Bab 20

1641 Kata
Sekarang Jeane duduk berhadapan dengan Juan. Di depannya terdapat semangkuk bakso yang baru dipesankan Juan untuknya. "Makan," ucap Juan sembari memainkan ponselnya. "Cuma gue sendiri aja nih yang makan? Lo nggak?" tanya Jeane bingung. "Hn," gumam Juan menjawab ucapan Jeane. "Lo yang ajakin makan, tapi lo yang gak makan?" ucap Jeane menyodorkan bakso yang belum disentuhnya sama sekali. "Lo aja yang makan, gue bisa pesen punya gue sendiri," lanjutnya memutuskan melangkah bergegas menuju kios bakso yang tak jauh dari tempatnya duduk. "Jeane." Panggilan itu menghentikan langkah Jeane sejenak. Tak mendapatkan suara Juan lagi, Jeane membalikkan tubuhnya. "Kenapa?" tanyanya mengernyitkan dahi. "Gak...." Juan menghela napasnya, "gak apa-apa," lanjutnya mengalihkan pandangannya pada bakso yang dipesannya untuk Jeane. "Gue ke sana dulu bentar," tutur Jeane kini sibuk berteriak dengan Abang tukang bakso. "Abang, baksonya satu mangkok ya. Pake mienya dikit, baksonya banyakin, kuahnya banyakin, jangan pake sayur. Saya gak suka makan sayur, kalo dibuang kan mubazir. Terus, bawang gorengnya banyak-banyak ya Bang. Jangan pelit-pelit," cerocos Jeane, kemudian berbalik duduk di kursinya. "Lo gak nulisin sekalian?" tukas Juan yang belum menyentuh baksonya. "Ngerepotin gue aja," ujar Jeane cengengesan. "Kalo repotin orang lain, gue suka," tambahnya melirik layar ponselnya yang berkedap-kedip. Kanta is calling... Tanpa perlu berpikir panjang, Jeane segera menjawab panggilan dari salah satu teman terbaiknya di sekolah. "Hallo, Kan?" sapanya riang, hingga Juan ikut meliriknya sejenak. "Lo ke mana? Kantin?" "Yup. Lo mau nyusulin ke sini?" Matanya berbinar senang menatap bakso yang baru diletakkan Abang bakso. "Gak deh. Ganggu lo berdua doang." "Ganggu...." Jeane menyendokkan bakso berukuran besar ke dalam mulutnya, "kena— uhuk!" "Lo kenapa, Jeane?" "Terse— uhuk!" Juan menggelengkan kepalanya heran, kemudian berjalan menuju kios minuman. "Nih," katanya menyodorkan minuman botol yang sudah dibuka tutupnya oleh Juan. "Makasih, Ju," balasnya sekilas, dan langsung meminum air di dalam botol mineral itu. "Lo kenapa sih, Jeane?" Suara itu kembali terdengar di telinganya. Ponselnya memang masih digenggam di depan telinganya. "Tersedak gue. Hampir mati gara-gara lo telpon gue," ucap Jeane menyalahkan panggilan Kanta di sela dirinya sarapan. "Lah? Gue kan gak tau kalo lo ngomong sambil makan." "Lo pikir gue ke kantin ngapain?" Sifat tak ingin mengalah kembali merasuki diri Jeane. "Ketemu Abang jual bakso. Maybe?" "Gak mungkinlah! Udah deh, gue mau makan dulu. Lo abisin pulsa gue aja," sungut Jeane. "Pulsa lo? Gue yang nelpon lo, Jeane!" "Oh iya." Jeane menyengir. "Gue lupa. Santai, Mbak. Jangan ngegas," bubuhnya kini memasukkan bakso yang lebih kecil ke dalam mulutnya. "Au ah. Gue tutup." Jeane meletakkan ponselnya di atas meja dan kembali memakan baksonya, sebelum bel pelajaran dimulai berbunyi. Jeane dan Juan berjalan beriringan di lorong koridor yang tampak ramai, ramai anak-anak perempuan mengingat siapa yang berjalan di sebelah Jeane. "Itu cewek, siapa sih?" "Jeane namanya kalo gak salah." "Kenapa tuh deket-deket si Juan?" "Gak cocok ah. Cocoknya sama Vena." "Bener, most wanted ya harusnya sama most wanted. Baru serasi." Jeane memutar matanya tak peduli, berbeda dengan Juan yang hanya memasang wajah datar tanpa ekspresi. "Fans lo minta dikirim ke kutub utara deh kayaknya," bisik Jeane pelan, agar hanya cowok yang berjalan di sampingnya yang dapat mendengar suaranya. "Hn," gumamnya mengangkat bahunya. "Jeane." Panggilan itu sontak membuat Jeane menoleh, dan mendapati Thunder berjalan kecil ke arahnya. "Temenin gue keliling sekolah yuk. Gue kan anak baru di sini," lanjutnya menarik lengan Jeane. Tarikan itu terhenti karena Juan ikut menarik lengan Jeane yang bebas. "Kita mau balik ke kelas," ucapnya dingin. Entah mengapa Jeane selalu merasa ada hawa kebencian di antara kedua cowok yang berparas di atas rata-rata itu. "Jeane gak masalah tuh. Ya kan, Jeane?" Mata Thunder melirik memelas. "Jeane?" "Eh... itu... Thunder—" "Lo gak mau nemenin gue?" tanya Thunder dengan suara yang dibuat seberat mungkin. "Tsk," decak Juan mendahului keduanya memasuki kelas, membuat Jeane menatapnya bingung. "Jadi Jeane?" Pertanyaan Thunder dibalas anggukan kepala dari Jeane. "Tapi cuma sampe bel aja ya," ucap Jeane mengambil langkah terlebih dahulu dan diikuti Thunder. 'Langkah pertama, gue harus bisa buat orang yang dekat sama lo itu menjauh.' "Jadi di sini tuh perpustakaan, di sebelahnya—" "Jeane," potong Thunder tiba-tiba. Jeane menatapnya bingung, "ya? Kenapa, Thunder?" "Lo bisa bawa gue ke rooftop gak?" pintanya. "Sekarang? Tapi bentar lagi bel," tolak Jeane. "Ada yang harus gue omongin, gak bisa di sini." Thunder menatapnya serius. "Tunggu, soal apa?" tanya Jeane sedikit kikuk. "Bawa gue dulu," ujar Thunder yang mau tak mau dituruti Jeane. Jeane membawa Thunder ke atap sekolah. Di sana, angin semilir menyambut mereka dengan lembut. "Jadi ada apa, Thunder?" tanya Jeane sembari menutup pintu penghubung tangga itu. Ia tak ingin ketahuan oleh guru jika saat jam pelajaran, malah membolos di atap sekolah. "Gini, Jeane. Gue tau kita baru kenal...." Thunder menggantungkan kalimatnya, "tapi gue boleh nggak minta tolong sama lo?" lanjutnya memasang raut memelas. "Minta tolong apa?" tanya Jeane penasaran. "Lo bisa bantuin?" Seketika wajah Thunder berbinar senang. "Kalo gue bisa bantuin, ya gue pasti bantuin," ucap Jeane seadanya. "Lo tau alamat rumah Juan di mana nggak?" tanya Thunder mengagetkan Jeane. "Eh? Rumah Juan?" tanyanya membeo dibalas anggukan dari Thunder. "Gue tau sih. Tapi, buat apa lo nanyain rumahnya?" tanya Jeane mengerjap matanya. "Lo bakal percaya sama yang gue katakan nanti?" Thunder berbalik tanya. "Tentang?" "Tentang gue dan Juan sebenarnya saudara?" Jeane membelalakkan matanya, "maksudnya sepupuan?" Ia mencoba memikirkan hal positif, namun hal itu justru dibalas gelengan kepala dari Thunder. "Suatu saat nanti lo bakal tau, Jeane." Seusai berkata, Thunder pergi menyisakan Jeane yang termenung. "Apa sih maksudnya?" tanya Jeane yang hanya dibalas angin berembus. "Tau ah. Gue balik ke kelas aja, mumpung cuma telat sepuluh menit." Dengan cepat, Jeane segera berlari meninggalkan atap sekolah menuju ke kelasnya. Ia yakin, ia pasti akan dihukum karena terlambat mengikuti pelajaran. Jam istirahat, waktu yang digunakan sebagian besar anak-anak di sekolah untuk mengisi perut mereka. Namun tidak dengan Jeane. Cewek itu hanya bisa pasrah ketika dilempari hukuman merangkum dua bab pelajaran Sosiologi. Padahal Jeane sangat yakin Thunder pun ikut terlambat sepertinya, jika menilik kembali cowok itu bersamanya bahkan setelah bel berdentang kencang. Tetapi, cowok itu bisa terbebas dari hukumannya dan menikmati jam istirahatnya tanpa beban. "Tangan gue udah mau copot rasanya," keluhnya pada Meiva yang sibuk menonton drama di ponselnya. "Makanya kalo udah sampe di sekolah itu, stay di kelas. Jangan main-main di luar kayak anak TK," omel Meiva tak acuh. "Ih! Gue kan tadi diajak Thunder keluar," balas Jeane kembali menuliskan sesuatu di kertas folionya. "Gue tau nyalin aja dah. Selebihnya tuh guru yang harus jelasin," gumamnya sebal. "Lo disuruh ngulang, baru tau lo," ucap Ginta terkekeh. "Tapi, wait! Lo bilang diajak Thunder?" bubuhnya seakan baru mengingat sesuatu. "Lo bukannya tadi pagi keluar sama Juan ya, Jeane? Kok jadi Thunder?" tambah Kanta yang ikut penasaran. "Jeane keluar sama Juan? Kok gue gak tau?" tutur Meiva yang sudah tak fokus dengan drama di ponselnya. "Lo dateng pas bel bareng Ken. Gimana bisa tau coba?" sindir Ginta sembari memutar matanya. "Slow Mbak, elah. Jangan emosi mulu," kata Meiva menyengir kuda. "Tapi ya, Jeane? Jeane?" Kursi yang diduduki Jeane sudah kosong, menyisakan buku Sosiologi yang masih terbuka. "Jeane, kok lo malah kabur?" ketus Kanta jengkel. Di lain tempat, ada Juan, Riko, Aldo dan Ken yang duduk di pojokan kantin. Suasana ramai tak menular ke meja yang ditempati keempat cowok itu. "Itu Jeane?" tanya Riko menunjuk ke arah kerumunan di stan minuman. "Bareng Thunder?" lanjutnya tak percaya. "Sejak kapan mereka akrab?" tanya Ken yang tak digubris teman-temannya. "Dia gak boleh terlibat," ucap Juan membuat teman-temannya menoleh tak mengerti. "Maksud lo, Ju?" tanya Aldo bingung. "Jeane." Jawaban itu semakin membuat teman-temannya tak mengerti. ☘️☘️☘️ "Buat apa lo muncul di sini?" tanya Juan kesal. Seusai dari kantin, Juan bertemu dengan seseorang yang mengiriminya pesan. Langkahnya tergesa-gesa melewati orang-orang yang menatapnya heran. Kini, ia berada sedikit jauh dari letak sekolahnya. "Lo harus ikut kita, Juan," kata lawan bicaranya. "Atau gadis itu yang akan kami bawa," lanjutnya menyeringai. "Gue gak akan mau ngikutin permainan kalian," ujar Juan membalikkan tubuhnya. "Siapa Jeane Aerviely, Juan?" tanya seseorang yang lain. Juan memilih bungkam. "Siapa dia? Lo harus tau, lo gak bisa lepas dari gue," ketusnya yang hanya dibalas angin akibat kepergian Juan. "Lo milik gue, Juan. Ya kan, Kak?" "Hm. Juan tak akan bisa ke mana pun." Juan melangkah gontai memasuki kelasnya, tak peduli tatapan heran yang dilemparkan guru dan teman-temannya. "Juan, kamu darimana?" tanya Bu Siti. "Toilet, Bu," jawab Juan seraya menduduki tubuhnya di bangku. "Selama tiga puluh menit?" tanya Bu Siti terperangah. "Ibu kepo deh. Jangan kepoin Juan, Bu. Saya bisa cemburu. Kepoin saya aja, Bu," ucap Aldo memainkan matanya. "Saya tidak berbicara dengan kamu, Aldo." "Kan saya juga udah pernah bilang, saya tuh gak bisa diginiin, Bu," balas Aldo sontak membuat kelas tertawa. "Kamu mau Ibu hukum lagi, Aldo?" ancam Bu Siti pada murid paling ribut itu. "Nggak deh, Bu. Cukup yang kemarin aja, Bu," ucap Aldo setengah kesal. "Baik, kita lanjutkan pelajarannya." Setidaknya Bu Siti tak lagi mempertanyakan kehadiran Juan yang terlambat itu. Entah mengapa, Aldo merasa ada sesuatu yang disembunyikan Juan. Begitu pun dengan Jeane, ia menatap cemas pada Juan yang sedang termenung. 'Apa masalah kemarin lagi?' ☘️☘️☘️ "Ayo pulang," ajak Juan pada Jeane yang masih mengemasi barang-barangnya. "Tunggu bentar." Jeane memasukkan buku-bukunya dengan cepat. "Ayo," katanya membiarkan Juan terlebih dahulu meninggalkan kelas. "Gue duluan ya, teman-teman," teriak Jeane seraya mengejar sosok Juan. "Ju, tadi lo darimana?" tanya Jeane saat mobil Juan sudah melintasi gerbang sekolah. "Pergi makan." "Selama itu?" tanya Jeane heran. "Hn." "Gue kira lo ada masalah, makanya telat." Jeane kembali membuka suaranya, "ternyata lo pergi makan," lanjutnya terkekeh kecil. Juan hanya diam, tak tahu harus merespons apa. "Tapi tunggu? Kok lo gak ajak gue sih, Ju?" cibir Jeane cemberut. "Lo gak bilang mau ikut," sahut Juan bernapas lega. "Katanya teman, tapi malah ninggalin," gerutu Jeane. Hening beberapa saat, hingga Jeane menyadari rumahnya sudah di depan mata. Ia lantas mengambil tasnya yang ditaruh di jok tengah. "Hn, lain kali gue ajak lo," ucap Juan cuek. "Turun, rumah lo udah sampe." "Awas lo nggak ngajak," ancam Jeane seraya membuka pintu mobil di sebelahnya dan menutupnya dengan pelan. "Hn." Setelah bergumam, Juan menjalankan mobilnya kembali. Setelah memasukkan mobilnya di dalam garasi, Juan menelepon Cia bermaksud meminta adiknya membukakan pintu. "Jangan rebut dia dari saya! Dia sudah milik saya!" bentak seseorang di dalam rumah itu. "Milik kamu? Saya yang berhak memiliki dia!" Seseorang yang lain ikut berbicara keras. "Kamu yang menyingkirkannya. Kenapa sekarang memintanya kembali?" "Kenapa kalian selalu seperti ini? Biarkan dia yang memilih jika kalian terus memperebutkannya!" Ada orang ketiga yang ikut dalam pembicaraan itu. Juan menurunkan ponselnya, panggilan yang sudah tersambung itu diputuskannya dengan kasar. Tangannya mengetuk pintu dengan kuat. "Buka pintunya!" ujar Juan dengan sinis. "Oh kamu sudah pulang?" seru seseorang yang membukakan pintu untuknya. Juan melenggang masuk, membiarkan kalimat itu melayang tanpa perlu dijawab olehnya. "Juan!" Pekikan dan bentakan tak digubris olehnya. Ia terlalu lelah, bahkan untuk sekedar menolehkan kepalanya ke belakang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN