"Yang ini gimana?"
"Oke," jawab Cita asal-asalan.
"Yang bener, dong! Elo dari tadi nunduk mulu ngurusin HP."
"Adam sendiri yang nyari pekara!" semprot Cita judes, "udah dibilangin aku nggak ada waktu, masih nungguin kurir bunga, malah maksa-maksa minta dianter belanja." Mengambil secara acak dari deretan sweater yang ada di depannya, Cita melempar baju hangat itu ke pelukan Damar. "Dah! Pake itu aja, muka bonyok aja mau banyak gaya?"
Damar hanya berdecak kesal dan tersenyum tak enak pada pramuniaga yang sedari tadi sabar melayani mereka. "Dia lagi PMS, Mbak, harap maklum."
"Nggak apa, Kak, yang dipilihin mbaknya juga bagus, kok. Tapi sizenya mungkin agak kecil, sebelah sini, Kak." Damar berjalan pelan mengikuti arahan pramuniaga cantik itu. "Kalau Kakak mau couple-an juga ada ini, kak, size small to double XL masih ready lengkap pilihan warnanya."
Karena merasa aneh dengan keheningan seketika, Cita mendongak sejenak dari w******p Mbak Asih, dan mendapati tatapan penuh harap dari sang pramuniaga. "Kenapa,Mbak?"
"Mau ambil couple, Kak?"
"Kok, tanya saya?" Cita memandang kebingungan dua orang di depannya bergantian.
Damar yang menyadari sinyal lemot Cita hanya tersenyum masam dan mengelus kepala Cita pelan. "Bukan pasangan saya ini, Mbak. Tapi cocok, ya?"
"Eh, maaf-maaf, Kak." Pramuniaga itu tersipu-sipu memandang Damar, lalu tingkat keramahannya naik beberapa level.
"Ah … satu ikan masuk jaring," ujar Cita dalam hati. Bahkan dengan muka penuh lebam, bagaimana kaum hawa itu masih bisa mendeteksi ketampanan Damar? Cita jadi geleng-geleng kepala di buatnya.
Menutup aplikasi w******p, dan mengakhiri diskusi panjang dengan Mbak Asih yang terpaksa ditugasi menghandle stok bunga potong yang baru datang, Cita mulai sadar jika dirinya lapar. Terakhir makanan yang masuk ke perutnya adalah setangkup roti waktu sarapan tadi. Siang hari di ruko,dia sibuk dengan urusan endorse event wedding exhibition di Hotel Mutiara besok lusa. Jika kondisi ini masih berlangsung, Cita yakin, dia bisa makan tiga jam lagi. Sepemilih itu memang Damar ketika belanja, mengalahkan tingkat ribet Syarifa, bahkan Pricilla.
"Aku kasih waktu lima belas menit, kalau belum nemu pilihan juga, Adam aku tinggal. Aku laper banget sekarang."
Hanya butuh satu kalimat itu, Damar sudah membawa dua potong sweater ke arah kasir. Yang lebih mengesalkan, itu adalah dua pilihan di awal mereka masuk gerai ini. Seperti kebiasaan perempuan kan? Tapi keribetan semacam itu tidak berlaku pada Cita, dan malah Damar yang menghayati setiap pakem belanja kaum wanita.
"Elo beneran nggak mau beli apa-apa? mumpung gue baru gajian ini." Yang artinya bagi hasil dari investasi-investasinya yang beragam itu baru masuk rekening.
"Ntar ketahuan mama, marah lagi dia."
"Ya jangan sampai ketahuan lah." Damar tertawa lebar. "Elo berapa tahun disponsori Pratama? masih nggak pinter aja ngumpetin belanjaan."
"Udah diumpetin! Tapi ujung-ujungnya ntar juga bakal ketahuan. Nggak tahu, orang-orang di sekitarku kayaknya cenayang semua."
Damar semakin geli melihat Cita yang ngomel-ngomel itu. "Gue traktir makan aja deh, aman nggak bakal ketahuan. Ayok, Sayang, mau makan apa aja semau kamu, pilih yang paling mahal! pasti om bayarin."
"Ya, haruslah! masa iya aku harus bayar makan sendiri, siapa juga yang maksa-maksa minta antar belanja?"
Mereka memilih satu stan dengan menu-menu khas masakan jawa. Damar lagi kangen masakan nenek moyang, sedangkan Cita juga lagi malas makan masakan western maupun Jepang.
Menempati satu sudut ruangan, mereka bisa mendapat sedikit privasi karena terhalang tanaman hias. Cita selalu memilih tempat semacam itu jika mereka makan di tempat umum. Alasannya sederhana, dia mau makan tanpa harus jaim, juga tidak perlu terganggu kebiasaan Damar yang terkadang suka tebar pesona pada sesama pengunjung, atau bahkan pada pelayan restoran. Memang separah itu insting buaya dalam diri Damar.
"Kayaknya aku mau coba bunga palsu deh, A'." Cita mengusap-usap daun tanaman hias yang menjulang hingga satu meter lebih di sebelahnya.
"Buat apa?" Kening Damar berkerut karena tak paham arah pembicaraan Cita. Matanya masih fokus pada buku menu di hadapannya.
"Buat sewa dekorasi. Rekanan Gadis Bunga kan banyak dari event atau wedding organizer. Mereka lebih sering pakai bunga palsu."
"Terus?"
"Ya, kan lumayan kalau mereka ambil dari Gadis Bunga juga. Lagian bunga palsu kan bisa beberapa kali pakai, perawatannya juga nggak susah katanya." Damar manggut-manggut mendengarnya. "Nanti bisa buat buket bunga juga, kan? Trus aku juga mau coba jual taneman indoor yang kayak gini nih." Cita mengedikkan kepala pada tanaman di sebelahnya. "Buat endorse event mall atau hotel bisa lebih praktis."
"Mau jadi satu aja di ruko gitu? pisahin aja, Cit, biar nggak campur aduk." Damar menyerahkan daftar pesanan pada pelayan yang mendatangi meja mereka, tanpa mengkonfirmasi pesanan Cita. Damar yakin gadis itu tidak akan rewel dalam kondisi kelaparan seperti sekarang. Apa pun yang dia pesan pasti akan dilahap tanpa banyak protes.
"Mau sewa ruko sebelah. Bulan depan kontraknya habis, katanya sih nggak diperpanjang."
"Nggak dijual?"
"Mau beliin, Om?" tanya Cita dengan mata berbinar-binar yang memancing kekehan Damar, "ntar kalau Om married, tak kasih free dekorasi Gadis Bunga."
Sekejap saja, raut wajah Damar berubah masam. Cita yang menyadari hal itu langsung menyesali kata-katanya yang keluar tanpa disaring terlebih dahulu. Sekarang ia kebingungan, bagaimana cara mengalihkan pembicaraan dan mengembalikan mood damar yang terlanjur turun.
Semenjak kejadian baku hantam hampir seminggu yang lalu, Damar kehilangan kontak Mayari. Bartender andalan Santana itu sudah mengajukan cuti, buntut dari keributan di tempat kerjanya. Ketika disambangi ke rumah, ibu Mayari bilang jika anaknya ada pekerjaan di luar kota, tapi tidak tahu dengan jelas kapan kepulangan putrinya. Wajar jika Damar seketika badmood saat Cita menyinggung masalah pernikahan, karena Mayari menghilang tepat di saat Damar berniat memperkenalkan calon kekasihnya itu pada kedua orang tuanya.
"Sorry …." Cita tak tahu lagi harus berkata apa selain permintaan maaf.
"Nope."
Bersamaan dengan itu, pesanan mereka datang diantar dua orang pelayan. Satu porsi gurame bakar, ayam ungkep favorit Damar, cah kangkung, orak arik tempe, satu nampan aneka lalapan komplit dengan sambalnya, juga sebakul nasi hangat yang mengeluarkan aroma pandan berhasil membuat Cita menelan ludah tak sabaran.
Melupakan sejenak suasana mendung yang tercipta, mereka antusias melahap sajian tradisional itu. Damar bilang, masakan eyangnya jauh lebih enak, makanya menu makan mereka ini tetap tak bisa mengatasi rasa kangen pada kampung halaman. Meski begitu, ia tetap memesan lagi sebakul nasi juga orak arik tempe, membuat Cita mencebik geli.
Setelah perut terisi hingga kenyang, mereka berjalan-jalan santai mengelilingi setiap gerai yang ada di lantai tiga Mall Olympia. Tak sembarang toko bisa mereka masuki, karena cup minuman setengah penuh yang mereka bawa dari restoran tadi. Dalam pandangan orang lain, Damar pasti terlihat seperti laki-laki mata keranjang. Satu lengannya bertengger di bahu Cita, tapi, wajahnya tak melepas senyum ramah, bahkan kerlingan jahil pada setiap perempuan yang kebetulan berpapasan dengan mereka. Cita tentu saja tak ambil pusing, toh, Damar bukan pacar ataupun suaminya. Dia lebih memilih window shopping sepuas hatinya.
"Kalau lagi sama Mayari jelalatan juga nggak, A'?" tanya Cita, lupa jika bahasan tentang Mayari masih masuk zona terlarang. Mungkin efek perut kenyang.
"Ya nggak dong, jaim dong," jawab Damar sambil cengar-cengir. Rupanya perut kenyang juga bisa menurunkan kadar sensitif seseorang. "Jaim aja susah dapetnya, jelalatan malah jadi gimana."
"Oh, pinter juga ternyata."
Telapak tangan Damar yang super lebar, menurut Cita, membekap erat mulut cerewet gadis berponi itu. "Elo kalau mau beli, beli aja! Tuh mbaknya sudah merhatiin dari tadi."
Cita bergegas meletakkan blouse dari bahan sifon di tangannya, lalu melanjutkan acara window shopping di stan sebelah tanpa rasa bersalah. "Aku nggak beli baju lagi bulan ini, budgetnya sudah habis buat beli dress bulan kemarin," jelasnya tanpa diminta. "Jadinya gimana, A'? Tante kemarin tanya aku, kira-kira kapan Adam bawa Mayari ke rumah?"
"Lah, ngapain mama tanya elo?"
"Emang adam bisa jawab kalau ditanya?"
"Nggak tahu lah …." Damar berhenti sejenak, melihat-lihat koleksi kamera yang terpampang di display salah satu toko. "Jadi syukur, nggak jadi ya udah."
Cita terpana melihat Damar, seolah kalimat itu sukar dipercaya. "Serius? yakin bisa nyerah?"
"Mau gimana?" tanya Damar dengan alis terangkat, "mau maksa kayak apa lagi sih? terserah lah, whatever will be, will be!"
Setelah beberapa saat terdiam mendengar kata-kata ajaib itu, akhirnya Cita menyambung ucapan Damar dengan potongan lirik lagu favoritnya semasa kanak-kanak, "Que sera, sera … what will be, will be."
Tertawa-tawa mereka berdua melanjutkan penjelajahan setiap lantai mall, diiringi lagu Que Sera Sera yang dinyanyikan secara bergantian. Mereka tak sadar beberapa pasang mata yang memandang geli, juga jepretan kamera ponsel yang merekam keceriaan mereka sore itu.
When I grew up and fell in love
I asked my sweetheart what lies ahead?
Will we have rainbows day after day?
Here's what my sweetheart said
Que sera, sera
Whatever will be, will be
The future's not ours to see
Que sera, sera
What will be, will be
( Doris Day - Que Sera, Sera)