"Kak Tama!" suara salam keceriaan favorit bayi tua anak tetangga. Damar yang sedang berdiri di depan kulkas tak urung tertawa kecil mendengarnya, tangannya terulur mengambil soda dingin dan meminumnya pelan-pelan.
Tak seperti biasa, hari ini kakaknya pulang cepat. Masih jam tujuh malam, dan Pratama yang sudah berada di rumah bisa masuk kategori kejadian langka. Workaholic satu itu sepertinya punya hobi lembur. Entah apa yang dicari dengan kerja keras seperti itu. Anak baru satu, istri juga cuma satu, tapi dia bekerja seakan menanggung biaya hidup orang sekomplek rumah mereka.
"Mau kemana?" tanya Tama.
"Mau nonton konser!" jawab si bayi, masih penuh semangat.
"Tumben pinter," batin Damar. Dia tak bisa melihat ekspresi Cita, karena area Dapur dan ruang makan terpisah tembok pembatas.
"Sama Damar?"
"Iya lah!"
"Konser apa?" Terdengar lagi pertanyaan Tama.
Damar memasang telinga baik-baik sembari meminum air sodanya. "Jawab yang bener, Bayi!" teriak Damar, masih dalam hati.
"Nggak tau … band indie kali."
Damar mulai merasa tenang. Hangout kali ini sepertinya bakal berjalan lancar meskipun si Bayi ikut serta. Rencananya bakal sejam dua jam saja gadis itu dia ajak nongkrong, terus dipulangkan biar tidak dicariin mamanya. Hah! Suram sekali hidup bayi besar itu, macam gadis pingitan!
"Di mana? Gak sampai malem banget, kan?"
"Om-om posesif geli kali," batin Damar lagi. Diteguknya sisa soda banyak-banyak hingga mulutnya menggembung. Dia harus mengurangi soda jika tidak mau perutnya buncit sebelum menua. Tapi ... buncit tampan kaya raya masih jadi rebutan, kan?
"Di Maestro!"
"GOB-HOEK! Huk! Huk! Huk!" Damar terbatuk parah. Kaleng soda diletakkan sembarangan di atas meja, sedangkan dia sibuk memukul-mukul pelan dadanya yang terasa sesak, air soda pun terasa pedih di rongga hidung. Jantungnya berdebar kencang, masih dengan batuk yang tak mereda, bergegas ia menghampiri Cita di ruang makan. "s**t!" Ujung jempolnya sempat terbentur kaki meja. Terpincang-pincang ia muncul di area keluarga itu. "Bang! Kok sudah pulang?"
"Boy?" Tama menoleh pela seraya tersenyum tipis melihat Damar. Tapi saat seringai itu muncul, bulu kuduk Damar sontak berdiri. Dia terlambat! "Konser apa yang pake venue De Maestro, Boy?"
"Nggak, Bang! Stop! Stop! Aku bisa jelasin!" Tak menghiraukan kepanikannya, Tama malah berjalan pelan menghampiri Damar seraya meraih selembar lap meja.
"Bohongin kakak, kamu?"
Sambitan lap pertama kali menghantam lengan Damar yang terbuka. Tidak sakit, tapi cukup perih. Kakaknya pemegang sabuk hitam di beberapa seni bela diri, lap makan pun bisa jadi senjata di tangan Pratama. "Beneran, Bang! Sumpah! Nggak ada apa-apa di Maestro!" Damar masih sibuk berkelit dan mengusap bekas-bekas sambitan secara bersamaan.
"Kamu pikir kakak nggak tau Maestro tempat apaan? Kakak nggak peduli sekalipun kamu nginep di sana. Tapi berani kamu bawa Cita?"
Slap! Satu sambitan ke arah kepala Damar, ujung lap yang mengenai telinganya terasa panas menyengat. "Ampun! Ampun! Paak! Pak Hassan! Anakmu gila! Aarrgh!" Berlari ke arah Cita yang tertawa-tawa, Damar berlindung di balik kursi makan yang cita duduki.
"Sini, Boy! Be a gentleman!"
"No, way!" seru Damar.
Mengalihkan perhatian pada Cita yang masih tertawa lebar, Tama menghembuskan napas pelan-pelan. "Kamu tahu? konser apa di Maestro?"
"Adam nggak bilang," jawab Cita riang, "tapi semua anak di kampus pada nyeritain Santana. Aku pengen tau, Kak."
"Terus? Kamu mau ikut Damar?"
Mengangguk penuh semangat, Cita masih juga tak sadar raut wajah Damar yang bertambah pias. "Restu bilang, mereka mau ke Santana minggu ini, jadi aku diajakin juga."
"Eh, Flodemort!" sahut Damar tak terima, "nggak ada yang ngajakin elo! Yang ada elo maksa-maksa mau ikut!" Menoleh panik pada Tama yang memicing menatapnya, Damar bersiap mengambil ancang-ancang untuk kabur lagi. "Suer, Bang! Mana berani aku ngajakin bayi ke Santana. Potong uang saku sebulan, deh!"
"Deal! siap-siap nggak ada uang bensin, Boy!"
Damar tercengang seraya meremas rambutnya kuat-kuat. Niat baiknya menunjukkan dunia mahasiswa pada Cita malah berujung nestapa. Bulan ini, sepertinya dia harus mengemis uang saku pada Pak Hassan. Atau membujuk Nyonya Yana agar anak sulungnya bisa berbaik hati mempercayai ucapan adik tampannya.
"Cepu, lo!" bisik Damar tajam di telinga Cita.
"Listen, Cita!" ucap Tama penuh penekanan.
Cita menutup mulutnya rapat-rapat, wajahnya berubah serius. Bagaimanapun juga, kemarahan Tama adalah hal yang sangat ditakutinya. Bahkan kemarahan ayahnya sendiri masih kurang seram dibanding Tama.
"Kakak bakal jadi donatur tetap buat koleksi sepatu kamu–"
"Yes! Okay" potong Cita, merasa semangat lagi.
"Dengerin dulu kakak ngomong apa, ada syarat untuk donasi–"
"Deal! Apa aja syaratnya aku deal aja!" sahut Cita, tak perduli pada Tama yang lagi-lagi harus menghirup napas pelan-pelan.
"Jangan pernah lagi ikut Damar nongkrong, alright?!"
Cita terdiam sejenak, pikirannya sibuk mempertimbangkan segala kemungkinan. "Kok, gitu?"
Hanya Damar yang mau menuruti semua kemauan Cita, juga mengantarnya kemanapun Cita ingin pergi. For free! Tanpa embel-embel ganti uang bensin atau traktiran pengganti uang lelah.
"That's the deal, take it or nothing."
Cita menatap Damar dan Tama bergantian. Dua orang itu punya manfaat yang berbeda, tak bisakah Cita menempel erat pada keduanya?
"Iya deh, boleh." Tama beranjak pergi diiringi tawa kecil dari Damar. "Tapi kalau sekarang ngajakin Adam ke mall boleh, ya? Ya?!"
Diamnya Tama bisa diartikan 'oke, boleh, tidak apa-apa'. Jadi Cita masih bisa hang out malam ini. Terserahlah mau konser apa di Maestro, terserah Cita tetap jadi anak cupu meski telah memasuki bangku kuliah, yang penting, donatur tetap untuk setiap koleksi sepatu masa depannya sudah berada dalam genggaman. Bravo!
Malam itu, Cita gagal mengunjungi night spot yang sedang populer di kalangan teman-temannya. Damar yang terpaksa menemaninya jalan-jalan ke mall tak berhenti menggerutu sepanjang jalan.
"Lagian elo yang bego! Bisa-bisanya elo ngomong ke Tama kita mau ke Maestro, mikir dikit, Flodemort!" semprot Damar sesaat setelah mobilnya meninggalkan rumah.
"Ya Adam kan nggak bilang kalau nggak boleh ngomong ke Kak Tama!" sahut Cita tak mau kalah.
"Fix! Selain bego elo juga telmi! Kemarin udah gue bilang, Maestro itu night spot! Elo ngerti kan maksud gue? elo pikir aja deh, mana mungkin si Tama fine-fine aja kalau tau elo main ke sana. Mikir!"
"Tau, ah!" Cita tak terlalu peduli pada kemarahan Damar, baginya,hari ini adalah hari yang sangat menggembirakan.
"Eh, nyet! Gue batal ke sono!" teriak Damar, ketika panggilan teleponnya telah tersambung.
"Siapa tuh? Restu?"
"Nggak bisa, karena gue bawa bayi monyet cepu! Huk!" Damar mengabaikan pukulan Cita yang tepat mengenai ulu hatinya. "Nggak usah ketawa lo … Mau cari mati? udah keburu tau tadi si bapak monyet. Huk!" Lagi-lagi pukulan Cita mengenai perutnya telak.
"Adam nggak sopan, ngata-ngatain Kak Tama!"
"Udah dulu, Nyet … Nganter bayi monyet, paling main capitan boneka di Time Zone." Damar melirik Cita sinis. "Ntar deh, maleman dikit gue nyusul, gue pulangin dulu bayi monyet ke sarangnya … Sip!" Memperhatikan gestur Cita yang sudah dalam mode ngambek, Damar malah tertawa-tawa riang. "Gosah ngambek, lo! Masih untung gue anterin ke mall. Mau pulang aja, nih?"
"Mbuh!"
Damar hanya tertawa-tawa menanggapi amukan Cita, toh, malam ini dia yang paling dirugikan. Gagal hangout bareng teman-temannya, juga masih kena sambit Pratama. Belum lagi potongan uang saku sebulan gara-gara ketahuan hampir mengajak princess cupu kesayangan Nyonya Yana ini ke tempat penuh maksiat.
Malam itu mereka menghabiskan waktu dengan menonton film, keliling mall tanpa membeli satu barang pun, makan di food court, dilanjutkan dengan mencoba segala permainan yang ada di time zone. Sebuah kelinci berwarna kuning dari mesin capit menjadi kenang-kenangan kencan mereka berdua hari itu. Satu hari di masa awal Cita menjadi mahasiswa, hari ketika tiba-tiba saja dia mendapatkan seorang sponsor kaya raya. Sungguh, satu hari yang tak akan dilupakan Cita sampai kapan pun.