat manja kala didekat Erma, saudarinya yang tersisa. Dua abangnya serta ayah dan ibu mereka sudah lama tiada. “Huh kau ini. Ya sudah. Kapan kau mau kesana?”tanya Ermalia mengalah. “Em malam ini saja. Gimana mbak?”tanya Dimas. “ya sudah. Selepas magrib kita kesana ya. Sekalian, bawakan juga baju sekolah untuk Putri dan Nisa. Bukankah tahun ini mereka akan masuk SD? Kau ambillah kredit baju dengan istri si Abu, tetangga kita itu. Urusan bayar membayar urusan gampang. Masmu juga masih kakaknya Abu. Bisa tempo lama kredit baju sekolah anakmu itu. Ambillah, seragam putih merah serta juga seragam pramukanya sekalian, ambil masing masing satu. Kalau tidak salah ada juga pakaian bayi dan balita. Memang punya su Nisa kemarin masih, tapi belikanlah beberapa yang baru buat bayi lelakinu juga,,”perintah sang kakak kepada adiknya. “Iya mbakyu. Baiklah,”ujar Dimas menurut. Malam harinya, “Kau bawa apa saja Dimas? Banyak betul kantong yang kau bawa?”goda Danu. “Ah mas ini. Biasalah, ini baju anak anak. Baju sekolah mereka. Mereka berduakan mau masuk SD tahun ini. Kalau ini, peralatan bayi mas,”beber Dimas menunjukkan pada kakak iparnya itu barang apa saja yang dibawanya. “Wah wah, habis gajian nampaknya kau ya? Em, tak kau bawakan makanan apa untuk anak anakmu itu? Mereka pasti senang, nah belikanlah dulu mereka berdua cemilan. Apalagi yang manis manis, mereka berdua pasti suka,”perintah Danu menyerahkan beberapa lembar uang pada Dimas. “iya mas, makasih,”ujar Dimas lalu pergi ke warung terdekat. Setelah semua barang siap, Dimas dan ErnaLia pun berangkat menuju rumah kontrakan sang ibu mertua Dimas. “Assalamualaikum,”ucap Ermalia dan Dimas. “Loh mbakyu Ermaliia, wa.. waalaikumsalam, masuk mbak, mas,”jawab Kinan yang nampak melamun dikursi depan sambil menyusui bayinya. Kinan tergopoh masuk kedalam dan menaruh bayinya begitu melihat suami dan kakka iparnya datang. Dimas sedikit kecewa karena bayi yang ingin ditengoknya malah dibawa Kinan masuk kekamar. Mbakyu Lia juga ingin mencegah Kinan membawa bayi itu masuk, tapi diurungkannya, begitu melihat ibu Kinan baru kembali dan membawa kantong belanjaan. “Kenapa bu?”tanya Putri yang melihat ibunya tiba tiba masuk kekamar dengan menggendong adik lelakinya. “Ah nggak apa Put, kamu tidur aja gih,”perintah sang ibu. “masih sore atuh bu,”jawab Putri bandel. “ya sudah temani dulu adimu,”ujar sang ibu lalu keluar kamar. Kamar Kinan berada di ruang tengah tapi, antara ruang tengah dan ruang tamu menyatu. Jika mengintip dari tirai kamar Kinan, maka akan terlihat siapa yang datang. “Wah, ibu malah sudah disana,”batin Kinan melihat ibunya baru saja pulang dari warung dan terkejut melihat siapa tamu yang datang. “Bu, apa kabar?”sapa Dimas ramah sambil mencium punggung tangan mertuanya. Bukannya menjawab, nenek Putri malah langsung masuk ke dalam menuju dapur. Melihat ibunya masuk, Kinan buru buru menemui tamunya. “Maaf mbak, ada apa malam malam kemari?”tanya Kinan pada tamunya. “Ya mau menengok kamulah Kinan. Mana bayi kita? Aku ingin melihatnya, mengapa kau bawa masuk ke kamar lagi? Kau pulanglah kerumah. Heri merindukanmu. Aku juga. Bawa anak anak pulang besok. Aka akan bicara dengan ibu. Em,”bujuk Dimas lembut. Kinan hanya diam dan menunduk. Tak menjawab kalimat suaminya. “Iya ini juga, baju untuk Putri dan Zahra, bukankah mereka sebentar lagi akan masuk SD?”Tanya Erma menyerahkan bawaannya. Kinan masih diam tak menyahut. Tak juga menerima kantong kantong bawaan Dimas dan Ermalia. “Putri sama Zahra mana? Ada beberapa cemilan untuk mereka,”ujar Dimas lagi. Kinan hanya diam dan diam saja. Sementara Putri mengintip dan menguping pembicaraan ayah dan ibunya diluar. “Ngapain kamu disana? Ayo masuk dan tidur,”perintah sang nenek melihat Putri mengintip ke ruang tamu. Putri terkejut melihat neneknya lalu masuk kamar kembali. Sementara sang nenek menemui tamunya. Dilihatnya di dekat Kinan banyak kantong belanjaan. “Tak perlu kalian datang, apalagi repot repot membawa barang barang seperti ini. Selama hamilnya Kinnan kamu kemana saja Dimas? Baru berani menampakkan batang hidung kau kemari. Hah. Cucuku juga sudah lahir dengan selamat. Lengkap tanpa kurang satu apapun. Tak usah kemari dan mengharapkan Kinan lagi,”ujar sang mertua menatap Dimas tajam. Lalu disisi Kinan yang masih saja diam. “Maafkan Dimas ya Bu. Dimaas kemarin sibuk bekerja. Maaf. Sudah lama Dimas mau kemari. Tapi nggak berani,”ujar Erma tersenyum mencoba mencirkan suasana. Namun sepertinya gagal. Kinan masih diam menunduk. Sementara mertua Dimas itu cemberut. “Tak perlu kau bela terus Lia adik bungsumu ini. Tak perlu juga kau cari muka didepanku. Kau kemari ngapain sja, saat anakku di cekik adikmu ini? Kau malah diam saja. Anak dan cucuku bisa mati ditangan Dimas andai saja Pak Rt tak datang,”ujar ibunya Kinan dipenuhi api amarah. Ermalia ingin menjawab. Tapi tangan Dimas menahannya. “Aku sudah mengurus surat cerai kau dan Kinan. Aku tak mau anakku mati sia sia oleh Dimas. Sudah diajak hidup susah dan miskin, anakku harus kau pukul pula. Setan kau,”maki Ibu Kinan penuh amarah. Ermalia ingin menjawab, namun Dimas lagi lagi menahannya. “maafkan Dimas bu. Saat itu Dimas kalap dan gelap mata. Kinan maafkan mas. Apa benar kau ingin berpisah?”tanya Dimas menatap Kinan. Mata keduanya saling beradu. Kinan ingin menjawab, tapi keburu ibunya sudah bicara. “bawa kembali barang yang kalian bawa. Jangan datang lagi kemari. Biarkan kami berjuang sendiri sendiri. Toh pula, saat Kinan bersamamu dia sudah berjuang, apa salahnya sekarang benar benar berjuang,”ujar Ibu Kinan. “Aku tak akan membawanya pulang. Barang barang itu untuk anak anakku. Aku masih mau ketemu Putri dan Zahra, juga bayiku, dimana mereka?”tanya Dimas berdiri dan ingin melangkah ke arah kamar Kinna. Putri segera keluar melihat sang ayah berdiri. Dimas memang memanggil Nisa dengan Zahra. Khoirunnisa Azzahra, Kinan suka dengan nama Nisa sedang Dimas suka dengan nama Zahra. “Ayah...”panggil Putri. Nisa ikutan keluar kamar. “Masuk kamar Kinan. Bawa Nisa dan Putri masuk!”teriak ibunya. Kinan segera menurut. Berdiri dan menggendong Putri dan menuntun Nisa. “Ibu... Putri mau ayah,”ujar Putri terisak. “stst.. nanti kita dimarah nenek. Putri tidur saja ya,”bujuk sang ibu lalu mengunci pintu kamar. Sementara diruang tamu, keadaan makin memanas. “Tak perlu kau tengok lagi anak anakmu Dimas. Bukankah, kau yang lebih dulu pergi membawa Heri lari dari rumah kontrakan kalian? Jadi, jangan lagi kau harap Putri apalagi Nisa. Mereka sudah menganggap kau tak ada,”ujar Mertua Dimas. Tangan Dimas menggepal. Kemarahannya memuncak. Kali ini, tangan Ermalia menahan Dimas dan mengajaknya duduk kembali. “Sekiranya masih ada jalan baik. Ada baiknya Dimas dan Kinan bisa rujuk bu. Kasihan anak anak jika mereka berpisah, mereka masih sangat kecil,”ujar Ermalia. “Tidak. Anak anak bukanlah sebuah alasan. Kinan apalagi aku bisa mencukupi kebutuhan mereka. Untuk apa rujuk? Toh mereka sudah berpisah berbulan bulan ini. Dimas juga tak datang. Jangankan datang, memberi nafkah lahir batin juga tidak. Apalagi kebutuhan anak anak, katanya dia bekerja. Kemana saja duitnya selama berbulan ini? . Sama saja artinya mereka sudah berpisah. Ya kan? Tinggal surat resminya saja bukan?”ujar Mertua Dimas merasa menang. “Tapi bu...” “Biarlah mbak, andai ini adalah jalan perpisahan kami. Biarlah ini terjadi. Dimas menyerah,”ujar Dimas memotong ucapan mbakyu Ermalia. Dimas lalu berdiri. “Maaf jika kedatangan kami mengganggu. Dimas dan mbak pamit bu,”ujar Dimas pamit dan hendak mencium punggung tangan sang ibu. Namun tangan ibu mertuanya menepis tangan Dimas. Membuat Dimas sangat marah. Namun berusaha menahannya. Dimas pun melangkah keluar diikuti Ermalia. Ketika akan naik ke atas motornya. Ibu mertua Dimas datang lagi. Membawa kantong kantong yang dibawanya untuk anak anak tadi. Ibu Kinan itu melempar semua kantong itu ke arah Dimas dan Ermalia. “Bawa kembali. Haram cucuku menerimanya!”ujarnya melempar ke arah kaki Ermalia. lalu membanting pintu. Darah dimas makin mendidih. Digedornya pintu rumah Kinan yang sudah terkunci, membuat suara gaduh dan tetangga keluar. “tuk tuk tuk!”Dimas mengetuk pintu rumah ibu Kinan itu kasar. “Buk buka! Kinan! Putri! Zahra!”panggil Dimas para semua anggota keluarganya itu. Ermalia menarik tangan sang adik. “Ayo kita pulang, untuk apa kau mengetuk pintu itu?lihat semuanya jadi keluar karena suara kau berisik sekali,”ujar Ermalia mengajak adiknya naik motor lagi. “Kenapa mbak bawa lagi kantong kantong itu? Tinggalkan saja mbak, atau buang sajalah,”tanya Dimas melihat mbaknya membawa lagi kantong yang sudah dilempar Ibu Kinan tadi. “Kenapa harus kita tinggalkan? Kau masih kredit bukan? Kembalikan saja besok. Biarlah, mungkin Ibu Kinan sedang kumat darah tingginya. Besok besok kau datang lagi saja, saat ibunya Kinan bekerja. Em?”ujar Ermalia membujuk adiknya. Dimas hanya mengiyakan lalu bergegas pergi dari halaman rumah ibunya Kinan itu. Membawa serta luka, kecewa sekaligus kerinduannya pada anak anak serta istrinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN