"Thunder?" ucap Jeane mengatup bibirnya dengan cepat. Ekspresi menganganya pasti terlihat sangat jelek. Di belakangnya, Juan menyusulnya dengan langkah santainya yang benar-benar sangat pelan.
"Lo sama siapa ke sini, Jeane?" jawab Thunder tersenyum manis. "Sama Juan?" Lengkungan bibirnya membentuk seringai sinis kala matanya menangkap sosok Juan.
Juan segera menarik lengan Jeane, membuat gadis itu terhuyung menubruk lengan Juan dengan keras.
"Lo kenapa sih, Ju? Sakit tau," cibir Jeane sembari mengelus lengannya. "Eh? Kalian saling kenal?" tanyanya sedikit bingung. Seingatnya, kedua cowok itu tak saling menyapa saat berada di lingkungan sekolah.
"Kami tentu saling kenal, Jeane..." Thunder menggantungkan kalimatnya, "bahkan kami lebih dari saling mengenal. Benarkan, Juan?" katanya terkekeh mengejek.
"Kita pergi," tukas Juan menyeret Jeane pergi dari sana, meninggalkan Thunder yang menatapnya semakin sinis.
"Lo gak mau Jeane tau, Ju?" Thunder berdecih sinis. "Liat aja nanti, Ju," gertaknya sembari melipat tangan di depan dadanya. “Jeane bakal tau semuanya gak lama lagi.”
"Serah lo." Juan memaksa Jeane untuk masuk ke dalam mobil, niatnya memasuki perpustakaan kota itu sudah hilang tak tersisa.
"Lo kenapa sih, Ju?" Jeane mengeratkan genggamannya pada seatbelt yang terpasang di tubuhnya, sesekali menutup matanya takut saat Juan menyalip kecepatan mobil-mobil di depannya.
Juan tak menjawabnya, justru ia semakin menambah kecepatan mobilnya. Suara-suara klakson dan u*****n pun tak direspons baik oleh Juan.
"Ju, gue belum mau mati ya!" teriak Jeane menutup matanya erat-erat.
Walaupun sang adik suka mengendarai mobil pada kecepatan tinggi, namun Lily tak pernah mengajak Jeane di dalamnya. Hanya sekali dua kali, Lily membawa Jeane di luar batas yang sudah ditentukan peraturan lalu lintas. Itupun jarumnya masih di bawah angka kilometer yang terpampang jelas di speedometer mobil Juan sekarang.
Mendengar teriakan histeris Jeane, akhirnya Juan memperlambat laju mobilnya. Hanya sedikit lambat, namun mampu membuat Jeane mengembuskan napas leganya. Ia siap menyembur Juan dengan segala u*****n dan makian yang sudah disusun di dalam otaknya.
"Lo—"
"Turun," ucap Juan memotong perkataan Jeane.
Jeane mengedarkan pandangannya sembari keluar dari mobil, ia baru menyadari jika Juan membawa ke pantai. Angin berhilir mudik menerbangkan rambut panjangnya yang sengaja tak diikat. Matanya menerawang kagum menatap lautan lepas di depannya.
"Tunggu, Juan. Ngapain kita ke sini?" tanyanya mendapati Juan telah berada di depannya beberapa meter.
Juan menghentikan langkahnya. "Buat menjernihkan pikiran," jawabnya kembali mengayunkan kakinya.
"Gue selalu berharap...." Tanpa aba-aba, Juan membuka suaranya, "angin bisa bawa gue pergi dari sini," ucapnya memejamkan mata. Dalam mata terpejamnya, Juan bisa merasakan gadis yang duduk di sebelahnya menatapnya bingung. “Dari dunia ini lebih tepatnya.”
"Lo kenapa? Ada masalah besar yang gak bisa lo selesaikan?" Hanya itu yang bisa ditangkap Jeane dari ungkapan Juan. Ia bukanlah seorang gadis yang sangat peka dengan keadaan. Apalagi keadaan Juan yang sama sekali tak diketahuinya, cowok itu terlalu misterius untuk dipahami.
Juan menggelengkan kepalanya sebagai respons kecil darinya. "Nggak, masalah gue udah beres. Kalo gue udah di sini, berarti masalah gue udah disapu abis sama ombak." Kini matanya menatap kosong ke arah laut. "Hanya saja, itu cuma sugesti omong kosong gue." Juan mengembuskan napasnya. “Agar gue ngerasa lebih tenang, padahal...”
"Masalah itu tetap ngikutin gue ke mana pun gue pergi. Dia gak beranjak sedikit pun dari hidup gue," lanjut Juan kini beralih menatap wajah Jeane. "Masalah gue... gak akan pernah berakhir."
Jeane menangkup sebelah pipi Juan, jari jempolnya membelai halus pipi itu. Jeane berusaha mengalirkan ketenangan, yang disambut pejaman mata sejenak dari Juan.
"Lo mau denger pendapat gue?" tanyanya berhasil membuka kembali mata Juan, tangannya masih bertahan di sana dengan aktivitas yang sama. "Menurut gue, setiap orang pasti akan selalu mendapatkan masalah hingga akhir hayatnya. Tak terkecuali lo maupun gue. Karna itulah cara Tuhan menguji umat-Nya." Tangan itu diturunkan dan kembali ke sisi tubuhnya.
Jeane memasang senyuman teduh. "Karna itu lo gak boleh nyerah, Ju. Kalau pun semuanya salah di mata lo, lo punya Tuhan yang Maha Besar untuk membenarkannya. Dan itu buat lo."
Juan tersenyum samar, tak mengira cewek yang dikenali bersifat sama dengan Aldo itu bisa menenangkan hatinya yang kacau balau. "Gue gak pernah berpikir sekali pun bakal bawa lo ke sini," balas Juan yang kembali memandang lautan yang terus diserang ombak. "Makasih, Jeane," ujarnya tulus diselingi senyuman manis.
Mata Jeane melebar, tak percaya jika Juan mengumbar satu senyuman untuknya. "Jeane," panggilnya mengembalikan kesadaran Jeane yang sudah melayang ke udara.
Jeane menggelengkan kepalanya pelan, bibirnya dilengkungkan dengan senyuman kikuk. "Mulai hari ini kita teman."
Dan Jeane tak bisa melepaskan senyuman riangnya, bahkan hingga malam menjelang.
Di rumahnya, setelah Juan mengantarnya pulang, Jeane tetap memasang senyuman konyol.
"Lo kenapa sih, Kak?" tanya Lily bergidik ngeri. "Lo gak lagi kesambet kan?" tanyanya sok polos. “Gue takut nih.”
Bantal yang ada di pangkuan Jeane, melayang tinggi dan mendarat di wajah Lily.
"Jangan asal ngomong ya, Ly. Gue tabok juga lo nanti," ucap Jeane melototkan matanya.
"Labil lo, Kak. Tadi senyum-senyum gak jelas, sekarang tuh mata kayak mau loncat keluar," ucap Lily mengambil langkah duduk di sebelah Jeane.
"Kak," panggilnya yang dibalas deheman tak berarti dari Jeane. Jeane mengulas senyuman lebar pada ponselnya.
Kesal karena tak diacuhkan Kakaknya, Lily melempar bantal di tangannya ke arah Jeane.
"s**l! Melesat," rutuk Lily mendapati bantal tersebut hanya mencapai lengan Jeane.
Dari : Juan
Makasih buat hari ini.
Sebagai gantinya, besok gue yang nganter-jemput lo.
Lily menatap heran pada kakaknya yang sudah cekikikan, mengigit gemas bantal yang dilempar kembali oleh Lily. "Lo kenapa sih, Kak? Nyeremin banget," tukasnya jengkel.
"Pergi sana! Jangan gangguin gue. Gue lagi sibuk." Bukannya menjawab pertanyaan adiknya, Jeane justru mengusir Lily dengan kibasan tangannya.
"Gaya lo kayak orang lagi jatuh cinta," celetuk Lily.
"Eh? Lo diem ya. Ini bukan bahasan buat anak SMP kayak lo," semprot Jeane.
"SMP-SMP gini pengalaman gue lebih banyak dari lo ya, Kak," sahut Lily yang hampir melenggang pergi, jika saja tak ada tangan Jeane yang menahan lengannya.
"Iya deh. Gue cerita nih ya," tutur Jeane cengengesan. "Lo ada liat cowok yang anter gue tadi nggak?"
Memang tadi Juan menyempatkan diri untuk menyapa Ibu Jeane di dalam rumah, membuat sang Ibu mengatakan Juan adalah calon menantu idamannya.
"Siapa itu, Jeane? Sopan banget. Mama suka sama cowok yang kayak ginian," seru Anggi mengguncang tubuh Jeane. "Ganteng lagi! Mama setuju deh kalo Jeane mau pacaran sama Juan," ucapnya tanpa memedulikan tampang kaget bercampur bingung dari Jeane.
Mengingat itu, Jeane bergedik ngeri membayangkannya. Mamanya yang berantusias menerima Juan, kontras dengan tampang shock yang ditampilkan Jeane. Berbeda lagi dengan Lily yang sudah tertawa terbahak-bahak menyaksikan drama yang dimainkan Mama dan Kakaknya.
"Oh, cowok cakep itu ya, Kak? Dapet di mana cowok bermuka high class gitu?" kata Lily dihadiahi geplakan kepala.
"Lo ngomong jangan main asal jeplak aja," gerutu Jeane sebal.
"Iya deh iya. Adek ngalah buat Kakak yang lagi kasmaran," sindir Lily. "Lalu kenapa sama cogan itu?" lanjut Lily menghindari tangan Jeane yang hampir mampir di kepalanya lagi.
"Nah...." Jeane kembali tersenyum konyol, tak menyadari kernyitan di dahi Lily, "dia minta gue jadi temennya," katanya puas. Ada rasa bangga di dalam hatinya ketika Juan mau membuka dirinya pada Jeane.
"Cuma itu?" tanya Lily berkedip tak percaya. "Maksud gue, cuma karna dia mau jadi temen lo, lo udah kejingkrakkan kayak gini?" sambungnya dengan nada lebih pelan kala Jeane melemparkan pelototan horor.
"Lo mengecewakan, Kak. Iya sih, dapet temen cogan itu membahagiakan, apalagi kalo bisa jadi doi-nya," tambah Lily melemas.
"Ih! Lo songong ya, Ly. Lo gak tau sih tuh cowok, cueknya gak bisa ditolongin lagi. Udah stadium akhir," timpal Jeane sebal saat Lily menganggap remeh kejadian yang menimpanya hari ini.
"Males gue ngomong sama lo," tukasnya kembali memainkan ponselnya.
Ddrrttt... ddrrtt...
Juan is calling...
"Mampus!" pekik Jeane mengagetkan Lily yang memasukkan cookie ke dalam mulutnya.
"Uhuk... uhuk..." Lily segera berlari ke arah dapur untuk mengambil minuman, ia mengabaikan teriakan kesal dari Jeane.
"Lily! Lo kalo batuk jangan noleh ke arah gue juga kali!" Jeane mendelik sebal ke arah Lily berada.
Panggilan itu terhenti, tanpa sempat diangkat Jeane. Tangan cewek itu sibuk mengibas bajunya yang penuh serpihan kue semburan Lily.
"Adik terlaknat!" sungutnya dongkol. “Gue pecat juga lo nanti.”
Getaran ponselnya kembali menyadarkan dirinya. Juan meneleponnya lagi. Jeane segera menggapai ponselnya, dan menggeser tanda hijau di layar ponselnya.
"Hallo, Ju?" tanyanya sambil melirik ke arah Lily yang berbalik duduk di tempatnya lagi.
Mulut Lily bergumam sesuatu, tanpa mengeluarkan suaranya sedikit pun. 'Loud-speaker.'
Jeane menurunkan ponselnya dari telinga, dan segera menekan tanda loud-speaker.
"Lo kenapa gak bales chat dari gue?" Suara itu tertangkap di telinga Jeane dan Lily.
"Sorry, Ju. Gue baru mau bales, tapi adik gue ngajak ngobrol terus." Jeane merasakan panas nyeri di perutnya, Lily mencubitnya.
"Hn."
'Gumaman itu lagi. Gak bisa move on apa tuh bahasa alien?' rutuk Jeane dalam hati.
"Jadi?" Jeane tersentak kaget saat Juan membuka suaranya.
"Jadi apanya?" Sudah tahu dirinya selalu sulit menangkap pembicaraan orang lain, Jeane malah benar-benar tak fokus sekarang.
"Lo bareng gue besok berangkat ke sekolah."
Jeane sadar, ucapan Juan bukanlah pertanyaan namun pernyataan. Lalu untuk apa Juan meneleponnya?
"Jeane?" Panggilannya menyadarkan Jeane, Lily di sebelah Jeane sudah kesulitan menahan tawanya.
"Eh? Iya, Ju," jawabnya menggerakkan matanya liar karena panik.
"Ya udah kalo gitu." Juan memutuskan panggilannya.
Lily yang sudah tak dapat menahan tawanya, langsung menyemburnya keluar. Tak peduli kakaknya akan tersinggung ataupun marah, Lily tetap tertawa terbahak-bahak.
"Gila lo, Kak," komentarnya setelah meredakan tawanya. "Kikuk abis," sambungnya hampir kembali tertawa, sebelum dibekap Jeane.
"Ada Mama sama Papa kemari, jadi lo diem. Awas kalo lo berani bongkar," bisik Jeane menampilkan senyuman manis untuk orang tuanya.
"Jeane, kenapa Lily-nya kamu bekap kayak gitu?" tanya Anggi terheran-heran. Begitu juga dengan Irwin, Papa Jeane dan Lily.
"Iya nih, Ma. Tadi Lily mau makan terus. Jadi Jeane bantu stop-in sebelum Lily ngembung kayak buntal," jawab Jeane cengengesan seraya melepaskan mulut Lily, matanya tetap terus mengawasi adiknya.
"Kak Jeane boong, Ma," tukas Lily berlari menjauhi Jeane yang hampir menggapai tangannya. "Dia nyeritain soal cogan tadi, Ma."
"Cogan?" beo Anggi, "bahasa apa itu? Artinya apa?" tanyanya menarik Lily untuk duduk di sebelahnya, di depan Jeane. Dan Irwin memilih duduk di sebelah Jeane.
"Cowok ganteng, Ma. Makhluk tertamvan yang gak bisa didustai siapapun," cetus Lily dengan gaya remajanya. "Mama kudet sih," ucapnya memutar mata.
"Kudet apalagi, Ly? Bahasa kamu makin hari makin aneh aja," respons Anggi mengerutkan dahinya bingung.
"Kalau kudeta, Papa tau, Ly," timpal Irwin terkekeh pendek.
"Beda, elah Pa. Papa Mama harus sering denger aku sama Kak Jeane lagi ngomong deh, biar update gitu," sahut Lily dengan santainya, mengabaikan pandangan menusuk dari Jeane.
"Ya bayangin dong, Mama kan anak tahun berapa. Kamu tahun berapa," ucap Anggi dengan suara lembutnya.
"Kak Jeane," panggilnya menatap serius, "ajarin Mama bahasa gaul." Sontak bantal di genggaman Jeane kembali menyapa wajah Lily.