"Pergi! Kamu pikir saya menyukaimu? Saya tidak bahagia sejak kamu hadir di hidup saya. Dasar anak pembawa s**l!"
Seorang anak laki-laki menundukkan kepalanya takut, ia bahkan tak berani melirik kecil pada sosok wanita muda di depannya. Matanya berlinang air mata, bahu kecilnya ikut terguncang namun tak ada suara isakan yang keluar dari bibirnya. Ia terlalu takut pada wanita itu.
"Kamu tak pantas untuk hidup di kehidupan saya!"
"Berapa lama lagi kamu akan bertahan di sini? Kapan kamu akan pergi dari hadapan saya? Tiap hari saya selalu berharap kamu segera pergi."
"Saya benci padamu! Semuanya hancur karenamu. Apa kamu sadar kalo kamu tidak diharapkan hidup oleh siapa pun di sini? Seharusnya kamu sadar diri kalo kamu tak diinginkan di dunia ini."
Juan refleks menegakkan tubuhnya, matanya terbuka paksa. "Mimpi," gumamnya mengusap wajahnya yang memucat, diabaikannya jantungnya yang berdebar cepat. "Mimpi itu lagi."
'Orang yang selalu ada untukmu itu sebenarnya tidak akan pernah ada. Mereka hanya akan melewatimu tanpa pernah menoleh ke arahmu, seolah kamu tak kasat mata, tak terlihat sedikit pun. Karna memang itulah yang akan kamu lewati, Juan.'
'Tak akan ada orang yang benar-benar baik padamu. Karna itu, kamu harus bisa melakukan apapun sendirian. Jangan pernah mencoba menggantungkan dirimu pada siapapun. Kamu harus bisa bangkit dengan kedua kakimu, berjalan tanpa perlu menoleh peduli pada orang lain.'
Juan memejamkan matanya yang terasa memanas. Sekelebat memori itu bermain di pikirannya tanpa berhenti. Kejadian di masa kecilnya, nasihat-nasihat yang terlalu berat untuk diterimanya saat ia baru berusia empat tahun.
"Juan." Sebuah ketukan pelan terdengar di balik pintu yang tak dikuncinya.
"Masuk aja, Ma," balasnya mengubah ekspresi di wajahnya dan segera membenarnya posisi duduknya yang kaku.
Dret.
Pintu itu terbuka sedikit, menampilkan sosok Ava yang tersenyum lembut padanya. Juan menatapnya sejenak sebelum akhirnya ia mengalihkan pandangannya pada genggaman tangannya yang masih gemetar.
"Mama kira kamu belum bangun, Juan," ucap Ava memilih duduk di hadapan Juan. Ava menyadari sepasang mata Juan bergerak tak tentu arah, namun ia memilih tak mengubrisnya membiarkan Juan menceritakan sendiri mengenai hal yang terjadi pada putranya tersebut.
"Udah kok, Ma," jawabnya pelan. Matanya semakin bergerak liar, mengusir memori-memori yang masih bergantung nakal di dalam isi kepalanya.
"Kamu gak apa-apa, Ju?" tanya Ava khawatir, ia memandang lekat pada sosok Juan yang masih belum tenang.
"Juan gak apa-apa, Ma. Aku mandi dulu ya," ucapnya seraya menuruni ranjangnya dan memasuki kamar mandinya, meninggalkan Ava yang menatapnya sendu.
Sementara Juan berada di dalam kamar mandi, Ava berjalan keluar dari kamar Juan menuju ruang makan yang sunyi. Wajahnya mengeras sangar kala melihat putrinya sudah lebih dulu mengisi piring kosong dengan nasi goreng buatannya.
"Cia, kamu tidak boleh makan dulu sebelum Abang kamu turun," ucap Ava dengan nada dingin. "Di mana sopan santun dan etika kamu? Belajarlah menjadi anak gadis yang sopan," cibirnya menampilkan raut jengkel.
"Sudahlah, Va. Jangan terlalu tegas pada Cia," bela Vendi, Papa Juan dan Cia.
“Nanti dia jadi kebiasaan, Ven,” kata Ava yang keukeuh mempermasalahkan sopan santun yang dirasa kurang dari Cia.
"Cia udah selesai." Jari yang baru menyentuh sendok itu, kembali dituruninya tanpa sempat memasukkan sesendok nasi goreng ke dalam mulutnya. Cia tak ingin kedua orang tuanya menjadi ribut karenanya.
"Va, jangan terlalu keras padanya," tutur Vendi tak ingin dibantah. "Duduk lagi, Cia," titahnya saat mendapati Cia hampir bangkit meninggalkan ruang makan.
Juan berjalan santai menghampiri tiga orang anggota keluarganya, wajahnya tak berekspresi berlebihan malah terkesan sangat datar. Ia juga tidak mengisi kursi kosong yang selalu didudukinya ketika makan bersama keluarga.
"Juan tak ikut sarapan." Suara Juan terdengar tak berintonasi. "Pagi ini aku dapat tugas sama teman-teman," jelasnya sebelum Ava sempat bertanya.
"Perlu Mama siapkan bekal untuk kamu, Ju?" tanya Ava tersenyum simpul, yang dibalas gelengan ringan penuh penolakan dari Juan.
"Gak perlu repot-repot, Ma." Setelahnya, Juan melangkahkan kakinya, bergegas keluar dari rumahnya.
Juan tak mampu berada di sana terlalu lama. Bukan karena ada kejadian di mana adiknya dimarahi Ava, namun seseorang lainnya yang mengisi ruangan itu membuatnya merasa panas dan ingin segera pergi dari tempat itu.
"Hallo?" Suara serak di sana mengisi keheningan di dalam mobil Juan.
"Lo baru bangun?" tanya Juan menepikan mobilnya tapat di depan rumah Jeane. "Gue tunggu lo dalam waktu sepuluh menit dari sekarang."
"Apa?" Terdengar pekikan tak terima dari Jeane. “Maksud lo apaan sih? Gue gak nger—“
"Cepat bersiap-siap! Gue udah di depan."
"Huh? Tunggu, lo—"
"Hn, gue jemput,” potong Juan tak sabar.
Sambungan itu diputuskan Juan. Tanpa ia sadari, kedua sudut bibirnya membentuk senyuman kecil. Well, Jeane sosok yang cukup berisik, hampir menyamai Aldo atau malah keduanya memiliki sifat yang sama. Namun entah bagaimana, ia merasa nyaman dengan gadis yang selalu berenergi lebih itu.
"Pasti karna dia berbeda," gumam Juan memainkan ponselnya bosan.
Duk.
"Aduh."
Juan mengalihkan pandangannya dengan cepat. Di sana ada Jeane yang mencoba berdiri setelah jatuh tersungkur. Gadis itu dengan cepat melangkahkan kakinya saat menyadari Juan menyeringai jahil ke arahnya.
Bruk.
"Kok lo gak bilang kalo mau jemput?" semprot Jeane kesal seraya menduduki dirinya di sebelah Juan.
"Tutup pintunya," pinta Juan cuek, matanya meneliti lutut gadis itu. "Dasar ceroboh," lanjutnya sembari mengambil tissue di samping kaca spion tengahnya.
"Ini tuh gara-gara lo, tau gak? Jemput gak pake bilang-bilang. Coba kalo lo bilang, kan gue bisa kabur duluan sebelum lo jemput gue di rumah," cetus Jeane dengan raut cemberut. "Lo mau apa?" tanyanya bergedik ngeri ketika tubuh Juan mencondong ke arahnya. “Jangan macam-macam ya. Mau kena gue smackdown lo?”
"Aw! Sakit, b**o," rintih Jeane menjauhkan lututnya dari jangkauan Juan. “Jangan deket-deket!”
Juan menggelengkan kepalanya ringan, sembari menjauhkan tubuhnya. "Tuh tali sepatu diikat," sahutnya menghidupkan mesin mobilnya yang kembali dingin.
"Tau, tuh tali sepatu yang mendadak pengin melepaskan diri, terlalu sakit diikat katanya," tutur Jeane bingung antara menunduk atau mengangkat kaki.
"Lah? Kalo gue nunduk, nih manusia setengah iblis kalo ngerem mendadak, kepala gue bisa benjol kayak lohan. Masa cantik-cantik ada tanduk pegasusnya?" gumam Jeane memutar mata bingung. "Tapi kalo gue angkat kaki...." Jeane menoleh ke arah Juan yang sudah menginjak pedal gas meninggalkan rumahnya.
"Apa?" kata Juan yang tak mengalihkan pandangannya dari jalan raya, tetapi bisa merasakan tatapan tajam dari Jeane.
Jeane cengengesan. "Gak ada apa-apa kok, Ju," ucapnya. "Gue iket aja di sekolah nanti. Ribet amat di mobil gini."
Suasana di dalam mobil menjadi sangat hening setelah Juan tak merespons ucapan Jeane, hanya sesekali terdengar suara tuas transmisi saat cowok itu memindahkan gigi mobilnya. Jeane menatap bosan ke arah depan dan segera mengubah air mukanya ketika cowok itu membelokkan mobilnya ke parkiran sekolah dengan tenang.
"Thanks, Ju,” ucap Jeane terburu-buru.
Jeane menuruni mobil Juan dan dengan cepat mencari posisi yang nyaman untuk mengikat tali sepatunya. "Rempong deh barbie kalo harus pake rok begini," sungutnya menatap lirih ke arah sepatunya.
"Gue jalan pake jarak tiga puluh centimeter aja kali ya, pasti gak bakal keinjek lagi," ucapnya melebarkan kaki-kakinya sebisa mungkin, mengabaikan pandangan heran dan tawa terbahak-bahak yang menggema dari sisi kanan kirinya.
Baru saja Juan ingin menghampiri Jeane setelah memarkirkan mobilnya, gadis itu sudah berhenti bertingkah konyol dan mematung di tengah lapangan.
"Lo kalo butuh bantuan, kasih tau gue aja, Jeane," tukas Thunder berjongkok sambil mengikat tali sepatu Jeane. “Gue siap nolongin lo kapan pun lo minta tolong.”
Jeane bergeming. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali tak percaya dengan perlakuan Thunder padanya.
"Lo kenapa, Jeane?" tanya Thunder terkekeh. Kini, ia berdiri tepat di depan Jeane sesudah memastikan tali sepatu gadis itu terikat erat.
"Eh?" Jeane membulatkan matanya, "makasih, Thunder," ucapnya kikuk.
Mereka tak menyadari di belakang sana, ada Juan yang mengepalkan tangannya dan menatap tajam ke arah keduanya.
"s****n!" umpatnya meninggalkan Jeane dan Thunder yang masih tak menyadari kehadirannya.