Bab 17

1734 Kata
Dari : Jeane Gue udah di bawah nih Save meeeeee!! Samudra mendelik sebal pada pesan yang diterimanya. "Tuh anak kayak lagi disiksa aja di bawah," sahutnya memberikan ponselnya pada Cia. "Kak Jeane udah di bawah? Gue turun duluan kalo gitu," ucap Cia mengembalikan ponsel itu pada Samudra, kemudian berjalan keluar dari kamar Juan. "Iya, Tante. Aku mah suka banget ngemil makanan sejenis snack-snack gitu. Apalagi kalo lagi nonton film action. Beuh! Tuh snack mau sepuluh bungkus juga gak bakal cukup." Cia mendengar suara Jeane yang sedang mengobrol dengan Ava, sedangkan Ava tertawa renyah mendengar celetukan Jeane. "Wah, Tante juga suka ngemil, Jeane. Kayaknya kita bakalan cocok ya?" kata Ava terkekeh pelan. Cia tak ingin merasa cemburu ketika Ava, Mama kandungnya yang seharusnya memperlakukannya dengan lembut, justru lebih dekat dengan Jeane. Setelah mengembuskan napasnya, dan memastikan dirinya sudah siap menemui Jeane yang dihimpit Ava. Perlahan-lahan Cia mendekati kedua wanita berbeda usia yang sedang duduk tersebut. "Kak Jeane?" panggil Cia membuat Jeane dan Ava menoleh bersamaan. "Oh, Cia? Samudra mana?" tanya Jeane tersenyum kecil. "Dia yang nyuruh gue ke sini. Ada apa sih? Kalian mau ken—" Cia membekap mulut Jeane, membuat Ava meliriknya curiga. "Kenapa kamu bekap mulut Jeane, Cia?" tanyanya penuh penekanan. "Itu, Ma...." Cia melirik ke arah Jeane, sedangkan Jeane tak mengerti. "Apa sih, Cia?" tanya Jeane polos. "Cia?" panggil Ava semakin memperkeruh pikiran Cia. Ia tak tahu harus menjawab apa. "Kita berempat mau ke toko buku, Ma," tukas Juan tiba-tiba sudah berada di samping Jeane. "Juan sama Samudra satu kelas. Jeane sama Cia juga sekelas," sambungnya mendelik ke arah Jeane. 'Mereka kenapa sih lirik ke gue terus? Lagian sejak kapan gue sekelas sama Cia? Emangnya gue gak naik kelas apa?' pikir Jeane dongkol, terganggu dengan delikan mata bersaudara di sampingnya. "Benarkah?" tanya Ava tak percaya. "Iya, Tante. Aku lupa belum beli buku Fisika," ucap Jeane cengengesan, menyadari dirinya harus turut andil untuk berbohong. "Kita ada tugas kan, Cia?" lanjutnya lagi. Cia menganggukkan kepalanya dengan cepat, "iya, Ma. Kita ada tugas, disuruh nyari buku," kata Cia dengan wajah dibuat semeyakinkan mungkin. "Lalu Juan sama Samudra?" tanya Ava lagi. "Kita mau pergi main sama teman-teman, Ma," kata Juan lagi. "Setelah nemenin mereka dari toko buku," tuturnya cepat, takut Ava menyadari perbedaan alasan dengan yang ia sebutkan tadi. "Ya udah kalau gitu," jawab Ava akhirnya. "Kita permisi ya, Tante," ucap Samudra. "Kita duluan, Ma," kata Cia, sedangkan Juan sudah berjalan terlebih dahulu. "Permisi ya, Tante. Kapan-kapan kita ngemil bareng ya, Tante. Aku bawain snack banyak-banyak deh nanti," cengir Jeane tak menyadari wajah memucat dari kedua temannya, kecuali Juan yang sudah berada di luar. "Jeane, lo—" "Iya, Jeane. Tante tungguin ya," balas Ava memotong ucapan yang akan dikeluarkan Samudra. "Lo gila ya, Jeane? Itu tuh Mamanya Cia sama Juan, bukan temen lo. Lo pake acara ngajakin ngemil bersama," semprot Samudra saat mereka semua sudah memasuki mobil Juan. "Ih! Tante gak tersinggung, kok lo yang marah? Jealous ya lo gak bisa ngambil hati Mamanya Cia?" sahut Jeane sarkastis. "Tau ah, Jeane. Capek gue mau jelasin ke lo. Lo juga gak bakal mau ngalah," tutur Samudra. "Btw, kita semobil nih? Maksud gue, gue kencan sama Cia ada kalian gitu?" tanyanya melebarkan matanya. "Gue sih gak masalah sama lo, Ju," ucapnya merasakan delikan sinis yang diarahkan Juan melalui kaca spionnya. Tangannya memang sedang memegang stir, namun matanya tetap memicing tajam. "Yang gue masalahin...." Samudra mendelik kesal ke arah sampingnya, Jeane yang sedang memainkan ponsel. "Apa? Lo yang nyuruh gue gabung. Kalo lo gak nyuruh, gue juga ogah. Mager, tau gak?" tukas Jeane membalas delikan itu. Kesal karena tak dapat menjawab balasan Jeane, Samudra melipat tangannya. "Gue ada mobil yang nganggur sih di sekolah," kata Jeane disertai cengiran kuda. "Gue kan tadi nebeng si kunyuk Aldo. Dia mau bolos juga sih tadi," tambahnya. Samudra membalikkan tubuhnya menghadap Jeane, matanya berbinar senang lengkap dengan kedua tangannya menggapai pundak Jeane. "Apaan sih lo pake megang-megang bahu gue? Gue bukan cabe-cabean ya, yang bisa disentuh sana-sini," ketus Jeane menepis kasar tangan Samudra hingga salah satu tangan itu membentur keras pada sandaran kursi Juan. "Gila ya ocehan lo, berfaedah sekali!" sindir Samudra mengelus punggung tangannya. "Jeane, pinjem mobil lo dong," ucapnya dengan nada yang dimanis-maniskan, dan juga puppy eyes andalannya. "Boleh." Seketika Samudra ingin melayang ke udara, "tapi isiin bensin juga ya. Okay?" tutur Jeane kegirangan. Samudra tercengang sedetik, mimik wajahnya menyendu. "Lo temen apaan sih, Jeane? Gitu amat," decak Samudra. "Kan gue berenang sambil minum teh, Sam. Jadi gimana?" kata Jeane santai. "Kalo gak mau, gak apa-apa juga sih. Cia ikut gue, lo ikut Juan," sarannya terkekeh mengejek. "Lo temen sepaket sama musuh bagi gue, tau gak lo? Kesel gue sama lo, Jeane," omel Samudra. "Komplit dong gue?" ujar Jeane berdecak kagum. "Hebat ya gue," tuturnya dengan mimik polos. Cia dan Juan hanya diam mendengarkan perbincangan antara Jeane dan Samudra. Mereka tak mengerti apa inti obrolan kedua orang yang duduk di jok tengah itu. "Jeane—" "Kak Jeane, kita minjem mobil lo ya?" Akhirnya Cia memilih memutuskan obrolan yang sudah merambat ke mana-mana. "Nah, boleh kok, Cia," tukas Jeane menyengir kuda. "Iya, boleh. Tapi mesti isiin bensin juga," sahut Samudra dongkol. "Iya dong. Jaman sekarang yang namanya gratisan udah punah," jawab Jeane menepuk tangannya. "Isi yang penuh ya, Sam. Awas kalo nggak, gue lindes lo pake truk," ancam Jeane. "Iya, iya. Sebel gue. Emang lo bisa ngendarai truk, Jeane?" tanya Samudra memandang Jeane yang termenung sesaat, sebelum kembali menyengir konyol. "Ya nggak bisalah. Gue kan bukan supir truk." Ingin sekali rasanya Samudra menampol wajah Jeane jika tak sadar mobil Juan sudah memasuki kawasan sekolah. Cia dan Samudra keluar dari dalam mobil, sedangkan Jeane kembali memainkan ponselnya. Selang beberapa langkah, Samudra kembali berbalik dan membuka pintu mobil di samping Jeane duduki. "Kunyuk, kunci mobil lo mana?" tanyanya dongkol. "Eh? Oh, iya. Kok lo bisa lupa minta sama gue sih, Sam?" kata Jeane mencari kunci mobilnya di dalam tasnya. "Lah?" Jeane memandang Samudra dengan jenaka. "Kuncinya tertinggal di laci meja gue," sambungnya menyengir tak berdosa. "Cengar-cengir lagi lo! Ambilin gih," titah Samudra menarik paksa Jeane untuk keluar dari dalam mobil. Sedangkan Juan masih bertahan di dalam mobil, melirik dengan malas keduanya dari kaca spion. "Atas dasar apa lo bisa perintahin gue? Ambil sendiri sana. Lagian sekarang masih pelajaran Bu Ami. Gue gak mau mati dimutilasi sama tuh psikopat," ucap Jeane menyentak lengannya. "Atas dasar Pancasila, Jeane. Ambil sana!" ujar Samudra mendorong punggung Jeane. "Aduh, Sam. Gue bukan kereta belanja elah! Gak perlu didorong-dorong," teriak Jeane kesal. "Telpon Meiva, suruh dia bawain ke sini," kata Juan ikut keluar dari mobil. "Gak mungkin kalian yang masuk buat ambil tuh kunci kan?" Ucapan itu seperti sindiran keras untuk Jeane dan Samudra. "b**o lo, Jeane. Cepat telpon Meiva," kata Samudra gelagapan dan dengan cepat menyalahkan Jeane. "Eh! Sama-sama b**o jangan saling ngatain, kutu," cetus Jeane sembari men-dial nomor Meiva. "Lah? Gak diangkat. Handphone-nya berat kali ya, makanya gak mampu diangkat," sambungnya menceplos asal. "Kalo seberat lo sih, gue wajarin aja, Jeane," tukas Samudra. "Aduh, kalian mau ribut sampe kapan sih?" jerit Cia gusar, saat Jeane hampir menyembur sahutannya. "Gak tau tuh cowok lo. Caper sama gue kali," decak Jeane. "Idih! Ogah banget mak," desis Samudra. "Jadi ini mau gimana?" lanjutnya lagi. "Lo tungguin aja di sini sampe jam istirahat," balas Jeane. "Dua jam lagi kok," tambahnya terkekeh. "Lo gak bisa diharepin banget sih, Jeane," omel Samudra kesal. "Ih! Gue kan lupa. Namanya juga manusia, bisa lupa, bisa salah. Ya kali kalo gue jadi Dewa," jawab Jeane sebal. "Dewa 19." Ddrrtt... drrrrt... Meiva is calling... "Nah, Annabelle telpon," ucap Jeane sembari menggeser jari jempolnya pada tanda warna hijau di layar ponselnya. "Hallo, Bell?" sahut Jeane mengabaikan lirikan dari Samudra. "Bell apa? Bell pintu?" Terdengar sahutan balasan dari ponselnya. "Ya kali. Jadi ada apa lo telpon gue?" tanya Jeane bingung. "Di jam pelajaran Bu Ami? Nyari neraka lo?" tambahnya sedikit meninggikan suaranya. "Lo yang telpon gue duluan, badak." Suara Meiva terdengar berbisik. Sepertinya Meiva meneleponnya di tengah Bu Ami menerangkan pelajaran. "Oh ya?" tanya Jeane berusaha mengingat tujuannya menelepon Meiva. "g****k lo, Jeane." Samudra merebut ponsel di tangan Jeane. "Va, lo bisa izin keluar dulu nggak? Bawain kunci mobil Jeane yang tertinggal di laci," ucapnya di depan layar ponsel Jeane. "Oh? Gitu doang? Okay! Wait ya." Sambungan itu terputus. Samudra mengembalikan ponsel tersebut pada Jeane. "Dasar pikun! Umur lo berapa sih, Jeane?" ketus Samudra. "Lo juga pikun! Jelas-jelas gue seumuran sama lo, lo masih nanya umur gue," tukas Jeane jengkel, ia tak terima dikatai pikun walaupun itu kenyataan. Tetap saja Jeane tak bisa menerimanya. "Ya udah deh, capek gue bertengkar terus sama lo. Sana lo pergi sama Juan." Ucapan Samudra menyadarkan Jeane jika Juan sudah kembali memasuki mobilnya. "Gue juga udah capek ngomong sama lo! Cowok kok gak mau ngalah!" gerutunya membuka pintu mobil di tempat yang didudukinya tadi. "Lo ngapain buka pintu itu?" tanya Juan saat kepala Jeane menyembul ke dalam. "Buat masuklah," jawab Jeane polos. "Ya kali mau gue bongkar, lalu jual ke tempat barang bekas." "Duduk di depan," tutur Juan kalem. "Tapi—" "Gue bukan supir lo," tukas Juan cepat. Jeane kembali menutup pintu yang sempat dibukanya, dan beralih membuka pintu di depannya. "Lo takut duduk sendirian?" tanya Jeane memasang seatbelt-nya. "Gue bukan kayak lo," jawab Juan cuek. "Ih! Gue gak separah itu ya penakutnya," bantah Jeane menampilkan wajah cemberut. Ucapan Jeane masih sanggup didengar Cia dan Samudra, karena cewek itu membuka lebar jendela di sampingnya. "Lo ganti pasangan debat, Jeane?" sindir Samudra. "Bang, lo duluan aja deh. Biar kita yang nungguin Kak Meiva di sini," sambar Cia sebelum Jeane membuka suaranya. "Hn." Juan pun segera menghidupkan mesin mobilnya. "Tutup jendela lo," titahnya datar. "Ih! Triplek es batu lo!" sungut Jeane mengikuti kata-kata Juan. Sebelum jendela itu tertutup rapat, ia sempat melihat Samudra menjulurkan lidahnya, mengejek Jeane. "Dasar manusia laknat!" gertaknya dongkol. Juan tak mau memusingkan tingkah cewek di sebelahnya, ia dengan cepat menjalankan mobilnya. Perjalanan yang hening selama beberapa menit itu, dipecahkan oleh suara Jeane. "Kita mau ke mana?" tanya Jeane ketika menyadari dirinya dan Juan tak memiliki usulan tempat yang akan dituju. "Toko buku," jawabnya santai. Matanya tetap berfokus pada jalanan. "Ngapain?" tanya Jeane bingung. "Gue gak suka baca buku, lagian gak bisa ngemil di situ," dalihnya sebal. "Gimana kalo ke taman bermain aja?" usul Jeane senang sesaat, sebelum Juan mendeliknya datar. "Lo anak umur lima tahun?" ucap Juan membelokkan mobilnya di parkiran perpustakaan kota. "Bukanlah. Gue tau muka gue emang masih imut-imut kayak anak kecil, tapi—" Jeane menghentikan cuitannya sembari melengok kanan-kiri, "tadi katanya mau ke toko buku, kok belok ke perpus?" tanyanya semakin gusar. "Masih mending di toko buku, banyak novel remaja. Nah kalo di sini? Novel tentang kerajaan, elah!" komentarnya tak ingin turun dari mobil, walaupun Juan sudah bersiap keluar dari mobil. "Lo gak mau keluar?" tanya Juan mengabaikan gerutuan Jeane. "Nggak," jawabnya mantap. "Ya udah, gue kunciin lo di dalam," kata Juan dengan tenang, tak acuh dengan wajah kaget Jeane. "Lo kok gitu? Gue keluar aja deh. Ya kali dikurung di dalem mobil," rutuknya sebal. Jeane memilih berjalan ke toko pernak-pernik di sebelah perpustakaan kota. "Gue ke situ ya, Juan!" teriaknya dengan santai, membiarkan tatapan heran orang-orang yang berlalu-lalang. "Kita ketemu lagi, Jeane!" Bukan hanya Jeane yang terkaget, bahkan Juan tanpa sadar mengepalkan tangannya dengan kuat. 'Mau apa dia?'
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN