Setelah kepulangan Pratama dan Pak Hassan, barulah sidang paripurna Damar digelar selepas makan malam. Cita yang ngotot menghadiri jalannya sidang tetap kembali ke rumah seberang setelah diseret pulang oleh mamanya. Setelah makan malam di rumahnya sendiri, ia bergegas kembali ke rumah Damar, mengabaikan protes dari sang mama.
Masuk dengan mengendap-endap melalui dapur, Cita ikut menguping rapat keluarga Hassan bersama Mang Jaja, Mbak Ninih, dan Mbok Rumi. Mereka bertiga sedang duduk berdekatan ketika Cita datang, memasang telinga baik-baik, dengan wajah-wajah penuh rasa ingin tahu, menguping pembicaraan majikan mereka.
"Sampai mana?" bisik Cita pada Mbak Ninih.
"Sampai ditanyain alamat waitresnya," jawab Mbak Ninih tak kalah pelan.
Waitres? Hah! Cita hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar jawaban Mbak Ninih yang seadanya. "Kak Ifa ada di sana juga?"
"Lengkap, Mbak. Mbak Cita nggak masuk juga?" tanya Mbok Rumi.
"Ngapain?! Nggak ada urusannya sama aku lah, Mbok. Orang luar loh aku ini. Nguping aja cukup nih kayak gini." Cita meringis malu ketika diketawain Mang Jaja.
"Selama ini papa diam bukan berarti nggak peduli, Dam. Papa yakin kamu akan malu jika sampai papa tegur masalah kelakuan di umur kamu sekarang, kan?" Akhirnya, setelah sedari tadi hanya suara Tante Yana yang mendominasi, sesekali di timpali Damar, sang kepala kaluarga mengeluarkan suaranya juga. "Atau … masih punya malu, kan, kamu?"
"Mak, jlebb!" bisik Mbak Ninih, "bapak tuh jarang marah, sekalinya marah pedes banget omongannya."
"Sstt!" timpal Mbok Rumi, "nggak kedengeran ini, loh! Diam! dengerin dulu."
Melihat tampang serius Mbok Rumi, Cita jadi terbawa serius juga. Keningnya sampai berkerut-kerut berusaha menangkap pembicaraan keluarga tetangganya. Ah! Sesekali memang terdengar jelas, tapi lebih sering pembicaraan mereka sangat lirih, hingga tak sampai terdengar dari area dapur.
"Papa seneng kalau kamu mulai serius sama perempuan. Artinya makin deket juga waktu kamu masuk perusahaan, iya, kan?"
Tak terdengar apa jawaban dari Damar. Mbok Rumi sampai menempelkan telinga ke dinding sangking penasarannya dengan pembicaraan majikannya itu.
"Sampai kapan?!" suara Pak Hassan terdengar lagi, "nunggu papa mati? baru kamu mau bantu kakak kamu?"
"Nggak gitu, Pa–" Ucapan Damar terpotong suara lirih dari Tante Yana. "Aku nggak berantem, Ma. Aku belain temen. Masa aku diem aja ada temen cewek dikasarin kayak gitu."
"Kalau nggak berantem, terus bonyok-bonyok di mukamu itu apa? hasil musyawarah kekeluargaan? Apalagi kamu berantem di tempat kayak gitu, mama pikir kamu sudah tobat, Damar. Mama pikir seusia kamu harusnya sudah cukup kelayapan malam-malam nggak jelas"
Tak sekalipun terdengar suara Syarifa. Biasanya menantu satu-satunya itu bisa menjadi penengah yang baik antara Damar dengan kakak dan ayahnya. Cita jadi meragukan keberadaan Syarifa dalam rapat di ruang depan itu.
"Kak Ifa mana, sih? Udah mulai genting, nih," tanya Cita, masih dengan berbisik-bisik.
"Ada kok tadi, waktu mbok ngantar minum."
"Mbak Cita aja deh yang masuk, Pak Hassan kan gak bakal berani marah-marah banget kalau ada Mbak Cita."
"Mana ada, Mbak! Mbak Ninih lupa ada Kak Tama di sana? Kalau aku kena semprot juga gimana?"
"Lha Mbak Cita bikin salah apa emang, nggak mungkin Mas Tama marah nggak jelas."
"Kan kemarin aku ikut Adam ke tempatnya Mayari, ketahuan sama Kak Tama. Kalau aku masuk sekarang, pas mereka lagi bahas Mayari, jelas kasus ku juga bakal diungkit-ungkit."
Mereka kembali menyimak kelanjutan rapat keluarga majikan. Untung saja rapat itu tidak digelar di ruang kerja Pak Hassan yang kedap suara. Kalau tidak, mana mungkin mereka bisa mendapat hiburan audio drama seperti sekarang, meski cuma sepotong-sepotong.
"Mama nggak percaya kalau dia cuma temen, jujur aja, Dam!"
Lagi-lagi tak terdengar apapun dari ruang depan. Cita menghela napas lelah, Mbak Ninih dan Mbok Rumi pun hanya bisa saling pandang putus asa. Harusnya tadi Cita minta Syarifa untuk live streaming.
"Jangan keburu prasangka jelek dulu!" Tiba-tiba intonasi suara Damar sedikit lebih keras.
"Jangan berani naikin suara di depan orang tua!" sahut Tama tak kalah keras.
"Harusnya Abang bisa netral, harusnya Abang gak maksain pandangan Abang sama orang tua. Kalau kayak gini kan percuma juga aku kenalin Mayari sama kalian. Sudah jelas bakal jadi apa."
Empat penguping di area dapur mendadak duduk tegak dengan raut wajah tegang. Mereka tahu, suasana sidang itu sudah lebih naik tensinya. Tanpa sadar, Cita bahkan meraih lengan Mbak Ninih untuk dijadikan pegangan. Penghuni rumah Cita sendiri hanya dia dan kedua orang tuanya. Sementara orang tuanya jarang bertengkar, Cita juga jarang membuat masalah yang membuatnya harus diinterogasi seperti Damar. Makanya, ketika Pak Hassan atau Pratama marah, Cita selalu ikut ketakutan meski dia bukan target kemarahan mereka.
"Coba bawa aja dia ke sini, biar mama tahu orang seperti apa yang bikin kamu ngotot kayak gini."
"Kalau Mama bisa jamin gak bakal mojokin dia kayak aku sekarang, pasti bakal aku bawa dia ke rumah." Suara Damar tak terdengar lebih tenang. "Nanti Mama, Papa, Abang juga bakal tahu, sebaik apa Mayari itu."
"Ya kalau memang dia baik, nggak ada yang perlu kamu khawatirkan, kan? Terus kenapa selama ini nggak pernah kamu kenalin ke Mama?"
"Ya karena aku tahu bakal seperti apa pendapat Mama."
"Terus kenapa kamu masih ngotot sama dia, kalau sudah tahu Mama nggak bakal suka?"
"Ma–"
"Sudah, cukup! Bawa aja dia ke rumah, biar mama bisa nilai sendiri calon pilihan kamu."
"Aku nggak bakal bawa Mayari kalau Mama gak bisa janji bakal ngomong baik-baik sama dia."
"Memangnya mama pernah ngomong jahat-jahat sama temen kamu? sama pacar kamu?"
"Bawa aja, Dek. Biar clear, nggak muter-muter terus kayak gini kan?" Akhirnya terdengar juga suara mendayu milik Syarifa. "Kamu juga bisa buktiin sama … siapa? Mayari? Kalau kamu emang serius sama dia."
"Kalau Kakak kenal dia–"
"Iya," potong Syarifa, "kakak mau kenal sama temen kamu itu. Biar kami semua nggak suudzon duluan kayak gini. How's that?"
Damar terdengar menggerutu tak jelas. Sepertinya dia masih enggan juga mengenalkan Mayari pada anggota keluarganya. Padahal jika ada dukungan Syarifa, tiga puluh persen kisah cinta Damar dijamin aman lancar.
"Cita!"
Para penguping di dapur tersentak kaget. Jika tidak dalam suasana serius, pastilah Cita sudah terbahak melihat reaksi tiga orang di depannya. Mereka semua melongo menatap Cita dengan wajah pias.
"Mbak, dipanggil bapak itu." Mbak Ninih menyenggol lengan Cita yang masih diam tak menjawab panggilan Pak Hassan.
"Vita kali, iya, kan?"
"Ih! Ngapain bapak manggil anaknya Bu RT? Memangnya si Vita pernah ke sini?"
"Cita!"
Cita melongokkan kepalanya ke ruang tengah hingga terlihat seluruh anggota keluarga Hassan. "Iya, Om?"
"Ngapain kamu di situ?"
"Om kok tau Cita di sini?"
Mbok Rumi yang tak sabaran lekas menampar pelan lengan Cita. "Jangan teriak-teriak, Mbak. Samperin, sana! Diajakin ngomong orang tua, kok."
Bersungut-sungut Cita bergerak menuruti ucapan Mbok Rumi. Menghampiri keluarga Damar yang kali ini fokus menatapnya, Cita berusaha sebisa mungkin menghindari pandangan Pratama.
"Kamu kenal pacar Adam, Nak?" tembak Tante Yana, bahkan ketika Cita belum duduk sempurna.
"Kenal."
"Menurut kamu?"
"Cantik." Mendapati bibir Tante Yana yang terkatup rapat, Cita terpaksa memikirkan jawaban lain yang lebih memuaskan. "Keren?" Dengusan tajam dari Tama mengisyaratkan jawabannya masih tidak tepat. "Dia baik … sopan … ehm, berpendirian kuat!" Jawaban terakhir didramatisir dengan petikan jari, berhasil memancing tawa lebar dari Damar.
"Tau dari mana kamu?" Tante Yana memandangnya ragu-ragu. Dia paham sekali, anak gadis yang dirawatnya sedari kecil itu terlalu murah hati setiap menilai karakter orang lain.
"Aku kan pernah ngobrol-ngobrol sama dia, Tante. Dan ngomongnya halus sekali, dia bukan orang yang suka ngumpat kaya Adam–"
"Hey!"
"--dia juga nggak judes sama Cita, padahal waktu itu Cita sama Pricill. Tante kan tau Pricill kan suka begaya annoying sama pacarnya Adam."
"Karena Pricill pinter, dia tau pacar-pacar Damar kemarin kan jarang yang beres."
Baik Damar maupun Cita sama-sama terbelalak menatap Tama.
"Menurut Kak Tama aku nggak pinter?" tanya Cita defensif.
"Kamu pinter sampai beberapa level, lalu mandeg, nggak berkembang lagi."
Cita sampai kehilangan kata-kata. Bibirnya terbuka lalu menutup dan terbuka lagi tanpa bisa menjawab tuduhan Tama.
"Menurut kamu, dia pantas untuk Damar?"
Pertanyaan dari Om Hassan itu sukses mengalihkan perhatian Cita. Sejenak ia ragu-ragu memandang Damar. Kalau Mayari berpenampilan seperti Syarifa, ia tak akan kebingungan seperti sekarang menjawab pertanyaan Om Hassan. Sekalipun karakter Mayari cukup baik, menurut Cita, penampilannya pasti memicu reaksi negatif dari keluarga seperti Om Hassan ini. Bukan bermaksud judgemental, namun setiap orang pasti punya standar masing-masing.
"Cita … nggak tau, Om. Kan nanti bukan Cita yang jadi mertuanya Mayari." Cita menunduk dalam-dalam. "Tapi, lebih baik Om dan Tante ketemu Mayari aja dulu. Katanya tak kenal maka tak sayang, kan?"
Om Hassan diam tak membantah, namun tatapan tajamnya tak lepas dari sang putra bungsu. Sedangkan Tante Yana sepertinya masih terpengaruh emosi, kedua tangannya erat bersedekap di depan d**a, bibirnya terkatup rapat, dan ada rona merah di kedua pipinya.
"Kamu kenal Mayari di mana, dek?" tanya Kak Ifa santai, namun bagai sambaran petir di telinga Cita.
"Astaghfirullah hal adzim … kok Kakak tanyanya gitu?!" seru Cita salah tingkah. Dia semakin panik ketika mendapati Pratama yang memicing melihatnya.
"Lhoh, apa anehnya pertanyaan kakak? Memang kamu ketemu Mayari di mana?"
"Kak!" Mengalihkan pandangan pada Pratama, Cita bersiap mengambil ancang-ancang kabur. "Kak Tama sudah ngomel ya kemaren, sudah clear! Orang nggak boleh dituntut dua kali atas perbuatan yang sama! Itu namanya ngungkit-ungkit kesalahan, ndak baik!"
Tama terkekeh mendengar pembelaan mengada-ada itu. Padahal dari tadi, dia tidak mengatakan sepatah kata pun, tapi pihak yang bersalah seringkali terlalu panik sehingga membongkar perbuatannya sendiri. Seperti gadis yang duduk di depannya sekarang.
"Kak Tama juga sudah beliin sepatu, artinya kan sudah maafin kesalahan Cita kemarin."
"Kata siapa?" jawab Tama santai, menikmati kepanikan Cita.
"Kalian ngomong apa sih?"
Tak memperdulikan pertanyaan Syarifa, Cita malah berdiri dan berpamitan pada suami istri Hassan. "Cita pulang dulu, Assalamu'alaikum!" Secepat kilat dia kabur lewat pintu dapur, meninggalkan keluarga Hassan yang masih kebingungan atas kepergiannya.