Machimosaurus Rex Sang Raja Kadal Tempur

1403 Kata
"Damar jadi anak motor sekarang?" bisik Pricil seraya melirik ke arah tangga yang menuju lantai 2 ruko. "Anak motor gimana?" Cita mengikuti arah pandang Pricil ke motor matic di depan toko. "Oohh nggak lah, palingan dari ngapel. Ceweknya tinggal di kampung padet, mobil gak bisa masuk." "Oh, gitu?" "Gue beresin depan dulu deh." Cita beranjak menghampiri Seruni yang baru saja mengantar pulang customer terakhir. "Eh, WHAT?!" Hampir Cita terjungkal mendengar pekikan Pricil. "Apaan sih, Ciiil? Apa?! Cicak?!" Princess Pricil ini punya semacam fobia dengan hewan melata dan serangga. Hanya semut saja yang tidak membuatnya teriak-teriak histeris. Hewan-hewan mini semacam itulah yang kerap disodorkan saat Pricill masih jadi target bullying. "Bukan! Eh, mana cicak?!" Pricill meloncat dari tempat duduknya, dan segera merapat ke samping Cita. "Lah ... elo ngapain teriak-teriak? kirain ada cicak atau kecoak gitu." "Ish! jangan ngagetin orang dong! kirain beneran ada cicak," ucapnya sebal seraya memukul lengan Cita. "Geblek kan? Yang bikin kaget siapa yang ngomel juga siapa," gerutu Cita. "Damar punya cewek baru?" bisik Pricill lagi seraya mengawasi tangga, "kok gue gak tau? kapan? anak mana? cakep gak?" Mendesah malas Cita melanjutkan tujuan awalnya. "Mau langsung pulang, Run? masih hujan juga. Mbak Asih?" "Saya mau ke Gramed mbak, gak papa lah hujan hujan bentar, deket sini juga," jawab Seruni. "Saya ikut Runi, Mbak! Mau nyari novel, hehe," sahut mbak Asih, "Mbak Cita mau langsung pulang kan?" "Belom dong, nunggu pendatang gelap," jawab Cita sambil memperkirakan jumlah sisa bunga potong dalam hati. Ah.. mini kaktusnya perlu restock juga rupanya. Paham dengan maksud Cita, dua orang itu pun tertawa cekikikan. "Kakaknya mbak Cita?" tanya Seruni malu-malu. "Waahh naksir kamu? Jangan pulang dulu, gue kenalin ntar," goda Cita. "Nggak gitu …." Bibir Seruni mengerucut ditambah mukanya yang merah padam. "Duh lucu sekali anak ini. Beneran naksir gak ya?" batin Cita. "Bukan, Run. Itu BFF-nya Mbak Cita, tapi kalau mau naksir Mas Damar, tuh saingan lo," timpal Mbak Asih menunjuk Pricil yang berada beberapa langkah di belakang Cita. "Heeyyy! Mbak Asih jangan suka gosip ya!" sahut Pricil tak terima, yang dibalas Mbak Asih dengan cengiran lebar, "mana ada aku mau rebutin Damar, bo'ong itu Run!" Perdebatan mereka pun berlanjut hingga beberapa saat lamanya memberi hiburan gratis di sore ini. "Udah yok, Mbak Asih! gak usah nungguin. Toh ada mbak Pricil disini, saya tinggal aja ya, Mbak Cita?" ujar Seruni akhirnya menengahi perdebatan Pricil-Asih yang memang seperti Tom Jerry kalau ketemu. "Lah kenapa emang?" Seruni tersenyum. "Kalau Mbak Cita cuma berdua sama Abangnya, Runi khawatir nanti disamperin setan." "Ah …." Cita pun mulai mengerti maksud gadis berhijab itu. "Ya ... ya ...." "Duluan ya, Mbak. Assalamualaikum!" "Okay! Waalaikumsalam! Hati hati loh pasti macet banget ini!" Dua orang itu pun keluar toko dan mulai mengenakan mantel hujan mereka. Belum juga motor yang dikendarai Seruni berlalu Pricil sudah mengamit lengan Cita untuk kembali duduk di meja kerjanya. "Serius, Ta. Kenapa elo gak cerita kalau Damar punya cewek baru? Anak mana deh?" "Kampung Anggrek. Masih gebetan, Cil. Tenang, elo masih ada peluang." Cita meraih tasnya, seraya memeriksa sekali lagi jika ada yang tertinggal di laci mejanya. "Cih, peluang moyang lo! Siapa juga yang ngarepin Damar. Elo pasti kemakan omongan Asih Sukesih itu pasti. Bener-bener lamtur emang." Berbeda dengan nada sinisnya, semu merah di pipi Pricil pastilah berarti sebaliknya. "Kampung Anggrek daerah mana sih? Gue pernah main kesana nggak?" "Tuh, kan? sik neges! Mana gue tauuu elo pernah kesana apa nggak. Ngaco, ah! Gue juga gak terlalu paham sih, sekitaran Hasanuddin kayaknya, entah yang arah kanan, entah yang arah kiri." Cita mengangkat bahu. "Gue cuma taunya dia kerja di Santana." Beberapa saat Pricil hanya terpana menatap Cita. "Nj*ng! gimana ceritanya Damar kecantol cewek Santana?" tanyanya pelan. "Eh, kenapa tuh?" Seakan ragu untuk menjawab beberapa saat Pricil hanya terdiam melipat-lipat bibir. "Tempatnya sih okaayy, gue bukan reguler disana sih, cuman denger-denger aja …." Pricil mendekat dan berbisik amat pelan, "Di sana lebih famous escort-nya." "Bodyguard?" "Bukaaann, companion? Duh elo paham gak sih maksud gue?" "Ooh ... Oh, no! No! dia bartender di sana, bukan yang ... itu! Itu kan maksud elo?" "Tetep aja Santana itu ... duh Cit elo jan cupu-cupu banget lah makanya, diajakin gaul susah bener." Cita terkekeh mendengarnya. "Sorry ya beb, kalo gue kelayapan nongkrongin night club, sugar brother gue bisa marah besaarrr." "Mulai juling kali si Damar, bisa-bisanya, sih, Ck! cakep banget emang?" "Nggak tau Priciiillll. Gue juga belom ketemu. Lagian kayak ga tau Adam aja, selera dia kan gak jelas, universal? eh apa sih istilahnya? Bukan unisex pasti. Itulah, dari yang B aja sampe yang A plus plus semua-mua pernah dipacarin sama dia. Tante-tante aja yang belum dicoba, takut kualat kali ngerjain orang tua." Tawa Pricil meledak mendengarnya, jelas dia setuju. "Lagian adaaa aja yang mau di modusin sama dia, heran. Dari mukanya aja dah kelihatan loh, gue pikir-pikir nih ya, aura dia tuh semacam nenek moyang buaya gak sih? Megalodon? Pokoknya kalau semua ras buaya darat di jadiin satu Adam bisa tuh di puncak piramidanya." "Megalodon apaan, gila?" Masih dengan sisa-sisa tawa Pricil meraih handphonenya yang ada di atas meja. "Nih, Machimosaurus rex, buaya purba raja kadal tempur." Tawanya meledak lagi. "Niat amat sih bela-belain google search." "Gue penasaran beneran deh, Cit. Sudah lama Damar sama dia?" tanyanya lirih saat tawanya mulai reda. Cita menghela nafas, dia tau sejak lama Pricil menyukai Adam. Sejak SMA? mungkin lebih lama, entahlah.. Cita yakin Adam adalah faktor terbesar dalam transformasi luar biasa yang dilakukan Pricil remaja, meski setiap ditanya Pricil akan tetap menyangkal tentang perasaan pastinya pada Damar. "Tiga bulanan lah setau gue." "Dan elo gak cerita apapun ke gue?!" "Dibilang belom jadian, ih! Mau cerita apa juga?" "Siapa namanya?" "Mayari. Kalau penasaran yok ikut gue ke Santana!" Pricil berjengit mendengar jawaban dari belakangnya itu, hampir saja handphonenya terjatuh. "Hehe ... Bang Damar ... nggak kok, Bang. Inii cuma Cita barusan ngasih tau Bang Damar punya pacar baru." "Ck! Mana kenal Cita sama Mayari, beda orbit. Yok lah! gue kenalin ntar." "Help!" ucap Pricil tanpa suara ke arah Cita. "Bukannya barusan ketemu, ngapain ke Santana jam segini?" tanya Cita keheranan. Dia tau orang kasmaran memang maunya terus berdekatan, iya, dia paham, tapi baru ditinggal sebentar terus ngebet mau ketemu lagi tuh kayak another level, kan? apa Cita yang kelamaan jomblo jadi lupa rasanya kasmaran? "Tau dari mana gue ketemu Mayari?" "Itu! motor depan itu saksinya. Pasti habis tour de kampung." Damar punya Harley, tapi gak pernah dipake antar jemput Mayari. "Jalanan kampungnya itu bener-bener ngepres, Ta. Banyak orang nongkrong, banyak bocil juga. Gue bawa harley berasa melanggar zona kearifan lokal," katanya waktu itu. "Gue gak ketemu tadi, udah berangkat duluan dia," aku Damar sambil nyengir masam. "Llah, gak janjian emang?" "Gue telat jemput sih lima belas menitan. Ibunya bilang Mayari dijemput ojol." "Trus?" Damar hanya mengedikkan bahunya. "Emang sekarang gimana sih kondisinya? masih tarik ulur dia?" "Udah lumayan sih ini, kmaren-kmaren kan gak mau gue jemput." "Waahh ... Selow." "Apaan?" Kening Damar berkerut melihat Cita. "Progresnya lah. Mungkin Adam perlu totok aura atau mulai nyari guru spiritual lain. Peletnya dah gak mempan cuy!" Tak lantas menjawab dilihatnya Damar malah termangu hingga beberapa saat. "Semangat dong, Aa'! Jangan ngedrama melankolis gitu lah. Baru juga tiga bulan." Kali ini damar tersenyum, tapi hati Cita malah mencelus melihatnya. Jarang, jarang sekali Damar bisa tersenyum se getir itu. "Gue mulai mikir ... sebenernya, perlu gak sih gue berjuang kayak gini. Kayak di gang buntu, maju gak bisa, mundur kejauhan." Mendengarnya Cita jadi ikutan mellow, 3 bulan pendekatan dalam dunia Damar Hassan pasti berasa 3 abad. Diraihnya tangan Damar dan meremasnya kuat. "Kan ada kemajuan tadi katanya, sudah mau dijemput kan?" "Ya, mau karena gue maksa. Stand by depan rumah dia sebelum dia berangkat kerja, nongkrong di parkiran waktu dia pulang kerja." "Bujug! Jadi gini nih Damar Hassan mode bucin, ini sih Machimosaurus rex bucin purba," batin Cita. "Yaudah sih, pepet aja terus!" "Capek," jawab Damar lirih, "nggak jelas maunya dia." Cita pun hanya bisa terdiam dan menatapnya iba. Kasihan ... playboy tobat pun harus melewati banyak rintangan. "Kalau sudah males stuck di jalan buntu, mau belok kanan aja gak, A'? tuh ... ada Pricil." "Lambemu!" Pricil yang sedari tadi anteng menyimak percakapan adik-kakak ketemu gede di depannya itu sontak misuh-misuh. Melihat rona wajah Pricil yang berubah merah Cita jadi tertawa geli, Damar pun juga mulai cengar-cengir. Setidaknya suasana sudah tak se mellow tadi. "Yok, Cil ke Santana! Gue kenalin sama calon madu." Dan repetan Pricil pun semakin panjang lebar tanpa jeda.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN