Evan baru saja turun ke lantai dasar perusahaan saat sosok lelaki berlari ke arahnya dan meninjunya dengan keras.
"Anjingggg!!! Bangsatt!! b******n looo!!!!" Lelaki itu berteriak. Seketika security kantor menarik lelaki yang dikenali oleh Evan tersebut, itu Aric mantan pacar Anya. Sekretaris Evan memberikan saputangan karena darah di sela bibirnya, dia terpekik. "Mampus lo anjing!! Gue udah kasih tau Anya kelakuan busuk lo ngejebak gue!!"
"Sial," maki Evan. Karyawan perusahaan mengerumuni mereka, Evan sekalipun masih muda merupakan sosok kharismatik yang dihormati oleh karyawan kantor walau tak ada yang tahu kalau Evan sebenarnya cucu pemilik perusahaan. Evan tak pernah terkena gosip apapun selain dugaan bahwa dia gay, karena tak pernah terlihat bersama wanita dan sekarang seorang lelaki yang lebih muda meninjunya karena seorang wanita.
Security menarik Aric yang masih berteriak-teriak kesetanan.
"Tinggal tunggu waktu, Anya balik ke gue b*****t!!!"
Sial, pikir Evan. Dia tak peduli luka di bibirnya ataupun menjadi tontonan, di pikirannya hanya ada Anya saat ini. Evan meminta sekretaris memanggil orang kepercayaannya.
Anya belum menghubungi Evan, benarkan Anya sudah tahu? Atau hanya ancaman? Evan melonggarkan dasi dan membuka kancing kemejanya yang paling atas.
Pak Trisno, orang kepercayaan Evan itu muncul dengan cepat.
"Kenapa bisa bocor?" Evan mengamuk menggebrak meja. Dengan tenang Pak Trisno menelpon di hadapan Evan dan mengangguk-angguk. Dia sudah sangat paham juga terbiasa dengan tipikal Evan.
"Aric ternyata anak xx (menyebutkan pengusaha perkebunan kaya di Kalimantan) dia punya beking politikus berpengaruh. Ivy dipaksa buka mulut pak."
"b******k!" Evan meninju tembok. Bohong saja kalau Anya tanya? Tapi si Aric pasti sudah mengumpulkan bukti-bukti. "Sialaannnn!!!"
***
Pagi itu,
Anya tersenyum-senyum sendiri saat melihat-lihat foto dia dan Evan di Bali.
"Anya!!" Suara yang sudah lama tak mengusiknya itu kembali muncul. Aric.
"Mau apa lagi?" Anya tak ingin lagi menghindari Aric. Dia bosan.
"Anya, aku punya bukti kalau aku dijebak. Pliss ... sekali ini aja dengerin aku. Setelah itu aku janji nggak akan ganggu kamu lagi." Aric memohon-mohon.
"Bener nggak ganggu lagi, ya?" Akhirnya Anya mengikuti Aric ke salah satu cafe. Tampak sepi. Anya duduk di salah satu kursi yang cukup nyaman. Terlihat teman akrab Aric sedang menyeret seorang wanita.
"Duduk." Perintah Aric dingin.
"Ada apa ini?" tanya Anya melihat wanita itu duduk. Wanita super cantik dan juga bergaya elegan.
"Dia yang kamu lihat bersamaku malam itu. p*****r kelas atas," umpat Aric. "Si b*****t Evan itu yang menyewanya."
Anya terdiam? Tubuhnya kemudian merinding. p*****r kelas atas? Tidak terlihat sama sekali atau memang Anya belum pernah bertemu wanita seperti itu sebelumnya. Wanita itu diam saja.
"Anya plisss." Aric memegang tangan Anya yang kaku. "Aku akuin aku memang salah, tapi kamu lihat sendiri? Ini sudah direncanakan dengan baik. Coba pikir kenapa kamu bisa memergokiku?"
Anya tersentak, saat turun dari apartement, Anya bertemu dengan Evan di bawah tapi saat itu dia tak berpikir sama sekali. Mana mungkin?
"Apa itu benar?" Anya bertanya terbata.
"Aku nggak tau siapa yang meng-hire-ku, tapi yang pasti aku dibayar dalam jumlah besar untuk membuat dia bercinta denganku," ujar wanita itu.
"Dengar kan, kamu dengar kan Anya?" Aric memerintahkan agar teman-temannya membawa Wanita itu pergi. "Anya aku mencintai kamu, aku nggak bisa hidup tanpa kamu sayang. Oke aku memang salah aku tergoda, tapi dia prostitute kelas atas dan aku hanya lelaki biasa yang bahkan belum bercinta dengan pacarku sendiri. Anya dengerin aku."
Anya berlari dari ruangan itu sambil menangis. Aric mengejarnya.
"Stop! Aku mau sendiri." Akhirnya Aric melepas Anya.
Biar dia berpikir, ujar Aric. Setidaknya Aric merasa sangat puas dan lega.
***
Astaga ada apa dengan hidupnya?! Kenapa dia terjebak pada peristiwa seperti ini. Anya menangis tersedu di kamarnya Olga belum pulang kuliah.
Kenapa Evan setega itu? Anya pikir dia orang yang sangat baik dan penyayang.
Nomor tak dikenal meneleponnya terus. Anya akhirnya mengangkatnya dia tahu itu Aric.
"Sayang, maafin aku. Aku nggak bermaksud bikin kamu sedih. Tapi pikirin perasaanku selama ini, melihatmu bersama b******n macam dia."
Anya masih menangis. Olga masuk ke kamar Anya dan merampas telepon itu. "Setaaannnn!!! Ngapain lo gangggu Anya lagi!!" Olga mematikan telponnya.
"Oh dear. Ada apa?"
Anya memeluk Olga, "Kenapa aku sial banget, by?"
"Oh God...oh God. I can't believe it." Olga mondar mandir di kamar Anya setelah mendengar cerita Anya. "Serius?"
Kenapa hubungan percintaan Anya jadi rumit gini sih? pikir Olga.
Mereka terdiam lama, Anya sudah lelah menangis karena shock.
"Aku tanya Evan."
"Jangan."
"Ricco?"
Anya menggeleng. "Okey, sekarang gini aja, apa kamu sudah jatuh cinta sama Evan?" Anya mengangguk. "Trus kamu masih cinta sama Aric?"
Anya menggeleng.
"Oke gampang, lupain Aric."
Anya tertegun. "Mana bisa semudah itu."
"Kenapa? Hidup itu simple jangan dibuat sulit."
"Evan terlalu kejam. Aku nggak tau gimana aslinya dia, by."
Anya menggaruk kepalanya, dia menghitung Anya pacaran dengan Evan sudah 5 bulan sebelum pacaran mereka baru kenal 2 bulan berarti ada total 7 bulan. Cukup lama sih.
"Gini. Menurut aku, bukan karena udah disogok ke Bali sih, nggak semua salah Evan. Kalau Aric nggak tergoda sama itu pere nggak mungkin ini terjadikan?"
"Tapi dia prostitute kelas atas, kamu nggak liat gimana cantik dan menggodanya dia. Auranya bikin merinding."
"Seumpamanya ini perang antara dua kerajaan dan kamu putri yang diperebutkan. Kerajaan A dan kerajaan E, nah mereka masing-masing merencanakan strategi untuk mendapatkan kamu. Ini adalah strategi perang dari kerajaan E dan ternyata berhasil." Olga berbicara sangat lembut bahkan mereka ber-aku Kamu.
"Sekarang semua ada di sini." Olga menyentuh d**a Anya. "Baiknya bicara dulu sama Evan biar kamu lega. Gimana?"
Anya mengangguk, beruntunglah Olga bersama dia sekarang. "Aku mandi dulu nanti kita ngobrol lagi." Olga membuka pintu.
"Evan?"
"Boleh aku masuk?"
Olga mengangguk dan keluar. Anya melihat sosok itu memasuki kamarnya. Anya sudah lemah karena menangis sejak tadi, tapi kata-kata Olga memberinya kekuatan untuk menghadapi Evan.
Evan menggenggam tangan Anya. Berdiaman. Sampai tangan Anya berkeringat.
"Sorry," kata pertama Evan setelah hampir setengah jam.
"Jahaatttt kamuu. Kamu hancurin hati aku, Evan." Air mata mengalir lagi dipipi Anya. Dua kali Evan melihat gadis itu berlinang air mata.
"I love you...much...Can't handle my feeling," bisik Evan.
"Kapan kamu merencanakan ini? Kamu pasti senang melihat aku terluka."
"No baby...aku mencintaimu dan ingin memilikimu."
Anya menarik tangannya dari tangan Evan. Berbalik memunggunginya.
"Pulanglah, aku mau sendiri," kata Anya dengan sangat pelan.
Evan mengecup rambut Anya dan beranjak. Dia melihat Olga duduk di ruang tamu menunggunya
"Kamu ingin memarahiku juga?" tanya Evan. Evan duduk di sofa.
"Tidak juga," kata Olga. Evan menaikkan alisnya.
"Kamu memang lain."
"Yahh...kupikir-pikir kalau aku punya sumber daya seperti itu aku juga ingin melakukannya. Terlebih untuk seseorang seperti Anya."
Evan tertawa tertahan.
Olga menghela nafas, "Kuharap kamu bukan lelaki licik dan kejam yang suka mempermainkan perasaan wanita."
"Aku akan jadi licik kalau menyangkut dia."
"Oh well."
"Bantu aku dong," kata Evan. "Kalau Anya maafin aku, kamu minta apapun aku kasih, selagi aku sanggup."
"Fiuhh tawaran yang menggiurkan. Aku disogok?"
"Cuma kamu harapanku."
"Kalau aku minta jalan-jalan ke Paris kira-kira sanggup nggak?"
"Cuma itu?"
"What?! Aku benar-benar disuap."
"Aku serius."
"Oke asal kamu pastikan satu hal. Kamu nggak mainin perasaan Anya."
"Kamu liat aku, kan?" Evan balik bertanya.
"Iya sih. Okey aku bantu sebisanya tapi kasih waktulah."
"Okey thanks, Ga. Aku titip dia, ya."
"Always," jawab Olga.
***
Tiga hari berlalu, masih belum ada tanda-tanda Anya akan membaik. Yang lebih Evan khawatirkan Anya akan kembali ke pelukan Aric. Mana tahan dia memikirkan itu. Evan termangu di apartemen Ricco, Ricco sedang bertemu klien yang akan membeli properti.
"Sialan!!!" Evan melempar gelas ke dinding. Anya.
Evan memandangi foto-foto Anya saat liburan di Bali, tersenyum dan tertawa gembira. Tapi dia membuat gadis itu menangis sedih. Perasaan Evan sesak belum pernah dia seperti ini sebelumnya. Tangannya meninju-ninju dinding sampai berdarah. Pesan intercom apartemen berbunyi.
"Siapa lagi, jangan-jangan salah satu mantan Ricco."
"Seorang wanita bernama Olga, Pak," kata security dari intercom.
"Olga?"
Selang beberapa saat kemudian bel pintu apartemen berdering.
"Anya." Evan kaget melihat siapa yang datang. Evan menariknya masuk. "Anya." Evan mendekap Anya dipelukannya.
"Sorry," bisiknya lirih. Anya melihat tangan Evan yang memar terluka dan pecahan gelas yang bertebaran di lantai.
"Kamu ngapain sih? Jangan bikin aku makin terluka," erang Anya.
Evan mendekap Anya makin erat.
Anya membersihkan dan membalut luka ditangan Evan.
"Kamu udah maafin aku kan?"
"Jalani dulu aja," sahut Anya lirih.
Evan mengangkat wajah Anya dengan tangannya pelan. Dia menarik Anya lagi kepelukannya.
"Aku mau kamu jelasin," kata Anya.
"Apapun yang kamu inginkan."
"Evan, sebenarnya kemarahan terbesarku bukan sama kamu."
"No baby. Aku tau aku salah."
"Dengerin aku dulu." Anya meletakkan jemarinya di bibir Evan yang sudah sedikit sembuh dari saat ditinju Aric kemarin.
"Marah pada diriku sendiri, karena begitu cepat melupakan Aric dan mencintai kamu," bisik Anya pelan dan hati-hati dengan wajah bersemu merah. "Dan setelah kejadian ini...aku bahkan merasa beruntung karena bertemu denganmu. Aku jahat?"
Evan menggeleng, "Sekalipun kamu jahat biar aku yang menanggung."
"Aku merasa berdosa karena merindukanmu."
Ya Tuhan, betapa cantiknya Anya saat mengatakan itu membuatnya ingin segera mencium gadis itu, tapi Anya masih ingin berbicara.
"Olga banyak menyadarkanku, sepertinya aku..." Anya terdiam.
Olga? Sepertinya dia harus lebih banyak men-service anak itu. "Apa?" tanya Evan.
"Aku malu..."
"Katakan..."
"Aku sepertinya nggak ingin berpisah denganmu."
Evan merebahkan tubuh Anya dan menciumnya. Tangan Evan menelusup ke blouse yang dikenakan oleh Anya. Dengan cepat Evan menggendong Anya ke kamar tidur. Evan menghempaskan Anya ke tempat tidur. Anya terpekik. Dia melepaskan blouse yang dikenakan Anya, terpampang bra Anya berwarna biru muda dengan renda diatasnya. Evan melepas pengaitnya, bra Anya melorot jatuh mempertontonkan pemandangan indah yang membuat Evan terpana. Party dan apapun itu yang pernah Evan saksikan secara langsung tak sebanding dengan ini.
"Ahh..." Anya menutupinya dengan tangan.
"Sebentar." Evan mendadak tersadar akan sesuatu, dia mengirim pesan singkat pada Ricco. Malam ini jangan berani pulang ke apartement!
"Sorry," kata Evan.
"Kenapa?" Anya menjawab cepat. Ah sexy-nya, Evan mencium Anya lagi, Anya membalasnya mereka berciuman sangat lama bahkan memainkan lidah masing-masing dengan penuh gairah.
"Terimakasih," bisik Evan di tengkuk Anya saat mereka berbaring. Evan memeluk tubuh polos Anya dari belakang. "Karena udah maafin aku."
"Berjanjilah kalau kamu nggak akan melakukan sesuatu seperti itu lagi tanpa sepengetahuan aku."
"Your wish is my command."
Anya tertawa, sedetik kemudian dia tersadar sedang berpelukan polos. Wajahnya memerah untungnya mereka sedang tidak berhadapan. Anya tertidur di pelukan Evan.
***