Agenda kegiatan hari ini adalah outbond karyawan, mau tak mau Anya beringsut. Mereka memakai kaus olahraga dan topi yang telah disediakan perusahaan. Serba putih dan celana training biru laut.
"Aahh kesel!" Sofie berteriak.
"Kenapa?" tanya Anya heran.
"Kausnya kegedean, jadi kayak badut," keluh Sofie. "Dan kamuuu, memakai kaus kegedean tetap oke, Tuhan nggak adil."
"Kamu tuh aneh, rumput tetangga memang terlihat lebih hijau, phe."
"Ngomong-ngomong kamu udah nggak sakit lagi?" tanya Sofie.
Anya menggeleng.
Mereka keluar dari hotel dan menuju lokasi wisata menggunakan bis. Kelas manager ke atas tampak menggunakan kendaraan yang berbeda. Anya mengenakan topinya dan rambutnya dimasukkan ke lubang topi sehingga terlihat seperti dikuncir. Mereka sampai di lokasi 20 menit kemudian.
Vino dan beberapa teman prianya yang sepertinya baru dikenal bergabung dengan mereka.
"Mau main apa nih?" tanya Vino. Anya menggeleng malas. "Lho terus ngapain ke sini?"
"Bosen aja."
"Kamu sakit." Vino mencubit pipi Anya.
"Aih Vino."
"Ya udah, kita naik jet ski aja. Aku ambil kunci dulu."
Anya mengangguk. Vino memanggil Anya untuk memakai pelampung. Vino membonceng Anya. Beberapa jet ski tampak telah melaju di sekitar mereka.
Anya berteriak-teriak histeris, air menerpa wajahnya. Sejenak dia melupakan suasana hatinya yang buruk dan tertawa. Sebuah jet ski mengikuti mereka. Anya menoleh. Hampir saja dia melepaskan tangannya dari pinggang Vino. Mata tajam pria itu berkilauan, dia memacu jet skinya di sebelah mereka.
"Eh itu GM." Vino berteriak. Tawa Anya hilang, dia memandang pria itu yang juga memandangnya dengan tatapan yang sangat dia rindukan. Teringat Anya pada luka di hatinya, kembali meletup, Anya melingkarkan tangannya di pinggang Vino dan merebahkan kepalanya ke punggung Vino. Mata mereka masih terus bertatapan sampai Vino memacu jet ski mereka ke arah yang berlawanan.
***
Evan melempar pelampungnya dengan kemarahan. Tadinya dia ingin bertemu dengan Anya dengan cara yang sedikit unik berkejar-kejaran dengan jet ski. Siapa sangka hatinya malah terbakar cemburu. Memang pintar gadis itu, menempel dengan seorang laki-laki seperti itu. Pasti Anya ingin menghukumnya.
Evan sudah tak sanggup lagi berada di tempat itu dari kemarin dia telah melihat Anya, dan lelaki itu selalu menempelinya. Benar-benar cari mati! Anya sepertinya masih membenci dia, walau matanya masih menatap penuh kerinduan, tentu saja. Tapi Evan tak dapat menahan diri lagi. Malam ini dia akan bicara dengan Anya. Kalau perlu dia akan memohon untuk pengampunan gadis itu.
Bagaimana caranya agar dia bisa bertemu Anya? Atau langsung saja menyeretnya ke kamar. Pasti Anya akan mengamuk. Bisa-bisa dia mengancam akan bunuh diri lagi. Evan terus berpikir. Dari mata Anya sepertinya Anya masih mencintainya, dia tau itu. Lagipula Evan telah selalu menyelidiki Anya dia tak menjalin hubungan dengan lelaki lain. Hanya siapa itu tadi namanya, seperti biasa Anya di kelilingi laki-laki yang menginginkannya.
Evan memperhatikan Anya dan teman-temannya naik banana boat. Anya sedikitpun tak menoleh ke arahnya padahal dia ada di sana.
Aku akan ambil kembali apa yang seharusnya jadi milikku, decak Evan.
***
"Anya. Kamu dicari bapak," kata Sofie.
"Kenapa?" Anya mengerutkan kening. Ada apa manajer mereka memanggil di acara seperti ini. Sofie menggeleng. Anya kemudian berjalan ke lobi.
"Anya."
"Ya, pak."
"Kamu antarkan ini ke kamar GM." Manajernya memberikan pena ke Anya. Anya terdiam, dia merasa geli dalam hatinya
"Tanpaknya GM tertarik sama kamu, dia ingin mengobrol." Manajer tampaknya mengetahui pikiran Anya, masa sebuah pena, dia yang harus mengantarnya.
Anya menarik nafasnya, "Bukankah tidak baik seorang wanita ke kamar laki-laki pak," sahut Anya. Licik juga dia, menyuruh Anya melalui bosnya jadi Anya sulit menolak. Tapi dipikir-pikir Evan memang sedikit licik, kenapa dia bisa memendam rasa padanya?
"Pak Devan nggak akan macam-macam, dia pria santun dan beretika Anya. Aku tau itu. Lagipula mana mungkin dia berbuat yang aneh-aneh pada karyawannya."
Anya masih enggan bergerak.
"Dia masih single juga belum menikah, eh siapa tau kalian jodoh," ujar bosnya lagi menggoda Anya.
Anya tertawa sinis, tapi pada akhirnya dia mengambil pena itu dan menuju kamar yang dimaksud.
Anya menekan bel kamar itu, pintunya terbuka. Dengan segera Evan menarik tangannya dan memeluknya erat. Anya diam saja.
"Baby, don't you miss me?" Evan berkata lirih. "Anya, forgive me baby."
Anya mendorong Evan. "Saya diminta mengantarkan ini, pak," kata Anya dingin.
Evan menghela nafas, "Anya kamu salah paham. Kamu harusnya dengarkan aku dulu. Tetap di sini bersamaku."
"Berapa bapak mau membayar saya?" Anya bertanya.
"Maksud kamu apa, baby?".
"Berapa biasanya bapak membayar p*****r untuk semalam?" lanjut Anya getir.
Evan terduduk di atas tempat tidur masih menggenggam tangan Anya.
Anya melepas kancing bajunya. Dia melepaskannya. Evan menariknya dan mendekapnya.
"Anya, stop udah. Hentikan!" Evan berkata, hatinya terasa sangat pedih. "Anya, kenapa kamu nggak bisa percaya aku?"
Tubuh Anya tegang, dinginnya AC menghembus kulitnya yang tak terpeluk oleh Evan. Sentuhan Evan menggetarkan jiwanya, tapi dia bertahan.
"Anya, I love you, kamu satu-satunya dalam hidupku." Evan masih mendekapnya. Pertahanan Anya hampir hancur, tapi video itu masih terekam jelas di benaknya. Evan memcium bibir Anya, tapi Anya mematung.
"Bisa tidak, kamu biarkan aku di sisimu? Kamu boleh membenci aku. Memperlakukan aku semaumu." Wajah Evan yang tampan itu terlihat nelangsa, apa Anya akan mempercayai bahwa Evan tetap setia padanya? Berapa orang wanita yang lebih darinya siap jatuh ke pelukan lelaki ini?
"Kalau tidak ada lagi yang mau dibicarakan, saya pergi." Anya memungut blouse-nya di lantai dan meninggalkan Evan.
***
Hati Evan teriris mendengar kata-kata Anya. Evan menelepon Ricco. Menyuruhnya menyusul Evan besok pagi. Apakah hanya segitu saja? Memang Evan masih bisa melihat gadis itu. Tetapi Evan ingin mereka seperti dulu, tawa Anya pelukan dan senyum Anya yang penuh cinta padanya. Tidak bisa dia lupakan sedetik pun.
Berapa bapak membayar p*****r untuk semalam? kata-kata Anya membuatnya tak bisa bernafas. Evan meninju dinding kamarnya. Dia menelpon.
Anya menekan pintu kamar itu lagi wajahnya dingin seperti tadi.
"Layani aku malam ini," kata Evan datar. Wajah Anya seperti menegang. Tapi dia diam saja. "Aku akan bayar." Evan berkata lagi dengan sangat kejam. Entah kegilaan apa yang merasukinya. Yang jelas dia ingin bersama Anya malam ini.
Anya memandanginya nanar. Tapi dia tak bergerak.
"Kenapa? Aku akan menulis berapapun yang kamu inginkan."
Anya terus mematung. Evan membuka kancing kemejanya.
"Kamu amatir? Apa klien harus membuka bajunya sendiri?" Dia berbisik di telinga Anya. Tangan Anya gemetaran hebat tapi dia meraih kemeja Evan dan membuka kancing-kancingnya, sangat lama karena tangannya terus gemetar. Kemeja Evan jatuh di lantai.
Evan menggendong Anya dan menghempaskannya di tempat tidur. Evan menciumnya liar, sudah dua tahun tak menyentuh bibir itu.
"Hmm, kamu nggak ingin membalas?".
Anya menggerakkan bibirnya lembut.
Tubuh Evan gemetar karena pertemuan kulit mereka. Evan membuka blouse Anya. Kemolekan yang dirindukan. Air mata Anya mengalir, dia menangis terisak. Evan menghentikan gerakannya.
"b******n! b******k!" Anya memukulnya. Evan memeluknya, mengusap pipinya.
"Aku harus gimana? Aku merindukanmu. Sangat merindukanmu," bisik Evan. "Anya percayalah, cuma kamu satu-satunya dalam hidupku. I love you, baby."
Tangis Anya mereda. "Kamu nggak merindukan aku?"
"Nggak."
"Aku cuma mau kamu tau semua kegiatan yang aku lakukan itu, aku nggak pernah bercinta dengan wanita lain. Cuma kamu."
"Pembohong!"
"Apa kamu melihatnya? Iya, aku memang menghadiri tempat-tempat itu karena Ricco mengajakku."
"Nggak mungkin."
"Kenapa kamu lebih percaya si Aric dari aku?" Anya diam. "Kamu lebih percaya pada video singkat ketimbang aku?"
"Kenapa kamu tau aku melihat video?"
"Kamu pikir aku nggak mencari tau kenapa kamu meninggalkan aku?"
"Aku membencimu."
"Nggak apa, aku pernah bilang sekalipun kamu ninggalin aku. Aku akan terus mengejarmu."
Anya memalingkan wajahnya. "Anya." Evan berbisik. "Aku bersumpah."
"A-aku akan memikirkannya."
Senyum terukir di wajah Evan. "Thank you baby."
***
Anya memasuki kamarnya sudah pukul 2 dini hari, Sofie telah tidur.
Anya tak mau memejamkan matanya. Sejujurnya dia ingin percaya pada Evan, karena dia sangat mencintai dan kehilangan lelaki itu. Belum lagi melihat para wanita membicarakannya. Anya sangat marah, karena Evan miliknya. Dia tak ingin ada yang mendekati Evan.
Apa bedanya dia? Tapi sentuhan Evan tadi membuat pertahanannya bobol.
Anya dan Sofie turun untuk sarapan. Dia seperti melihat sosok yang familier, itu Ricco. Saat mengambil sarapan Ricco menempelinya terus.
"Evan mengutusmu?" tanya Anya.
"Nggak juga keinginanku sendiri. Hei, kamu berantem sama Evan itu urusan kalian. Masa aku kena imbasnya?"
Benar juga sih, pikir Anya. Ricco duduk disamping Anya, Sofie saja sampai terheran-heran.
Vino bergabung di meja mereka dan berkenalan dengan Ricco.
"Dari departemen apa?" tanya Vino.
Ricco hanya cengengesan tak menjawab pertanyaan itu. Dua orang wanita berjalan di samping Anya dan berbisik-bisik. Evan sarapan bersama para manager, mereka hanya remah-remah di perusahaan ini kalau kata Sofie. Anya mencuri pandang ke arah Evan, tampak Evan juga melirik ke arah mereka dan mereka saling pandang. Tiba-tiba Ricco tertawa nyaring. Beberapa pasang mata memandang kearah mereka.
"Kenapa?" tanya Vino heran.
"Masih cinta tapi gengsi," ejek Ricco. Wajah Anya merah padam, dia meninggalkan meja.
"Anya, hei Anya," panggil Vino.
Anya memukul-mukul bantalnya kesal, dasar Evan licik, dia menurunkan bala bantuan. Kalo gitu kita akan perang urat syaraf, desah Anya.