Sebulan berlalu...
Seperti biasa Evan telah mengabari Anya untuk berlibur ke sebuah cottage seminggu sebelumnya, kata Evan dia akan mengajak Ricco dan berapa temannya. Anya juga boleh mengajak beberapa temannya. Anya tahu itu hari ulang tahun Evan. Anya bertemu Ricco di rumah makan dekat Campus.
"Hai cantik." Ricco melambai. Anya tersenyum. "Tumben nih ngajak ketemuan."
"Ada yang mau ditanya."
"Soal Evan?"
Anya mengangguk.
"Apa?" Tanya Ricco lagi.
"Kira-kira kasih hadiah apa sama Evan, yang terjangkau mahasiswi sepertiku?"
"Kalau dari kamu, apa aja pasti si Evan udah nyungsep saking senengnya." Ricco tertawa. Anya juga tertawa.
"Jadi tambah bingung."
"Bagaimana ya, Evan sih tidak terlalu penggila sesuatu, dia biasa-biasa saja," kata Ricco. Dia cuma sedikit senang traveling. Mungkin kamu bisa kasih sesuatu yang berbau itu." Anya mengangguk-anggukan kepalanya.
"Hmmm..."Ricco menarik-narik dagunya yang tak berjenggot dengan jari. "Ada sih sesuatu yang sangat diinginkan Evan, tapi nggak tau kamu bisa memberikannya apa tidak."
"Oh ya apa itu?"
"Kamu."
Anya tertegun. "Aku?"
"Iya." Ricco tertawa. "Makanya aku bilang belum tentu bisa kamu berikan."
Wajah Anya seperti kepiting rebus tampaknya, Ricco tertawa. "Sudah, nggak usah dipikirkan, pokoknya kamu kasih apapun dia pasti bahagia."
***
Ulang tahun Evan bertepatan pada hari minggu. Mereka sampai di cottage pukul 10 sabtu pagi setelah menempuh perjalanan sekitar 3 jam. Pegawai cottage telah menyiapkan acara untuk barbeque nanti malam. Ada 11 orang rombongan Evan, Anya, Ricco dan pacar barunya, Olga dan Deron. 2 teman kos Anya cewek dan 3 orang teman Evan, 2 cowok dan satu cewek. Mereka membagikan kamar, seperti biasa Evan membagi kamar dan tampaknya Evan selaku sponsor mendapat keistimewaan kamar sendiri karena mereka ganjil.
Kamar mereka menghadap ke laut di depannya ada beberapa pondok tinggi untuk beristirahat.
Mereka makan siang di restaurant cottage, cottage itu sangat private dan cocok untuk bersantai mereka telah mem-booking 6 kamar. Kamar Evan berdekatan dengan kamar Anya.
Pesta barbeque yang menyenangkan. Menjelang tengah malam Anya menghilang, Evan duduk memandangi langit dengan Ricco.
"Mana ya Anya?" Evan ingin bersama Anya saat pergantian malam.
"Mungkin lagi bikin konten i********: sama Olga," kata Ricco.
"Jangan-jangan tidur nih." Evan menelepon-nelepon Anya. "Gue susulin ke kamarnya deh."
"Nggak usahlah, kan tadi udah bilang mau begadang jangan terlalu mengekang nanti tertekan dia." Ucapan Ricco menghentikan Evan, dia duduk lagi. Evan tampak gelisah berkali-kali melihat handphone-nya. Hampir jam 12 malam, Olga dan Deron terlihat menuju tempat mereka.
"Mana Anya?" tanya Evan.
"Nunggu di kamar." Olga menyebut kamar Evan. Evan mengulangi kamar yang dimaksud takut salah mendengar. Sedang apa Anya menunggu di kamarnya? Evan bergegas menuju ke kamarnya.
Evan membuka pintu cottage. Anya berdiri dari tempat tidur. Dia mengenakan dress putih berpotongan d**a rendah yang memperlihatkan sedikit belahan dadanya, juga pita besar di pinggang. Anya memakai make-up tipis juga memulas bibirnya dengan warna nude. Mata Evan nyaris meloncat keluar, belum pernah melihat Anya berpakaian dan berpenampilan seperti ini. Anya meraih tangannya dan membimbingnya menuju meja. Ada botol wine beserta gelas di atas meja.
Anya menuangkan botol wine itu dan mereka melakukan toast. Evan tak bisa berhenti tersenyum simpul melihat pelayanan Anya. Special day, pikir Evan.
Jam berdentang tepat pukul 12 malam. Anya berjinjit dan mencium bibirnya lembut. "Happy birthday."
Evan merangkul pinggang Anya dan membalas ciumannya.
"Thank you, baby."
"I love you," bisik Anya lagi.
"I love you more." Evan menggendong Anya dan mendudukannya di atas meja, kaki Anya melingkari pinggang Evan.
"Hadiahnya," bisik Anya.
"Ya." Evan tersenyum. Anya melepas ikatan berbentuk pita besar di pinggangnya. Senyum Evan menghilang. Wajah Anya terus menatap lekat wajah Evan, nafasnya terasa di wajah Evan.
"Anya...oh Anya. ." desah Evan menyatukan hidungnya dengan hidung Anya.
"Mmphh." Suara gumaman Anya yang khas. "Hadiahnya aku saja."
Evan tertegun, apa mimpinya terlalu cepat jadi nyata? Tapi wajah Anya tampak serius dan Anya nyaris polos di pelukannya membuat Evan tersadar. Gairahnya memuncak.
Sekuat tenaga Evan akhirnya berkata, "Kamu lelah. Beristirahatlah." Evan mengecup kening Anya dan mengendongnya ke tempat tidur. "Aku tidur di tempat Ricco malam ini, ya."
Wajah Anya terlihat bersemu di bawah cahaya lampu, wangi tubuhnya juga menggelitik hidung Evan. Evan dengan cepat mencium puncak kepala Anya dan bergegas meninggalkannya kabur segera dari ruangan itu.
Dia tak ingin menoleh ke belakang takut tubuh Anya yang terbaring dengan lekukan tubuh yang menggoda membuat Evan menahan nafas memporakporandakan pertahanannya.
Evan mempercepat langkahnya, jantungnya sudah berdebar tak karuan sejak tadi, cukup hadiah ulang tahunnya. Setelah beberapa meter langkahnya terhenti. Benarkah? Evan akhirnya menoleh ke belakang. Meninggalkan Anya seperti itu? Pasti Anya juga sedang gemetaran dan perlu banyak keberanian melakukan itu. Anya melakukan untuk Evan.
Evan berbalik kembali dengan nafas memburu. Dia melihat Anya duduk menunduk di pinggir tempat tidur. Evan pelan menghampiri dia, Anya yang menyadari kehadiran Evan lagi, menoleh ke arahnya, mata Anya tampak berkaca.
Evan duduk di sampingnya dan menarik kepala Anya ke pundaknya, "Aku kembali mengambil hadiah ulang tahunku," bisik Evan.
Entah terdengar senafsu apa suara itu, Evan tak peduli. "Aku nggak akan berhenti lagi sekalipun kamu bilang tidak."
Anya hanya menatapnya dengan wajah polos.
Evan mencium bibir Anya dan melumatnya b*******h. Tangannya membuka pengait Anya dan melepaskannya. Evan mendorong tubuh Anya ke atas ranjang yang empuk, Anya mengangkat tangan, sambil gemetaran, tangan Anya melepas kancing-kancing kemeja Evan.
Malam itu Evan mengambil apa yang ditawarkan oleh Anya, dia seperti kehilangan kendali atas tubuhnya sendiri.
"Sorry," bisiknya.
"Kenapa?" balas Anya lemah.
"Aku...kelepasan."
Evan mendekap tubuh Anya. Lama hanya suara nafas pelan mereka di keheningan malam itu. Anya membenamkan wajahnya di d**a Evan. Hingga dia tertidur di pelukan Evan. Evan tak bisa tidur, memandang tubuh polos Anya yang indah. Mulai saat ini status mereka berubah dan Evan pelakunya. Lagi-lagi Evan merutuki dirinya, tak dapat menahan diri.
"Apa yang aku lakukan?" bisik Evan membelai lembut pipi Anya yang tertidur pulas.
Evan memeluknya, aku benar-benar tak akan melepasmu, janji Evan dalam hati. Anya bergerak tapi tak terbangun. Mata Evan menjelajah setiap lekuk tubuh Anya yang indah. Noda merah terpercik di atas seprai, tampaknya Evan harus membayar extra biaya laundry.
"The best birthday in my life," bisik Evan lembut di telinga Anya. Ulang tahun terbaik bukan perkara Anya menyerahkan dirinya, tapi karena Evan bersama dengan dia, wanita yang dia cinta.
Evan masih belum tertidur, beberapa jam kemudian mata Anya membuka.
"Kamu nggak tidur?" bisik Anya lembut, matanya yang jernih menatap Evan sayu. Evan tak menjawab.
"Apa kamu menyesal?" tanya Evan.
Anya menggeleng. "Aku memang menginginkannya."
Evan mencium bibir Anya dengan sangat lembut, memeluknya. Kulit mereka bergesekan. Kulit Anya lembut dan halus. Anya membenamkan wajahnya terus di d**a bidang Evan.
"Wangi," rintih Anya.
"Wangi apanya?" Evan tertawa kecil mendengar kata-kata Anya itu.
"Aku suka." Lanjut Anya.
Anya tidak tahu kalau aroma tubuhnya yang lebih disukai Evan.
"Jam berapa?" Anya bertanya lagi.
"Tujuh."
"Kita nggak sarapan?"
Evan membelai rambut Anya. "Aku masih ingin seperti ini." Anya mengangkat wajahnya.
"Apa rasanya?" Anya bertanya dengan wajah tanpa pertahanan. Evan diam saja. Bagaimana mengatakannya? Dia saja tidak bisa menemukan kata-kata yang tepat. "Sakit?"
Evan menggeleng, sakit darimana? Yang Evan rasakan benar-benar kenikmatan yang tak pernah dia rasakan sebelumnya. Dia mengusap pipi Anya, "Apa kamu sakit?"
"Sangat."
"Maaf, baby. Aku nggak bisa lebih lembut," bisik Evan.
"Katanya pertama kali memang sakit..." Anya terdiam. "Nanti selanjutnya nggak." Wajah Anya memerah saat mengucapkan itu. Evan memandangi pipinya yang memerah, Anya mengucapkan kata-kata yang membikin kelakiannya ingin memberontak lagi. Tapi dia sebaiknya bertahan.
Jam 9 mereka baru keluar dari kamar, Anya mengatakan sendi-sendi kakinya ngilu. Apakah karena pertama kali melakukan? Mereka sarapan berdua saja karena yang lain telah duluan dan saat ini melakukan aktivitas masing-masing.
Mereka pulang ketika hari mulai sore, di mobil Evan memeluk Anya terus. Membelai rambutnya, mengecup matanya. Dia tak peduli yang lain karena aktivitas Ricco dan pacar barunya terlihat lebih sangat berlebihan.
***