Sugar Brother

1373 Kata
Hari itu, Cita sengaja pulang lebih awal dari Gadis Bunga. Sore nanti, dia akan menyaksikan pengadilan Damar oleh Tante Yana. Kejadian yang tidak boleh dilewatkan begitu saja, kan? Kak ifa yang hari ini sedang mengambil jatah libur, dari tadi aktif mengirimkan kabar perkembangan kondisi rumah mertuanya. Damar pulang jam tiga sore, disambut omelan panjang lebar dari mamanya. Muka bonyoknya tidak bisa disembunyikan lagi, percuma, berita perkelahian Damar tentu saja sudah disebarluaskan ke seluruh penghuni rumah Pak Hassan oleh Pratama. Setelah memarkir mobil di garasi, Cita tak langsung masuk ke rumahnya, malah keluar pagar dan pergi ke rumah seberang. Mamang yang sedang menyirami rumput halaman tersenyum lebar menyambut kedatangannya. "Udah mulai belum, Mang?" "Napane, Mbak?" Tumbuh besar di lingkungan keluarga Hassan, sedikit banyak Cita memahami bahasa Jawa yang menjadi bahasa kedua di rumah itu. "Sidang paripurna putra bungsu Bapak Hassan." Si Mamang terkekeh-kekeh mendengarnya. "Mas Damar lagi tidur. Dimarahi Bu Yana capek sepertinya." "Yah … Aku pulang aja, deh, Mang. Nanti aja kalau sidangnya mulai, Kak Ifa suruh ngabarin ya, Mang." Tanpa menunggu jawaban, Cita kembali pulang ke rumahnya. Mengambil kotak sepatu dari kursi depan mobil, Cita melenggang ke dalam rumah dengan santai,dan bertemu dengan kedua orang tuanya di ruang makan. "Kok sudah pulang kamu?" tanya mama Cita keheranan. "Mama nggak tahu? Hari ini ada pengadilan buat Adam." "Apa hubungannya sama kamu?" "Ya harus hadir lah, kasih dukungan buat Kak Tama." Gayatri menghela nafas lelah mendengar jawaban absurd dari putri tunggalnya. "Jangan suka ikut campur urusan keluarga mereka, Ta. Nggak baik. Gimanapun juga mereka itu orang lain, nggak malu kamu ngerepotin mereka terus? Apalagi si Tama, mama nggak sanggup lihat muka dia karena kamu terus-terusan morotin uangnya Tama." Mendengar hal itu, secara refleks Cita menyembunyikan kotak sepatu baru di balik badannya. Namun terlambat, gerakannya sempat tertangkap mata Bu Gayatri. "Apa itu? Jangan bilang kamu habis minta sepatu lagi sama Tama." "Enggaklah!" Cita bisa merasakan wajahnya memanas, entah semerah apa mukanya sekarang, yang pasti dia tidak pernah bisa membohongi mamanya. "Kak Tama sendiri yang tiba-tiba nyuruh beli sepatu, aku nggak minta, kok, beneran!" "Cita!" bentak Gayatri. "Kamu itu bisa dibilangin nggak sih? Mama itu malu Citaaa. Bisa-bisanya kamu minta sepatu seharga jutaan kayak gitu ke anak Mbak Yana. Hah?! Kamu pikir ada hak kamu di duitnya Tama? Balikin! Atau kamu ganti uangnya Tama!" Cita berlari ke arah kamarnya, lalu bergegas mengunci pintu. Hatinya sesak melihat kemarahan mamanya dengan mata berkaca-kaca seperti tadi. Dari dalam kamar pun masih terdengar jelas omelan mamanya, sesekali papa menimpali dengan suara lebih lirih. Papa Cita pernah menegur Tama agar tidak terlalu memanjakan Cita. Namun Tama hanya mengiyakan saja, tanpa mengurangi jatah subsidi pembelian sepatu-sepatu desainer luar negeri tersebut. Setelah berulang kali tegurannya diabaikan, lama-lama Papa Cita menyerah, dan membiarkan anaknya berbuat semena-mena pada kartu debit orang. "Cita!" Gedoran di pintu kamar membuat Cita terlonjak kaget. "Buka pintunya!" Dengan jantung berdegup kencang, pelan-pelan Cita membuka pintu sambil memeluk erat kotak sepatunya. "Nanti aku ganti, Ma, janji!" "Nggak! Kamu pikir mama nggak tahu berapa harga sepasang sepatu kamu?! Sini! Biar mama yang balikin!" "Mama jangan gitu dong! Cita malu nanti sama Kak Tama!" Cita mulai menghentak-hentakkan kaki panik. "Good! Terus kenapa kamu nggak pernah malu tiap kali minta duitnya si Tama?! Ayo balikin!" Tanpa memperdulikan rengekan Cita, Gayatri menyeret putrinya turun ke bawah, melewati sang suami yang melambai pelan penuh rasa prihatin, keluar rumah, dan menyeberang ke rumah tetangga yang berdiri paling megah di kompleks perumahan mereka. Mereka masuk lewat pintu samping, dan menemukan Adhyana sedang bersantai bersama menantu dan cucunya di ruang keluarga, Gayatri langsung memeluk Yana yang tercengang kebingungan melihat kejadian tersebut. "Apa? Kenapa ini?" tanya Tante Yana pada Cita yang berdiri kikuk dengan wajah cemberut. "Mbaakk, tolonglah mbak bilangin Tama, jangan terus-terusan manjain Cita. Aku malu, Mbaakk." Gayatri tergugu di pelukan Adhyana. Cita yang melihatnya jadi serba salah, melirik tak enak pada Syarifa yang sibuk memberi kode pada Cita menanyakan perilaku mamanya. Saat Cita mengulurkan kotak sepatunya pada Syarifa, barulah mereka semua paham maksud Gayatri. "Kamu itu nangisi apa?" tanya Adhyana dengan logat jawanya yang kental. "Itu rejeki anakmu, kenapa kamu halang-halangi?" "Beneran aku malu, Mbak. Anakku sudah dewasa, tapi kelakuannya nggak berubah, manja, kekanak-kanakan. Aku ngerasa gagal mendidik dia, Mbaak." Gayatri terisak lebih keras. "Aku nggak sanggup lihat muka Tama sama istrinya, aku malu!" Syarifa yang mendengar hal itu sekuat tenaga berusaha menahan tawanya. Dicoleknya lengan sang anak yang sibuk dengan gawai, isyarat agar bocah remaja itu berpindah ke ruangan lain. "Kamu lagi PMS ya makanya gembengan?" Isakan Gayatri terhenti sejenak. "Ngomong gagal mendidik Cita, kamu nyindir aku, iya?! Wong dari Cita kecil kamu sibuk kerja, aku yang momong dari pagi sampai sore gitu, loh! Aku yang gagal dong ndidik anakmu!" "Ndak, Mbaak, ndaak!" Gayatri menangis lebih keras lagi, membuat Cita semakin menunduk dalam di tempatnya berdiri. Hingga beberapa saat kemudian, ketika Gayatri sudah mulai tenang, Mbak Ninih datang membawa cangkir-cangkir berisi teh hangat. "Kamu ngapain berdiri gitu kayak orang nunggu hukuman?" tanya Adhyana pada Cita yang masih berdiri terpekur memandang ujung jempol yang mengintip dari ujung wedges yang dipakainya. Cita beringsut mendekat dan duduk di sebelah Syarifa yang terkikik pelan. "Jangan ketawa mulu, kak." bisik Cita kesal. "Kamu tahu kan, Ga?" tanya Adhyana pada Ega, panggilan Gayatri. "Perusahaan bisa berkembang pesat setelah Tama masuk. Apa yang kami punya sekarang, sebagian besar adalah berkat kerja keras Tama. Anak itu dari dulu nggak pernah neko-neko. Nggak pernah main-main nggak jelas, nongkrong-nongkrong sama temennya juga jarang. Dia kayak sadar, dia anak sulung laki-laki yang jadi tumpuan harapan papanya." Semua orang yang berada di ruangan itu terdiam mendengar cerita Adhyana. mereka sadar, pembahasan ini tidak akan berlangsung singkat. "Kamu juga tahu,Ga, kondisi keluarga kami di awal-awal dulu. Nggak banyak yang bisa kami beri ke Tama, dibanding Damar, loh. Tapi anak itu nggak pernah protes sekalipun, nggak pernah menuntut macem-macem. Jadi, Ga, selama tidak melanggar norma dan hukum, aku sama papanya anak-anak tidak mau membatasi kesukaan Tama. Ini karena kami merasa bersalah nggak bisa memberikan dia masa kecil berkecukupan seperti adiknya. Kami biarkan dia bebas belajar apa yang dia mau, kuliah kemanapun dia mau pergi, urusan nikah juga kami nggak banyak ikut campur, termasuk hobinya jajanin anakmu itu, Ga, kami nggak ada alasan nglarang-nglarang." "Tapi ya nggak sebanyak ini, Mbak. Memang Mbak Yana tau? Berapa harga sepatu yang diminta Cita? " "Tahu, wong kemarin aku dibeliin juga. Anakmu beli kembaran sama istrinya, tuh, kamu tanya sendiri!" Syarifa tersenyum lebar memandang Gayatri. "Maaf ya, Tante, Ifa kemarin yang nyuruh Cita minta sama Abang." "Tapi kamu kan istrinya, Ifa. Wajar." Gayatri membersit hidungnya dengan tisu yang sudah lecek diremas-remas sedari tadi. "Nggak ada hak Cita di hartanya Tama, apalagi dibeliin sampai puluhan juta seperti itu. Harusnya anak tante punya sedikit malu, atau sungkan." "Lha emang sekarang duitnya lebih banyak kok, kalau dulu paling ya dibeliin ciki, coklat," potong Adhyana cepat, "masa aku mau nglarang-nglarang Tama ngabisin duitnya sendiri." "Tapi, Mbak–" "Wes, ah! kalau dulu Cita tak minta terus kamu kasih, pasti nggak bakal jadi gini ceritanya." Gayatri tertawa kecil bercampur isak tangis. "Mbak Yana juga aneh, anakku cuma satu, bisa-bisanya mau diminta." "Ck! Apa bedanya, wong setiap hari juga aku yang jagain, kayak mau tak bawa kabur kemana aja anakmu." "Iya, maaf, Mbak. Maaf ya, Ifa. Tante tau, Cita pasti sering bikin kamu kesel." Cita melirik Syarifa, dan tersenyum kecut. Sebenarnya, dia juga seringkali merasa tak enak pada Syarifa dan Nabil, karena turut menjadi konsumen isi dompet Pratama. Terlebih, Cita memang cuma anak tetangga, bukan adik kandung seperti Damar, atau para sepupu Tama yang banyak melimpah di Jawa Timur sana. "Jauh sebelum kenal Ifa, Cita sudah jadi kesayangan abang, Tante. Dari awal, abang memperkenalkan Cita sebagai adiknya. Selama ini Cita juga nggak pernah kelewat batas, kok, Tante." "Batas debit Kak Tama berapa, sih, sebenernya?" tanya Cita, tentu saja hanya dalam hati. Kalau sekarang dia bersuara, bisa-bisa ditabok Nyonya Gayatri. "Jadi, anggaplah sepatu-sepatu Cita itu kami yang ngasih, bukan abang aja, Tante. Jadi Tante nggak perlu lagi kepikiran." Senyum lembut yang ditawarkan Syarifa membuat Gayatri terisak lagi. "Bikin masalah apa, Lo?!" tanya Damar yang tiba-tiba muncul dari pintu. "Kenapa, Tante? Cita bikin masalah lagi?" "Mana ada! Emang Adam tukang onar!" semprot Cita tak terima. Gayatri terpana melihat kemunculan Damar. "Muka kamu kenapa, Nak?" Terdengar dengusan tajam dari Adhyana. "Rebutan cewek, hebat bener, kan?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN