Bab 22

1029 Kata
'Pengumuman! Pengumuman! Para guru yang mengajar kelas sebelas akan mengadakan rapat seusai jam istirahat. Jadi, siswa-siswi kelas sebelas dibebaskan dari kegiatan belajar mengajar dan boleh pulang ke rumah masing-masing. Ingat, jangan nongkrong di mana pun lagi. Kalian harus langsung pulang ke rumah!' "Yahuuu! Sering-sering aja dah ngadain rapatnya! Bila perlu rapat aja di istana kepresidenan," teriak Aldo, tak menyadari raut wajah Bu Ami yang sudah kesal dengan tingkahnya yang dianggap tidak sopan. "Aldo!" bentaknya membuat Aldo langsung terdiam di tempat. "Eh Ibu, kok masih di sini? Kan ada rapat, Bu," tutur Aldo menyengir kuda. “Ibu harus segera ke sana lho sebelum dihukum sama kepala sekolah. Kan malu Bu kalo Ibu sampe dihukum bersihin toilet gara-gara telat ikut rapat,” jelasnya tak bermutu. Memang sebelumnya, guru tersebut memasuki kelas mereka untuk mengumpulkan tugas yang ditinggalkan Bu Tika, guru Ekonomi yang berhalangan mengajar tadi. Jangan berpikir kelas itu akan ricuh seperti biasanya jika seorang guru yang mengajar berhalangan hadir. Kelas yang diawasi Bu Ami sebagai pengganti itu lebih sunyi dibanding diawasi langsung oleh Bu Tika. Mereka semua siap berlomba menjadi murid terteladan di dalam kelas untuk menghindari hukuman yang akan dilimpahkan Bu Ami. Apalagi guru tersebut sedang mengajar di kelas 11-3, kelas Jeane 11-2 pun bisa ikut terimbas. "Kamu—" "Bu Ami." Panggilan Bu Siti memutuskan kotbah yang diyakini Aldo bisa membuat telinganya memanas kering. "Ibu dipanggil sama Pak Chris," lanjutnya secara tak langsung menyelamatkan Aldo dari terkaman Bu Ami. "Baiklah, kali ini kamu bisa lolos, Aldo. Lain kali, tidak akan ada yang bisa menolong kamu," ujar Bu Ami sebelum meninggalkan kelas itu bersama Bu Siti. "Anjir! Gue diancam sama nenek lo, Jeane!" ucap Aldo menoleh ke arah Jeane yang sudah melotot sebal ke arahnya. Aldo dan Jeane, satu kelas mendesah lelah, terutama teman-teman terdekat mereka. Namun, mereka semua malah menduduki diri di kursi masing-masing sembari menatap keduanya yang pasti sebentar lagi akan berargumen. "Apa lo bilang?" Debat dimulai. "Ih! Jeane, lo congek hari ini?" ejek Aldo seraya terkekeh pendek. “Telinga lo lupa lo pasang hari ini atau udah pensiun dini?” "Eh, dodol duren! Lo minta disunat ya?" ketus Jeane mengeluarkan sebuah gunting kecil dari dalam tasnya. “Kalo lo nyerocos lagi, bener-bener gue sunat lo!” ancamnya membuat Aldo bergedik ngeri yang dibuat-buat. "Jeane, kalo abis gue gak bisa ngasih bini gue kepuasan," tuturnya jenaka membuat emosi Jeane semakin memuncak. "Bisa jadi, pas malam pertama bini lo udah kabur, Do!" timpal Bintang terkekeh geli. "a***y! Itu gak boleh sampe terjadi. Apa kata dunia, Aldo si ganteng yang tak tertandingi ini ditinggal sama bininya sendiri?" sahut Aldo mendramatiskan keadaan. “Gue gak bisa bayangin gimana hal itu gak bakal terjadi.” "Kata dunia ya sesuai fakta," ucap Jeane memutar matanya bosan. "Siapa tau kan ada gosip yang nggak-nggak soal gue? Lo gak tau sih Jeane, fans gue... beuh! Bejibun!" kata Aldo menyengir konyol. "Gak kayak lo, Jeane. Cuma tarzan doang yang mau," sambungnya membuat orang-orang di sana tertawa terbahak-bahak. "s****n ya lo, curut! Fans lo mah yang lo ngaku-ngaku doang! Aslinya kagak ada," bantah Jeane. “Mana ada orang yang mau nge-fans sama cula badak kayak lo!” lanjutnya sengit. "Jeane! Dilarang iri!" kata Aldo menunjuk tepat di hidung Jeane. Jeane dengan keras menepis tangan Aldo. "Siapa yang bakal iri sama lo? Gak ada yang bisa diiriin dari lo. Lo serba negatif gitu," semprot Jeane mendelik sebal. "Lo!" Aldo membulatkan matanya. "Sadako!" "Lo kuda lumping!" "Pendek!" "Cungkring!" "Ga—" "Udah deh, kalian suka banget ngadu mulut," potong Kanta. "Tuh mulut udah lebar kayak daun teratai, masih aja mau debat." "DIEM LO, KANKAN!" Secara bersamaan, Aldo dan Jeane berseru. "Apa lo ngikut-ngikut gue? Nge-fans ya sama gue? Sorry, gue gak butuh fans kayak lo yang sebelas dua belas mirip kuda nil setengah simpanse," cibir Jeane menusuk. "Idih! Ogah gue fans sama lo, gue mah fans-nya sama Kim Tae Hee bukan sama kim t*i kayak lo," bantah Aldo tak mau kalah. "Kasian banget tuh Kim Tae Hee dapet fans kayak lo! Kalo gue jadi dia, udah gue block lo dari dunia ini." "Lebih kasian lagi lo yang pengin kayak Kim Tae Hee kan? Biar gue tertarik sama lo? Sorry nih ya, gak doyan gue sama ikan asin!" tukas Aldo memainkan matanya. "Narsis ya lo! Siapa juga yang mau narik perhatian lo? Gak berguna banget. Mending gue narik dompet lo. Lumayan, bisa buat gue shopping tanpa harus ngurangin nominal di dompet gue!" "Stop! Stop! Puyeng gue dengerin lo berdua!" kata Ginta memicingkan matanya. "Kalian gak bakal selesai-selesai, bahkan sampe spongebob jadi segitiga tau nggak," tambahnya jengkel. "Tau tuh si Jeane!" Aldo mendorong pelan lengan Jeane. "Lo yang duluan ya, Do!" Jeane membalasnya dengan dorongan kuat hingga membuat Aldo terjungkal ke belakang. “Rasain lo, duri buntal!” "Lo kok kasar banget sih sama gue, Jeane?" tanya Aldo seraya berdiri dan mengelus bokongnya. "Bisa tepos nih keseksian gue yang hakiki! Kalo gue gak seksi lagi, lo bisa tanggung jawab nggak?" "Lo duluan dorong gue, nyet!" cetus Jeane tanpa rasa bersalah. "Untung lo cewek, Jeane. Kalo lo cowok...." Aldo tak meneruskan kalimatnya. "Mau apa lo?" tantang Jeane tanpa rasa takut. "Gak tau juga. Belum kepikiran," tukas Aldo cengengesan. "Nanti lo nanyain lagi ya, Jeane," sambungnya sambil menyengir lebar. Jeane memutar matanya seraya bersidekap. "Gak penting banget!" Matanya beralih pada sosok Thunder yang ikut terkekeh bersama teman-teman sekelasnya. "Jeane! Jeanot... not...." teriak Meiva tepat di lubang telinga Jeane. "Apa sih, Va? Bikin kaget aja," respons Jeane memundurkan tubuhnya agar bisa sedikit menjauh dari Meiva. "Lo liatin apaan sih sampe kayak lagi di dunia lain gitu?" Mata Meiva mengikuti arah pandang Jeane dan mendapati sileut Thunder yang sedang berjalan keluar kelas. "Thunder?" tanyanya melirik menggoda. "Wih! Anak baru tuh boleh juga kok, Jeane," tambahnya terkekeh. “Kita-kita pasti ngedukung lo kok.” Jeane memutar matanya sembari mengambil tasnya. "Gue balik duluan ya. Ada yang mau gue kerjain sekarang," ucapnya bergegas pergi. "Kenapa sih sama tuh anak?" ujar Ginta cengo. “Kesambet jin?” Kanta mengangkat bahunya ringan. "Gak tau tuh," jawabnya bingung. Berbeda dengan teman-temannya yang bertanya-tanya mengenai sikap aneh Jeane, Juan hanya memandang lurus ke arah pintu. Memikirkan siapa orang terakhir yang berlari kencang keluar dari kelas. "Thunder!" teriak Jeane. Thunder menoleh dan tersenyum manis kala Jeane berlari mendekatinya. "Jeane, ngapain ke sini?" tanyanya tersenyum samar. “Lo sampe lari-larian kayak gini?” Ada ekspresi takjub yang ditunjukkan Thunder. Jeane berdiri menekuk kedua lututnya sambil mengatur napas ngos-ngosannya, ia melirik ke arah wajah Thunder yang belum menanggalkan senyumannya. "Lo udah mau pulang sekarang?" tanya Jeane setelah paru-parunya kembali bekerja stabil. Thunder mengerutkan dahinya, bingung dengan pertanyaan Jeane. "Iya," jawabnya setelah diam sejenak. "Ikut gue dulu sebelum pulang!" Jeane segera menarik tangan Thunder, mengajaknya ke suatu tempat. “Ada tempat bagus yang mau gue tunjukin ke lo.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN