Hari ini merupakan hari ketiga dari hukuman skorsing yang Luna terima. Dan dari kemarin Dimas selalu berkunjung ke rumah Luna selepas jam kuliahnya. Ia selalu membawa berbagai macam makanan, mulai yang ringan hingga makanan berat. Tidak ada guratan kesedihan di wajah Luna, hanya ada tawa yang menghiasi wajahnya. Sangat berbanding terbalik dengan saat ia menerima hukuman itu tiga hari yang lalu. “Sepi amat rumah lo, Lun? Pada kemana?” “Orangtua gue kerja, makanya gue sendirian di rumah.” Kata Luna seraya memakan keripik yang dibawakan Dimas. “Pantesan gue diizinin masuk sama lo.” Ponsel Luna berdering. Dimas bisa melihat ada nama Gaby muncul di layarnya. “Bentar ya,” Kata Luna lalu menerima telepon dari Gaby. Dimas yang di tinggalkan Luna masuk ke dalam rumah hanya bisa menunggu Luna k

