Internship

1435 Kata
Anya kembali setelah mudik 2 bulan. Dia masih rindu mama tapi dia juga merindukan Evan kekasihnya. Evan menjemputnya di bandara. Saat mudik Evan benar-benar tidak bisa mengunjungi dia karena urusan pekerjaan. Hanya video call yang menjadi pelepas kerinduan mereka. Evan memeluknya. Kalau suasana tidak ramai sudah pasti Anya sudah meloncat dan menggelantungi lelaki itu. Olga tidak bisa mudik karena harus mengambil di kampusnya mereka harus mengambil mata kuliah KKN. Lagian Olga tidak terlalu betah di rumahnya. Mereka melepas rindu di kamar kos Anya. Berciuman dan berpelukan. "Kamu ngapain aja selama aku pergi?" Anya langsung menginterogasi Evan. "Kerja." Anya menutup bibir Evan dengan telunjuknya. Anya menciumnya, mencium dan mencium. "Rapelan dua bulan," kata Evan membuat Anya tertawa. *** Anya dan Mia saling memperhatikan masing-masing saat menginjakkan kaki di lobby Drasea Corporation. Mereka akan bekerja dibawah Department Public Relation. Karyawan yang akan menjadi mentor mereka selama magang 2 bulan bernama Risa, berpenampilan menarik dan anggun, berumur 40 tahun dan masih lajang. Dia adalah PR senior perusahaan. Departemen mereka berada di lantai 15. Drasea Tower merupakan gedung setinggi 28 lantai. Kata Evan dia berada di lantai 23. Departement marketing Oil & Gas. Risa membawa mereka berkeliling dan memberitahukan tempat-tempat penting juga terlarang untuk di masuki. Bekerja di kantor dan gedung yang sama dengan Evan membuat jantung Anya berdebar. Dia dan Mia telah mengupload foto mereka sebagai pekerja kantoran di i********:. Kantor Drasea sangat mewah dan memiliki banyak fasilitas untuk karyawannya. Mereka bahkan memiliki meja sendiri. Risa berkata mereka akan mendapat gaji selama magang juga bebas menggunakan fasilitas kantor. Buket mawar putih telah dikirimkan ke departement PR untuk Anya. Anya sangat malu karena karyawan di departemen PR menggoda dia dan memuji pacarnya sangat perhatian. Selamat magang, baby, begitu singkat ucapan di kartu itu. "Baru magang dikirim buket bunga, gimana kalo kerja beneran ya," ledek Risa sambil tertawa. "Maaf, Bu," kata Anya. Risa tertawa, "Kenapa minta maaf? Karyawan d isini sudah sering menerima hadiah-hadiah seperti itu. Tidak perlu merasa sungkan." Hari itu Anya tidak bisa bertemu dengan Evan karena mereka diberikan tugas oleh Risa. Mereka bahkan makan siang di atas, tidak di kantin padahal Evan mengajak janjian di kantin perusahaan. Akhirnya jam pulang tiba. Mia bertanya, "Pulang naik apa?" "Aku dijemput. Kamu?" "Dijemput juga," kata Mia sambil menyebut nama kekasihnya. "Aku duluan." Anya mengangguk. Evan telah menunggunya di mobil, Anya memang meminta Evan untuk merahasiakan hubungan mereka. Malu saja kalau ketahuan nepotisme. "Gimana hari pertama kerjanya?" "Menyenangkan. Semuanya baik. Evannnn...," panggil Anya manja. "Iya baby." "Makasihhh ... kantor kamu kereen." "It's okey. Apa yang nggak buat kamu. Terus hadiahnya apa? "Ih kamu pamrih." *** Evan dan Ricco bertemu di sebuah club malam bersama dua orang teman mereka, Stan dan Jeremy. Ricco telah mengajak dua perempuan bergabung ke meja mereka. Mereka menggelayut manja di lengan Ricco dan Jeremy. Evan sudah jarang minum alkohol kecuali untuk acara kumpul-kumpul bersama. "Lo memang luar biasa, man!" ejek Ricco. "Bener-bener lo cengkram si Anya." "Anya? Is she your girlfriend, Evan?" tanya Stan. Stan warga negara Australia, masih belum terlalu fasih bahasa Indonesia. "Haha." Jeremy tertawa. "Pantas lo udah nggak pernah ikut kita lagi, ya nggak co?" "He is a slave now," kata Ricco. Mereka bertiga tertawa, Evan tidak peduli, terserah mereka mau bicara apa. Yang ada di pikirannya sekarang hanya Anya dan Anya. "Hei, our club will make a spectaculer event this weekend. We have to join," ujar Stan lagi. Evan tau yang dia maksud adalah club 'terapi' Evan itu istilah yang digunakan oleh Ricco. "Of course," sahut Ricco dan Jeremy cepat. "Aku nggak," kata Evan. "Alah ayolah broo," kata Jeremy. "Hanya menonton seperti biasa." Mereka tau Evan biasanya datang tapi tidak pernah menyalurkan hasratnya. Tapi hanya Ricco yang tau penyakit Evan. "Biarkan saja dia," kata Ricco. Jeremy mengangguk. Anya meneleponnya, kenapa dia menelpon jam 12 malam. Tak mungkin Evan mengangkatnya di tempat ini. Evan keluar. Seperti biasa wajah Anya berbaring diatas bantal, "Kenapa? Belum tidur?" tanya Evan. "Kangen." Anya menjawab manja. "Aku juga, baby." "Kamu di mana?" tanya Anya lagi. "Di club sama Ricco. Dia minta temenin." Anya memasang raut wajah kesal, "Jangan nakal." "Nggak dong. Bobok gih. Kita ketemu besok di kantor." "Okey. Muach," kata Anya. Evan membalas kecupan Anya dan menutup handphone-nya. "Tuh b***k cinta datang." Ejek Ricco. "Hebat bro, kalau lo bisa tahan hanya dengan satu wanita," kata Jeremy yang sama maniaknya dengan Ricco. "I love her." Evan menjawab. Stan menepuk pundaknya, "Keep your love, Evan. I'm so jealous of you." Ricco dan Jeremy tertawa. *** Anya dan Mia mencari meja kosong di kantin, bahkan menu makanan kantin saja cukup luar biasa. Anya sudah melihat Evan dari kejauhan, lelaki itu mendekat. "Halo," sapanya. Mia kaget dan menjawab salamnya. "Ini kosong kan?" tanya Evan dan duduk di sana saat Mia mengangguk. Anya tertawa dalam hati melihat akting Evan. "Abang dari departemen mana?" tanya Mia. "Panggil Evan saja. Dari marketing." Oh Mia mengangguk, "Kami mahasiswa magang. Aku Mia dan ini Anya." "Aku tahu." "Masa?" "Kalian tampak lebih muda dari karyawan di sini. Kenapa teman kamu diam aja?" "Iya nih Anya ayo ngobrol dong," tegur Mia. Anya menunduk geli, "Oh haii Evan." Seorang wanita cantik mendekati Evan, raut wajah Anya berubah. "Pak, ada dokumen yang harus segera ditandatangani," kata wanita itu. Evan belum makan sedikit pun, apa dia sesibuk itu? Sekretarisnya? Kenapa sexy sekali? Anya nggak terima. "Oh aku pergi dulu, kapan-kapan kita ngobrol lagi." Mia dan Anya mengangguk, "Elah gue sampe deg-degan, ganteng amat yak," kata Mia. Anya mencubit Mia keras. "Apa sih Anya?" "Psstt ...." Anya tertawa geli. "Dia pacarku." "Whatttt?!!!!!!" "Ih diem-diem. Dia yang bantu kita magang di sini," kata Anya lagi. "Tapi keep secret." "Hmm pantesan disumput-sumputin." Bahasa apa itu? pikir Anya. "Ternyata begitu penampakannya. Pantes aku heran kenapa dia langsung nyamperin kita." "Iya, rahasiain. Aku nggak enak." "Amanlaahh, cin. Tapi kalian serasi bangett. Uhh jealous gue tuh," kata Mia. "Pantes Aric lo hempaskan." "Enak aja dia yang selingkuh." "Apaaa???!!" "Tuh kan aku jadi keceplosan. Habis kesel selalu dituduh." "Iyalah cin, kenapa kamu nggak ngebela diri sih? Soalnya nggak bakal tepikir di kepala orang-orang, kalo dia sanggup nyelingkuhin cewek sekece kamu. Belum lagi dia kan nempelin kamu trus." "Iyakan. Makanya ... udahlah nggak usah dibahas lagi." "Yuk ah naik," kata Mia. Di kantor Anya dan Mia malah dikerubungi oleh yang lain. Penyebabnya, apalagi kalau bukan Evan. "Kok bisa sih Evan semeja sama kalian?" tanya Lana sekretaris departemen. "Memang kenapa?" Mia malah bertanya heran. "Astaga dia itu cowok sejuta umat, inceran semua wanita single di kantor iniiih," kata Lana lagi. Hmmm perlu dikasih hukuman Evan, jangan-jangan dia doyan tebar pesona. Mia mencoel-coelnya sambil cengengesan. "Nggak ngomong apa-apa, cuma tanya kami anak magang ya? Gitu." "Biasanya Evan jarang makan di kantin, kalo pun makan di sana selalu bareng temen-temen cowoknya satu departemen. Nggak ada kesempetan buat deket-deket semua jealous sama sekretarisnya." "Oohh." Anya manggut-manggut. "Dia manager termuda usia baru 26 tahun harusnya masih jadi staf biasa. Tapi kinerjanya emang selalu dapat pujian sih. Bahkan kabarnya proyek besar perusahan kita hampir semua dia yang dapet." Anya jadi merasa beruntung magang di kantor Evan, setidaknya dia jadi mengetahui lebih banyak tentang Evan. Anya jadi ingin melumat bibirnya. Ih apaan sih pikirannya ini. *** Evan mandi di kosan Anya, dia bahkan telah menyimpan beberapa pakaiannya di sana. Untuk menghemat waktu, kata Evan. Karena sekarang tiap sore, Evan mengantar Anya pulang, kalau dia pulang dulu dan ngapel tentu saja waktu banyak terbuang. Padahal Evan memakai sabun Anya, tapi kenapa wanginya berbeda. Seperti lebih harum dan maskulin. Olga melongok ke dalam dan menggoda mereka, dia mau keluar kalau seandainya mereka mau nitip sesuatu. Kemudian Olga menutup pintu kamar Anya, dengan cepat Evan menguncinya. Anya mengenakan daster selutut dengan satu tali di bahunya. "Sexy," bisik Evan. Anya memukulnya, "Semuanya sexy." "Hmm ...."Evan menciumi leher Anya sambil memeluknya. Evan mengenakan kaus katun bewarna marun dan celana pendek selutut. Anya balas menciuminya bertubi-tubi. "Aku tandain," kata Anya kesal. "Kenapa sih?" "Kesel." Evan mengerutkan kening. "Nggak bisa cari sekretaris yang lain apa?" Anya memajukan bibirnya. Evan tertawa, "Waduh. Ngapain ditandain? Bukannya udah jelas nih ada tulisan milik Anya." "Tadi aku sama Mia diinterogasi sama cewek-cewek di ruangan. Kenapa cowok sejuta umat bisa duduk bareng kami." "Cowok sejuta umat?" "Iyaa katanya semua cewek single ngincer kamu. Kamu pasti suka kasih harapan ya atau tebar-tebar pesona." "Liat aja ponselku apa ada yang kirim pesan aneh-aneh kayak di-hp atau instagrammu?" "Bisa aja udh langsung dihapus." Evan membaringkan tubuh Anya di atas tempat tidur. "Lain kali aku nginep di sini." "Jangan," desah Anya. "Kenapa? Olga saja sering bawa Deron." Anya memalingkan wajahnya, "Malu ih." "Kalau gitu besok nginep di rumah lagi." Besok malam minggu. "Mau ngapain?" "Nggak ngapa-ngapain." Evan memasang seringai licik di wajahnya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN