Duk.
"Aduh!"
Bruk.
"Anjir! Siapa sih yang naruh selimut di sini?"
Brak.
"Jeane?" Anggi melototkan matanya, menatap tak percaya pada anak sulungnya yang terlilit di dalam selimutnya di atas— lantai kamar?
"Eh... oh... Mama?" Jeane cengengesan, berusaha menyingkirkan lilitan selimut yang membungkusnya layaknya sebuah kepompong.
"Kamu ngapain sih, Jeane?" tanya Anggi membantu membuka selimut yang membungkus tubuh Jeane.
"Ini, Ma... Jeane hari ini?" Jeane menggerakkan bola matanya dengan liar. "Itu... uhm...."
"Kak Jeane hari ini bakal dijemput sama pacarnya, Ma." Suara itu terdengar di depan pintu kamar Jeane yang masih terbuka. "Makanya pagi-pagi udah rempong gitu, Ma," lanjut Lily menyeringai mendapati Jeane menggelengkan kepalanya cepat.
"Bukan, Ma. Juan bukan—"
"Oh? Jadi namanya Juan ya, Jeane?" goda Anggi menaruh selimut itu ke atas ranjang Jeane.
"Ih, Mama. Maksud Jeane itu—"
"Maksud Kak Jeane, Bang Juan itu baru calon pacarnya, Ma," ucap Lily tertawa kecil, sedangkan Jeane semakin gelagapan.
"Calon ya, Jeane? Kok baru jadi calon, Jeane?" tutur Anggi ikut tertawa bersama Lily.
"Ya ampun, Ma. Juan cuma temen Jeane, Ma," tukas Jeane melirik jam beker di atas nakas. "Udah hampir jam enam? Ma, Jeane mandi dulu ya. Nanti kesiangan," lanjutnya dengan tergesa-gesa menyambar handuk dan memasuki kamar mandinya.
Blam.
Anggi terkekeh pelan. "Lily, kamu udah mandi?" tanyanya pada anak bungsunya yang masih melongo heran.
"Mama, Kak Jeane masuknya jam 07.30 kan? Kok sekarang udah pergi mandi? Biasanya juga belum bangun," tanya Lily bingung. Ia pikir, Jeane hanya terbangun awal karena lupa mengerjakan tugas Ekonomi seperti biasanya.
"Iya, mungkin dia mau bersiap-siap lebih awal, Ly," jawab Anggi tersenyum simpul. "Kamu juga mandi gih. Kamu kan masuknya jam tujuh," tambahnya berjalan menuju pintu.
"Iya, Ma." Lily menunggu Anggi sampai di lantai bawah. Kemudian ia menyeringai jahil menatap pintu kamar mandi Jeane.
"Kak Jeane!" teriaknya di depan pintu kamar mandi Jeane, tangannya tak berhenti mengedor pintu tersebut.
"Apa sih, Ly? Gue mau mandi ini!" balas Jeane sambil berteriak.
"Lo mesti cerita ya abis pulang," kata Lily membiarkan pintu di depannya terbuka. "Lo udah selesai mandi?" tanya Lily cengo.
"Gue mulai mandi aja belum! Lo rese banget sih pake nge-drumband di sini. Sana ke kamar lo," ketus Jeane.
"Ih! Si rempong malah ngomel-ngomel gak jelas. Gue gak mau tau ya, lo mesti cerita nanti," tukasnya berlalu pergi.
Jeane menggelengkan kepalanya pelan. "Kok gue bisa ya punya adik super kepo kayak gini ya? Darah siapa sih itu yang ngalirin sifat ginian? Perasaan Mama Papa gak gitu deh," gumamnya kembali menutup pintu kamar mandinya pelan.
Dua puluh menit kemudian, Jeane dan Lily berjalan ke ruang makan bersama-sama. Jeane berseragam lengkap dengan tas di punggungnya, berbeda dengan Lily. Tas gadis itu sudah terbiasa diletakkan terlebih dahulu di sofa ruang tamu.
"Kok lama Jeane, Lily?" tanya Anggi sembari menaruh sepiring rendang di tengah meja persegi itu. Sedangkan, Irwin tengah duduk membaca koran di tangannya sambil sesekali menyesap kopi hitam di depannya.
"Iya nih, Ma. Biasa," ucap Lily menyengir. "Masalah pencernaan," bubuhnya sepelan mungkin karena merasa tak pantas mengatakan alasannya di meja makan. Apalagi ada papanya di sana.
Anggi tersenyum maklum. Ia sangat mengerti tabiat kedua anaknya, dan membiarkan Jeane melewatkan pertanyaannya tadi. Ia masih sangat ingat bagaimana Jeane bersiap barusan, sangat terburu-buru.
"Jeane—"
Ting tong!
Suara bel pintu mengintrupsi Anggi yang baru saja akan berbicara. Dengan langkah kecil, Anggi berjalan ke arah pintu besar itu bersamaan dengan Jeane duduk di kursinya.
"Kayaknya itu Bang Juan deh, Kak," celetuk Lily memasukkan sesendok nasi ke dalam mulutnya.
"Juan? Siapa, Ly?" tanya Irwin mengalihkan perhatian pada si putri bungsu.
"Itu loh Pa—"
"Temen Jeane, Pa," tukas Jeane menyela Lily yang bisa dipastikan akan berbicara yang tidak-tidak.
"Teman?" tanya Irwin menaikkan satu alisnya. "Masa?"
"Iya, Pa. Temen sekelasnya, Jeane," jawab Jeane bersamaan dengan hadirnya Juan di sebelah Anggi.
"Ayo, Juan. Ikut kami sarapan aja dulu," ajak Anggi menarik pelan kursi kosong di sebelah Jeane.
"Eh? Mama? Jeane udah selesai makan. Jeane berang—"
"Selesai apanya, Jeane? Papa bahkan gak liat kamu makan sesendok pun dari tadi." Perkataan Irwin membuat Jeane mematung sesaat, kemudian menundukkan kepalanya karena malu.
"Sista bahkan baru duduk...." Lily menyeringai jenaka, "empat puluh detik yang lalu," lanjutnya dengan tenang karena Jeane tak akan bisa mengumpatinya di depan orang tua mereka. Pencitraan? Mereka berdua selalu melakukannya untuk saling menjatuhkan satu sama lain.
"Udah deh, Jeane. Gak perlu terburu-buru gitu. Lily aja belum berangkat sekolah. Kamu yang masuknya lebih siang malah ngerengek mau berangkat sekarang," ucap Anggi. "Silakan duduk, Juan."
Juan menggeleng pelan sambil tersenyum sopan. "Saya ke sini agak awalan karna mesti ketemu sama guru pagi ini bareng Jeane, Tante," ucapnya bernada ramah, membantu Jeane yang sudah bersiap kabur dari rumah.
"Kita berdua masih bisa sarapan di kantin kok, Ma," jawab Jeane yang kini berdiri.
"Yakin? Mama siapin bek—"
"Gak perlu, Ma," jawab Jeane cepat, membuat Irwin meliriknya. "Maksud Jeane, di kantin kan ada banyak makanan, Ma," lanjutnya mengembuskan napasnya perlahan sebab sang Ayah sudah mengalihkan perhatiannya.
"Tapi kan gak sehat, Jeane?" bantah Anggi.
"Err... Tante, saya sama Jeane bisa makan di luar nanti. Yang terjamin sehat." Juan kembali membuka suaranya.
"Jadi, Ma? Kita pergi sekarang ya?" bujuk Jeane dilengkapi puppy eyes.
"Tunggu deh, Kak," sela Lily. "Abang Juan ganteng deh, kok mau sama Kak Jeane yang b***k gini?" tanyanya membuat Jeane melototkan matanya.
"Lily! Maksud lo apa? Gue gak b***k ya," ujar Jeane kesal, yang tentu tak digubris Lily. Adiknya itu malah melempar tatapan mengejek ke arahnya.
"Kita permisi dulu ya, Om, Tante. Takutnya telat, ditungguin sama guru," tutur Juan tersenyum singkat.
"Ah ya sudah kalau gitu. Kamu jangan lupa makan ya, Jeane," ucap Anggi, sedangkan Irwin hanya menganggukkan kepalanya singkat.
"Bye-bye Mama Papa! Dadah, mulut baskom!" kata Jeane meraih tangan Juan, dan mengajaknya pergi. Ia bisa mati berdiri jika Lily tetap menggodanya di sana.
"Jadi?" tanya Jeane memasang seatbelt-nya.
"Apanya?" tanya Juan datar melirik ke arah kaca spion, guna membantunya melihat ke arah belakang. Mobilnya mundur perlahan sebelum berbelok meninggalkan halaman rumah Jeane.
"Siapa yang nungguin di sekolah?" tanya Jeane dengan polos. "Perasaan gue gak ada janji ketemuan sama siapapun," lanjutnya memainkan ponsel.
Empat Sebangkaiii! (4)
Jeane : pagi anak-anak sebangkai setanah air!
Meiva : holaaa~ amazing baby
Kanta : apa sih kalian berdua, pagi-pagi udah pada gak jelas.minum obat dulu sana.
Jeane : ampun! Adek lagi bareng babang ganteng nih sekarang
Ginta : babang bakso maksud lo?
Meiva : ya kali babang bakso.
Jeane : enak aja sama babang bakso!!
Jeane : tapi emang enak sih, bakal dapet bakso gratisan mulu
Meiva : dih!! cabe lo, Jeane
Kanta : ^2
Ginta : ^3
Jeane : gue terong ya bukan cabe
Jeane memasukkan ponselnya ke dalam tas ketika Juan sudah memarkirkan mobilnya di kawasan sekolah.
"Makasih, Ju," ucap Jeane sembari keluar dari mobil.
Kakinya baru saja akan melangkah jika tak mendengar teriakan dari si kembar. Siapa lagi kalau bukan Kanta dan Ginta. Keduanya dengan semangat menuju ke tempatnya berdiri.
"Tadi gue liat lo turun dari mobil Juan, barengan?" kata Ginta berjalan di sebelah Jeane. Tangannya mencolek-colek nakal lengan Jeane, meminta gadis itu segera menjawab pertanyaannya.
"Kan di group Line gue udah ngasih tau," tutur Jeane sepelan mungkin, tak ingin anak-anak di koridor mendengar jawabannya. Namun,—
"JADI BENER LO BARENG JUAN?" — ada Kanta yang berteriak heboh, dan membuat ketiganya seketika menjadi pusat perhatian.
"Lo kalo mau teriak, liat tempat juga dong," ucap Jeane dengan gusar.
"Ya kan gue kaget, Jeane," ucap Kanta cengengesan.
"Baru juga berangkat bareng udah seneng." Suara itu terdengar dari arah belakang Jeane. "Cabe lo!" umpatnya.
"Siapa sih?" Jeane membalikkan tubuhnya bersamaan dengan Ginta dan Kanta. "Vena?"
"Kenapa?" decak Vena mendekati Jeane. Matanya meneliti tubuh Jeane, "gak ada yang bisa dibanggain dari lo," sindirnya membuat beberapa orang di sana tertawa.
"Lo—"
"Heii! Ada apa ini?" sapa Thunder mengintrupsi Jeane.
"Gak tau tuh," sungut Jeane berlalu pergi.
"Kenapa sih dia?" tanya Thunder pada Kanta dan Ginta.
"Tuh, tanya aja sama si kunyuk centil," sahut Kanta yang juga pergi, diikuti Ginta di belakangnya.
Thunder berdiri melongo. "Kok pada pergi?" tanyanya jengkel. “Ada apaan sih?
Kakinya pun ikut melangkah masuk ke dalam kelas, meninggalkan Vena yang masih berdiri angkuh di sana.
"Hai, Jeane," sapa Bintang saat Jeane duduk di depannya. "Muka lo abis dikucek kasar sama nyokap lo ya?" lanjutnya terkekeh.
Pletak.
Jeane menjitak dahi Bintang, membuat si empunya dahi meringis nyeri.
"Lo suka banget ngelakuin k*******n, Jeane!" ucap Bintang mengelus dahinya. “Gue lapor juga lo ke komnas anak.”
"Udah tau gue lagi bad mood, lo malah ngejekin gue," sembur Jeane sebal.
"Ya ampun Jeane!"
Seruan itu mengagetkan Kanta, Ginta, Bintang dan Jeane. Di kelas memang hanya ada mereka berempat.
"Lo pagi-pagi udah ngelakuin KDRT! Gue laporin lo ke Pak RT, baru tau rasa lo," lanjut Aldo menuju ke bangkunya.
"Gue lagi males ngomong sama lo! Sana ngomong sama tembok aja," bentak Jeane memutuskan membaca novelnya.
Di depan pintu, Juan baru saja akan melangkah masuk, sebelum seseorang melesat mendahuluinya.
"Thunder? Lo gak liat ada Juan di situ?" omel Vena yang secara tiba-tiba sudah berada di belakang Juan. Langkahnya tergesa, ingin mendekati Juan. Sedangkan Thunder sudah duduk bertopang dagu di kursinya.
"Lo gak apa-apa kan, Juan?" tanyanya dengan khawatir.
"Gue gak apa-apa kok. Ya gak, Jeane?" Dan tentu si perusak suasana, Aldo tak mau ketinggalan untuk mengganggu setiap ada kesempatan.
"Gue gak mau ikutan hari ini," balas Jeane melanjutkan kegiatan membacanya yang sempat terganggu tadi.
"Lo kenapa sih, Jeane? Lagi siklus?" tanya Bintang dengan polosnya.
"Tau ah." Jeane hanya merespons dengan malas.
"Juan?" panggil Vena merasa Juan membeku di tempatnya berdiri. Tanpa aba-aba, cowok itu melangkah cepat menuju bangkunya.
"Ju, kok gue ditinggal?" Vena menduduki tempat Ken. "Gue bawain bekal buat lo, Ju," tukasnya sembari membuka tas punggungnya.
"Palingan mie, atau nggak ya air panas," celetuk Aldo dengan santainya.
"Lo jangan gitu, Do." Siapa sangka justru Jeane membuka suara setelah adegan marah-marahnya tadi. "Dia itu beli di kantin tadi," jawabnya polos, menyengir pula.
Aldo dan Bintang tertawa terbahak-bahak, begitupun dengan Ginta dan Kanta. Semua orang di sana, tak mengubris wajah memerah menahan amarah milik Vena.
"Lo cemburu karna gue lebih deket sama Juan, Jeane?" tukas Vena mengangkat dagunya.
Jeane menoleh ke belakang, tepatnya tempat Vena berada. "Buat apa? Gue mah anti jealous orangnya," jawabnya jenaka. "Bukannya lo yang jealous ya tadi di koridor?" Jeane memasang wajah watados ala-nya.
"Apa?" Vena memicingkan matanya.
"Bener tuh! Tadi di koridor pake ngatain Jeane," sambung Kanta mendelik jengkel pada sosok Vena.
"Jadi tadi dia ngejelekin lo, Jeane?" tanya Thunder setelah diam menyimak dari tadi.
"Huh?" Jeane memutar tubuhnya menghadap Thunder, "apa?"
"Yang gue tanya tadi?" ulang Thunder sangat gemas dengan cara kerja otak Jeane yang lambat. "Yang di koridor, Jeane."
"Oh? Iya," kata Jeane seadanya, tak menyadari seseorang di sana memandang tak suka.
"Jeane?" panggil Juan sembari melangkah ke arah gadis yang dipanggilnya. "Ke kantin. Kita belum sarapan."
Tanpa menunda banyak waktu, Juan menarik pergelangan tangan Jeane.
'Lo harus bisa ngejauhin dia, Jeane. Dia bisa buat lo berada di tempat yang berbahaya!'