Merasa jenuh karena sedari pagi berkutat di meja kerja, Cita beranjak menghampiri Seruni di ruang depan. Tak ada pelanggan, tak ada pengiriman bunga juga, siang ini tokonya terasa sepi.
Melewati susunan Sansivera dalam pot-pot mini pada rak dinding, Cita teringat akan rencana menambah koleksi bunga mini di akhir bulan nanti, Peperomia sepertinya lucu.
"Mbak Asih kemana, Run?" tanya Cita sambil mengulet meluruskan punggungnya.
Sejenak mengalihkan fokus dari buket bunga di tangan, Seruni tersenyum ke arah Cita. "Ngejar kang somay lewat tadi loh mbak, pengen katanya."
"Oh." Perhatian Cita mengarah pada buket Lily yang dipegang Seruni. "Ini? Pesenan buat wisuda itu ya? Mau diambil jam berapa emang?"
Prosesi wisuda paling tidak dari pagi hingga tengah hari tak jarang hingga sore, sebenarnya buket bunga segar seperti ini lebih rawan layu jika tidak dikemas dengan tepat. Salah satu cara yang bisa dipakai untuk hand bouquet, bungkus ujung tangkai bunga dengan kapas atau kain yang dibasahi air lalu tutup dengan aluminium foil. Lebih aman lagi kalau pakai buket bunga palsu atau snack bouquet, tentu saja Gadis Bunga tak menyediakannya, jadi Cita tak pernah menyarankan pilihan itu pada pelanggan.
"Jam setengah satu mbak, bentar lagi." Seruni sempat melirik jam dinding yang telah menunjukkan pukul 11.45. "Sudah beres kok ini, cuman ditambahi baby's breath dikit tadi," ucapnya seraya merapikan paper tissue berwarna tosca yang membungkus cantik lily putih dan baby breath itu.
"Emang minta lily orangnya?"
"Iya, Mbak. Lambang first love katanya." Tak urung Cita tersenyum mendengarnya. "Awet banget mereka ini, Mbak, dari SMP!"
"Tau dari mana kamu?" Cita tertawa geli melihat wajah Seruni yang berbinar-binar. Katanya, Seruni ini belum pernah pacaran sekalipun. Tipe-tipe anak pingitan.
"Masnya sendiri yang ngomong waktu pesen kemaren, terus curhat bentar dia. Mukanya itu, Mbak, bahagiaaa banget."
"Ntar kalau masnya ngambil, coba bilang, Run, 'Mas, tak doain langgeng sampai nikah. Pas nikah nanti, pake bunga dari kita ya! tak kasih special price!' Okay?!" Seruni tertawa cekikan mendengar perintah bosnya itu.
Nada dering ponsel memotong pembicaraan mereka, bergegas Cita menghampiri meja kerjanya, 'Tante Yana is calling'.
"Ya, Tan?" sapa Cita sumringah.
"Cita, Adam sama Cita nggak?"
Lah, ngapain siang-siang jam kerja gini Damar sama dia? Damar kan pengacara, Pengangguran Banyak Acara. "Nggak ada, Tan. Kenapa?"
"Kira-kira kemana tuh anak? Di telpon gak diangkat, dua hari dia nggak pulang, Cita. Biasanya masih pamit mau nginep kemana."
"Di apartemen?" Damar punya apartemen semenjak dia kuliah, lokasinya juga lebih dekat dari kampus. Tapi tetap, sebagai putra bungsu kesayangan nyonya Adhyana, apartemen itu lebih sering dibiarkan kosong. Kalau Damar terlalu lama tidur di luar, mamanya sudah rajin telepon menyuruh pulang, semacam debt collector dari pinjol yang rajin menteror pelanggannya.
"Ini Tante telpon kesana juga gak diangkat. Feeling tante gak enak."
Nah! Jangan meremehkan feeling emak-emak, apalagi semacam Tante Yana ini. Cita pernah curiga sebenernya Tante Yana itu orang indigo yang bisa meeramal, tapi saat ditanya, si tante malah tertawa, "Ngawur kamu! Kalau Tante indigo, sudah pasti langsung diruqyah sama mertua Tante."
"Coba aku tanya temen-temennya ya tan? Nanti Cita kabari."
"Begitu ketemu suruh telpon tante ya, Cita!"
Dengar, tuh! betapa disayangnya Damar Hassan si anak bungsu. 27 tahun dan masih wajib lapor sehari minimal lima kali. Tidak pulang dua hari tanpa kabar sama sekali ini pastilah sudah membuat panik mamanya.
"Tante belum lapor polisi kan?"
"Kata Tama jangan dulu, dia itu masih santai-santai adeknya hilang …." Suara Tante Yana sejenak tersendat, pasti menangis. "Si Ammar juga sama aja, malah bilang paling ikut hiking temennya, paling camping, paling paling paling! sama sekali gak mikir bisa aja anaknya kenapa-napa!"
Cita jadi garuk-garuk kepala yang tidak gatal, masalahnya, terlepas dari mamanya yang gampang panik, Damar itu memang sering sekali menghilang tiba-tiba. Terakhir dia pergi ke Wakatobi tanpa pamit, begitu pulang habislah dia diomelin Tante Yana.
"Aku tanya-tanya dulu ya, Tan? Tante tenang dulu, Ya?"
"Ya, ya, terima kasih nak ya, Tante tunggu ya!"
***
Saat Cita masuk ke dalam apartemen itu, Damar sedang berada di dapur bersandar pada kulkas dengan gelas setengah terangkat, tercengang menatap kedatangan Cita.
"Kok elo bisa masuk?!" tanyanya kesal.
"Wahh …." Mengabaikan pertanyaan itu Cita malah fokus pada wajah Damar yang mulai jelas terlihat lebam-lebam kebiruan. "Beneran ada tawuran ternyata, siapa yang menang nih? Buaya satu apa buaya dua?"
Berdecak semakin kesal seraya melanjutkan acara minumnya yang terjeda, Damar kemudian menatap Cita lekat-lekat. "Siapa yang ngasih tau?"
"Ada laah." Tak mungkin Cita membocorkan informannya. Restu, teman Damar dari SMP hingga universitas itu, akhirnya menyerah dan memberitahu keberadaan Damar setelah Cita terus mendesaknya, dan mengeluarkan sebuah ancaman. Mengancam restu adalah perkara gampang! Koleksi foto Restu yang sedang fangirling di ponsel Cita masih banyak tersisa, bahkan setelah transaksi tadi. Belum lagi w******p Restu beberapa minggu lalu sewaktu kode-kode minta dikenalkan sama Mira, salah satu supplier bunga langganan Cita. Coba kalau ketahuan pacarnya, pasti perang lagi mereka.
"Restu kan?" Lhah, sudah terbongkar.
"Cuman dia yang tau gue di apartemennya Ramon."
"Hem-hem, aku sih no comment." Damar melirik Cita sebal.
Beranjak dari dapur, Damar menuju ruang tengah dan mulai menyalakan televisi, Cita ikut duduk disebelahnya, mengamati interior apartemen yang tertata rapi. Jauh berbeda dengan karakter Ramon yang slengean.
"Kenapa nggak pulang? tante bingung nyariin," tanya Cita malas-malasan.
"Menurut elo?!" jawab Damar sewot.
"Oke, ganti pertanyaan. Kenapa gak angkat telpon? tante nyariin."
"Ck! Mama tuh gak nelpon tapi video call! Ya sama aja bakal ketauan muka bonyok gini."
"Kan bisa telpon balik, ngomong apa kek biar orang tua gak khawatir. Anda ini jadi anak gak terlalu cerdas ya?"
"Trus? Yang pasti mama tetep bakal video call. Elo kayak gak kenal Nyonya Adhyana aja!"
Cita terkekeh mendengar jawaban bernada sewot itu. "Masih untung belum dilaporin ke polisi." Melihat lebam-lebam itu, sebenarnya Cita merasa kasihan. Untunglah Restu ada di TKP. "Jadi, A'? Gimana ceritanya? Beneran Adam berantem sama mantannya Mayari? Bukannya dia lagi layar?"
"Tau, tuh! Tetiba nongol di Santana, ribut-ribut sama Maya. Diajak ngomong baik-baik malah nyolot."
"Terus Adam gebukin? Ntar kalau kena pasal penganiayaan gimana, Dam? Main tonjok aja! udah tua juga." Tak tertarik dengan tayangan pilihan Damar, Cita merebut remote dan mengganti ke saluran memasak favoritnya.
"Eh gue membela diri ya! Dia duluan yang nonjok gue! Nonton apaan sih lo?! Gak bisa masak juga, Aargh!"
Cita tersentak kaget melihat reaksi Damar atas pukulannya yang tak terlalu keras sebenarnya. Ditariknya leher kaos Damar hingga terpampang sebagian bahu yang juga lebam. "Sudah ke Rumah Sakit kan, A'? Parah banget ini kayaknya, kirain cuman main serudukan macem adu kambing." Alis Damar terangkat sebelah karena tak paham. "Kalau adu buaya pasti wes ndredel duel luka-luka, ini cuma bonyok-bonyok di muka, kirain main srudukan doang macam adu kambing." Damar menggeleng pelan mendengar pemikiran absurd dari Cita. "Ke Rumah Sakit yok?! Jangan sampai anak gantengnya Tante Yana jadi kambing geprek nih."
"Sudah kemarin, dianter Restu. Ngotot banget dia kayak emak-emak, pekara gini doang," elak Damar sembari menekan pelan-pelan rahang dan pipinya.
Untuk beberapa saat tidak ada percakapan dari keduanya. Damar berbaring dan mulai memejamkan mata, sementara Cita serius menyaksikan finishing touch dari simple appetizer di televisi. Cita jadi lapar melihat tayangan itu.
"Mayari gimana, By the way?" Pertanyaannya tak kunjung dijawab. "Tidur?"
"Gue belum kontak lagi sama dia," jawab Damar malas malasan, "tapi Cit, elo belom bilang mama kalo gue disini kan?"
"Belom sih." Cita teringat sesuatu, tapi masih saja fokus melihat tayangan resep kedua.
"Good lah! bahaya kalau nyusul kesini ntar ngedrama."
"Tapi waktu berangkat kesini, Kak Tama telpon, sekalian aja aku kabari. Mau nyusul sih katanya."
Damar sontak terbangun, lalu menggaduh karena sakit menyengat di bahunya. "Elo bilang Pratama kalo gue disini?!" Cita mengangguk ragu-ragu. "ELO BEGO BANGET FLODEMORT!" teriaknya. Damar mulai panik, ia segera beranjak dari tempat duduknya, dan mondar-mandir di depan televisi. "Masih mending nyokap gue yang ngedrama, ini malah elo bawa Prathorma kesini, habis gue digebukin ntar Citaaaa."
Dan seperti dalam drama-drama thriller, tepat saat itu bel berdering nyaring mengagetkan mereka berdua. Seolah terhipnotis, Damar mendekat ke arah pintu dan menekan tombol intercom.
"Dam?! Buka pintunya!" Thor has come!