Tampaknya di rumah besar ini tinggal mereka berdua, hampir pukul lima dan Evan telah menunggunya di kolam renang. Anya mematut dirinya yang memakai bikini two pieces berwarna fuchsia. Terlalu terbuka, takut kalau Evan berpikir yang tidak-tidak. Bikini ini kelewat sexy padahal Olga sering menggunakan yang lebih sexy tapi tetap saja dia sedikit malu. Hmm sudahlah lagipula Evan bahkan sudah melihat tubuh polosnya. Anya meraih piyamanya dan turun ke bawah mengenakan sendal rumah. Evan telah menyiapkan sendal rumah lucu dengan bulu-bulu bewarna pink.
Anya hampir menganga melihat kolam renang rumah Evan, bagus sekali, Evan telah menunggunya di sana. Mengenakan celana renang ketat yang menonjolkan kejantanannya dan kacamata renang di kepalanya. Anya hampir pingsan melihat Evan, sebegitu sexynya dia, Anya sampai menelan ludah.
Anya melepas piyamanya dan meletakkannya di sunbed chair. Evan refleks menggendong Anya.
"Aw!" Anya terpekik kecil.
"Oh God. So sexy, baby." Evan berkata. Wajah Anya tersipu. "Jangan pake itu kalau ada yang lain," lanjut Evan lagi dengan tatapan posesif.
"Malu," kata Anya.
"It's okey. Cuma ada kita berdua." Evan menyeringai.
Anya menuruni tangga kolam dan berenang gembira. Evan duduk di pinggir dan memperhatikannya. Anya cukup handal berenang, dia bisa beberapa gaya. Evan menyusulnya. Mereka berpelukan. Basah. Mereka berdiri di bagian kolam yang dangkal kira-kira melewati sedikit d**a Anya. Anya melompat-lompat di pelukan Evan.
"Aku suka berenang," bisik Anya.
"Kapan pun kamu mau, nanti aku kasih kunci. Boleh ajak Olga."
"Nanti rumah kamu jadi konten sama dia."
Evan tertawa, "Nggak apa, nggak ada yang tahu juga itu rumahku."
"Evan jangan terlalu baik sama aku, nanti aku ngelunjak," kata Anya manja.
"I don't care," sahut Evan. "Aku rela jadi budakmu."
"Ah kamu, jangan donk." Anya mengecup bibir Evan yang basah.
"Evan, aku mau mudik." Raut wajah Evan berubah, tuh kan dia pasti juga tak ingin berpisah dengannya.
"Berapa lama?"
"Dua bulan." Anya menjawab.
"Lama sekali. Gimana kalau aku rindu?"
"Kan bisa Vcall-an."
"Bisa jadi seminggu saja?"
Anya tertawa, "Nggak bisa donk."
"Bilang mama, kamu ambil semester pendek."
"Mana ada, tahun lalu udah. Lagian nilai aku mencukupi semua nggak ada yang ngulang."
"Atau biar mama yang ke sini."
Anya tertawa lagi, "Mama kerja loh, mana mungkin cuti lama." Anya menelusuri hidung Evan dengan telunjuknya.
"Ya anggap aja ini tuh ujian buat kamu, tahan nggak pisah lama sama aku, atau malah cari yang lain," kata Anya.
"Hmm ...." Evan mengisap d**a Anya yang terbuka dengan tiba-tiba membuat Anya terpekik. "Hukuman."
***
Evan menatap lekat wajah kekasihnya yang cantik, dia makan sphagetti aglioolio dengan lahap dan memujinya. Bibi Simah memang pintar masak dari makanan western hingga tradisional. Bibi telah ikut keluarga Evan sejak dia masih SD dan menjadi orang kepercayaan mama Evan untuk mengawasinya sepeninggal mama.
"Mau nambah?"
"Udah kenyang. Sejam lagi mungkin." Anya tergelak. Gimana caranya berpisah selama dua bulan? Sedangkan setiap hari saja, Evan selalu ingin bersamanya. Pekerjaan juga lagi banyak tidak mungkin dia bisa sering-sering bepergian saat ini, statusnya juga cuma sebagai manager yang bahkan Bosnya, BM di kantor tidak tahu. Evan memang merahasiakan nama belakangnya. Paling-paling Evan akan bisa mengunjungi Anya setiap weekend.
Anya mengenakan kaus pendek berwarna biru langit, tampaknya itu warna kesukaannya. Mereka bersantai di ruang tv setelah makan, mengobrol dan tertawa. Anya bercerita habis libur semester dia harus magang dan telah memasukkan beberapa surat ke perusahaan-perusahaan.
"Mau magang di kantorku?" tanya Evan. "Memang beda departemen, tapi setidaknya kita bisa makan siang bareng, pergi dan pulang bareng."
"Mau banget. Perusahaan kamu perusahaan bonafit."
"Kenapa nggak bilang?"
"Nanti katanya manfaatin. Boleh berdua nggak? Biar aku ada temen,"
tanya Anya, Evan mengangguk.
"Thank you, baby." Anya memeluk Evan.
"Hmm udah bisa panggil baby sekarang," ejek Evan. Anya mendesah.
Ponsel Evan berdering dari Ricco. Ricco meminta Evan untuk menyelesaikan sedikit masalahnya terkait penjualan properti, Evan mengiakan.
"Ricco, kenapa pacarnya ganti-ganti?" tanya Anya. Wajah Evan sedikit berkerut.
"Mungkin sifat orang berbeda-beda," jawab Evan.
"Kalau kamu?" Tampaknya Anya mulai sedikit berani.
"Aku nggak suka pembicaraan ini," kata Evan. "Lagian siapa yang selalu di kejar oleh lelaki?"
Anya terdiam mendengar ucapannya, Evan tahu, banyak yang berusaha mendekati Anya dari whatssapp-nya maupun akun medsos, beberapa yang terlalu jauh menganggu telah disingkirkan oleh Evan, tapi mereka terus tumbuh. Mata Anya berkaca, mungkin dia kaget mendengar intonasi Evan yang sedikit keras.
"Anya." Evan mencoba meraih tangan Anya.
"A-aku mau tidur," kata Anya, beranjak dari sofa. Evan menghela nafas. Evan menarik tangan Anya cepat dan memanggulnya. Anya menjerit-jerit
"Teriak aja sekencangnya, nggak bakalan ada yang dengar." Evan menggendong Anya seperti bulu saja, Evan menghempaskan Anya di tempat tidurnya. Wanita pertama dan satu-satunya yang dia bawa ke sini.
Rambut Anya terurai di atas kasur, Evan lagi-lagi menciumnya. Anya menjerit-jerit menolaknya sampai akhirnya dia letih dan mulai membalas ciuman Evan. Evan melepaskan kaus Anya yang berwarna biru langit kemudian melepaskan celana ketat Anya.
Evan tampaknya kecanduan pada sentuhan dan tubuh Anya, sesuatu yang membuatnya ingin lagi dan lagi tak pernah cukup. Lagipula cuma Anya yang bisa memuaskannya. Belum lagi dia akan ditinggal selama dua bulan.
"Evann ...." Anya mulai mendesahkan namanya.
"Hmm ...."
Evan memperhatikan celana dalam Anya. Mungil dan memiliki tali yang diikat-ikat di sampingnya, dia melepas ikatan itu.
"No ... Evan ...."
"No?" tanya Evan. Wajah Anya memerah, dia terdiam, Evan melumat bibirnya Anya membalasnya.
"Ke-kenapa?"
Evan berbaring di samping Anya dan menyelimuti tubuh Anya. Evan memeluk tubuhnya dan memejamkan mata. Evan tau Anya gelisah, Itu karena menuduhku yang tidak-tidak, desis Evan dalam hatinya.
Anya diam saja, Ayo baby, kata Evan dalam hati masih tetap memejamkan matanya.
"Evan," bisik Anya. Evan membuka matanya.
"Apa?"
"Aku ingin."
"Apa?"
"Kamu jahat." Anya marah dan memunggungi Evan. Evan tertawa.
"Mmphh." Anya merangkul Evan dan menciuminya penuh nafsu. Evan tau Anya terpuaskan. "I love you," bisik wanita itu.
"More," jawab Evan.
***
Anya terbangun di kamar Evan, percuma istilah kamar lain untuk Anya, kalau nyatanya dia berakhir juga di ranjang Evan. Permainan tadi malam benar-benar menyenangkan. Anya melihat Evan yang tertidur pulas di sampingnya. Anya mematikan AC, kedinginan dia berjalan ke kamar mandi karena selimut membungkus tubuh Evan. Kamar Evan sangat Elegan dan menonjolkan kepribadian Evan yang kelakian. Didominasi warna Abu-abu tua. Sepertinya mereka sehati karena Anya juga menyukai nuansa abu-abu muda pada kamarnya.
Kamar mandi di kamar Evan saja menggunakan bathtub, pikir Anya. Dia memanaskan air. Ingin berendam di bathtub. Anya memandangi dadanya yang memerah karena ciuman Evan di kolam renang dan tadi malam. Ah sekarang Anya telah menjadi perempuan penuh nafsu. Dia tersadar kata-katanya semalam meminta Evan memasukinya.
Air di bathtub telah sampai setengah, Anya membenamkan kakinya menangkupkan kedua tangan ke dadaa. Tiba-tiba Evan masuk ke dalam kamar mandi.
"Ahh!" Anya terpekik kecil. "Evann." Dia mengerang.
"Mandi bareng supaya menghemat air," bisik Evan.
"Uh."
"Aduh punggungku perih," kata Evan mengaduh.
"Ah ... Evan." Anya berkata manja dengan raut sebal. Dia seperti kesetanan kemarin menjambak dan mencakar Evan. Evan terkikik.
"Kamu sangat hot, baby." bisik Evan. "Aku nggak bisa berpikir. Sorry, aku mengerjaimu terus." Evan menyelipkan rambut Anya dengan tangannya ditelinga Anya. Anya menatapnya, diam saja.
"Kamu marah?" tanya Evan. Anya mengangguk, dia berpura-pura agar Evan tidak mengira dia wanita liar. Sedetik kemudian dia merasa sangat bersalah.
"Maaf, baby. Maaf," ucap Evan lagi. Evan mengecup matanya sambil tersenyum, tampaknya Evan tahu, dia tidak benar-benar marah.
***