Mine

1611 Kata
Magang telah berakhir, Evan mengadakan perayaan kecil-kecilan di kolam renang rumahnya untuk Anya. Evan selalu bisa membuat Anya senang. Olga, Deron dan Ricco. Olga berbisik, "Ternyata Evan emang tajir melintir." Dibalas cubitan Anya dipinggangnya. Mereka tertawa gembira, berenang dan bermain seharian. Apalagi disela berenang mereka disuguhkan makanan. Makanan yang disiapkan bibi Simah super enak. Olga seperti biasa terus membuat konten, sejak trip ke Paris dia telah membuat video blog. Follower-nya semakin bertambah dan endorse-an juga semakin banyak. Anya mengenakan bikini one piece bewarna cerah dangan rok di bagian bawahnya. Sedangkan Olga dia sekalian endorse baju renang yang sexy, Deron dengan setia menjadi videografer dan fotografernya. Pantas Olga bertahan dengan Deron, keahlian foto dan editing Deron sangat baik membuat Olga tidak perlu mencari fotografer lagi. Menjelang pukul 12 malam mereka pulang. Anya menginap di;sana karena besok hari minggu dan Evan memaksanya. Olga hanya menggoda dia saat masuk ke mobil Ricco, malam itu Ricco menjadi supir Deron dan Olga. Anya sangat lelah, tapi juga sangat gembira. Dia mandi lagi dan setelah mandi langsung berbaring di ranjang Evan yang empuk. Evan mencium dan memeluknya, tapi mata Anya terlalu berat sehingga dia pun tertidur. *** Evan menyelimuti tubuh Anya yang terbaring di ranjangnya, tidak pernah bosan dipandang. Saat Anya wisuda Evan akan segera menikahinya dia sudah tak ingin menunggu. Evan mencium seluruh bagian wajah gadis itu lembut. Memeluknya dan menenggelamkan wajah di leher Anya hingga diapun tertidur. "Evaaannn!!!!" Teriakan itu membuat Evan dan Anya terlonjak. Evan mengusap matanya. Pintu kamarnya terbuka. Pukul 8 pagi, mereka sangat kelelahan semalam dan bangun kesiangan. "Maaf mas, bibi udah cegah ibu tadi." Bibi Simah berkata dengan takut-takut di belakang sosok yang tadi berteriak. "Mami?" Evan terpana. Anya menutup mulut dengan kedua tangannya syukurlah mereka berpakaian lengkap. "Mami tunggu di bawah." Mami Evan dan bibi meninggalkan mereka. "Evann." Anya mengerang. "Udah nggak apa. Mami orang yang sangat baik." Evan menggandeng tangan Anya yang gemetar turun ke bawah. Mami duduk di meja makan. Evan duduk diikuti Anya di sebelahnya. "Mami kecewa sama kamu." "Mi, bisa tidak aku antar Anya pulang dulu sebelum kita bahas ini?" "Kenapa? Kamu nggak ingin dia dengar ucapan mami?" "Mi, kami tidak melakukan apapun semalam," jelas Evan, itu memang betul. "Iya semalam. Sebelumnya?" Tapi mami Evan lebih mengerti sifat anaknya. "Mi, please. Ini semua salahku, aku yang memaksa dia." "Dia pacarmu? Atau hanya mainanmu?" "Mamii! Aku mencintai Anya dan aku nggak seperti papi!" Intonasi Evan meninggi, maminya tercekat. Ucapannya membuat Anya menunduk dan menangis terisak. Evan membujuk Anya. Tampaknya mami berubah menjadi lembut saat mendengar tangisan Anya. "Apa kalian telah melakukan hubungan yang lebih jauh?" tanya Maminya. "Mi, aku yang salah, aku yang ngerusak Anya dan memaksanya." Anya nggak bisa bicara dia masih tersedu, dia tak menyangka akan mengalami hal seperti ini. "Bukannya kamu sakit Evan?" "Sudah sembuh karena Anya," jawab Evan. "Mi, please, aku akan menikahi Anya." "Kalau begitu menikahlah," kata maminya. "Mami akan menghubungi keluarganya." "Tante jangan bilang pada mama saya." Anya makin terisak. "Mami, Anya masih kuliah. Tahun depan dia akan wisuda." "Ya Tuhan, Evan." Maminya menekan kepala dengan kedua tangan. "Kamu keluarlah, Mami mau bicara berdua sama Anya." "Mami, aku nggak mau mami menyalahkan Anya. Semua salahku." Evan memandangi maminya sebelum akhirnya meninggalkan mereka berdua. Mami Evan menggenggam tangan Anya lembut, Anya berhenti menangis. "Kamu kaget ya, sayang?" Anya menggeleng. Mami Evan tertawa, "Bohong." "Tante cuma kaget, tante nggak marah sama kamu tapi pada Evan." "Nggak tante ini juga salahku aku nggak bisa menahan diri," sedu Anya. Mami Evan menghela nafas, "Kamu sudah lama berpacaran dengan Evan?" "Setahun lebih." "Sudah lama juga. Tante nggak ingin Evan mempermainkan kamu. Sepertinya kamu gadis yang baik. Berpacaran dengan pria yang lebih dewasa tentu sulit. Apa kamu mencintai Evan?" "Sangat," bisik Anya malu. "Kamu tau tentang penyakitnya?" Anya tertegun, "Penyakit?" Mami Evan terdiam, "Kamu mau menikah dengan Evan?" Wajah Anya bersemu merah merona. Mami Evan tertawa. "Evan." Mami memanggil Evan lagi. "Bawa Anya ke kamar, mami mau kasih kamu pelajaran." Evan memeluk dan mengecup pipi maminya, "Makasih mami." Dia merangkul pinggang Anya dan membawa Anya ke atas. °°° "Mami bukannya nggak tau kalau kamu anak yang baik. Mami juga lihat bagaimana Anya, dia anak baik-baik. Dan sekarang dia seperti itu karna kamu. Kamu udah ngerusak masa depan dia dan kamu harus tanggung jawab." "Tapi mami khawatir karena dalam diriku mengalir darah seorang laki-laki tukang selingkuh dan hobi main perempuan?" Evan berkata kesal. Mami terdiam, "Mami juga tau pergaulan kamu, Ricco contohnya, mami tau dia bagaimana. Kegiatan kalian selama ini, club yang kalian ikuti, semua mami tau." "Tapi mi itu karena aku butuh terapi, aku pikir itu akan berhasil." "Mami paham. Apa betul kamu sudah sembuh?" "Nggak tau mi, yang pasti sama Anya berhasil, kata dokter Richard itu karena aku mencintai dia." Mami tertegun lagi, "Ya sudahlah, mami tidak bisa mengatur kamu lagi. Kamu sudah sangat dewasa, juga gaya pacaran zaman sekarang ini. Mami cuma nggak ingin kamu seperti papimu." "Mi, aku nggak akan, aku bersumpah. Aku aja nggak bisa hidup tanpa Anya. Aku benar-benar mencintai dia. "Gombal kamu." Mami tertawa dan memeluk Evan, "Mami nginep di hotel nanti datang berkunjung." "Makasih, mi." Evan segera kembali ke kamarnya saat mami pergi. Dia melihat Anya duduk di pinggir tempat tidur, tertunduk menatap lantai. Evan memeluk Anya, "Maaf baby. Sudah tidak apa-apa. Aku nggak tau mami datang. Tapi mami udah nggak apa." Air mata Anya telah kering. "Aku mencintai kamu, aku nggak akan melepas kamu," bisik Evan. Anya hanya diam. "Anya, kamu marah?" Evan mengecup puncak kepala Anya, rambutnya wangi. Anya terlihat shock, wajar saja, belum lagi tadi mama mau menghubungi keluarga Anya. Anya pasti tak ingin mengecewakan mamanya yang sudah membesarkan dia sendirian. "Evan, maafin aku, harusnya aku nggak mau saat kamu ajak nginap di sini." Tiba-tiba Anya menangis lagi. Evan benar-benar merasa bersalah, "Cup, baby. Bukan salah kamu. Ini semua salah aku." Evan mendekapnya erat. "Sorry, kamu jadi shock karena aku." "Mami kamu pasti membenci aku," kata Anya. "Seorang perempuan yang tidur dengan anaknya sebelum menikah." "Nggak baby, mami cuma kaget. Tapi dia nggak membenci kamu." "Evann." Anya masih menangis. *** Evan mengantar Anya pulang ke kosnya. Sementara ini dia pasti tidak akan mau diajak lagi menginap di rumahnya, keluh Evan. "Kenapa sih?" tanya Olga kepo. Dia dan Evan duduk di ruang tamu "Kepergok mami gue." "Yaelaahhh ... nggak gue sangka kalian berdua sama-sama polos." Olga terkikik. "Mami gue udah nggak apa, cuma Anya shock." "Ya iyalah. Lo tau sendiri kayak gimana Anya." "Dia malah khawatir kalau mami gue benci ke dia karena nganggap dia ...." Evan terdiam. "Gue pulang dulu." Olga mengangguk. Evan mengunjungi maminya di Hotel bintang empat. Mami semenjak bercerai, tidak mau menginap di rumah, padahal beliau tahu papi Evan sudah hampir 5 tahun tidak pulang. Biasanya Evan yang mengunjungi beliau dan mengunjungi maminya juga. Evan memeluk maminya, "Maaf, mi. Aku salah udah bikin mami kecewa." Mami memeluk Evan dan membelai rambutnya, "Mami selalu kaget melihat pertumbuhan putra mami satu-satunya ini. Kenapa kamu cepat sekali dewasa sih? Kadang mami sedih meninggalkan kamu hidup seorang diri, kami yang membuatmu seperti ini. Bagaimana Anya?" "Masih shock dan menangis, dia takut mami mengiranya perempuan tidak benar." Mami menghela nafas, "Kamu benar-benar nakal Evan. Kenapa kamu tidak bisa menjaga wanita yang kamu sayangi?" "Maaf mi, aku salah." "Sudahlah, besok ajak Anya makan siang dengan mami, kita bertiga. Di mana keluarganya?" "Anya kos mi, mamanya single parent sudah sejak dia SD. Dia gadis cerdas mi, makanya dia nggak mau ngecewain mamanya. Lagipula mami liat sendiri kan gimana cantiknya dia." "Lihat, seorang gadis merantau demi menuntut ilmu, anak seorang single parent pula. Haduh Evan, jelas kamu yang salah. Bagaimana dia bisa bertahan dengan kamu yang sudah matang?" "Iya mi. Udah dong mi, aku memang yang salah 100%." "Pokoknya kalau sampai kamu macam-macam dan nyakitin dia, mami bakal nggak mau ketemu kamu lagi." "Besok aku akan ajak dia dari kantor. Tolonglah mi, Anya marah sama aku karena aku yang bujuk-bujuk dia nginap di rumah." "Terus kalo mami yang marah gimana? Sebentar ... kenapa ajak dari kantor?" "Anya kemarin magang di kantorku, mi. Jadi besok mau tanda tangan berkas penilaian." "Liatkan, kamu udah benar-benar mendominasi dia. Sampe perkara magangnya saja kamu mau dia di kantor kamu." "Habis gimana, aku pengen dekat dia terus, mi." "Dasar, sudah mabuk kepayang kamu ini." Mami memukul Evan lagi. Tapi di mata orang tua anak selamanya hanyalah anak kecil, kesalahan apapun orang tua akan mencoba mengerti. *** Anya mengikuti langkah Evan ke sebuah restaurant. Mami Evan telah menunggu di sana. Karena kemarin terjadi peristiwa itu, Anya tak sempat memperhatikan mami Evan. Ternyata sangat anggun dan berkelas, wajahnya lembut dengan rambut disanggul sedikit. Mereka memesan makanan, tapi Anya terlalu gugup hingga menumpahkan juice-nya. Mami Evan memotongkan steak Anya. Sekarang Anya tau darimana kebiasaan Evan itu. "Makasih tante," ujar Anya dengan sangat pelan. "Panggil mami aja coba, biar sama dengan Evan," kata mami Evan padanya. Anya melihat pada Evan dan Evan mengangguk. "Iya mi." "Nah gitu dong, mami dari dulu kepengen punya anak cewek. Sayangnya Evan yang muncul." "Eh maksud mami, aku anak yang nggak diharapkan?" "Anya, setelah tamat kuliah apa rencana kamu?" Mami mengabaikan kata-kata Evan. "Kalo mama Anya bilang untuk lanjut S2 tapi sepertinya Anya ingin bekerja, mi. Soalnya kasian mama ngebiayain terus." "Padahal Anya ini IPKnya tinggi loh mi, c*m laude." Evan berkata dengan nada bangga. "Nggak ih, kemarin turun," kata Anya seraya mencubit Evan. "Anya. Kamu tau kan Evan ini tinggal sendirian?" "Iya, mi." "Bisa tidak, mami titip dia sama kamu, tolong dilihat-lihat." "Eh. ... iya mi." "Kamu simpan nomor mami. Kalau dia nakal bilang aja, biar mami hukum dia." "Hmm ... mulai deh berkolaborasi." Akhirnya Anya tertawa, hilang semua kegelisahan di hatinya dari kemarin, sekalipun rasa malu terhadap mami Evan masih ada. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN