Pasangan Labil

1380 Kata
Cita benar-benar tak menyangka, bahwa hari ini ia akan kedatangan seorang tamu istimewa. Gadis cantik berlesung pipit itu datang tanpa memberi kabar terlebih dahulu. Makanya Cita sempat kebingungan ketika Mayari masuk ke rukonya dengan senyum canggung. "Halloo," sapa Cita ramah, "nyari bunga apa, Kak?" Mayari baru bisa tertawa lepas. Sebenarnya sudah beberapa hari ia berniat menemui Cita, tapi selalu ragu dengan keputusannya sendiri. "Sorry gak ngasih kabar dulu, elo sibuk? gue ganggu, ya?" "Nope! Nope, santai aja, May, elo apa kabar?" Cita bergerak merapikan meja kerjanya yang berantakan. Secara refleks dia sudah memisah-misahkan tumpukan nota dan draft yang belum diperiksanya. "Sorry banget, May, berantakan gini tempat gue. Atau mau ke atas aja?" Setelah mendapat persetujuan dari Mayari, mereka naik menuju lantai dua ruko yang disulap menjadi ruang istirahat karyawan. Satu karpet tebal terhampar di tengah ruangan, bantal-bantal tertumpuk rapi dekat pintu menuju balkon. Ada kamar mandi yang cukup luas, dapur kecil, dan satu ruang terpisah dengan pintu tertutup rapat. "Adem." Mayari mengamati jajaran tanaman hias di balkon yang menghijau segar. "Itu sebenernya afkiran dari bawah, gak mungkin dijual karena waktu itu kualitasnya jelek. Gue rawat di atas malah thriving kayak gini." Cita membuka pintu balkon, meraih sprayer kecil di rak pojok, dan menyemprot tanaman-tanaman itu dengan senyum terkembang. "Kasihan kalau dibuang, anggeplah gue alay, tapi gue ngerasa mereka juga pingin banget hidup," ujar Cita sambil meringis malu pada Mayari. "How nice of you," jawab Mayari singkat, yang disambut gelak tawa gadis berkuncir kuda di depannya. Mbak Asih menyusul ke atas dengan membawa dua cup jus buah, dagangan ruko sebelah. Setelah meletakkan dua minuman itu di meja balkon, ia pamit pada Mayari dengan pandangan yang kentara akan rasa penasarannya. "Duduk, May, gak pa-pa kan, jus buah gini? Atau mau gue ambilin yang lain?" "Nggak, nggak usah! Jangan repot-repot." Mayari mengambil tempat di salah satu kursi balkon, lalu terdiam canggung, lagi, memandang Cita. "Ada yang bisa gue bantu, May?" Sedari dulu, Cita memang payah dalam urusan basa-basi. Itu sebabnya dia juga susah untuk akrab dengan orang-orang yang baru ditemuinya. Kecuali mereka memancing obrolan terlebih dahulu. Berbeda sekali dengan Pricilla yang supel, ramah, dan mudah bergaul dengan siapa saja. Tentunya setelah masa-masa insecure akibat kelebihan berat badan berakhir. "Sekali lagi gue minta maaf, Cit, kalau gue ke sini tanpa bilang-bilang terlebih dahulu. Tapi … gue bener-bener butuh bantuan elo." Cita sempat terdiam beberapa lama. Dia kebingungan, bantuan macam apa yang bisa diberikan pada Mayari. Mereka belum lama kenal, tidak terlalu akrab, juga tidak pernah tahu situasi masing-masing hingga bisa saling membantu. Mungkinkah bantuan yang diminta Mayari berkaitan dengan Damar? "Bantu apa?" "Soal Damar." "Ah, ternyata bener," batin Cita seraya mengangguk-angguk paham. "Kenapa Adam?" "Dia susah dihubungi. Dari beberapa hari yang lalu gue coba kontak dia, tapi mesti keputus. Gue udah coba samperin ke apartemennya juga, tapi kayaknya nggak ada orang." Rumit sekali kan hubungan mereka berdua. Kucing-kucingan terus seperti petugas satpol PP dan pedagang kaki lima. Kemarin Damar yang sibuk mencari Mayari saat gadis itu menghilang, sekarang giliran pihak Mayari yang kebingungan akan keberadaan Damar. Lucu sekali jika Cita harus sampai terlibat asmara ala-ala remaja seperti mereka ini. "Udah coba nyari ke rumahnya?" Cita langsung merutuk dirinya sendiri ketika mendapati paras Mayari yang mendadak pias ditodong pertanyaan seperti itu. "Sorry, sorry, May, karena gue juga nggak ketemu Adam beberapa hari ini." Suasana berubah hening. Mayari termenung entah dengan pikiran seperti apa. Cita diam-diam mengambil ponsel di saku celana, dan mengirim w******p pada Damar sang buronan. [Lagi di mana, A'] ketik Cita cepat-cepat. [Kenapa?] Balasan itu datang dalam hitungan detik. Cita mengerti sekarang, rupanya Damar benar-benar sedang mengabaikan Mayari. Bisa jadi ucapannya di mall tempo hari bukan omong kosong. Damar bersiap menyerah untuk memperjuangkan Mayari. [Gak lagi ke luar kota, 'kan?] ketik Cita lagi. Dengan kecepatan jemarinya mengetik serampangan, ajaib sekali tak ada satu pun typo yang akan memancing kecerewetan Damar. [Gak tuh, knapa sih?] "Ada yang mau disampein sama Adam, May?" tanya Cita pada Mayari yang masih terpekur memandangi cup jus buahnya. "Ada yang mau aku omongin sih." Cita ragu hendak menawarkan diri menjadi penyampai pesan. Lebih baik jika dua remaja beranjak tua itu berkomunikasi langsung daripada melalui pihak ketiga. Kemarin juga Tante Yana kembali mempertanyakan perihal Mayari. Tidak ada lagi yang bisa Cita ceritakan, karena perkenalannya dengan bartender itu juga singkat saja. [Besok bisa ketemu bentar sepulang dari ruko] Cita nekat mengirimkan pesan itu pada Damar, biarlah nanti Damar marah, asal masalahnya dengan Mayari cepat selesai. [Kenapa gak sekarang aja?] [Besok aja pengennya] [Apaan gak jelas banget] Mengabaikan pesan terakhir Damar dan tak membalasnya lagi, Cita memfokuskan diri pada gadis cantik yang duduk di sebelahnya itu. "Besok lo ada waktu? mungkin kita bisa nyariin Adam bareng-bareng?" Cita merasa kali ini dirinya dermawan sekali. Atau ikut campur sekali? Entahlah, dia tidak mau masalah anak Pak Hassan itu berlarut-larut. Kalau Damar punya pacar, tingkat kerepotan Cita juga bakal berkurang. Biar pacarnya saja yang mengurus Damar. "Maksudnya kamu mau temenin nyari Damar?" Mayari terbelalak menatap Cita. Niatnya menyambangi Gadis Bunga tadi hanya untuk mencari bocoran keberadaan Damar tanpa merepotkan Cita lebih lanjut. "Ya kali aja dua orang yang nyariin bakal lebih cepet ketemu. Gue juga sempet ikut nyari elo ke rumah kemarin, by the way." Rasanya gatal juga jika tidak menyindir Mayari soal keberadaannya kemarin. Wajah Mayari bersemu merah dengan gestur yang makin salah tingkah. "Gue ada kerjaan di luar kota beberapa hari kemarin." "Oh, emang Adam gak tahu? Kok kayak bingung nyariin gitu. Kalian ini kurang komunikasi atau gimana sebenernya?" "Iya … gue juga nggak bermaksud kayak gitu, Cit …." "Mungkin … besok bisa aja kita ketemu Adam, gue berharap manfaatin kesempatan itu sebaik-baiknya ya, May. Bukannya mau ikut campur atau gimana-gimana. Cuman kalau boleh sok ngasih saran sih, kalian kan juga bukan ABG lagi, harusnya bisa komunikasi lebih baik lagi, kan?" Mayari hanya menunduk mendengar petuah sok bijak dari Cita. "Sorry, May kalau-kalau gue terlalu lancang, gue tahu, kok. Tapi, kalau elo ada sedikiit aja rasa sama Adam, kasih dia kesempatan, bantu dia buat perjuangin elo di depan keluarganya. Kalau elo emang nggak ada rasa sama sekali, lebih baik cukup sampai sini aja, May. Sebrengsek apapun Adam di mata orang lain, jujur gue sayang sama dia, gue nggak mau ada yang main-mainin perasaan dia. Not fair? I know! Tapi dia udah kayak keluarga gue, dia yang selalu ada buat gue lebih dari mantan-mantan gue sendiri. Gue ngerasa elo orang baik, dewasa, bakal cocok buat pendamping Adam, makanya gue mau bantu elo lebih deket sama dia dan keluarganya. Tapi kalau elo masih tarik ulur terus kayak gini, May, sorry, gue tetep ada di pihak Adam." Cita tahu, ucapan panjang lebarnya itu melebihi batas dan cenderung jahat. Tapi dia tidak bisa menahan diri lagi untuk mengomentari sikap plin-plan Mayari selama ini. Berbulan-bulan menggantung perasaan orang lain itu keterlaluan, iya, kan? "Gue … berharap masih ada kesempatan, Cit. Gue mau lebih deket lagi sama Damar." Senyum Cita mengembang sempurna. Jika seperti ini, dia juga bisa mantap membantu kelancaran hubungan Damar dan Mayari. Keluarga Hassan memang bukan keluarga sembarangan, tapi Cita yakin beberapa hal bisa dikompromikan, termasuk pekerjaan Mayari sekarang ini. "Oke, besok kita gerilya nyariin calon elo. Tenang aja, gue punya mata-mata yang terpercaya kalau masalah nyariin Adam doang." Mayari mengangguk-angguk tanpa mengucapkan satu kata pun. "Besok gue tutup jam 5, gimana?" "Oke … gue tunggu kabar elo aja ya besok." "Siap! Nanti gue coba tanya-tanya juga sama temen-temennya dia ada di mana." "Kalau gitu gue pamit dulu ya, Cit." Cita beranjak dari tempat duduknya untuk mengantar kepulangan Mayari. Tak lupa ia kunci pintu balkon agar tak perlu naik lagi saat tutup ruko nanti. Baru saja mereka sampai di ujung tangga, langkah Mayari mendadak terhenti hingga membuat Cita menabrak punggungnya. "Kenapa, May?" Karena tak ada jawaban dari Mayari, Cita mencoba mengintip dari balik punggung gadis yang lebih tinggi darinya itu. "Adam?! Kok bisa kesini?! Kan aku maunya ketemuan besok!" Damar sama sekali mengabaikan protes Cita. Matanya hanya menatap tajam pada Mayari. "Hello, princess, long time no see." Kalimat itu terucap lirih, tanpa tekanan, dan intonasi datar. Namun Cita bisa merasakan aura dingin yang menusuk hingga ke tulang-tulang. "Good luck, May!" bisik Cita, "silahkan ngobrol berdua, waktu dan tempat gue persilahkan. Bebas." Cita melewati Mayari, menuruni tangga, berpapasan dengan Damar yang tetap mengabaikannya, lalu cepat-cepat merapat di ruang kosong bawah tangga untuk menguping pembicaraan pasangan labil itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN