Hari minggu, hari yang dikhususkan untuk bersantai oleh sebagian orang, dan itu tak berlaku untuk Jeane yang masih meringkuk di dalam selimutnya. Cahaya matahari mulai sedikit demi sedikit menembus kaca jendela yang semalam tak ditutupi gorden. Suasana hening dan sedikit gelap itu semakin menyamankan dirinya yang masih terbuai di alam mimpi.
"Bangun, kebo! Elah, Kak. Jadi mau pergi jogging gak sih hari ini?" ucap Lily sambil mengguncang tubuh Jeane.
"Jeane Aerviely! Mau bangun gak lo? Atau mau gue siram lo pake air got. Biar kagak usah mandi lo! Udah beraroma soalnya," kata Lily kesal. "Oke. Lo yang minta, gue kabulin," lanjutnya menghentakkan kaki-kakinya seolah sedang berjalan, padahal nyatanya cewek itu masih memandang kakaknya dengan raut kesal.
"Ih! Gue bukan tikus got ya. Gak perlu juga kali disiram pake air got," ujar Jeane sambil meregangkan tubuhnya yang kaku. "Lagian sekarang baru pukul—" Jeane melirik jam dindingnya, "astaga! Pukul 4 pagi! Lo gila ya jogging jam segini? Lo mau jogging bareng pocong atau apa?" Jeane mendelik kesal pada Lily yang cengengesan.
"Pocong mah tiap hari udah berolahraga, loncat-loncat mulu. Lah, lo? Terkapar mulu di ranjang pas hari minggu," balas Lily sengit. "Ayo dong Kak, bangun! Kagak bisa bangun lagi, baru tau rasa lo," lanjutnya membuat Jeane bersidekap.
"Lo nyumpahin gue?" Jeane menyingkirkan selimut yang menutupi tubuhnya seraya berdiri di sebelah Lily.
"Baperan lo! Siap-siap! Gue tunggu di bawah. Biasa nih ya, cogan di komplek kita nih udah pada jogging jam segini."
"Cogan mana?" Belasan tahun Jeane tinggal di komplek ini, ia tak pernah menemukan seorang cogan sekalipun. Kalau di komplek sebelah, banyak. Salah satunya Samudra dan Ju—.
'Lo mikirin apa sih, Jeane?'
"Cogan yang lo sebut tadi," balas Lily terkikik geli. Ia segera melengos ke luar kamar Jeane sebelum kakaknya itu—, "Lily!!" —melakukan paduan suara.
"Tuh kan, masih sepi kayak kuburan," kata Jeane yang berjalan di samping Lily. Suasana sepi dan sedikit gelap, menyeramkan bagi Jeane. “Lo ada-ada aja jam segini udah ngajakin jogging,” lanjutnya sesekali menoleh sana sini.
"Ini kan emang daerah pemakaman," ucap Lily yang dibalas ngernyitan dahi dari Kakaknya, "Seratus kilometer dari sini."
Watados ala Lily membuat Jeane semakin kesal, ia berjalan lebih cepat dibanding Lily.
Dukk.
Tubuh Jeane terhuyung ke belakang dan hampir jatuh terduduk jika tidak ada tangan yang mencengkram lengannya. 'Siapa? Hantukah? Jangan bilang itu pocong? Tapi kan tangannya pocong diikat? Ya kali tangannya baru beranak, dua diikat, satu bisa lepas,' batinnya kacau.
"Enak ya ditahan. Gue lepas nih," sedetik kemudian, b****g Jeane membentur aspal dengan keras.
Kesal, Jeane mendongakkan kepalanya menatap ‘hantu’ yang membuatnya merasakan kerasnya aspal. "Lo hantu jadi-jadian, gak usah dilepas dulu, kenapa? Gue kan masih belum bener-bener berdiri," semprotnya sembari berdiri, "Lho? Juan? Kok lo di sini?"
"Dua kali," desis Juan melangkah pergi. 'Dua kali lo tabrakan sama gue.'
Jeane mengernyitkan dahinya bingung. "Dua kali apanya? b****g gue ciuman sama lantai? Ya emang udah dua kali sih. Kan pertama di kelas," gumamnya bingung. "Tapi waktu itu kan cuma ada Bintang, gak ada Juan, kok Juan bisa tau?" Jeane merinding ngeri mengingat saat itu Juan sakit dan tidak masuk sekolah. “Juan itu cenayang ya?”
"Ih! Lo, Kak. Maen ninggalin aja, untung lo gak diculik sama pohon," kata Lily berlari mendekati Jeane.
"Ngapain pohon nyulik gue?" Jeane bingung dengan perkataan Lily.
"Buat ngegantiin mbak kunti yang lagi ngambil cuti," sahutnya ringan. Kali ini, Lily lah yang meninggalkan Jeane duluan. "Tungguin, elah."
"Abang mau ke mana?" tanya Cia pada abangnya yang sedang memakai jaket kulit hitamnya.
"Cari makan." Pembantu dan orang tuanya memang belum kembali ke rumah.
"Di mana?" tanya Cia lagi.
"Tong sampah," jawab Juan kesal, diraihnya kunci mobil. "Di restoranlah. Lo mau ikut nggak?"
Cia menganggukkan kepalanya antusias. 'Lumayan, bisa makan bareng cogan lain selain Samudra.'
"Semalem lo makan apa, Bang?" tanya Cia mengingat di rumahnya tidak ada yang bisa memasak kemarin. Baik Cia maupun Juan hanya memiliki kemampuan masak yang hanya bisa menghancurkan dapur dari pada menciptakan makanan layak untuk dimakan.
"Jeane," jawabnya singkat sembari memasuki mobilnya.
Cia membulatkan matanya jenaka. "Lo makan Kak Jeane? Enak gak, Bang?" tanyanya menggoda Juan.
Juan mendelik tajam dan kembali fokus pada jalanan yang ramai di akhir pekan. "Menurut lo?"
"Judes banget sih lo, Bang. Entar Kak Jeane-nya kabur lagi kalo berduaan sama lo," tukasnya mengabaikan lirikan tajam di sampingnya.
"Tinggal diikat." Baru saja Cia ingin menjawab, Juan terlebih memotongnya. "Pake rantai kayak si Kiko," sambungnya santai.
"Kiko kan gukguknya mama. Lo tega ih, samain Kak Jeane sama Kiko," seru Cia sedikit cemberut.
"Hn," gumamnya nyaris tak terdengar Cia. "Udah sampe." Juan memarkirkan mobilnya di salah satu restoran mewah pusat kota.
Perlahan, Juan dan Cia memasuki restoran yang agak ramai dan memilih duduk berhadapan di samping kaca, dekat dengan pintu masuk.
"Permisi, Kakak. Mau pesen apa?" tanya pelayan perempuan itu dengan senyuman untuk Juan dan gerutuan untuk Cia.
"Spaghetti sama orange juice. Kalo buat cowok gue, steak dengan tingkat kematangan well done sama apple juice. Oh ya sama porsi kecil pizza dan porsi besar french fries, buat penutupnya dua ice cream Sundae ya," celetuk Cia menekan suaranya saat menyebut 'cowok gue' sambil melihat-lihat menu di tangannya. "Tambah dua potong paha ayam goreng ya, gak perlu nasi. Saya lagi diet soalnya, entar malah kebablasan." Senyum sinis menghiasi bibirnya kala mengembalikan menu itu kepada pelayan yang berdiri di sebelahnya.
"Er, saya ulangi pesanannya ya, Kak." Pelayan itu sedikit kikuk merasakan hawa membunuh dari Cia. "Spaghetti satu porsi—"
"Porsi besar ya," potong Cia dengan santainya.
Sang pelayan menganggukkan kepalanya. "Spaghetti satu porsi besar—"
"Oh, dengan saus pasta marinara yang banyak ya, saya suka seafood, jadi banyakin seafood-nya ya," potong Cia lagi.
Sang pelayan kembali mencatat pesanan Cia. "Jadi spaghetti marinara satu porsi besar dengan saus pasta melimpah." Pelayan bername-tag Aksa itu menekan setiap suku kata, yang dibalas anggukan ringan dari Cia. "Satu gelas orange juice, satu porsi steak dengan tingkat kematangan well done—" lagi-lagi, Cia memotong ucapan Aksa. "Porsi besar juga ya," katanya polos yang dibalas helaan napas lelah dari Aksa.
"Saya lanjut ya?" Aksa berusaha untuk tetap ramah.
"Iya, dari pada berulang-ulang, nanti saya malah kehafal sama menu yang saya pesan," tukas Cia berbasa-basi. Juan mendelik kesal pada Cia yang iseng menggoda Aksa.
"Cia," panggilnya dengan nada datar menghentikan kejahilan adiknya.
"Lanjut aja, Mbak." Cia mengabaikan panggilan dari Juan. Salah Aksa sendiri yang memberinya gerutuan tadi. Pelayan harusnya mampu memberikan pelayanan terbaik mereka pada costumer kan? Apalagi di restoran sebesar ini.
Aksa menghela napasnya lagi, ia mencoba menerbitkan satu senyuman tulus yang malah terlihat kaku. "Satu porsi besar steak dengan tingkat kematangan well done, satu gelas apple juice, satu porsi kecil pizza—"
"Dengan topping bbq chicken ya, Mbak." Cia kembali mengoreksi pesanan yang disebut Aksa.
"Iya, Kak." Aksa kesal dengan Cia yang suka menambah pesanannya di pertengahan. Entah mengapa, ia merasa ‘sedikit’ menyesal mengulangi pesanan cewek di depannya ini. 'Untung ada cogan di depannya! Kalo nggak, udah gue jambak-jambak rambut cepol dia!' batinnya sebal.
"Satu porsi kecil pizza dengan topping bbq chicken, satu porsi besar french fries, dua porsi ice cream Sundae, dan dua potong ayam goreng bagian paha," kata Aksa sabar dan tersenyum paksa.
"Boleh diulangi lagi nggak, Mbak? Saya lupa mesen apa aja," kata Cia dengan polosnya, membuat Aksa mengubah air mukanya.
"Gak perlu, Mbak." Juan membuka suaranya.
"Kalo begitu, mohon ditunggu sebentar." Aksa segera pergi meninggalkan meja Cia dan Juan. "Rese," rutuknya kesal sambil menghentakkan kakinya kuat-kuat.
"Lo ganggu kesenangan gue aja, Bang," sungut Cia sebal. Walaupun terganggu, Cia tersenyum puas mendapati wajah pucat Aksa.
"Hn." Juan memainkan ponselnya, tak peduli pada Cia yang mendeliknya horor.
"Kak Jeane! Sini!" teriaknya pada salah satu gadis yang baru tiba di depan pintu restoran. Mengabaikan pandangan orang lain di sekitarnya.
"Kakak mau makan juga di sini? Gabung kita aja. Lagi sendiri kan?" cerocos Cia lalu menarik lengan Jeane untuk duduk di sebelahnya setelah Jeane mendatangi mejanya dengan tampang bingung.
Jeane melirik Juan sebentar. "Nggak kok, Cia. Gue cuma mau pesen take away buat adik gue," jawabnya sedikit berbohong. Ia tak ingin bergabung dengan Cia dan Juan, rasanya sedikit canggung. Jeane memilih menghindari keduanya dibanding menuntaskan rasa lapar yang sudah dideranya sejak tadi.
Cia membulatkan matanya. "Sekalian makan dong, Kak. Nanggung, elah. Udah sampe sini juga." Cia mengangkat tangannya meminta pelayan mendatangi mejanya.
"Mau makan apa, Kak?" tanya Cia ketika seorang pelayan laki-laki mendekati mejanya.
"Dia kan bilang gak mau, Cia," sahut Juan risih dengan pemaksaan Cia pada Jeane, dari tadi kedua cewek itu saling tarik-menarik pergelangan tangan. 'Drama apa sih ini?!'
"Gue pesenin aja ya, Kak? Samain kayak punya gue," kata Cia menghentakkan lengan Jeane hingga cewek itu tersungut karena lengannya memerah dan terasa perih. "Mas, tadi ada Mbak yang orderin pesenin kita. Bilangin, spaghetti sama orange juice-nya diganti jadi dua porsi ya," katanya pada pelayan laki-laki itu.
Sang pelayan mengangguk dan berjalan pergi, menyisakan keheningan di meja Cia, Juan dan Jeane.
"Kak Jeane, abis darimana? Kok rapi banget?" tanya Cia kepo.
"Abis dari perpus aja sih,” jawab Jeane sedikit melirik Juan yang fokus pada ponselnya. 'Cuek lo bisa dikadarin turun sedikit gak sih?'
Cia membuka bibirnya sedikit. "Ngapain, Kak? Nyari cogan ya di sana? Tuh di depan kakak udah ada Bang Juan, bukan Bang Toyib lho ya," oceh Cia terkekeh, mencairkan suasana canggung sejak Jeane bergabung dengan mereka.
"Cogan di dunia fiksi," koreksi Juan dingin.
"Bang Juan jealous kayaknya, Kak," sahut Cia yang dibalas pandangan tajam dari Juan. "Makanya Bang, miripin dong kayak cogan di novel. Muka lo sih emang ganteng Cuma ya sifat lo itu terlalu dingin. Menggigil terus nih gue kalo udah di dekat lo," ujarnya tak peduli dengan raut wajah mengeras Juan.
"Gue cuma nyari novel kok, kali aja ada novel baru yang menarik," jawab Jeane yang kembali memutuskan lomba tatapan tajam bersaudara itu.
"Tuh depan Kakak, menarik kan?" tanya Cia yang langsung direspons salah tingkah oleh Jeane.
"Lo promosiin gue?" balas Juan memasang ekspresi datar, ia meletakkan ponselnya di atas meja. Pandangannya tertuju pada Cia yang sedang menyengir kuda.
'Pantas aja Ken suka ngejek dia triplek. Mukanya mendukung sih! Untung hidungnya mancung, lah kalo pesek? Gak bisa dibedain, mana triplek, mana Juan,' batinnya menistakan Juan.
"Siapa tau lo bisa langsung laku, dibeli Kak Jeane," ucap Cia ceplas-ceplos. “Ilang deh satu beban di rumah.”
"Gue bukan barang," balas Juan kesal.
"Ini Kak, pesanannya."
Seruan dan datangnya beberapa pelayan ke meja mereka serempak membuat Jeane dan Cia menoleh. Mereka sedikit menjauh dari meja ketika para pelayan itu menaruh pesanan mereka di meja.
"Banyak amat!" Jeane mengangakan mulutnya, lalu cepat-cepat kembali mengatupnya.
Cia mengedikkan bahunya. "Biasa aja kok," ujarnya sambil menusuk spaghetti dengan garpu dan menggulung sebelum menerjunkannya ke dalam mulut.
Jeane menelan ludahnya dengan susah payah. 'Mereka gila makan deh kayaknya!' batin Jeane menoleh ke arah Juan yang menyuap potongan kecil daging steak ke dalam mulutnya.
"Makan," kata Juan datar pada Jeane.
Jeane yang gelagapan langsung mengambil garpu dan pisaunya seraya memasukkan spaghetti ke dalam mulutnya. 'Enak!'
Suasana hening menghiasi meja mereka kala makan, hingga makanan penutup. "Lo mau gue orderin es krim, Kak?" Tanya Cia memfoto es krim Sundae yang mengugah selera itu, khas remaja masa kini ketika sedang makan makanan yang tampilannya enak dilihat.
"Gak usah deh, Cia. Gue udah harus balik nih, ada janji sama si kembar," jawab Jeane yang ingat janjinya bertemu dengan Kanta dan Ginta. Meiva? Sibuk dengan Ken. "Gue bayar duluan ya ke kasir," lanjutnya lagi seraya berdiri.
"Gak usah, Kak. Kita yang traktir, lagian kan gue juga yang maksa lo," kata Cia. "Take away-nya Kakak, gimana?" Cia ingat tujuan Jeane ke restoran ini.
"Err. Gue nanti ngirim pesan ke adik gue, suruh dia yang beli sendiri. Soalnya gue udah kepepet janji sama temen," jelas Jeane dengan berhati-hati takut usahanya berbohong malah terbongkar.
"Ya udah deh kalo gitu. Hati-hati di jalan ya, Kak," kata Cia, tak lupa memberikan senyuman manis untuk Jeane.
"Gue besok bayar lo ya, Juan. Gue duluan! Bye." Jeane melangkahkan kakinya menjauhi meja dan keluar dari restoran, ia terlihat tergesa-gesa meninggalkan restoran tersebut.
Cia mengintip dari jendela. "Gue kan udah bilang kita yang traktir, kok dia bilang besok mau bayar lo sih, Bang?” Matanya sibuk mengikuti sileut Jeane hingga gadis itu memasuki sebuah mobil. “Gue gak tau kalo Kak Jeane ternyata bisa bawa mobil.” Cia menatap ke arah Juan.
"Hn," gumam Juan sebagai balasan. 'Gue malah gak tau apa-apa soal dia.'