bc

The Greatest Invention

book_age18+
0
IKUTI
1K
BACA
love after marriage
friends to lovers
badboy
goodgirl
comedy
sweet
humorous
city
friends
like
intro-logo
Uraian

Cita adalah saksi hidup dari perjuangan Damar meraih cinta. Jatuh bangun, babak belur Damar berjuang agar sang pujaan mau menerima hatinya. Ketika Damar harus berjuang lagi demi restu sang ibu, Cita pun ada di garis depan untuk menjadi pendukung.

Tapi ... ada yang salah, saat semua impian hampir digenggam, sekejap saja Damar berubah dan seolah lupa dengan semua kerja kerasnya demi sang kekasih, demi restu ibunda. Gara-gara 'mimpi' Damar malah ngotot menikahi Cita, sahabatnya sedari kecil, anak tetangga yang jadi putri kesayangan di rumah Damar. 

Apakah Damar berhasil mewujudkan mimpinya? Bisakah Damar meyakinkan Cita bahwa penemuan-penemuan terhebat juga berawal dari sebuah mimpi? Sanggupkah Cita menerima pinangan Damar, seseorang yang sudah dianggapnya kakak selama ini?

chap-preview
Pratinjau gratis
Florecita Si Gadis Bunga
"Jangan dominan putih deh, Mbak, kelihatan pucet! jangan pake full mawar juga, ya, udah mainstream itu." "Kalau–" "Pokoknya nggak ada bunga kuning aja deh, saya nggak begitu suka," potong Bu Maryam cepat. Tak urung Cita jadi garuk-garuk kepala yang tak gatal. "Atau mau pakai anyelir, Bu? warnanya variatif. Dahlia juga cantik, anggrek bisa juga." Bu Maryam berfikir sejenak, keningnya mengkerut, bibirnya dilipat-lipat. "Atau saya rundingan dulu sama anak saya?" "Nah! dari tadi kek!" batin Cita. "Kalau gitu, nanti saya konfirmasi lagi deh, Mbak, coba saya rundingan sama calon mantennya maunya gimana gitu." Bu Maryam adalah customer event organizer rekanan 'Gadis Bunga', beberapa bulan lagi anak sulungnya akan menikah, dan tak sekalipun sang calon pengantin memberi kejelasan bakal seperti apa dekorasi yang di mau. Biasanya Cita hanya tahu keputusan final, tinggal menyiapkan bunga-bunga yang dibutuhkan, tanpa berurusan langsung dengan customer. "Ini klien spesial, Ta. Coba elo bantu rundingan deh biar kita sama-sama pusing." Teringat ucapan Prasetya beberapa hari lalu tak urung membuat Cita tersenyum simpul. "Boleh, Bu. Nanti Ibu bisa telpon aja untuk waktunya kapan," ucap Cita seraya menyerahkan kartu namanya. Selama 2 jam lebih Cita bersabar, mencoba memberikan berbagai alternatif pilihan untuk bunga-bunga dekorasi ruangan, pelaminan, hand bouquet, corsage, dan pernak-pernik lainnya. Tapi si customer masih juga belum bisa memberi kepastian bunga macam apa saja yang harus Cita persiapkan untuk gelaran pestanya nanti. "Oh!" Bu Maryam tertawa geli saat membaca sekilas kartu nama yang baru diterimanya. "Ah.. pasti ini," batin Cita lagi. "Mamanya suka telenovela ya, Mbak? Ini favorit saya juga ini!" "Tuh kan, bener." Cita bersungut-sungut dalam hati. Kebanyakan customer-nya akan bereaksi seperti itu. Tak urung Cita hanya bisa tersenyum malu mendengar pertanyaan tersebut. "Ya sudah, saya pamit ya, Mbak. Salam buat Mama!" Dengan senyum lebar akhirnya Bu Maryam pun pulang, mengakhiri diskusi panjang yang tetap tidak menghasilkan keputusan apapun. 'Florecita Gadis Bunga', generasi 90-an pasti banyak yang mengetahui sang tokoh utama telenovela dari Amerika Latin tersebut. Drama mengharu biru tentang seorang gadis yang mencari keluarganya ke kota, lalu bertemu dan jatuh cinta pada pria kaya. Entah bagaimana ending telenovela itu, Cita tumbuh besar di era drama korea, lebih tertarik berjam-jam melihat tayangan oppa tampan nan rupawan. Hingga detik ini tak terlintas sedikitpun untuk mencari tahu tokoh seperti apa yang menginspirasi mamanya, Gayatri Nasution. Mama Cita adalah seorang ibu muda, yang terpikat pada drama tersebut dan bertekad memberi nama calon anaknya Florecita. Tak peduli kelak anaknya berwajah standar asia, tinggi standar, body standar dan semua yang serba standar. Seolah mendapat sebuah pencerahan, Gayatri yang saat itu adalah sebuah staff di perusahaan keuangan memutuskan suatu hari nanti, beberapa tahun lagi dia akan resign dan membuka florist. Toh hobinya memang berkecimpung dengan hal-hal yang berbau bunga. "Nanti namanya Gadis Bunga, waah! pasti menyenangkan," yakinnya saat itu. Lengkap sudah, telenovela kesayangan terabadikan dalam nama dan rutinitas putrinya. Florecita, yang kini mengelola florist tersebut. Setelah lulus dan menyandang gelar Sarjana Administrasi Bisnis, Cita tak langsung mengambil alih Gadis Bunga. Berpetualang, dan mencari pengalaman adalah alasan Cita waktu itu. Selama dua tahun, dan lima macam pekerjaan sudah dijajal, akhirnya Cita menyerah. "Aku nggak cocok kerja kantoran, Ma, bosen," rengek Cita waktu itu. "Terus mau ngapain? Ambil S2?" "Nggak tau. Jadi traveller aja gimana? Asyik kayaknya." Menghela nafas Gayatri tak bisa berkata panjang lebar, Cita tumbuh menjadi gadis yang cenderung manja juga hasil dari pola didiknya sendiri. Oh! dan jangan lupakan peran keluarga Hassan, tetangga depan rumah, yang di sanalah Cita kecil kerap dititipkan saat Gayatri masih berstatus karyawan. "Mending kamu coba di Gadis Bunga deh, mama ngerintis jg buat kamu. Gimana? sambil mikirin kamu maunya kerja apa, atau usaha apa. Mau, ya?" Berawal dari 'terpaksa' itulah hingga kini setahun berselang, Cita masih betah berkubang di Gadis Bunga. Memang sedari kecil dia juga sudah terbiasa membantu merawat bunga dan taman Bu Gayatri, menemaninya hadir di pameran hortikultura, juga datang di berbagai macam course yang diikuti mamanya. Jadi sekarang ini dia tidak merasa sedang bekerja, hanya sekedar iseng-iseng berbuah cuan. Denting lonceng menandakan seseorang masuk ke dalam toko, di luar hujan masih turun sangat deras. Jam menunjukkan pukul 16.42, sebentar lagi toko akan tutup, tapi masih ada beberapa customer yang bertahan. Terdengar sapaan ramah dari Seruni, salah satu karyawan Gadis Bunga. "Selamat sore, ada yang bisa di bantu kak?" Tak ada jawaban dari si pendatang membuat cita mendongak dari tumpukan nota di hadapannya. Bibirnya menyunggingkan senyum samar melihat Pricil meringis canggung ke arah Seruni seraya menunjuk meja kerja Cita, agak jauh di belakang toko. "Run! Biarin aja, temen gue itu. Layanin yang lain aja!" "O-oh, maaf kak, silahkan!" Tersenyum malu-malu Seruni pun kembali pada customer yang tadi sempat ditinggalkan. "Anak baru, Cit? Kaget juga gue ditodong seramah itu, tumben bener," bisik Pricil saat telah mendekat. Cita terkekeh mendengarnya. "Seruni. Iya, baru berapa hari lah. Mbak Ayu kan cuti lahiran. Entah cuti entah resign sih, dia bilangnya cuti. Tapi who knows lah, sekarang kan dah jadi ibu-ibu, bisa aja ntar prioritasnya bukan lagi kerja diluar. Jadi siap-siap aja deh training orang baru." Dilihatnya Pricil menyeret kursi agar lebih merapat ke meja Cita. "Ada perlu apakah Yang Mulia Pricilla? hingga berkenan menyambangi hamba di taman bunga ini? Percuma, tak ada kumbang di sini, Yang Mulia." "Bacot lu ah!" Pricil tergelak karena ucapan penuh sarkas itu. "Bosen gue di rumah, mo clubbing juga masih sore. Nonton yok! Dah mau tutup kan ini?" Sebagai cucu tersayang pemilik jaringan resort ternama, Cita mengerti Pricil tak wajib bekerja. Dia duduk diam ngupil saja, saldo rekening masih akan terus bertambah. Berbeda sekali dengan rakyat jelata seperti Cita. Semanja-manjanya Cita, mana bisa dia duduk ongkang kaki menunggu uang jajan dari orang tua. "Coba aja di Gadis Bunga," ucapan mamanya itu pastilah hanya basa basi karena Mama pasti sudah sumpek melihat Cita jadi kaum rebahan selama beberapa bulan. Pricil adalah sahabat perempuan pertama Cita, karena sedari kecil teman Cita hanya anak tetangga depan rumah dan komplotannya, para bocah komplek di perumahan tempat mereka tinggal. Tinggi langsing dan berwajah cantik, tak banyak yang tahu sosok jelita dengan aura luar biasa ini pernah menjadi korban bullying di masa Sekolah Dasar. Berlanjut hingga SMP, dimana Pricil akhirnya bertemu Cita. "Nonton apa? Ada film baru?" tanya Cita sembari mulai membereskan meja kerjanya. "Marvel? Liat ntar deh ada apa'an." Pricil menatap foto mereka di meja Cita. "Hadiah kantor baru, biar elo semangat kerja saat liat muka gue," ujarnya saat itu. Sesaat, Pricilla teringat masa-masa awal perkenalan mereka. Cita remaja adalah gadis cungkring berkulit gosong, berwajah mungil dengan mata belok, jerawatan, dan nama ala telenovela. Duduk sebangku dengan Pricil yang jauh lebih besar, berkaca mata tebal, dan sesekali bicara gagap, tentu saja dua orang ini adalah sasaran empuk untuk dibully. Namun menurut Pricill, itu adalah masa-masa paling tenang dalam hidup dia. Cita si Cungkring tak pernah mencela segala 'kelebihan' Pricil, juga selalu mengajaknya ke manapun Cita pergi. Tak ada yang berani membully mereka, karena di hari pertama KBM kelas mereka kedatangan Damar Hassan. "Hallo!" Senior tertampan yang pernah Pricil lihat itu menjabat tangannya dengan hangat dan tersenyum lebar super ramah. "Titip Cita, ya! Dia jinak kok, udah nggak sembarangan gigit orang. Gue Damar by the way." Seperti orang bego, saat itu Pricil hanya bisa mengangguk-angguk dengan mulut setengah mangap, takjub menyaksikan interaksi dua remaja beda kasta di hadapannya. Damar si senior tampan tertawa-tawa seraya mengelus kepala Cita seolah Cita anak kucing. Sedangkan Cita bertopang dagu dengan ekspresi malas, sama sekali tak acuh seakan Damar makhluk tak kasat mata. 'Every girl wants to be with him, every boy wants to be him.' Itu adalah kesimpulan pribadi Pricil setelah beberapa waktu mengamati lingkup pergaulan Damar. Denting lonceng kembali terdengar, nah, baru juga diomongin, ini dia tokoh utama dalam lamunan Pricil. Datang basah kuyup dengan tawa lebar yang menjadi ciri khasnya. "Beb! numpang mandi dong!" Percayalah, air hujan tak mampu melunturkan pesona Damar Hassan.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Stuck With You

read
75.8K
bc

Happier Then Ever

read
92.7K
bc

Pengganti

read
304.0K
bc

Sweetest Pain || Indonesia

read
77.6K
bc

Love Match

read
180.3K
bc

Ditaksir, Pak Bos!

read
149.8K
bc

Rainy

read
19.3K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook