Pratama Adhiguna Hassan, putra sulung dari bapak Ammar Hassan, kakak laki-laki satu-satunya dari kambing bonyok yang saat ini duduk terpekur menatap jempol kaki di sebelah Cita. Dari tadi ia tak berani mengangkat wajah, hanya sesekali melirik-lirik ke arah kakaknya yang berdiri bersandar ke meja pantry.
Sekali lagi terdengar helaan nafas berat dari Kak Tama, entah mengapa Cita jadi ikutan gugup. Ia merasa bersalah sudah membocorkan lokasi persembunyian Damar. Sungguh ia tak bermaksud jadi tukang adu, tapi jika berurusan dengan Kak Tama, mulutnya kerap bicara jujur tanpa bisa diajak kerja sama. Sepertinya Kak Tama punya semacam ilmu gendam yang membuat orang-orang auto nurut sama dia.
"Kak? mau minum dulu nggak, Kak?" tanya Cita ragu-ragu.
"Ini bukan rumah kamu, nggak usah berlagak jadi tuan rumah," jawab Tama pelan namun penuh penekanan dan tanpa menoleh sedikitpun ke arah Cita.
"Oh, iya." Cita tak tau lagi harus bicara apa.
"Jadi, Boy, mau sampai kapan kamu main-main terus kayak gini?"
Tak ada jawaban dari Damar, kepalanya masih tertunduk, dua tangan terlipat rapi di atas paha. "Anggun sekali," batin Cita.
"Umur berapa kamu sekarang? masih kelayapan gak jelas, ngejar-ngejar cewek kayak ABG, berantem kayak gini, lupa tanggung jawab?" Damar semakin tertunduk.
"Aku–"
"Nggak malu kamu? setua ini masih berantem di tempat umum. Ah, bukan … night club? rebutan cewek?" potong Tama cepat.
"Aku belain temen, Bang! mana bisa diem aja liat cewek dikasarin kayak gitu!"
"Terus ngapain kabur kayak gini? jelasin dong sama mama. Jangan bikin orang tua khawatir terus, Boy!"
"Kalau aku pulang mama pasti lebih heboh," jawab Damar bersungut-sungut.
"Selama ini kakak diem karena kakak yakin kamu akan sadar sendiri, Boy. Tinggal nunggu waktu sampai kamu bisa lepas dari kebiasaan kamu nongkrongin night club. Kamu sudah dididik dan dipersiapkan dengan baik, dikasih contoh yang baik. Kamu bisa kan lebih baik dari ini?" Damar terpekur kelu mendengarnya. "Seumur kamu, Kakak sudah harus pegang perusahaan cabang, sudah settle down, punya Nabil." Damar melirik Cita yang duduk merapat disisinya. Yang dilirik malah ikut-ikutan menunduk seolah turut diomeli. "Bukan kakak mau banding-bandingin kita, Boy, kakak cuma pengen kamu lebih cepat sadar tanggung jawab. Papa cuma punya kakak sama kamu, papa sudah nggak muda lagi, Dam, kakak sulit kalau harus sendirian ngurus perusahaan, mau dikasi ke orang lain? gitu mau kamu?"
"Pulang aja kali ya?" batin Cita. Ini percakapan yang serius sekali, ia tak bisa ikut campur dalam pembicaraan antar anggota keluarga, pun tak bisa kabur di tengah kondisi genting seperti sekarang.
"Kira-kira kapan Kamu bener-bener mau kerja? bisa Kamu kasih kakak kepastian? jangan terus sibuk bisnis main-main gitu, Boy. Bukan cuma papa, ada ribuan orang yang harus kamu pikirkan sekarang, mereka orang-orang yang menggantung masa depannya di perusahaan kita."
Cita merasa tertohok dengan fakta yang disampaikan Tama. Damar memang tak punya pekerjaan yang jelas, tapi untuk dibilang sibuk bisnis main-main itu juga masuk kategori meremehkan nggak, sih? Damar suka berinvestasi macam-macam sama komplotannya selama ini, iseng-iseng buka cafe, tiba-tiba punya distro, tiba-tiba bikin franchise. Investasi sama restonya temen, join bisnis cottage-nya temen. Banyak! hasilnya, dia bisa nganggur luntang-luntung nongkrong, main, traveling, koleksi barang-barang mahal nggak penting macam action figure itu, ganti-ganti mobil macam ganti kolor, semua bisa dilakukan tanpa nunggu kucuran dana dari papa. Jadi kalau sekelas Damar dibilang bisnis main-main, apalah arti Gadis Bunga yang cabangnya cuma dua biji aja? Cita semakin yakin betapa dalam dan tebalnya kantong Pratama Hassan ini. Jadi untuk ke depannya dia tidak perlu merasa bersalah menggesek kartu Pratama saat belanja sepatu, iya kan?
"Kan aku bilang nanti, nanti aku pasti masuk juga ke perusahaan."
"Kapan? yang kamu bilang setelah nikah itu? emang ada niatan nikah kamu?"
"Ada lah ... ini juga lagi usaha," jawab Damar lirih sambil mengusap pelan pelipisnya yang lebam.
"Sama bartender itu? serius kamu sama dia?" Damar terkesiap mendengarnya. Selama ini ia tidak pernah bercerita tentang Mayari pada anggota keluarganya. "Cari istri yang bener, Boy! kamu pikir orang tua kita bakal setuju kamu nikah sama cewek itu?"
"Mayari! Namanya Mayari. Dia orang baik, nggak ada alasan buat Kakak nge-judge dia bukan orang baik!"
Tama menatap adiknya lekat-lekat. "Kamu tau bener apa maksud kakak, Boy. Kecuali dia bisa ninggalin kerjaannya, kamu bakal sulit dapet restu kami."
Damar terpana menatap kakaknya, dalam hatinya dia selalu sadar bahwa hubungan dengan Mayari tidak akan mudah, tapi ketika kepastian itu ada di depannya sekarang, rasanya tentu saja masih menyesakkan dadanya. "Kenapa?" tanyanya pelan.
"Kita orang muslim, Boy. Semua yang kita lakuin, yang kita dapat, dan semua yang kita telen bakal jadi bahan pertanggung jawaban, Kamu sudah tau itu."
Suasana menjadi hening, entah apa yang ada di pikiran dua bersaudara itu, Cita tak mau terlalu memikirkannya, pusing! Getar ponsel sejenak mengalihkan perhatiannya dari kebisuan yang mencekam itu.
[Minta subsidi dobel, Ta! Ntar kembaran kita ?] w******p dari Syarifa, istri Pratama, disusul gambar sepasang sepatu cantik dari rumah mode kesayangan mereka berdua.
Melirik sebentar pada dua orang yang mulai melanjutkan diskusinya dengan suara yang lebih pelan, Cita bergegas membalas Pesan itu. [Gak yakin kak, lg genting! ?]
[Knp?] balas Kak Ifa cepat.
[Kak Tama mode sennin?]
[??? bkin mslh apa km?]
[Adam tuh!] Cita membalas sembari bersungut-sungut.
[Eh, dah ktemu?]
[Diumpetin Ramon]
"Kamu? masih mau disini?" Cita mendongak, dan mendapati Tama sedang melihatnya dengan kening berkerut.
"Apa, Kak?"
"Kamu masih mau disini atau bareng pulang sama kakak?"
"Pulang!" jawab Cita cepat, diacuhkannya Damar yang melotot galak kepadanya.
Beranjak mengikuti Tama ke arah pintu, Cita ditarik Damar agar sejajar dengannya, dua langkah di belakang Tama.
"Elo ngapain ikutan pulang? mau ninggalin gue lo?" bisik Damar.
"Dih! Tadi ngomel-ngomel didatengin, sekarang nggak mau ditinggal, dasar labil!" bisik Cita sembari memperlihatkan w******p dari Syarifa.
"Pulang, Boy! Jangan bikin mama khawatir!" Setelah berkata seperti itu, Tama membuka pintu dan berjalan menuju lift di ujung lorong. Cita bergegas menyusulnya tak mau tertinggal.
"Traitor!" teriak Damar yang hanya di balas Cita dengan lambaian tangan.
***
Sedari tadi Tama sama sekali tidak mengajak Cita bicara, di dalam lift dia sibuk berbalas pesan dengan entah siapa, di dalam mobil pun Tama masih sibuk dengan gawainya. Cita jadi menerka-nerka, apakah Tama juga marah kepadanya? memang dia salah apa? dia tidak ikut berantem, tidak menyembunyikan Damar juga. Akhir-akhir ini dia tidak … Oh my god! jangan-jangan Mario sudah bercerita yang tidak-tidak sama kak Tama!
"Kak, Bang Rio ada cerita gitu sama Kak Tama?"
"Hem?" jawab Tama asal.
Kira-kira apa arti kata hem itu? Sepertinya benar kak Tama sudah tahu. "Aku nggak ngapa-ngapain disana, keburu dianter pulang sama Adam." Tama melirik Cita sekilas. "Beneran! tanya Pricill deh!" Cita makin panik. Jangan sampai Mario memfitnahnya yang tidak-tidak.
Mengantongi ponsel, Tama mengalihkan perhatian sepenuhnya pada Cita. "Terus ngapain kamu ke sana?"
"Cuma nemenin Pricil, dia kepo sama Mayari." Ditatap dengan tajam seperti itu membuat Cita salah tingkah.
"Kamu ke Santana?"
"Cuma bentar, langsung pulang. Adam ketemu sama Bang Rio, jadi aku langsung dianter pulang."
"Kamu ngapain ke Santana?! sudah kakak bilang berapa kali Citaa?! nggak usah ikut Damar main!" bentak Tama.
Cita berjengit kaget lalu melongo mendengarnya. "Sebenernya Kak Tama tau nggak sih aku ke Santana?"
"Tau dari mana?!"
"Bang Rio nggak cerita?" Melirik tak enak pada Pak Burhan, supir Pratama, Cita bergeser lebih dekat ke arah pintu. Tama mode sennin masih cukup horor. "Kalau nggak tau, bilang dong! kan aku jadi ngebongkar kesalahan diri sendiri," gumamnya.
Mengusap wajah kasar, Tama menghembuskan nafasnya pelan-pelan. Tak cukup dengan satu pembuat onar, kenapa juga dia harus mengawasi anak tetangga ini. Mereka bukan lagi remaja, kenapa tidak bisa bersikap lebih dewasa dan menjauhi masalah-masalah tidak penting seperti ini? "Kamu nggak pernah ke sana lagi kan?" tanyanya menahan emosi yang harus dinetralkan. Anak tetangga ini cengeng sekali, jangan sampai ada drama penuh tangisan di mobilnya sekarang.
"Nggaklah! Suer!" Tama memicingkan mata penuh ragu. "Demi Allah, Kak! mana pernah pernah sih aku bisa bohongin Kakak."
"Good!" jawab Tama setelah beberapa saat.
Setelah itu Tama kembali sibuk dengan ponselnya lagi. Beberapa kali Cita meliriknya, tapi ragu mengutarakan maksud. Dilihatnya w******p dari Syarifa yang belum dibalas sedari tadi, mengusap pelan gambar sepatu yang tampak dilayarnya. "Kita nggak jodoh, Cantik," batinnya. Namun ia terkejut saat baru saja berpikir seperti itu, sebuah debit card dilempar dan tepat menutup layar ponselnya. Tertawa lebar ia menatap Tama dengan mata penuh binar.
"Pin-nya masih inget kan?"
"Masih!" jawabnya semangat. "Aku sudah bilang belum? aku cintaaaa banget sama Kakak!"
Tama tertawa kecil. "Modus," ucapnya pelan.
[Mission accomplished nyonya! ????] Cepat dikirimnya chat itu pada Syarifa, orang yang sama-sama menunggu dana hibah dari anak sultan di sebelah Cita. Tak lupa foto debit card juga dikirimkan sebagai bukti bahwa dana itu benar-benar ada dan tinggal pencairan.
[Good job nak! Biar kakak proses transaksinya skrg,] jawaban Kak Ifa datang secepat kilat.
"Bilang sama Syarifa, mending dia beli sepatu buat kerja. Kakak bosen liat sepatu hitam buluk itu."
Cita menatap ngeri pada Tama yang masih menunduk membaca entah apa di ponselnya.
[Kak, bojomu iku dukun! kok dia tau aq chat sm kakak ?]
[???]