Let Me Go

1928 Kata
Sudah empat hari berturut-turut Evan selalu menyambangi kos Anya, tapi Anya masih enggan bertemu dengannya. Evan telah meminta Pak Trisno menyuruh orang untuk mengawasi kos Anya selama 24 jam. Tapi tak ada perkembangan. Syukurlah kata Olga, Anya telah makan walau masih sedikit. Tapi Anya masih bungkam, bahkan kepada Olga, tempat dia selalu menceritakan apapun. Evan benar- benar frustasi. Sebuah pesan masuk, Anya! Evan sampai terlonjak. Aku ingin break, pesan itu singkat tapi menghancurkan Evan. Break? Kenapa? Evan menelpon-nelpon Anya, tapi ponselnya mati. Ternyata ketidak tahuan dan tak bisa berbuat apa-apa rasanya seperti ini. Seorang Evan yang sejak dulu selalu melakukan apa yang dia inginkan kali ini sangat tak berdaya. Ponselnya berdering lagi, itu Olga. Olga menelponnya dan menangis. "Anya balik. Kamarnya udah kosong." Mendengar ucapan Olga tubuh Evan limbung. Evan menghancurkan barang-barang di ruang kerjanya. Pak Trisno menghela nafas. "Gimana bisa kecolongan?!" Evan berteriak. "Nona Anya lewat pintu belakang, pak, entah bagaimana dia tau kalau sedang diawasi." "Jam berapa penerbangannya?" "Saat ini pasti sudah berangkat." "Pesankan tiket ke kotanya," kata Evan. "Baik, pak." Sekretaris Evan mengetuk pintu dan terpekik melihat ruang kerja bosnya yang hancur, "Pak, ada yang ingin bertemu." Katanya dengan wajah takut karena belum pernah melihat Evan yang selalu tenang itu sangat gusar. "Siapa?" "Namanya Aric." Mau apa b******n itu? pikir Evan. "Suruh masuk." Aric tertawa melihat ruangan Evan yang berantakan. "Mau apa lo?" bentak Evan. Aric tertawa mengerikan, "Gimana rasanya? Ditinggalkan?" "Ohh jadi loo. Tipu muslihat apa yang lo lakuin b*****t?!" Maki Evan. "Gue nggak selicik lo bro, masalahnya ... lo benar-benar b******n. Nggak butuh waktu lama buat Anya mengetahui itu." Aric tertawa semakin mengerikan. "Dia udah tau kalo lo maniak," ejek Aric. Evan mengangkat alisnya. "Belom paham juga? Midnight future." Evan lalu tersadar, "Bangsaatttt!!!" Evan menendang Aric hingga terpental. "Pak Evan!" pekik sekretarisnya. Evan menarik kerah Aric dan meninju wajahnya tapi Aric masih tertawa-tawa bahagia. Dia bahkan tidak membalas serangan Evan. Pak Trisno menarik Evan. Sekretaris Evan memanggil security. "Ahahahahaaa..." Aric tertawa puas. "Mampuss lo njing!!" Evan melepaskan diri dari cengkraman Pak Trisno dan menendang Aric. Security menyeret Aric pergi, dia masih tertawa-tawa. "Tidak ...." kata Evan. "Anya." Evan terduduk lemas di kursinya. Dia menatap kosong, Pak Trisno menyuruh sekretarisnya membereskan ruangan. Pesan masuk ke handphone-nya. Sekarang lo tinggal saksikan kebahagiaan gue dan Anya. Evan melempar ponselnya ke dinding . °°° Evan minum-minum di bar, sudah lama sekali dia tidak minum. Evan nyaris tak sadarkan diri, terlebih lagi mabuk. Evan tak pernah mabuk sebelumnya. Ricco datang dan merangkul sahabatnya itu. Evan meracau memanggil-manggil nama Anya. Dia telah mendengar kejadian tadi siang dari Pak Trisno. Ricco mengeluh, "Itulah kenapa gue nggak mau mencinta." Ricco menyeret Evan ke kamarnya, dia langsung tersungkur. "Anyaa ...." Evan terus menerus memanggil nama Anya. Ricco menggelengkan kepalanya. Ricco menelpon Pak Trisno untuk mengirim orang ke kota asal Anya dan memantau seluruh kegiatan Anya di sana. "Udah brother jangan khawatir. Lo usaha aja terus. Cinta itu memaafkan." Ricco menepuk-nepuk bahu Evan, sok tau. "Nggak ngerti gue, Co. Kenapa bisa gini? Anya pasti hancur." "Yang gue liat saat ini lo yang hancur-hancuran." "Co, gue ...." Evan terus berkeluh kesah sepanjang malam. °°° Mama menatap Anya sumringah, Anya balas tersenyum tak ingin membuat mamanya sedih. "Kamu lemas sekali Anya. Makan nggak sih di sana?" tanya mama dalam perjalanan pulang dari bandara. "Sibuk urusin kelulusan, ma," jawab Anya. "Katanya mau cari kerja di sana, eh mendadak balik," kata mama lagi. "Setelah dipikir-pikir, males jadi anak kos." Mama tertawa mendengar ucapan Anya. "Gimana kabar Evan? Sedih dong dia kamu tinggal." Hati Anya serasa disayat mendengar ucapan mama. "Nggak usah bahas dia, ma." "Loh kenapa? Kalian berantem?" "Ma ...." "Oke oke." Anya melamun, dia memang harus pulang agar terpaksa tersenyum karena ada mama. Dia akan berusaha melupakan semua kenangan tentang Evan, meninggalkan luka hatinya juga perasaannya di seberang lautan. Dia tak akan pernah jatuh cinta lagi. °°° Dua tahun berlalu, Anya mengecek emailnya, dia telah bekerja sebagai salah satu staf PR di kantor cabang. Hoplaaa ...! Drasea corp. Sekalipun dia begitu sakit karena Evan, hatinya terus menerus merindukan pria itu. Bahkan dia melamar di kantor cabang Drasea, sertifikat magangnya di kantor pusat Drasea kemarin menjadi nilai tambah, belum lagi dia lulusan cumlaude dari universitas ternama. Anya telah mengecek data kantor pusat, menemukan nama pria yang dibenci sekaligus dirindukannya. Devan Rakandaru. Evan tak pernah menghubunginya, bahkan Olga juga tak mengetahui kabar Evan. Lelaki itu tampaknya memutus kontak. Mungkin memang benar, Anya hanyalah salah satu dari persinggahannya. Olga tidak kembali dan bekerja di Jakarta setelah wisuda, merambah dunia selebriti. Memang cocok. Olga punya daya tarik dan kepribadian, sayangnya dia sudah tidak bersama Deron. Sekarang justru berpacaran dengan aktor kontroversial yang terkenal badguy. Kata Olga hanya settingan untuk menaikkan popularitasnya. Anya tertawa mendengar ocehan Olga. Dia tidak pernah membahas soal Evan. "Hi cantik ngapain?" Sebuah suara menegurnya. "Heii Vino. Ada apa ke sini?" "Mau liat kamu," kata pria itu. Anya tertawa. Vino salah seorang supervisor di departemen yang berbeda. Tampaknya Vino ada janji dengan bos Anya. Vino keluar dari ruangan bosnya setengah jam kemudian. "Hei kenapa ajakan kencanku selalu kamu tolak?" ujar Vino. "Aku lagi gak ingin berkencan," kata Anya. "Kenapa sih cewek cantik selalu jual mahal?" keluh Vino. "Sebagai teman?" OB membawakan Anya pesanan kopinya, espresso, "Wuih kamu minum espresso. Bukannya pait?" tanya Vino. "Hambar," sahut Anya. Vino tertawa, sejak kapan espresso hambar mungkin begitu di pikirannya. "Kalau sebagai teman kenapa nggak rame-rame?" ejek kolega di departemen PR juga, Sofie. Vino tertawa, "Pokoknya aku akan berjuang." Vino berkata sambil meninggalkan mereka. Anya melanjutkan membuat release untuk media lokal terkait laporan limbah perusahaan mereka. "Hei Anya," panggil Sofie. "Ya Phe." Sofie biasa dipanggil dengan sebutan Phe. "Kamu tau Pak Oscar (Branch Manager), mau dimutasi ke cabang lain?" "Serius?" "Iya, kabarnya Manager regional kita bakalan ganti, jadi dia mau pembaharuan semua staf." "Nggak termasuk kita kan?" "Kita cuma remah-remah rengginang, tapi gimana dengan bos yang baru kalau diganti? Aku dengar regional manager yang baru masih muda sekali." "Siapa?" "Nggak tau, baru nguping obrolan bapak di telepon tadi. Katanya dulu dia manager di kantor pusat. Tapi, dua tahun belakangan di luar negeri dan pas pulang langsung jadi GM." "Pasti lelaki dengan sendok emas di mulutnya," keluh Anya. "Eh Dasar. Lagipula itu bukan urusan kita. Kerja aja yang bagus." "Iya deh." °°° Evan mengecek i********: Anya, dua tahun penuh siksaan. Entah sampai kapan Anya akan bergeming. Evan kaget sekaligus senang Anya telah bekerja di salah satu cabang perusahaan mereka, karena itu dia kembali ke perusahaan setelah dua tahun gentayangan nggak karuan kemana pun dia suka. Evan telah diblokir, tapi dia membuat akun palsu dan menguntit i********: Anya. Orang suruhannya tetap mengawasi Anya selama dua tahun ini. Si Aric tak pernah menghubungi Anya karena Evan telah memporak porandakan bisnis ayahnya dan mengancam ayah Aric. Evan telah diminta oleh pamannya menjabat regional manager wilayah Sumatera sejak lama, tapi dua tahun terakhir dia enggan melakukan apapun hanya meratapi nasibnya, menguntit Anya seperti orang gila. Dia kembali karena mendengar kabar Anya bekerja di kantor cabang perusahaan. Di perusahaan, masih tak ada yang tau dia cucu pemilik perusahaan. Orang-orang tau kalau dia mendapat jabatan karena kemampuannya memang sangat cemerlang dan berkepala dingin, sifat emosionalnya yang tak terkontrol muncul kalau menyangkut Anya. Kalau tidak, Evan tenang seperti laut dalam. Anya terlihat semakin dewasa dan cantik, dia mengecat rambutnya menjadi coklat. Postingan di instagramnya selalu banjir pujian dari kaum adam maupun kaum hawa. Sialan! Kamu terlalu cantik. Evan benar-benar merindukan gadisnya itu, tapi dia sadar kalau dia datang sekarang, senyum Anya akan kembali hilang. Dia menunggu hingga hati Anya tak terlalu sakit lagi, kemudian dia akan meminta maaf. Evan beberapa kali datang ke kota tempat Anya tinggal untuk melihat gadis itu, dia seperti pungguk merindukan bulan saja. Seperti penguntit, ya, dia memang tak ada bedanya dengan penguntit untuk mendapatkan perempuan itu saja dia harus melakukan hal licik. Tapi cinta memang harus diperjuangkan. "Pak, untuk event ulang tahun perusahaan regional kita akan diadakan di kota (menyebutkan salah satu kota di Sumatera)." Alis Evan naik, "Berapa hari?" tanya Evan. "Tiga hari." "Apa semua staf ikut?" "Hanya staf kantor saja, worker tidak, karena proyek tidak mungkin dibiarkan kosong." Karena mereka merupakan perusahaan besar, event ulang tahun perusahaan akan di bagi ke tiga titik. Wilayah barat, tengah dan timur mengikuti arah waktu. "Coba emailkan nama-namanya?" "Eh?" "Ya, nama-nama pesertanya." Sekretarisnya tampak bingung. Mungkin heran, kenapa juga bosnya ingin mengecek nama staf yang akan ikut acara ulang tahun perusahaan? Bisa bisa ratusan jumlahnya. Anya Casthy Divandra. Nama itu terdaftar, Evan tersenyum sebentar lagi akan ada alasannya untuk bertemu wanitanya itu. "Anyaku." Betapa dia merindukannya, berharap saat Anya melihatnya, Anya juga akan merindukannya. °°° Anya telah melihat nama GM yang baru, pria itu Evan. Selalu dan selalu jantungnya berdebar bila mendengar nama pria itu. Pria yang sangat dicintai tapi juga melukainya. Karir yang luar biasa, pikir Anya, bagaimana dulu dia begitu percaya bahwa dia satu-satunya di hati Evan. Tapi sudahlah masa-masa bersama Evan sangat Indah, walaupun akhirnya menyedihkan. Mereka akan berangkat mengikuti acara ulang tahun perusahaan. Sejenak Anya berpikir bagaimana bila mereka bertemu, tapi pikiran itu lagi-lagi di enyahkannya. Kecil sekali kemungkinan untuk bertemu apalagi hanya staf biasa seperti dia. Hati Anya masih sakit, tapi dia ingin melihat Evan. Akun i********: Evan telah dia blokir tapi dia membuat akun fake untuk melihat-lihat akun pria itu terus. Kenapa dia sangat murahan, bahkan tidak bisa berhenti memikirkan lelaki itu. Sayang i********: Evan semuanya hanya foto-foto objek dari perjalannya bahkan sudah lama tidak di-update. Ujung hidungnyapun tak terlihat. Tapi beberapa hari yang lalu, Ricco menge-tag-nya di sebuah club. Sedikit kurus tapi badannya tetap atletis dan bidang. Gaya rambut Evan juga berubah, hanya foto dari samping. Tapi jiwa Anya meronta tak karuan melihat sosok itu, dia menangis dalam diam. Anya menghenyakkan pakaiannya ke travel bag. Aku nggak akan maafin dia! Anya menegaskan hatinya. Anya dan Sofie telah sampai di hotel. Ada sekitar 500 karyawan yang hadir dalam kegiatan ini. Terbagi ke beberapa hotel, mereka akan memiliki agenda outbond juga gala dinner dan undian berhadiah. Anya turun untuk makan malam. Hotel ini telah dibooking khusus untuk mereka semuanya adalah Karyawan Drasea. Anya menyendokkan nasi ke piring diikuti oleh Sofie dan mereka bergabung dengan Vino yang sejak tadi telah melambai-lambai kearah mereka. "Vino, kamu kan orang lapangan, kenapa bisa ikut?" tanya Sofie heran. Biasanya sebagai pengganti, worker dan officer yang tidak mengikuti kegiatan ulang tahun perusahaan akan diberikan bonus pengganti. "Ya bisalah, aku karyawan teladan gini." Anya tertawa. "Lagian, ini kesempatan aku buat kencan sama Anya." Vino melanjutkan. "Kayak Anya mau aja sama kamu," ejek Sofie. Sebenarnya Vino cukup keren, dia juga bertubuh bagus, maklum pekerjaan di yard membentuk tubuhnya menjadi ideal. Tapi hati Anya sudah membeku untuk jatuh cinta pada orang lain. Anya menuju toilet. Saat merapikan rambut, dia mendengar dua wanita di sampingnya berbincang. "Udah liat GM yang baru? Dia nginap di hotel ini juga?" "Belum, kenapa?" "Muda, ganteng, sexyyy banget, gila ih, gue sampe basah." Wanita itu terkikik. "Gilak segitunya, gue jadi penasaran," kata wanita yang satunya. "Kabarnya masih single lagi, sudah jadi isu nasional dikalangan kaum hawa perusahaan." Mereka terkikik. Anya memejamkan matanya, semua wanita pasti tak akan menolak Evan. Jadi kenapa dia percaya kalau cuma dia satu-satunya wanita Evan? Hatinya merasa sakit lagi. Tubuhnya gemetar, dia jadi menyesal berangkat ke acara perusahaan. "Anyaaa. Kamu nggak ikut acara ramah tamah?" Sofie bertanya. Anya menggeleng. "Ayoo, mana tau ketemu jodoh di sini." "Aku nggak enak badan." "Astaga, kamu sakit?" "Nggak, cuma masuk angin kayaknya." "Ya udah, aku pergi, ya." Anya mendengar pintu kamarnya tertutup. Dia lebih baik tidur, sebisa mungkin tidak bertemu dengan pria bernama Evan itu. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN