Bab 7

1550 Kata
"Bang Juan! Mau bangun gak sih lo? Lo ngebonya udah keterlaluan, udah kayak babi tau gak! Lo kebo apa babi sih? Tidur susah banget dibangunin. Kebo tidur juga gak semati lo kali," omel Cia sembari mengguncang kasar tubuh Juan. "Ampun deh, Bang. Lo tidur lebih parah dari orang koma tujuh hari empat malam, tau gak? Gak tau kan lo? Mana ada tujuh hari tapi malamnya cuma empat kali." Cia menyerocos semakin tak masuk akal. Juan menggeliat kecil karena gangguan bertubi-tubi dari Cia. Selimut yang menutupi d**a telanjangnya kini ditarik kuat oleh Cia hingga mengekspos perut sixpack-nya. Matanya masih terpejam erat, seolah gangguan Cia tak berarti banyak untuknya. Ia masih mencoba untuk kembali terlelap tidur. "Kok bisa ya mereka jadiin lo the most wanted di sekolah? Menurut gue nih ya, lo itu the worst wanted. Liat aja, gue dari tadi ngomong sendiri kayak orang gila gara-gara lo. Padahal ada lo di sini, tapi lo kagak nyaut sama sekali. Mau jadi putri tidur lo?" Cia memukul lengan Juan sekuat-kuatnya agar cowok itu segera membuka matanya, "Lo mah cocoknya jadi pangeran siluman!" cibirnya dongkol. Sebal karena Juan semakin terlelap pulas, yang malah sekarang melentangkan tubuhnya dengan nyaman. Cia menaiki kasurnya dan menginjak perut Juan dengan kedua kakinya, membiarkan berat tubuhnya ditanggung oleh abangnya yang sangat sulit dibangunkan itu. "Damn! Lo mau bunuh gue?!" semprot Juan menggulingkan tubuhnya ke samping, yang sontak membuat Cia kehilangan keseimbangan dan sukses terjatuh di lantai. DUKK. "Sakit elah," ketus Cia sambil mengelus bokongnya perih akibat ciuman dengan lantai kamar Juan. "Lo ngapain sih nginjakin gue? Lo kira berat lo itu cuma satu gram apa?" Juan mendudukkan dirinya, matanya mengawasi setiap pergerakan Cia. 'Kalo dia bukan Abang gue, udah gue karungin, buang ke laut! Biar dipungut sama ratu buaya. Kesel gue,' dumel Cia menatap kesal ke arah abangnya yang sudah berdiri tegap. "Lo sendiri gak bisa dibangunin dari tadi! Gue kira napas lo udah berhenti tadi," balas Cia menduduki kasur Juan, sedangkan si pemilik kamar berdiri membelakanginya dan berjalan ke kamar mandi yang ada di dalam kamarnya, tak berniat menjawab gerutuan Cia. Klik. "Yes! Hidup Cia! Lo bakal dapet uang jajan lebih hari ini. Rezeki emang gak ke mana ya," ujar Cia tersenyum senang menatap layar ponselnya. Juan menoleh curiga kepada Cia, feeling-nya mengatakan ada hal jahat yang sedang direncanakan cewek cengengesan itu. "Lo ngapain?" tanyanya mendelik tajam sambil menyambar handuk yang digantung di dekat lemari pakaiannya. "Hati-hati, mata lo keluar nanti. Gak bakal ada penggantinya lho kayak si mantan terindah." Cia memperlihatkan apa yang ada di layar ponselnya pada Juan. "Hapus nggak? Lo p***o banget, pake fotoin punggung gue!" bentak Juan merebut ponsel yang akan membawa musibah untuknya. "Ih! Lo, Bang. Ini tuh bisnis gue tau! Anak-anak pasti suka," Cia terkekeh membayangkan apa yang akan terjadi nanti jika ia berhasil menjual foto punggung t*******g milik abangnya. “Tolong kerja samanya dong, Bang. Lo jangan pelit-pelit entar kuburan lo sempit.” Cia berusaha merebut kembali ponselnya yang kini diotak-atik Juan. "Bisnis kotor," tukas Juan kesal seraya memasuki kamar mandinya. "Kotor apanya? Ini mah bersih tak bernoda, gak ada debu malahan, mana mungkin kotor," cicit Cia meninggalkan kamar Juan setelah ponselnya kembali ke tangannya. "Abang s****n! Kenapa dihapus foto penyelamat isi dompet gue? Dompet gue udah sekarat, ya elah!"   "Udah sehat lo, Ju? Kalo masih sakit, sini liatin muka gue. Dijamin, langsung masuk UGD," gelak Aldo memperlihatkan kelebaran mulutnya yang hampir menyamai lebar mulut buaya di mata Riko. "Diam deh lo, buaya," sahut Riko menyumpal mulut Aldo dengan tip-x. "Anjir! Lo tau rasa tip-x itu gak seenak kue bolunya Mpok Niyem? Dari pada lo nyumpal gue pake tip-x, mending lo isi nih mulut gue pake bolu. Sekalian yang ada coklatnya di dalem, biar ada rasa manis-manisnya gitu," oceh Aldo dengan suara lengkingan tinggi. "Ocehan lo pagi-pagi udah sukses buat gue kena serangan budeg dadakan. Sakit kepala nih gue denger suara cempreng lo mulu,” timpal Ken menjitak Aldo. "Budeg apanya? Kalo gue teriak 'Ken, Meiva lagi selingkuh', paling lo langsung noleh, budegnya bakal lo tunda sampe tahun gajah," jawab Aldo menaikturunkan alisnya dengan jenaka. "Lo comelnya melebihi SNI, tau gak? Polusi suara lo udah kebanyakan. Alien udah pada sekarat di Mars," Riko menyumpal salah satu telinganya dengan earphone, menghindari frekuensi suara yang semakin tak terkendali dari Aldo. "Juan." Panggilan itu membuat empat serangkai manusia pojokan menoleh berjamaah. Padahal yang dipanggil hanya satu orang. "Jeane, lo nyariin gue ya? Tumben banget lo pagi-pagi udah nyapa gue," tanya Aldo dengan watados-nya. Plak. "Jelas-jelas dia manggilnya Juan bukan lo, dodol duren," sahut Riko sehabis mengeplak belakang kepala Aldo. "Lo nyiksa gue aja terus, Rik! Siksa! Gue ikhlas, asal lo bahagia kayak lagunya Armada." Aldo menundukkan wajah sedihnya, suaranya dibuat serendah mungkin, untuk menarik minat Riko membujuknya. Pluk. "Otak lo kok bergeser terus sih, Do? Kapan bisa lurusnya sih? Udah kesel nih gue," timpal Ken menimpuk Aldo dengan buku matematikanya. "Jalannya disuruh belok kok, ya gue belok. Ya kali, gue diminta nabrak tiang di pertengahan kalo lurus mulu." Kesal juga, sudah digeplak, sekarang malah ditimpuk pula. "Serah lo, Do. Serah! Nyerah gue ngomong sama lo." Riko mendelik sebal. "Kenapa?" Juan memutar matanya bosan sembari mengeluarkan ponselnya dari saku. "Gue mau tanya lo soal bill yang kemarin. Berapa?" tanya Jeane langsung, mengabaikan mulut terbuka Aldo. "Kalian kemarin makan bareng? Kok gue gak diajak? Kalian gak setia kawan banget," tanya Aldo gusar. "Ngapain ngajak si perusak suasana?" sindir Ken. "Ih! Kamu jangan gitu, Mas. Masih dendam ya soal penembakan lo?" "Itu tau, gak perlu nanya kali!" Ken mengerutkan dahinya frustasi. "Ih! Kamu kasar deh, jadi makin cinta." Aldo mengelayut manja di lengan Ken. "Minggir gak lo? Jangan-jangan lo gay ya, Do?" Ken menghempaskan lengan Aldo dengan kasar. "Lo juga. Kan lo pasangan gue, Ken! Kita pasangan sehidup tapi gak semati! Gue mah ogah semati sama lo! Sehidup aja udah nyusahin, apalagi semati." "Najong." "Najwa Shihab gue tau, Ken. Yang biasa muncul di tv itu kan? Yang jago berdebat sama politikus? Gini-gini gue nonton tau, film yang membuka pikiran dan otak." "Otak lo udah terlalu terbuka, Do. Sampe segala jenis hayalan ikut masuk ke dalam tanpa ada penyaringan." "Kan belom sempet gue saring," bela Aldo untuk penistaan dirinya. "Tuh, pinjem aja penyaring di kantin. Kan ada di situ," kata Riko santai. "Penyaring teh? Gak muat. Otak gue itu isinya pohon cemara yang tinggi-tinggi sekali," sungut Aldo mengotak-atik ponselnya. "Kalian ngomongin apa sih? Gak ngerti gue!" Jeane bersidekap. "Gak usah dingertiin, Jeane. Cukup dipahami aja," jawab Aldo yang membuahkan pukulan keras di lengannya. "Lo cocok ikut boxing deh, Jeane! Pasti pada mangap musuh lo nanti. Kalo gak mati ya, paling tewas terkapar di tempat," lanjutnya meringis. "Lo ngomong suka kayak kentut, tau gak? Gak ada isinya," balas Jeane sengit. "Kalo isinya kebawa kan bau, Jeane. Gak kebawa aja, biasa udah bau." Aldo menggoda Jeane yang sudah naik darah. "Jorok lo!" "Kan lo yang bahas duluan soal kentut! Gimana sih? Kok gue yang dikataiin jorok?" "Jadi?" potong Juan jengah dengan situasi ribut yang tercipta oleh Aldo dan Jeane. "Jadi berapa?" Jeane terdiam beberapa detik, sebelum teringat tujuannya menemui Juan. Juan mengedikkan bahunya cuek. "Nanya Cia," jawabnya singkat. Jeane mengernyitkan dahinya bingung. "Kok nanya Cia?" "Hn." "Ish. Lo gak diajarin ngomong sama emak lo ya selain hn? Sini gue yang ajarin deh, bisa kok gue ajarin dari A sampe Z. Sebel gue!" sungut Jeane memelototi Juan yang diam bermain ponsel. "Juan!" panggilnya lagi saat Juan tak merespons ucapannya. "Modus ya lo?" Juan mendongak, menatap Jeane yang berdiri di sebelahnya. 'Dia hobi banget nanyain modus ke gue. Bener-bener minta dimodusin kali ya?' batin Jeane jengkel. "Gak tertarik gue modusin lo! Mending gue modusin unta," ucapnya lalu melangkah pergi ke bangkunya, meninggalkan pandangan melongo Ken dan Riko, serta tawaan keras dari aldo. "Unta emang bisa dimodusin? Kadang gue ngerasa Jeane itu versi cowoknya Aldo. Kagak waras," ujar Ken membuka komik yang ditutupi dengan buku matematikanya. Sekilas, cowok itu terlihat mempelajari matematika, padahal komik berkonten dewasalah yang sedang dibacanya. "Jeane cewek gue?" Aldo membelalakkan mata kaget. "Sejak kapan? Bisa tewas berdiri gue kalo Jeane jadi cewek gue." "Makanya, lo punya telinga itu dipake buat denger bukan buat ngerujak! Biar isinya gak air semua, jadi bisa dengerin gue ngomong apa dengan jelas. Gue bilang versi cowok bukan cewek lo! Najis mah dia kalo sampe mau sama lo!" "Kok lo suka banget nistain Akang sih, Adinda? Jangan gitu ah. Akang kan jadi malu." "Serah lo deh. Nyerah gue ngomong sama lo. Mending gue ngomong sama tembok." "Ih, aku terharu!" "Najis lo!"     Suasana sesak di kantin membuat Jeane kembali memutar arahnya kembali ke kelas. Di tangannya, sudah ada beberapa snack penganjal perut yang sempat dibelinya sebelum menjadi korban keganasan ‘sekumpulan piranha’ yang sedang kelaparan. "Kak Jeane!" Seruan itu berhasil membuat Jeane menoleh ke belakang, lengkap dengan pandangan beberapa orang di sisi lorong koridor yang sedang dilewatinya. "Cia?" Jeane menunggu Cia berjalan menghampirinya. "Oh ya, Cia. Bill yang kemarin berapa? Gue mau bayar nih," lanjutnya usai Cia berdiri di sampingnya. "Bill? Oh! Mau nanya Bang Juan. Kan dia yang bayarin." Cia memamerkan deretan gigi rapinya. “Gue main nunggu di meja aja kemarin, Bang Juan yang ke kasir.” "Dia nyuruh gue nanyain lo." Jeane mengernyitkan dahinya tak mengerti. "Jadi, gue harusnya tanya siapa? Masa iya, gue balik lagi ke restoran kemarin cuma buat nanyain bill." Cia tergelak, ia tak mampu menahan tawanya kala mendengar ucapan polos dari Jeane. "Bang Juan yang bayarin, elah. Kagak usah dipikirin. Anggap aja, lagi hoki ditraktirin cogan," sahut Cia menepuk pundak Jeane. "Berkah mah jangan ditolak. Kapan lagi coba," timpalnya lagi sambil terkekeh. "Nggak bisa gitu," sanggah Jeane melebarkan matanya. Cia mengedikkan bahunya ringan. "Cari Bang Juan aja," ucapnya, "Gue duluan ya, Kak. Ada PR yang belum dikerjain. Biasa. Murid teladan," lanjutnya terkekeh pendek. "Iya. Murid yang patut dijadiin panutan," sindir Jeane yang kembali membuat Cia terkekeh geli. "Gue duluan, bye." Cia melangkah pergi. "Lalu gue? Nyari Juan lagi?" Sebenarnya Jeane berbicara sendiri, tapi semua perempuan yang berdiri di sana menoleh ke arahnya sejak nama Juan disebut. "Gue lupa penggemar dia kayak pasukan TNI, siap siaga," sungutnya berlalu pergi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN