Bab 16

2092 Kata
Juan mencoba menggerakkan tubuhnya yang terasa kaku. Sejak pagi tadi hingga malam, teman-temannya terus memanjakan dirinya yang justru membuatnya merasa—jijik? Flashback : ON "Anggap aja kita lagi datang baik, Ju," celetuk Ken mendorong keras tubuh Juan untuk kembali berbaring. Sedangkan Riko siap melayangkan sesendok bubur ke dalam mulut Juan. "Bener, Ju. Jarang-jarang nih kita mau care sama lo. Lo kan makhluk terlaknat," timpal Aldo terkekeh girang. Menistakan seorang Juan termasuk salah satu hobi terfavoritnya. "s****n ya lo," umpat Juan mencoba menggerakkan tubuhnya yang ditahan dengan kuat oleh Ken dan Aldo. "Gue gak patah tulang kali!" semburnya kesal. "Siapa yang ngatain lo patah tulang? Lo kan baru aja patah hati. Gara-gara si Jeane diangkut pulang sama temen-temennya," sahut Aldo, membuat Juan panas dingin. "Lo kira tuh anak apaan pake diangkut?" ucap Riko menaikturunkan alisnya. "Karung beras." Flashback : OFF "Abang!" sapa Cia memasuki kamar inap Juan. "Lo mau balik hari ini atau kapan?" tanyanya menduduki kursi di dekat kasur Juan. "Tahun depan," jawab Juan mendelik sebal. "Oh?" Cia menampilkan wajah kaget yang dibuat-buat, ia kembali bangkit dari kursinya. "Okay, gue kasih tau Kak Jivka du—" "Ya sekaranglah," cetus Juan segera menghentikan gerakan kaki Cia yang baru saja akan berayun. Cia kembali mengisi kursi yang tadi didudukinya. "Lo ditanya, jawabnya judes amat. Kenapa lo? Galau ditinggal Kak Jeane?" lanjutnya memainkan matanya bermaksud menggoda Abangnya. Juan memicingkan matanya, jengkel karena semua orang terus mengaitkan dirinya dengan Jeane. "Gak ada hubungannya sama dia," ucap Juan sesaat mendirikan tubuhnya di atas ubin marmer. "Ih! Tadi ada Jeane, lo manis banget. Sekarang keluar lagi sifat nyebelin lo," tukas Cia membantu abangnya berjalan keluar. "Btw, lo mau ke mana, Bang?" tanyanya bingung. "Pulang." Juan tetap menyeret kakinya yang masih terasa nyeri. Cia mengerjapkan matanya beberapa kali, seakan apa yang keluar dari mulut Juan barusan tak bisa dimengerti oleh otaknya. "Bang!" panggilnya berusaha menghentikan langkah kaki abangnya, "gue ngerti lo bosen di sini. Apalagi sejak Kak Jeane milih balik duluan. Tapi...." Cia melirik jam yang melingkar di tangannya, "pulang jam sebelas? Gue koreksi, hampir jam dua belas tengah malam? Maksud gue, jam segini? Lo gila?" Cia kesulitan menyusun kata-katanya karena Juan tak mau berhenti berjalan barang sedetik. "Ampun deh, Bang. Rumah kita gak bakalan lari, walaupun lo gak balik hari ini," kata Cia menarik lengan Juan."Balik ke kamar lo aja dulu. Besok baru—" "Juan!" Panggilan itu menghentikan suara Cia. "Cia Ervandra Vina?" Diliriknya dengan sinis dan kebencian, sedangkan Cia hanya memandangnya datar. "Anda lagi!" ketus Juan datar. Tak bisakah wanita ini berhenti mengganggunya? Tak cukupkah wanita itu menghancurkan masa kecilnya dulu? Masa di mana yang seharusnya diisi dengan kebahagiaan. "KAMU! Di mana kesopanan kamu, Juan?" bentaknya keras hingga beberapa orang keluar dari dalam kamar inap. "Mom, ini di koridor rumah sakit," ucap Jivka melirik meminta maaf pada orang-orang yang terganggu akibat suara kencang Ibunya. "Apa pria s****n itu tak mampu mengajari kamu tata krama dengan baik?" ucap wanita itu melipat tangannya di depan d**a. "Memalukan!" "Setidaknya pria yang Anda sebut s****n itu, jauh lebih baik daripada Anda," ucap Juan berusaha tenang, menekan gemuruh emosi di hatinya. "Jauh lebih baik? Huh?" Wanita itu mendengus mengejek. "Cia, anter gue balik kamar." Juan membalikkan tubuhnya, meminta Cia menopang sebelah lengannya di atas pundak adiknya. Juan melangkah pergi, meninggalkan wanita yang tetap berseru meengancam dirinya. Juan tak ingin mendengar, bahkan tak ingin peduli dengan wanita itu. "Abang?" gumam Cia pelan, ia mendongakkan kepalanya menatap wajah Juan yang mengeras. "Gue gak apa-apa, Cia," ucap Juan. "Gue cuma butuh istirahat." Cia mengerti 'istirahat' yang dimaksud Abangnya bukanlah mengistirahatkan tubuh. Juan tak membutuhkan tidurnya sekarang, walaupun matanya sudah sayu menahan kelelahan yang terlalu banyak. Cowok itu hanya butuh sandaran. "Abang bisa cerita sama Cia, Cia janji bakal jadi pendengar yang baik." Cia mengulas satu senyuman simpul, berharap Juan tak merasa menanggung bebannya sendiri. Cia sadar, dirinya tak dapat membantu Juan, ia hanya tahu jika Abangnya selalu diam menekan masalahnya sendiri. Juan selalu bersikap biasa pada semua orang, menyembunyikan masalah-masalah yang dihadapinya. "Wanita itu...." Cia tak mengalihkan pandangannya dari wajah Juan, "sudah bertemu sama Jeane," lanjutnya lirih. "Abang mau pulang ke rumah?" tanya Cia mengalihkan pembicaraan, walaupun ia sempat terkaget. "Gue bawa mobil kok hari ini," lanjutnya tersenyum. "Hn." Juan berharap wanita tadi sudah pergi dari rumah sakit. "Abang...." Cia membiarkan Juan berjalan di depannya. Cowok itu masih mampu berjalan sendiri tanpa perlu dibantu. "Abang gak mau balik ke sana?" tanyanya sedikit gugup. "Bukan maksud gue ngusir lo, gue—" "Gue ngerti," potong Juan membalikkan tubuhnya. "Lo dan gue bernasib sama, Cia. Gue gak mungkin ninggalin lo sendiri di rumah itu," jawabnya mengelus rambut Cia pelan, sebelum mengacaknya. "Lo adik gue." "Abang." Mata Cia berair, tak menyangka kalimat semanis itu akan keluar dari belahan bibir Juan. "Lo mau tau pandangan gue?" bisik Juan, "lo itu gak cocok nangis. Muka lo jelek abis, Cia," tukasnya tersenyum tipis. "Abang, lo gak berpengalaman banget nenangin orang nangis. Kesel gue," balas Cia seraya tertawa kecil, menahan air mata yang hampir menjalari pipinya. Juan mengangkat bahunya. |Lo jadi nggak nganterin gue balik?" tanyanya memutuskan kembali melangkahkan kaki. "Sebenarnya gue males banget liat lo di rumah. Tapi...." Cia mengejar Juan agar bisa berjalan beriringan, "gue kasian liat muka lo yang udah kayak mau nangis gitu," sambungnya tersenyum puas. "Masih mending. Daripada lo yang udah nangis duluan tadi," tutur Juan memutar matanya. Cia tercengang. "Kok lo jahat gitu sih balas ucapan gue?" Juan tetap melangkahkan kakinya meninggalkan Cia yang terdiam di tempatnya. "Abang!" Cia berlari menyusul Juan.   Cia dan Juan berjalan santai memasuki rumah besar itu. Rumah yang sudah ditinggali keduanya sejak kecil. Rumah yang selalu terasa lenggang, karena hampir setiap waktu hanya dihuni mereka berdua. "Juan?" Wanita itu berjalan tergesa-gesa menuruni tangga. "Kamu kenapa gak bilang sama Mama kalau kamu bakal pulang hari ini?" tanyanya mencoba menyentuh luka Juan yang masih diperban. Set. Juan menghindar, tak ingin disentuh oleh wanita yang dipanggil dengan sebutan Mama itu. "Aku ke kamar dulu, Ma." Mamanya, Ava hanya tersenyum masam, setidaknya anak laki-lakinya masih memanggilnya Mama. Ia mengalihkan pandangannya pada Cia, anak perempuannya yang hanya diam. "Cia, kamu kenapa gak bilang kalau mau jemput Juan?" tanyanya dengan nada tinggi, berbeda jauh dengan nada yang digunakannya saat berbicara dengan Juan. "Untuk apa, Ma? Mama bahkan gak jenguk Bang Juan," jawab Cia dengan nada bosan. Plak. "Berani kamu memanggil saya dengan sebutan Mama? Saya—" "Aku pergi," kata Cia berlari menuju ke kamarnya sembari menyentuh pipinya yang baru saja ditampar Ava. "Cia, saya belum selesai bicara." Teriakan itu tak digubris oleh Cia. Brak. Cia menutup pintunya dengan keras sembari merosotkan tubuhnya bersandar pada pintu. "Cuma Abang yang care sama gue. Cuma Abang yang gue punya di dunia ini," kata Cia menyembunyikan wajahnya dilipatan lutut dan lengannya. Pagi ini, seorang gadis tetap menekuk lututnya di depan pintu. Semalaman, Cia tak beranjak dari sana. Mengabaikan rasa pegal dan sakit yang terus menemaninya. Sisa-sisa air mata yang mengering di pipinya pun tak diacuhkannya. Puk. Terdengar suara benturan barang di jendela kamarnya. "Cia, ini gue." Suara itu terdengar dari luar jendela. Cia segera menghapus bekas air matanya dengan kasar, berusaha menarik kedua ujung bibirnya ke atas. Ia tak ingin terlihat menyedihkan. "Samudra," gumamnya membuka jendela kamarnya sembari melongokkan kepalanya ke bawah. "Ada Juan gak di dalam?" tanya Samudra yang dibalas anggukan kepala dari Cia. "Ya udah, kamu masuk aja dulu. Tunggu aku di kamar Juan ya," ucap Samudra berlari memutari halaman rumah Cia tanpa menunggu respons dari gadis itu. "Samudra? Cari Juan ya?" tanya Ava ramah. "Iya, Tante. Juan-nya ada di rumah nggak, Tan?" balas Samudra dengan sopan. Beginilah cara Samudra bertandang ke rumah Cia, dengan menjadikan Juan sebagai alasan. Samudra ingat, saat pertama kali Juan menolak dirinya ikut dilibatkan. Tetapi setelah mendapati Cia merajuk padanya seharian, dengan berat hati Juan memperbolehkan sepasang kekasih itu mengikutsertakan dirinya. Alasan lainnya, Juan tahu Ava tidak akan mengizinkan Cia berpacaran dengan Samudra. "Juan ada di kamarnya, Sam. Kamu mau Tante panggilin Juan-nya ke bawah?" tanya Ava yang masih mempertahankan keramahan. Samudra menggelengkan kepalanya pelan, "gak perlu, Tante. Aku aja yang ke atas. Lagian Juan kan masih sakit," ucapnya meminta izin memasuki ruangan di dalam rumah tersebut. "Oh ya sudah kalau begitu, nanti Tante anterin minuman sama camilan ke atas." Ava menyingkir dari pintu besar itu, membiarkan Samudra masuk ke dalam rumah. "Gak perlu repot-repot kok, Tante. Aku juga mau ajakin Juan pergi sih, Tan. Maklum, sama-sama jomblo sejati," cengir Samudra. Di dalam hatinya, mengamit-amitkan ucapannya. Toh, kenyataannya dirinya sudah memiliki pacar, hanya Juan yang masih setia dengan status single-nya. Ava hanya tersenyum kecil, mengizinkan Samudra segera menemui Juan. "Apalagi sekarang?" Sambutan pertama dari Juan memandang lekat sosok Samudra yang baru saja menutup pintu kamar Juan. "Ketus banget lo, Ju. Pantes aja gak ada cewek yang kecantol sama lo," ucap Samudra melirik ke arah Cia yang duduk di sebelah Juan. "Hn," gumam Juan tak peduli, matanya beralih menatap buku yang ada di tangannya. "Elah, Ju." Samudra menghela napasnya, kemudian merebut paksa buku Juan. "Lo—" "Temenin kita keluar dong, Ju," ucap Samudra memotong semburan kekesalan Juan. "Gak mau," jawab Juan dingin. "Balikin buku gue," tambahnya lagi. "Gue gak mau kasihkan, kecuali lo mau ikut," ancam Samudra melirik ke arah Cia, meminta cewek itu ikut membujuk Juan. "Terserah," kata Juan merebahkan tubuhnya ke atas kasur. "Bang Juan." Cia mengguncang tubuh yang membelakanginya itu. "Abang tolongin kita dong," katanya dengan suara sedih. "Gue capek," tukas Juan cuek. "Ayolah, Ju. Gue ajakin Vena deh, biar lo gak keliatan ngenes nantinya," timpal Samudra. Juan membangkitkan tubuhnya, seraya mengembus napasnya dengan berat. "Gue gak tertarik," ujarnya melangkah ke arah pintu kamar. "Kita ajakin Kak Jeane deh, Bang." Ucapan Cia membuat Juan terdiam sejenak. "Gak." "Hallo, Jeane?" sapa Samudra dengan ponsel di tangannya. "Ngapain lo telpon gue? Gue masih di dalem kelas. Ada pelajaran Bu Ami bentar lagi, monyet." Suara itu terdengar dari loud-speaker ponsel Samudra. "Lo ke sekolah hari ini?" tanya Samudra tak percaya, sedangkan Juan dan Cia memilih bungkam di tempatnya. "Ya iyalah. Ya kali gue kayak lo yang gak tau ilang ke mana." "Kok lo tau gue gak ke sekolah?" tanya Samudra semakin out of topic. "Ya taulah. So? Ngapain lo telpon gue? Kangen sama gue gara-gara gak ketemuan sama gue akhir-akhir ini? Sorry, gue gak tertarik buat nikung Cia. Apalagi rebutin lo, males banget." Samudra misuh-misuh menahan amarahnya, Cia malah hampir menyemburkan tawanya. "Jaga cerocosan lo ya, Jeane. Nyesel gue telpon lo," cetusnya mendelik ke arah Cia. "Ya udah gue matiin." "Eitt—" Tut... tut... tut... "Jeane s****n," umpat Samudra yang langsung meledakkan tawa Cia. Samudra kembali mencoba menghubungi Jeane, sayangnya hanya operator yang menjawab panggilan darinya. "Mohon maaf, pulsa Anda tak cukup melakukan panggilan—" Cia tertawa renyah. "Sam, gimana sih? Masa lo gak ada pulsa?" Samudra mengumpat di dalam hati. 'Jeane kurang ajar! Bukannya ngajak ngomong langsung ke inti tadi, malah ngajak muter-muter ngabisin pulsa. Mana nih operator ngomong gak liat sikon, kan malu gue di depan Cia. Kayak gak modal banget.' "Ju, pinjem handphone lo bentar," kata Samudra mengabaikan rasa malu yang masih melingkupinya. Juan mengangkat sebelah alisnya. "Buat apa?" tanyanya cuek namun tetap melempar ponselnya ke arah Samudra. "Nelpon tuh anak setan," jawab Samudra sembari menyalin nomor Jeane di ponselnya ke papan angka panggilan di ponsel Juan. "Ha—" "Eh, kera sakti jadi-jadian! Gara-gara lo pulsa gue abis, tuyul!" ucap Samudra cepat. "Lo siapa? Nelpon langsung marah-marah gak jelas? Baru diceraiin bini lo ya? Ya mana tahan istri lo itu kalo sama cumi kayak lo." "Lha? Jeane, kok lo yang nyemprot gue? Harusnya gue yang kesel di sini," tukas Samudra sebal. "Siapa itu Jeane? Gue Viely, bukan Jeane. Apalagi Jin Tomang." Samudra membelalakkan matanya, mengecek kembali nomor yang tertera dengan nomor telepon Jeane. "LO EMANG JEANE AERVIELY!" bentaknya dongkol merasa dipermainkan Jeane. Terdengar suara kekehan di sana. "Stop ketawa lo, hantu. Kesel gue," kata Samudra. "Okay, okay. Jadi ada apa sampe lo nelpon gue pake nomor...." terhenti sesaat, "gak dikenal? Gue kira lo fans fanatik gue yang mau minta tanda tangan." "Gue lagi gak mau debat sama lo ya. Lagian ini nomor Juan, gue yakin lo udah save nomor dia dari kemaren." "Eh, kutil! Gue belum save nomor dia ya. Jadi ada apa lo telpon gue?" "Lo ke rumah Cia sekarang. Di depan rumah gue. SEKARANG!" "Huh? Buat a—" "Jangan banyak nanya." Tut... tut... tut... Samudra mengatur napasnya sejenak, kemudian mengembalikan ponsel itu pada Juan. "Lo ganti baju dulu deh, Ju. Bentar lagi tuh dedemit dateng." Entah sudah ada berapa banyak nama julukan Jeane yang diberikan Samudra, Samudra tak peduli. Menurutnya, gadis itu memang sangat menyebalkan. Sehingga satu julukan tak cukup untuknya mewakili sosok Jeane. "Gue gak bilang gue mau ikut," sahut Juan menyentuh knop pintu kamarnya. "Please dong, Ju. Gue udah capek ngadepin cewek lo...." Juan melotot ke arahnya, "calon cewek lo maksud gue." Juan memutar knop itu. "Okay, Ju. Maksud gue, cewek gila itu. Lo ikut ya?" mohonnya menahan lengan Juan. Bodo amat dengan nada dan tampangnya sekarang di mata Juan, yang terpenting ia bisa kencan dengan Cia hari ini. Juan mengembuskan napasnya, kembali menutup pintu yang terbuka sedikit, "hn," gumamnya sebagai tanda setuju. "Thanks, Ju." Samudra hampir memeluk tubuh Juan, namun Juan mendorongnya dengan keras hingga bokongnya menabrak lantai. "Gue cinta deh sama lo," tambah Samudra mengelus bokongnya yang nyeri. "Lo homo?" ketus Juan mengambil pakaian ganti sembari bergegas memasuki kamar mandi di dalam kamarnya. "Gue gak homo, kuda nil!" teriak Samudra kesal. "Kalo mereka jadian, gue orang pertama yang gak mau ngerestuin. Sumpah! Nyebelin sama ngeselin, perpaduan yang mematikan," omelnya. Cia? Ia hanya tertawa terbahak-bahak menikmati drama yang tersaji antara Jeane, Samudra, bahkan Juan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN