Rambut ombrenya dipotong bob pendek sebatas dagu. Ada piercing kecil di cuping hidung kanan. Sudah, itu saja. Tidak ada anting, kalung, gelang, atau aksesoris lainnya yang dipakai. Ada tato di punggung tangan kanan, menjalar ke lengan terlihat kontras dengan kulitnya yang bersih. Gerakannya luwes saat bekerja, entah berapa lama pengalamannya atau mungkin dia memang berbakat, yang jelas Cita terkagum-kagum melihat kepiawaian Mayari meracik minuman.
Beberapa saat yang lalu mereka dikenalkan, sempat berjabat tangan, lalu basa-basi sebentar, kemudian Mayari beranjak pergi, karena harus melayani pelanggan.
"Mau gue bikinin sesuatu, Cita?" Setelah beberapa lama akhirnya Mayari kembali menghampiri tempat Cita di ujung meja bar.
"No!" jawab damar cepat, "kalau dia boleh," lanjutnya sambil menunjuk Pricil, "yang ini masih bayi, lo kasih soda aja, Ay!"
"Apa-apaan! Aku mau nyicip minum juga lah!"
"Nggak!"
"Pake please?"
"Jangan sok imut, lo! Nggak ada acara minum kalo sama gue! Lagian elo ngapain ikutan ke sini? gue tadi cuma ngajakin Pricil kan?"
Damar yang mengomel dengan mata berkilat-kilat tak sedikitpun membuat Cita takut. "Aku kan nemenin Pricil, lagian ngapain larang-larang aku kesini? Ini kan tempat umum, aku mampu bayar udah cukup umur juga."
Hah! Alis Damar terangkat sebelah. Baginya, lucu sekali anak mama ini bawa-bawa umur. "Serius elo tanya kayak gitu, Ta?" Wajah Damar mendekat hingga berjarak hanya sejengkal dari wajah Cita. "Yakin lo gak ada mata-mata Pratama di sini?"
"Oh!" Bola mata Cita perlahan melebar seiring kesadarannya akan situasi mereka sekarang. "Lupa," ucapnya tanpa suara. Ini gara-gara dia terlalu semangat mau ketemu Mayari. Sejenak kemudian pandangannya mengedar ke penjuru Santana. "Gak ada om-om, Adam! Aman!"
"Aman pale lo! Lo pikir temennya Pratama cuma om-om doang?!" Diraihnya wajah Cita yang masih celingukan dan setengah memaksa diarahkan ke arah mocktailnya yang baru datang. "Mending elo habisin ini soda terus gue anter pulang!" Tak urung matanya yang ganti beredar mencari-cari kenalan Pratama, kakak satu-satunya.
"Elo kayak biasanya, Dam?"
"Enggak, Ay. Aku harus nganter bayi ini pulang, jadi mesti sober gue. Pricil aja bikinin cocktail, jangan terlalu keras, dia ini ABG levelnya."
"Hey!" Pricil merasa tak terima, dia ini ratu pesta, member VIP dari beberapa night club, mana bisa dibandingkan dengan Cita si anak mama.
"Jangan protes, Cil, gue ga bisa fokus jagain elo karena ada si bayi, atau samain mocktail aja, Ay!"
"Nggak!" sahut Pricil cepat, "give me your masterpiece" ucapnya pada Mayari, tak lupa senyum The Goddes Pricillia-dia sendiri yang kasih nama by the way-dan kibasan rambut panjangnya ke belakang.
Mayari tersenyum samar, Sungguh ini pemandangan baru untuknya. Damar yang biasanya over confidence, punya adaptasi macam bunglon, dan jangan lupakan mulutnya yang luwes banget ngegombal hari ini terlihat cemas. Sesekali matanya mengedar ke seluruh ruangan dan sibuk menutupi Cita Dengan tubuhnya. Setiap kali ada orang yang lewat, dia akan menatap tajam orang itu seolah sedang memperhitungkan sesuatu, seraya menekan kepala Cita agar tetap menunduk dan menghabiskan minumannya.
Baru empat bulan Mayari bekerja di Santana, sebelumnya dia juga seorang bartender di sebuah kapal pesiar. Pastilah gajinya di Santana tidak bisa dibandingkan dengan tempat lamanya.
"Menurut elo Adam kurang apa?" Cita meringis mendengar pertanyaannya sendiri. "Not my business? hehe." Dilihatnya Mayari hanya tersenyum samar. "Sumpah ini cewek cool banget, kereeen sekali. Tau rasa Adam ketemu ginian," ucap Cita dalam hati.
"Adam? Damar?"
"Ah ... Adam, A' Dam, Aa' Damar, gue lupa sejak kapan manggil dia Adam."
"Teman lama?"
"For as long as I could remember ... So? Selain tampang buaya dan percaya dirinya yang selangit tembus, apa yang bikin elo masih ragu sama Adam?"
Lagi-lagi mayari hanya tersenyum kecil seraya menyusun martini glass yang baru dibersihkannya. "Dia baik."
"Tapi?" tanya Cita tak sabaran.
Mayari terlihat berfikir sejenak. "Dia juga nggak pura-pura care."
"Tapi?"
"Dia nggak serius." Mayari terdiam sejenak, wajahnya berubah seakan menyesal telah mengatakannya.
"Maksudnya?! Adam kurang usaha gitu?"
"Ehm … susah dijelasin, Cita. Nanti, saat waktunya tepat elo pasti ngerti."
"Sekarang aja jelasin ke gue, ngapain nunggu ntar," batin Cita lagi. Jiwa kepo-nya meronta-ronta. "Adam tuh kayaknya udah di babak final deh kalo perkara serius sama elo, May. Kalau nggak terlihat kayak gitu, ehm … mungkin pengaruh muka-muka masa-bodonya dia kali ya? Iya? Itu sih kutukan, May! Dia harus ke Korea dulu kalo mau punya tampang cool kayak Oh Sehun."
Mendengarnya, kening Mayari mengernyit. Oh Sehun? Sepertinya dia pernah mendengar nama itu. "Bentar, Cit!"
Cita hanya melongo menatap Mayari yang beranjak ke ujung lain meja bar melayani beberapa orang yang baru datang. "Nggak serius apaan maksudnya?!" tanya Cita pada Pricil yang sedari tadi tak ikut dalam obrolan Cita, "tiap malem nongkrong disini. Bela-belain bawa motor buat antar jemput karena rumahnya dia tuh masuk gang sempit, dan itu pun motor baru, Beb! Demi siapa tuh?" Pricill yang diajak bicara masih acuh, malah terlihat menikmati cocktailnya yang disesap pelan-pelan. "Dan ini kita ngomongin Damar loh, mana pernah dia pedekate selama itu, ya kan? Gue yakin dah gatel-gatel tuh dia."
"Sh*t! cocktail bikinannya enak banget, Ta! Serius ini selera gue banget deh." Masih mengacuhkan Cita, lagi-lagi dia menyesap pelan minumannya.
Melihat hal itu Cita hanya bisa mendesah kesal. "Elo katanya penasaran sama itu Mayari, nyampe sini malah jiper lo diem aja dari tadi sibuk minum mulu nabung aer kencing!"
"Harus banget bawa-bawa aer kencing waktu orang lagi minum ya?"
"Tanya apa kek, mastiin apa kek!" sahut Cita benar-benar kesal.
Pricil berdecak pelan seraya meletakkan gelas minumnya. "Look at me, Cita! and then look carefully at her!" Dia beringsut mendekat dan berbisik pelan namun penuh penekanan, "Cakepan gue kemana-mana. Sexy juga mendingan gue, case closed. Percaya sama dia, Damar emang gak seserius itu kok."
"Nooo! ... gue lebih kenal Adam daripada elo, dia tuh udah kayak ... Mayari gini, Mayari gitu, kalau Mayari sih begini, eh, kemarin Mayari begitu. Ini telinga gue sampe budeg kesumpel cerita Mayari!"
"Biasa laahhh masih tahap penasaran doang–"
"Nggak, Cil!" potong Cita cepat, "Adam tuh udah bawa-bawa Tante Yana. Gue yakin kali ini dia serius." Dilihatnya Pricil terdiam sejenak, dia juga pasti sadar kalau Mayari ini memang spesial.
"Nggak lah. Liat deh berapa minggu lagi juga bubar. Nih mending elo icip minuman gue, beneran oke banget, nih!" Diangkatnya Cocktail berwarna soft pink itu dan diarahkan ke bibir Cita.
"Jangan mulai, Cil!" Sekonyong-konyong Damar datang merebut gelas minum itu dan meletakkannya sembarangan hingga nyaris terguling. "Get up, Ta! Kita pulang sekarang!"
"Kenapa? Baru nyampe juga–"
"Sorry, Cil," potong Damar, "gue harus pulangin ini bayi, dan gue juga gak bisa ninggalin elo sendiri, so, elo juga get up!" Ditariknya lengan Cita dan Pricil agar beranjak menuruti kemauannya. "Ay! nanti gue balik!" teriaknya ke arah Mayari yang hanya dijawab dengan kedikan bahu, "Come on, Ta cepet dikit!"
"Ngapain sih Daaam, aku masih pengen disini,aku lagi ngobrol sama Mayari, tuh! aku juga belum sempet ngicip cocktailnya Pricil, bentar lagi deh yaaa."
"Jangan rewel! Gue masih kesel, ya! karna elo ngotot ikut kesini, ntar gue kasih lo mau cocktail mau cockroach yang penting kita keluar dulu dari sini." Tak sabar diseretnya 2 bayi tua itu keluar club. "Gue ketemu Mario di toilet," bisiknya dengan wajah panik.
"Mario siapaa?"
Tak menjawab Damar malah melotot ganas ke arah Cita. "Mario siapa?" Langkah Damar terhenti seketika. "Elo tadi minum punya pricil? Mabok lo sekarang?" Wajah Damar mendekat ke arah Cita, memastikan ada tidaknya aroma alkohol, Aman! "Elo cuma pura-pura lupa sama Mario kan? Asprinya Pratama? jangan pura-pura gak kenal gitu, Ta, gue lagi gak mood becanda. Kalau sampe abang elo itu tau gue bawa elo kesini, dah! Babak belur gue pasti."
"Rio?! Bang Rio?!" Tak menunggu lama Cinta segera mempercepat langkah, raut panik jelas terpampang di wajahnya. Bahkan ia pun turut menyeret Pricil yang masih ogah-ogahan. "Please, Cil, demi gue dan Louboutin inceran gue, kita harus kabur secepatnya dari antek-antek Kak Tama. Sugar brother itu kalau ngamuk bener-bener nggak lucu!"
"Sugar brother elo gak ada urusannya sama gue!" teriak Pricil frustasi. Namun tanpa sadar dipercepat juga langkahnya mengikuti dua orang itu.