Forgive and Forget

1239 Kata
Anya terbangun di dalam kamar, tubuhnya dingin karena tampaknya Anya tertidur setengah telanjang. Anya melihat ke sampingnya, Evan tertidur lelap mempertontonkan tubuhnya yang bidang, otot-otot tangannya terlihat menggairahkan. Apa yang mereka lalukan semalam? Gawat. Anya bergidik mengingat kembali apa yang mereka lakukan semalam, baru kali ini Anya berpacaran sampai sejauh itu. Anya berjalan keluar dan membuka kulkas. Hanya ada minuman beralkohol dan beberapa kaleng softdrink disana. Anya memesan cake dan beberapa snack melalui ojek online. Anya mengecek handphone-nya Olga misscall berkali-kali. Juga Aric, dia sudah tidak memblokir nomor Aric. Anya mengirim pesan pada Aric. Maaf Aric, aku memutuskan untuk menerima Evan kembali. Aku minta maaf. Anya menelepon Olga dan memberitahukan kalau dia menginap di apartement Evan. Dia bersandar di sofa apartement Evan yang nyaman. Lamunannya terhenti saat mendengar suara pintu dibuka. Evan bangun dan mendapatinya duduk di sofa. Sudah pukul 8 pagi. Syukurlah ini Hari aminggu, jadi dia tak perlu ke kampus dan Evan juga libur. Rambut Evan mulai panjang dan terlihat berantakan tapi itu membuatnya semakin menggoda. Apalagi saat ini Evan hanya mengenakan boxernya yang mencetak miliknya di sana. Anya menggigiti bibir bawahnya dengan gelisah. Evan menghampiri Anya, "Sudah bangun?" tanya Anya. Evan memeluknya. "Evaaan aku belum mandi." "It's okey," jawaban khas Evan. "Thank you baby. I love you." Evan meletakkan wajahnya di leher Anya, mengecupnya. Anya takut dia akan tergoda lagi. "Evan," panggil Anya ragu. "Ya." "Semalam itu pertama kali bagiku." "Aku tau," sahut Evan. "Bener kamu tau?" Evan tersenyum lagi. "Aku mandi dulu terus anter kamu pulang." Anya mengangguk. Evan beranjak, Anya memandang punggung Evan yang shirtless, lekukan ototnya sangat menggoda. Anya mengipas-ngipas wajahnya dengan tangan. *** Usai mengantar Anya kembali ke kos-an, Evan pulang ke rumahnya. Bi Simah yang selalu memasak di rumah menyambutnya. "Lha, Mas Evan pulang?" "Iya, Bi, rindu masakan bibi," jawab Evan. Sekalipun tak ada orang di rumah itu Bi Simah selalu memasak, ada empat orang pekerja di rumah Evan. Dan kalau makanan masih banyak Evan meminta mereka membaginya untuk dibawa pulang ke rumah masing-masing, hanya tinggalkan untuk makan malam Evan di kulkas. Agar Evan bisa memanaskannya sewaktu-waktu kalau dia lapar. Evan berbaring di ranjangnya. Membayangkan apa yang telah dia dan Anya lakukan tadi malam. Benar-benar membuatnya melayang, padahal mereka belum sampai berhubungan. Liat saja si Ricco maniak itu sampai kecanduan. Oh ya tiba-tiba Evan teringat sesuatu menelpon Olga. "Kapan mau berangkat ke Paris?" "Gosshhh!!! Serius nih. Minggu depan gimana?" pekik Olga riang. "Oke. Mau pergi sama Deron?" Olga menjerit lagi. "Serius, Van? OMG dream come truee!" jerit Olga riang. "Hei. Jangan sampe Anya tau kalau gue terlibat." "Siapp boss!!" Evan tertawa saat menutup telepon itu, Evan menelpon pemilik Butik kenalannya untuk berpura-pura meng-endorse Olga. Evan berangkat ke kantor di hari minggu untuk mengecek beberapa hal. Setelah menyelesaikan pekerjaan Evan melihat-lihat akun i********: kekasihnya Anya. Anya meng-upload foto saat di Bali. Foto-foto Anya bersama Aric telah menghilang, tapi tampaknya Anya belum meng-upload foto mereka berdua. Nggak masalah siapa peduli akan hal itu. Aric, benalu menyebalkan itu. Lo salah cari musuh, gue bukan lawan lo! Evan menyeringai. *** Anya berdecak sedih, menyaksikan Olga yang sedang packing di kamarnya. Dia akan berangkat ke Paris untuk beberapa hari. Olga tertawa geli menatap wajah sahabatnya itu. "Lo curang, kenapa pergi sama Deron? Harusnya ajak gue lah," rengek Anya. "Ih byy ini kan endorse baju couple, masa cewek sama cewek, sih," jelas Olga. Seandainya Anya tahu pacarnya yang membiayai perjalanan Olga ini, pasti dia akan mengamuk, belum lagi alasannya. Olga saja tak menyangka bahwa Evan mengira dia meminta perjalanan untuk dua orang. Apa pengorbanan Evan yang begitu besar untuk Anya ataukah Evan lebih tajir dari yang dia kira? Kalau dia benar-benar di-endorse, pasti Olga tak segirang itu melihat wajah memelas Anya. Tentu dia ingin mengajak Anya. Tapi, dia yakin Evan pasti lebih dari bisa mengajak Anya kesana nanti. Sekarang nikmati aja kalau dia kecipratan. "Nanti gue beliin oleh-oleh." Olga terkikik. "Lagian lo bisa ajak Evan kan?" "Sayang duitnya, mending ditabung buat beli rumah," kata Anya dengan kesal. Olga tertawa lagi, dia jadi merasa sedikit bersalah seakan dia memoroti pacar sahabatnya, tapi hey Evan sendiri yang menawarkan itu. Olga yakin kalau Evan sangat mencintai Anya jadi membantu hubungan mereka jelas bukan hal yang salah. Anya meminta Evan mengantar Olga dan Deron ke bandara. Deron juga tampaknya tak tahu menau dan benar-benar mengira Anya di-endorse butik ternama. "Aku mau jadi selebgram jugalah," kata Anya di mobil. "Kenapa? Mau ke Paris juga?" tanya Evan seraya menyetir. Olga yang duduk bersama Deron di belakang terkikik. Kikikan yang hanya dimengerti oleh Olga dan Evan. "Iya siapa coba yang nggak mau ke Paris?" Anya memasang mimik wajah cemberut. "Ya udah, doakan aku dapat bonus gede jadi kita bisa ke Paris, ya." "Nggak ah sayang uangnya," sahut Anya. Anya tahu gimana sulitnya mencari uang saat part time di cafe, dia sangat lelah tapi hasil yang didapatkan tidak seberapa. "Loh gimana sih?" Evan tertawa. Dibalas tawa Olga. "Happy honeymoon," kata Evan pada Olga dan Deron saat menurunkan Travel bag dari mobil. Anya kaget mendengar Evan berkata seperti itu lalu mencubitnya. Tapi Olga juga Deron malah cengengesan. Olga melambai dan masuk ke gerbang keberangkatan internasional bersama Deron. "Kenapa cemberut dari tadi?" Evan bertanya saat mereka di perjalanan pulang. "Asyik banget sih ke Paris." Evan tertawa, "Iya nanti kita pergi." "Apa aku kerja part time lagi aja?" "Jangan ah." "Atau jadi selebgram?" "Jangan juga, aku nggak rela kalau kamu banyak penggemar." "Jealous?" "Jelas, mana ada laki-laki yang suka banyak pria mendekati pacarnya." "Ada aja." "Berarti dia nggak sehat. Bulan depan kita liburan lagi. Tapi nggak di paris sih deket-deket sini aja." Bulan depan? Bukankah itu ulang tahun Evan. Anya memikirkan hadiah yang akan dia berikan pada Evan. Hadiah yang sanggup dia beli tapi berkesan, karena sekali pandang Anya tahu barang-barang yang dipakai Evan punya kelas dan lumayan mahal dia tak akan mampu. Tanya Ricco sajalah Evan kepengen apa. Setidaknya dia bisa memberi gambaran hadiah seperti apa yang membuat Evan suka nantinya. *** Evan masuk ke apartemen Ricco. Dia melihat seorang wanita yang tidak pernah dilihatnya berkeliaran hanya dengan menggunakan dalaman di ruang tamu apartemen, mainan baru lagi. Wanita itu berteriak melihat Evan. Membuat Ricco datang menghampirinya dengan tergopoh-gopoh. "Kenapa teriak sih, sayang? Itu temenku bukannya aku udah bilang," kata Ricco. "Oh iya, aku kaget." Wanita itu buru- buru masuk ke kamar Ricco. "Cepat usir dia, gue mau bicara," desak Evan. Ricco merutuk. "Belum pelepasan gue brother. Masih tegang nih." Ricco menunjuk ke bagian bawah tubuhnya. Evan berdecak, ya sudahlah dia pergi. Tumben Evan yang keras kepala itu ngalah, Ricco terkekeh saat Evan memilih keluar. Evan menyetir tanpa arah pukul 11 malam. Anya pasti telah tertidur. Evan cepat sekali merindukan Anya. Dulu dia selalu heran bagaimana sepasang suami istri bisa bertahan selama bertahun-tahun tanpa merasa bosan. Jawabannya karena saat itu dia belum menemukan pasangan yang sesuai, buktinya saat ini saja dia selalu ingin terus bersama Anya. Perasaan Evan, semakin hari rasa untuk gadis itu semakin besar. Kalau saja Anya mau, dia akan mengajak Anya tinggal seatap dengannya, agar mereka selalu bersama. Anya ada saat dia membuka dan menutup matanya setiap hari. Evan duduk di teras sebuah cafe pada akhirnya. Melihat handphone-nya dan begitu banyak notif dari Olga di Paris. i********: Evan tidak ada wajahnya. Semuanya berisi foto-foto yang dia ambil dari perjalanan. Resiko memiliki Anya sebagai kekasih, lihat temannya si Olga terlalu eksis. Namanya terekspose ke mana-mana karena selalu ditag oleh Olga. Tapi Evan tidak bisa kesal, karena sesuatu yang berkaitan dengan gadis itu membuat dia bahagia. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN