About You

1591 Kata
Anya mengguyur tubuhnya di bawah shower, masih terasa ngilu kakinya. Olga telah menginterogasinya semalam. Anya menyentuh dadanya, membayangkan sentuhan bibir Evan di sana. Dia benar-benar telah jatuh ke pelukan Evan, bahkan telah melupakan semua norma untuk menjemput kenikmatan dua insan yang sedang dimabuk asrama. Tubuh Evan yang padat dan menggairahkan bersatu dengan tubuhnya, mata Evan yang tajam menghujamnya dengan wajah super tampan Evan berubah menjadi makhluk liar. Tapi Anya sangat sangat menyukai mimik Evan itu. Belum bisa Anya lupakan tubuh Evan yang menindih dan memasuki tubuhnya bergerak di dalam. Ahhhh!!! Anya merasa dirinya sangat memalukan, hilang sudah pertahanannya karena nafsunya yang tak tertahankan. Ingin mengikat Evan, entah sejak kapan Anya takut kehilangan pria itu. Dia mencintai pria itu dan ingin memiliki setiap jengkal tubuhnya. Evan meminta maaf berkali-kali, Anya tau Evan tak ingin Anya berpikir dia yang nakal dan agresif. Padahal itu memang salahnya, dia yang menjebak Evan. Evan sudah ingin menghindar, saat Evan meninggalkannya malam itu, Anya benar-benar sesak dan merasa malu. Dia merasa apa Evan tak menginginkannya, saat Evan kembali Anya tersadar kalau Evan menahan diri. Anya melilitkan handuk di tubuhnya. Kakinya yang jenjang dan indah melangkah keluar dari kamar mandi. Anya menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur rambutnya kering karena menggunakan shower cap. Dia memandang langit-langit kamar. Membayangkan Evan. Sejenak terpikir untuk menelepon pria itu menggodanya dengan bahu terbuka. Astaga dia benar-benar nakal. Saat ini Evan sedang apa ya? Apa dia juga memikirkan Anya? Anya menelusuri lekuk tubuhnya sendiri dengan jemari, tubuh Evan benar-benar bagus tampaknya dia rajin berolahraga. Anya sendiri hampir tidak pernah berolah raga. Apakan tubuhnya benar-benar memuaskan Evan. Bukankah banyak wanita-wanita yang lebih dewasa dan sexy. Evan bahkan bisa menyewa seorang prostitute kelas atas bukan mustahil untuk mencari wanita yang lebih cantik. Dengan wajahnya juga dia cukup mapan. Anya ingin percaya kalau Evan masih perjaka. Semoga dia akan menjadi wanita Evan satu-satunya juga yang terakhir, karena tampaknya Anya tak keberatan untuk memberikan segalanya untuk Evan. Aric tak lagi menganggu Anya, dia pikir Aric menyerah karena dia berkata telah menerima Evan kembali. Seakan sehati ponselnya berdering Video call dari Evan. Anya buru-buru memakai atasan padahal dia belum memakai bra. Dia mengangkat ponsel itu. Evan ingin mengantarnya ke kampus, Anya mengangguk. Setengah jam kemudian Evan datang. Evan masuk ke kamarnya, Anya telah bersiap memakai cc cream dan lipstik tipis. Evan menutup pintu kamar Anya dan menggendong tubuh Anya cepat. Evan menciumnya dengan liar, lidahnya memasuki mulut Anya. "Ah ... Evan ...." Baru kemarin mereka bercinta tapi tubuh Anya pun tampak menginginkan tubuh lelaki itu. "Aku rindu," bisik Evan. "Mpph ... kamu nggak ke kantor." Ini pukul sembilan. "Izin sebentar," jawab Evan. Evan tersenyum, "Ayo berangkat nanti kamu telat," kata Evan lagi. Anya mengangguk. Di mobil Anya meng-upload fotonya berdua dengan Evan saat di Bali. Siluet mereka saat bergandengan tangan, wajah mereka tak terlalu terlihat. Tapi Anya pikir foto itu sangat sweet. Anya menge-tag Evan. Evan menggenggam tangan Anya. "Aku kuliah dulu." "Jangan nakal," kata Evan. "Apa, sih." Anya merengut manja. Mia teman sekelas Anya yang cukup akrab menariknya. "Ih gilaa pacar baru? Kenalin dong," sungutnya. "Iyaa kapan-kapan." Anya tertawa. "Gue kepoin di IG mukanya ngga keliatan. Penasaran sih, liatin fotonya napa." "Nanti. ..." Anya menggandeng tangan Mia dan masuk ke kelas. *** Evan selesai meeting tapi pikirannya tidak fokus, dia mengecek notif di instagramnya, Anya telah meng-upload foto mereka berdua. Seperti seorang remaja saja Evan tersenyum gembira. Dia memberikan like di foto itu dan memberi komentar bergambar hati. Sekretaris Evan masuk membawa jadwal pertemuan dengan klien. Mereka telah full proyek setidaknya sampai 4 tahun kedepan. Papa Evan menelponnya beberapa kali, sekalipun marah dan kecewa Evan tak pernah benar-benar bisa membencinya. Evan tak mengizinkannya menikah lagi, terserah mau berapa wanita yang dia pacari atau disponsori. Evan calon penerus perusahaan tapi stratanya masih panjang, masih ada papanya sedangkan kakeknya di Amerika masih sehat walau telah berumur 80 tahun. Anak-anak paman Evan, tidak ada tanda akan pulang ke Indonesia. Mereka lebih memilih di luar negeri. Biasanya beberapa tahun sekali mereka akan berkumpul disatu tempat untuk pertemuan keluarga. Evan baru sadar sejak bersama Anya dia belum pergi keluar negeri, padahal dia hobby traveling. Berpisah sehari saja dengan Anya rasanya tak tahan. Evan ingin mencumbunya, menyentuh, memeluknya terus dan terus. Pak Trisno masuk, "Persoalan Aric sudah beres." Dia melapor. Evan manggut-manggut. Dia telah mengancam Aric melalui ayahnya, Aric saat ini bisa dipastikan tidak akan menganggunya lagi. Masih ada satu lagi yang menganggu, teman kuliah Anya yang selalu menggoda wanita itu. "Bereskan." Pesan Evan pada Pak Trisno. Pak Trisno mengangguk. Evan menerima w******p dari Anya yang menyatakan dia telah pulang kuliah. Tapi Evan belum bisa meninggalkan kantor karena masih ada urusan kerja. Evan pulang ke rumahnya jam 10 malam dia video call Anya tapi tak ada jawaban, tampaknya sudah tidur. Evan justru mendapat video call dari Ricco yang sedang berpesta liar. Evan tertawa melihat Ricco menge-zoom dua pasang manusia yang sedang bercinta. Ricco memang maniak, dulu saja dia sering menghadiri kegiatan-kegiatan seperti itu dengan teman-teman khusus mereka tentunya, membayar biaya kenggotaan yang tidak murah dan peraturan yang super ketat. Karena semua menjaga rahasia dan privacy. Tapi sekarang sudah tidak perlu lagi, dan Evan tak akan pernah mengajak Anya ke party seperti itu. *** Anya telah selesai UAS dan IPnya 3,4 menurun dari sebelumnya. Anya mengeluh. "Sudah tinggi itu," kata Mia. "Nya, kamu mudik libur semester ini?" Anya diam, biasanya dia selalu mudik, apalagi libur semester sampai dua bulan. Sudah rindu dengan mama tentunya, tapi dua bulan berpisah dari Evan? Dia saja belum bilang kepada lelaki itu. Belum lagi mama Anya sudah menelponnya dan menunggu-nunggu Anya pulang. Evan menjemputnya, enak sekali jadi marketing bisa keluar kantor sesuka hati. Anya berkata pada Evan. Evan tersenyum simpul, Evan mengajak Anya makan siang di restoram pizza. Anya mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Dia menyerahkan pada Evan. "Apa ini?" tanya Evan. "Sapu tangan?" "Biar bisa kamu bawa jadi kamu ingat aku terus." "Nggak perlu ini, aku juga udah ingat terus." Anya tersipu mendengar ucapan Evan. "Ada sulaman namanya." Evan terlihat sumringah. "EA?" "Evan dan Anya, aku sendiri yang menyulamnya lho." "Oya?" Evan meraba sulamannya dia tersenyum. "Nggak suka?" "Suka dong, baby." Evan mengusap punggung tangan Anya. Anya memesan chicken wings dan small beef pizza. "Besok berenang yuk," ajak Evan. Tumben Evan mengajaknya berenang. "Di kolam atau di pantai?" "Di kolam." "Di mana?" "Di rumahku." Anya menghentikan suapannya, rumah Evan? Dia tak tahu sebelumnya atau kah dia kurang perhatian? Yang dia tau orang tua Evan telah bercerai dan ayahnya bekerja di luar negeri makanya dia dan Ricco tinggal di apartemen yang sama. "Rumah kamu?" tanya Anya. "Iya. Malamnya nginep di rumah, nggak ada orang." Anya tercekat, Evan menegaskan kalimat tidak ada orang di rumahnya dan memintanya menginap. "Ada banyak kamar," lanjut Evan lagi mungkin geli melihat wajahnya yang berubah kikuk. Anya mengangguk. *** Sabtu pagi, Evan telah menjemput Anya di kos. Olga meledeknya, Anya membawa dua bikini yang satu bikini two pieces yang diselipkan Olga waktu mereka ke Bali dan satu lagi bikini yang lebih sopan, juga membawa baju ganti karena berencana akan menginap di rumah Evan. Evan menyambut Anya, semakin hari Evan terlihat semakin tampan dan masih membuatnya berdebar tak karuan. "Ganti mobil?" tanya Anya. Saat melihat Evan tak membawa mobilnya seperti biasa tapi mobil lancer hitam yang Anya tak tahu serinya. "Mobil Ricco," sahut Evan. Anya menganggukkan kepalanya. Mereka sampai di kawasan perumahan elit, disambut oleh security. Evan memarkir mobilnya. Anya cukup shock, rumah Evan sangat besar dan mewah, bila di bandingkan dengan rumahnya di tempat asal dia, sangat jauh berbeda. Evan membawa tas Anya yang berisi pakaian. Anya berdiri saja diam. "Ayo masuk, kenapa bengong?" "Rumah kamu bagus." "Bukan rumah aku, baby, rumah papiku," sahut Evan. Evan menggandeng tangan Anya dengan tangannya yang bebas. Anya mengikuti. Seorang wanita paruh baya menyambut mereka. "Eh Mas Evan pulang." "Bibi nanti sama yang lain habis jam makan siang pulang saja, trus besok libur, tapi bikinin cemilan untuk sampai besok." Evan berkata. Jantung Anya berdetak kencang, Evan mengusir semua orang di rumahnya. "Siap mas. Asyik dapat libur nih bibik." Evan tertawa hangat, Evan pasti sangat baik pada bibi itu, pikir Anya, karena tampaknya dia bisa tertawa dengan nyaman. "Anya ayo ke kamar kamu," ajak Evan. Evan dan Anya naik ke lantai dua. Rumah Evan benar-benar mewah dan baru kali ini Anya datang ke rumah seperti ini, design-nya modern juga sangat elegan. Anya sangat menyukainya, benar-benar rumah impian, pikir Anya. Kamar tamu saja luar biasa besarnya, sepertinya 3x luas kamar kos Anya. "Mau istirahat dulu?" tanya Evan. Anya menggeleng. Anya menilik wajah Evan, pria yang dipacari tak terasa hampir 10 bulan itu. Siapa dia? Jabatannya memang manager di perusahaan offshore bonafid, tapi memiliki mobil mewah dan rumah mewah, mama Anya juga seorang manager di perusahaan multinasional tapi rumah mereka hanya bisa dikatakan mungil dan biasa, mobil mereka juga biasa, mobil jepang standar, sangat umum ditemukan di jalanan. Walaupun kata Evan rumah itu milik orang tuanya. Anya dari dulu memang tidak pernah berpikir soal keuangan lelaki tapi tetap saja hal itu menjadi pikirannya. Apalagi kalau menonton film-film dimana orang tua pihak yang kaya tidak setuju dengan hubungan anak mereka dengan gadis biasa. "Kenapa bengong?" tanya Evan. "Apa papi kamu tau kamu mengajakku menginap di sini?" Anya bertanya ragu. Evan duduk di sampingnya di atas tempat tidur dan menggenggam tangannya. "Kamu nggak usah khawatir, aku nggak akan dijodohkan dengan wanita lain." Kenapa Evan tahu yang jadi pikiran dia, sih? "Ih nyebelin," rutuk Anya. "Kalau papaku ngeliat kamu, dia pasti akan menyayangi kamu. Dia tak akan pernah menentang keinginanku." Evan mencium tangan Anya. "Udah yuk, turun, kita makan makanan bibi, dijamin kamu nagih." Anya mengangguk. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN