Darkside

1622 Kata
Anya telah wisuda dengan predikat cumlaude. Saat wisuda mama Anya datang dan bertemu dengan Evan. Mama langsung menyukai Evan, apalagi mengetahui Evan sudah bekerja dan juga hmm ... sangat tampan. Siapa sih yang tidak kagum pada lelaki itu? Belum lagi Evan terlalu penurut dan berlebihan bersikap santun. Camer ini, bisik Evan saat itu. Mama meminta Anya pulang saja kalau memang belum ingin melanjutkan study S2-nya. Tapi Evan membujuknya untuk mencari pekerjaan di ibu kota ketimbang pulang. Tampaknya Anya juga ingin bekerja di sana, bersama Evan. Olga juga belum wisuda, sepertinya setahun lagi, kata Olga. Anya sedang bersantai saat telepon masuk dari Aric. Dia sudah lama tidak menelpon Anya. Anya pikir Aric ingin mengucapkan selamat wisuda, dia memutuskan untuk mengangkat telepon. Aric mengajaknya bertemu, awalnya Anya menolak tapi Aric bilang ini mengenai Evan. Aric juga berjanji tidak akan menyakiti Anya. Akhirnya Anya mengiakan. Anya pergi ke cafe yang dimaksud. Tidak ada pengunjung di dalamnya, hanya ada Aric. "Hi," sapa Aric. Anya membalas senyumnya. Duduk di kursi di depan Aric. "Kenapa sepi sekali?" tanya Anya. "Aku booking seluruh tempat, perayaan wisuda kamu." "Aric, kamu nggak perlu melakukan itu." Aric tersenyum hangat, Anya jadi merasa bersalah juga karena menjauhi dia belakangan ini. "Mau makan apa?" Anya memesan pizza small dan mocktail. "Apa yang mau dibicarakan?" "Santai saja, sayang." Aric masih memanggilnya sayang. "Makan dulu." Anya memotong dan menyuapkan pizza ke mulutnya. "Aku mau memberitahu kamu, tapi kamu harus janji nggak akan potong ucapanku sampe aku selesai bicara." "Serius sekali sih." "Ini lebih dari serius. Ayo janji dulu, ini demi kamu dan aku kasih tau ini bukan untuk nyakitin kamu, tapi karena aku masih cinta dan sangat peduli sama kamu." "Aku mulai nggak suka ucapan kamu." "Please." Aric berkata. "Okey. Aku janji bakal dengerin ucapan kamu." "Ini menyangkut si Evan, aku nggak akan menyebutnya pacar kamu. Dia itu bajingan." "Aric, aku nggak mau denger ini." "Kamu kan udah janji buat nggak potong ucapanku." Anya meletakkan pisau pizza-nya. "Kamu tau kenapa aku nggak mendekati kamu belakangan ini? Karena dia membuat karyawan papaku mogok, papaku melarang aku mendekati kamu." Anya tertawa sambil menggelengkan kepalanya. "Aku juga nggak tau kenapa dia bisa melakukan itu, tapi dia nggak seperti yang selama ini dia perlihatkan. Kamu sadar, kenapa nggak ada lagi pria-pria yang menganggu kamu di w******p atau di i********:? Karena semuanya dihajar sama si Evan dan dikasih uang ganti rugi dalam jumlah besar." Anya ingin tertawa mendengarkan ucapan Aric. "Kamu udah dibutakan sama dia, dia itu pshyco Anya. Aku sudah menguntitnya selama setahun ini. "Astaga Aric!" "Aku udah curiga sejak awal, coba kamu pikir, dia saja menyewa prostitusi kelas atas. Berarti dia pernah menggunakan jasanya kan? Kamu atau aku bagaimana coba bisa punya akses ke hal-hal seperti itu?" Anya tak tahan untuk tetap diam, "Kamu kelewatan." "Mata kamu udah tertutup, kenapa kamu bisa jatuh cinta sama dia? Karena dia itu seorang expert Anya. Manipulatif. Tinggal tunggu waktu, dia akan bosan dan membuangmu." "Cukup!!!" teriak Anya. "Memang terdengar gila, tapi dia hidup di dunia yang berbeda dari kita Anya. Dunia yang tidak kita ketahui. Aku tau kamu menyerahkan diri padanya. Aku ngerti, kamu pasti mau balas dendam sama aku bukan?" Anya diam. Dia ingin segera meninggalkan Aric yang menjelek-jelekkan Evan. Tak masuk akal ucapannya, memang siapa Evan sampai bisa melakukan hal itu? Soal menyewa prostitute, itu pasti rencana Ricco, tahu sendiri bagaimana Ricco. Kalau memang Evan seorang player, bagimana bisa Anya bertemu dengan maminya? Walaupun memang itu tidak disengaja. "Kamu liat ini." Aric mengulurkan kartu dengan tulisan Midnight Future Club di atasnya. "Apalagi itu?" "Evan dan temannya yang bernama Ricco merupakan member VVIP di sana, kamu tau berapa biaya keanggotaannya? Nggak akan terbayang di pikiranmu. Club yang sangat private, aku saja harus berjuang untuk mendapatkan sedikit informasi. Tapi aku pikir Tuhan membantuku." "Aku nggak ngerti." "Club itu menyelenggarakan kegiatan underground, Anya. Mungkin tidak pernah terbayangkan oleh kamu." Anya menaikkan alisnya, antara kesal tapi penasaran akan kata-kata Aric selanjutnya. "Mereka menyelenggarakan semacam aktivitas ilegal secara live buat anggotanya. Si Evan sering mengikuti kegiatan itu." "Sialan!!" Anya nggak tahan lagi dengan perkataan Aric. "Cukup Aric! Kamu benar-benar b******n!" "Kamu nggak tau pria macam apa dia itu. Lihat ini, kalau kamu masih buta, berarti kamu sudah kehilangan akal sehatmu." Aric meraih ponselnya dan mengirimkan video ke ponsel Anya. "Lihat Anya, aku mendapatkannya sampai hampir mati. Karena aku tak ingin kamu bersama lelaki biadab itu." Anya memutar Video itu, "Menjijikkan!" pekik Anya melihat Video itu. "Lihat baik-baik Anya, siapa yang memakai penutup mata di sana." Anya menoleh lagi, tangannya bergetar. Dia mengenali sosok itu walaupun menggunakan penutup mata, Ricco? "Lihat lagi jangan berhenti." Anya menangis, dia menyadari sosok Evan juga ada di sana. Bagaimana mungkin dia tidak mengenalinya? Wajahnya yang memakai topeng, tapi bibirnya, rambutnya, tubuhnya. Evan memang hanya duduk di kursi tapi di sekelilingnya, Anya tak sanggup melihat. "Kamu mau bilang video itu palsu?" "Di-dia nggak melakukan apa-apa, bisa saja dia cuma ... " Aric tertawa gusar, "Kamu benar-benar serius dengan ucapanmu? Apa kamu kira dia orang suci? Dia sakit!" Sakit? Apa ini yang dimaksud mami Evan? Maminya takut Anya akan dipermainkan? Air mata Anya mengalir. "Anya sayangku, kembalilah bersamaku, aku nggak peduli sekalipun dia menghancurkan aku. Cuma aku minta kamu berpisah dengan dia. Aku nggak tahan melihat kamu dikadalin seperti ini." "Kamu pikir setelah bersamamu dia akan berubah? Itu nonsense Anya. Dia cuma penasaran dengan gadis polos sepertimu. Aku yakin dalam waktu dekat dia akan mencampakkanmu." Aric melanjutkan. "A-aku mau pulang." Anya berbalik, sedetik kemudian dia ambruk. Dia mendengar suara Aric berteriak. Anya terbangun di sofa cafe. Aric masih berada di sana. Aric membelai rambutnya. "Anya lupakan b*****h itu, dia sama sekali tak layak untukmu." "Aku mau pulang Aric," kata Anya. "Aku anter ya?" Anya menggeleng, Aric berkata lagi, "Aku panggilin taxi beristirahatlah. Kamu harus tau, aku selalu ada di samping kamu dan menjagamu." Aric memapah Anya ke taxi. Di sepanjang perjalanan Anya terpekur hampa. Dia menghapus video yang dikirim Aric tadi, tak sanggup melihatnya lagi. Anya berjalan bagai orang mati ke kamarnya dan roboh. Anya menangis dan menangis. Dia tak sanggup lagi bergerak. Ya Tuhaannn!!! Aku sangat mencintai dia. Tapi kenapa??? Apa ini hukuman untukku? Pintu kamarnya terbuka, "Astaga, byy, kamu di dalam." Olga kaget melihat lampu kamar Anya yang gelap. "Anya," panggil Olga. Tapi Anya enggan menoleh, dia menatap dinding dan membelakangi pintu kamarnya. "Ya Tuhan, by, kamu kenapa?" tanya Olga. "Ada masalah apa, honey?" "Ga, tinggalin aku sendiri," kata Anya. "Byy." "Pleaseee!!! Tinggalin aku sendiri!" Anya menjerit. Olga terkejut mendengar jeritan Anya, dia segera keluar dari kamar. Anya terisak lagi. Ponselnya berdering-dering, dia mematikannya, mengunci kamarnya. *** Evan sedang bersiap untuk meeting saat Olga menelponnya. "Cepetan ke sini," kata Olga. "Gue mau meeting, Ga," sahut Evan. "Urgent, darurat, emergency!" pekik Olga menutup telponnya. Evan memanggil sekretarisnya dan memberitahukan bahwa dia tidak bisa ikut meeting. Evan melarikan mobilnya ke kos Anya. Olga sudah menunggu, beberapa orang penghuni kos duduk di depan pintu kamar Anya. "Kenapa?" "Anya nangis, ngunci diri di kamar dari semalam. Aku kirain dia cuma nangis bentar jadi tadi pagi aku ngampus eh sampe sekarang dia nggak buka pintu terus nggak keluar buat makan." Hampir jam empat sore, kening Evan berkerut. "Kalian berantem?" tanya Olga. Evan menggeleng. "Nggak sama sekali." Malah kemarin siang, dia video call Anya dan Anya bilang dia memutuskan buat cari kerja dan nggak kembali ke kota asalnya. "Anya, baby." Evan mengetuk pintu itu. "Nggak ada kunci cadangan?" Olga menggeleng, "Yang nyimpen pemilik kos." "Anya, buka baby, kalau nggak aku dobrak," kata Evan. "Dobrak aja, Van, gue khawatir. Mana HP-nya dimatiin." Anak kos yang lain mengiakan. Evan mendobrak pintu itu. Anya terlihat memunggunginya. Olga mengusir anak kos yang lain, syukurlah tidak ada yang kepo di kos mereka. Olga juga masuk ke kamar Anya karena masih khawatir. Mungkin Anya mau bicara kalau sama Evan. Evan membalikkan tubuh Anya, dia lemah sekali, matanya terpejam. Matanya bengkak seperti telah menangis berjam-jam. "Baby. Kenapa?" bisik Evan. Anya diam saja tak menjawab. Evan mengecup matanya, "Anya." Dia memanggil lagi dengan lembut. Evan mencium bibirnya tapi Anya tak bergerak. Evan menghela nafas. "Kenapa? Jangan menakuti aku, baby," kata Evan. Evan mencium bibirnya lagi. Tiba-tiba mata Anya terbuka "Pergi!!!" Anya menjerit. Evan sangat kaget mendengar Anya menjerit seperti itu. Belum pernah Anya berlaku seperti itu terhadapnya. "Pergi!!" Anya melempar semua barang-barang di meja. Olga bergegas datang. "Anya, kenapa baby?" Evan sangat bingung. "Pergi dari sini! Aku nggak mau melihatmu!" Evan terperanjat, benar-benar tak menduga ucapan Anya itu. "Kasih tau aku kenapa?" Anya membuka laci nakasnya, benda yang berkilauan terlihat di sana. "Pergi! Kalau nggak aku bunuh diri!" Evan mundur, Olga terpekik. "Oke aku pergi." Olga mengusirnya cepat. Evan keluar dari ruangan itu. Olga pelan-pelan meraih potongan besi pipih dari tangan Anya itu dan meletakannya. Anya kembali terdiam dan membaringkan tubuhnya. Olga keluar menemui Evan, "Astaga kenapa sampe kayak gitu? Lo apain Anya?". "Sumpah, gue beneran nggak tau," kata Evan. "Dia nggak mau bilang, baru kali ini gue liat Anya begitu. Coba pikirkan. " "Nggak ada yang bisa gue pikirin, Ga. Kemarin bahkan dia masih tertawa sama gue dan bilang kalau dia mau kerja di sini karena nggak mau pisah." "Aduuhhh. Gue jadi ngeri Anya sampe ngancem gitu. Lu pulang aja deh. Biarin dia sampe tenang." "Mana bisa liat keadaannya kayak gitu. " "Pokoknya tunggu sampe dia tenang." Evan benar-benar kalut, lebih lagi dia tidak tahu apa yang terjadi. "Ya udah pulang dulu deh, ntar gue kabarin kalau ada apa-apa. Mana tau dia malah nggak mau keluar karena ada lo." Akhirnya Evan pergi setelah berkali-kali diyakinkan oleh Olga. Evan nggak bisa konsentrasi, masih belum ada kabar dari Olga. Ricco menyambanginya. "Kenapa sih?" Ricco bertanya saat melihat kondisi Evan. "Nggak ngerti." "Sabar aja brother, cewek memang suka ngamuk-ngamuk nggak jelas. Ntar juga baik sendiri." Tapi entah kenapa firasat Evan tidak enak. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN