Evan mengajak mereka makan siang di restoran tradisional yang terletak di tengah sawah. Sekalipun tradisional tampaknya menu makanannya juga western menyesuaikan dengan selera bule. Ada juga pondok-pondok kecil yang diberi bantal untuk pengunjung menikmati suasana sawah.
"Di tempat kamu ada sawah?" tanya Evan. Anya menggeleng. Anya tinggal di wilayah kepulauan.
"Jadi pas kan kita ke sini?" tanya Evan.
"Pas donk. Pas semuanya, makasihhhh Evan," jawab Anya dengan wajah menggemaskan. Evan mencubit pipi Anya. Deron dan Olga entah ke mana, Ricco dan Clara masih saling menempel dan duduk di kursi restoran.
"Jalan-jalan ke pondok, yuk," ajak Evan. Evan meminta Ricco mengambil foto mereka berdua di sudut restoran yang instagramable sebelum menuju pondok-pondok.
Anya berjalan di belakang Evan di jalan setapak yang di pinggir-pinggirnya membentang sawah, berjalan ke pondok. Mereka duduk di sana, sambil memandangi sawah yang terhampar. Ricco dan Clara terlihat kecil dari pondok itu.
"Ada tempat yang mau dikunjungi nggak?" tanya Evan
"Mau liat tari kecak," kata Anya.
"Besok, ya."
Tes. Tetesan air tepercik. "Hujan." Anya berkata. "Ayo kembali."
Evan turun dari pondok, tapi dia malah berhadapan dengan Anya yang sedang dalam posisi duduk di pingir pondok. Hujan turun cukup deras.
"Evan kamu basah."
"It's okey," kata Evan seraya menarik Anya mendekat. Kaki Anya melingkar di pinggangnya. Evan mendongakkan kepalanya dan memagut bibir Anya.
"Mmph...," desah Anya. Evan menciumnya cukup lama, dan Anya benar-benar menyukai ciuman Evan. Sepertinya darah dalam aliran nadinya meletup. Begitu berbeda dengan saat ciuman dengan Aric, bukan Anya bermaksud membandingkan tapi ciuman Evan benar-benar memabukkan.
Apa karena Evan seorang expert? pikir Anya.
Anya mengangkat wajahnya melihat wajah Evan yang tampan dan sedikit liar di sana, raut wajah yang belum pernah dilihat Anya sebelumnya.
"I love you," bisik Evan. Anya merasa suara di sekelilingnya menghilang.
"I-I love you too," kata Anya akhirnya.
"Oh yes baby." Evan berkata. Kenapa terdengar seperti Olga? Anya tertawa. Dia dan Olga selalu memanggil dengan panggilan kesayangan yang aneh-aneh. Habis deh panggilan sayang untuk seorang pacar.
"Kenapa?"
"Olga sering bilang begitu."
"Hmm kelihatannya Olga perlu ditegur nih."
"Jangan donk," rengek Anya. Tampaknya Olga panjang umur karena dia terlihat mendatangi mereka sambil membawa payung.
"Olga kamu merusak suasana romantis kami," kata Evan.
"Oopps sorry." Olga terkekeh dan mereka tertawa.
°°°
Ricco sedang foreplay saat ponselnya berdering, jam sebelas malam, dari siapa lagi kalau bukan Evan. Di bawahnya tubuh wanita polos sedang merintih-rintih. Ricco mengangkat telponnya.
"Sekarang?" kata Ricco. "Oke tunggu."
"Siapa?"
"Evan ngajak ketemu."
"Tolak aja sih." Clara mendengus, kesal karena Ricco lebih memilih bertemu Evan dibanding bermain dengannya.
"Nggak bisa." Ricco beranjak dari ranjang dan mengenakan celananya.
"Memang lo bawahannya, langsung iya aja dipanggil tengah malam gini," teriak Clara lagi. Wajah Ricco berubah tegang.
"Fu*k!" Makinya. "Kita putus. Besok pagi tinggalkan tempat ini."
"Riccoo!" Clara berteriak histeris.
°°°
Ricco datang sendirian untuk breakfast.
"Mana Clara?" tanya Anya pada Evan. Evan mengambilkan Anya omelet.
"Sudah putus," jawaban Evan membuat Anya bengong.
"Jangan khawatir Ricco berganti pacar seperti berganti sepatu." Evan tertawa. Kata-kata itu tampaknya berdampak pada Anya. Nyaris saja dia bertanya, Kalau kamu? Untunglah dia buru-buru tersadar.
"Karena gue udah jomblo, sekarang gue bakalan nguntit kalian ke mana-mana," kata Ricco sambil menyipitkan mata dan meletakkan tangan di kedua telinganya. Anya terkikik geli. Evan mengambil minuman. Ricco berbisik.
"Eh Anya."
"Iya?"
"Evan masih perjaka." Kata-kata Ricco nyaris membuat Anya tersedak. Seriously? Tentunya Anya berharap begitu, tapi melihat pergaulan Evan? Sedikit mengkhawatirkan bukan? "Curi keperjakaannya malam ini," bisik Ricco lagi. Anya tertawa geli, habis Ricco mengatakannya dengan wajah kocak.
"Hei jangan ganggu cewekku." Evan ternyata telah kembali.
"Beh." Ricco nyengir. Ricco mengedipkan mata pada Anya, Anya terbatuk-batuk, dia buru-buru minum jus yang dibawa oleh Evan.
***
Anya dan Evan duduk di pinggir kolam renang. Terdengar tawa kecil dari Olga yang bergelayut manja pada Deron di dalam air.
"Kamu nggak berenang?" tanya Evan.
"Aku nggak bawa baju renang," kata Anya. Dia berbohong, ternyata Olga dengan licik telah menukar baju renangnya dengan two pieces bikini. Jelas saja Anya nggak mau memakai bikini itu di tempat terbuka seperti ini.
Besok mereka sudah kembali, tak terasa libur dua hari begitu singkat. Olga melambai-lambai dari dalam Air.
Olga sangat sexy, keluh Anya iri, tubuhnya yang menggunakan bikini dan kepercayaan dirinya membuatnya cantik. Padahal Olga selalu bilang kalau Anya lebih cantik dan sexy dibanding dia tapi Anya tak percaya itu. Lihat saja followers dia di i********:, kaum lelaki kerap berkomen perihal Olga sebagai bahan fantasy mereka. Heran Anya bagaimana Deron sanggup menerima hal itu, harusnya Olga tutup saja kolom komentarnya. Kulit Olga kecoklatan dan eksotis sementara dia kuning langsat.
"Anya." Suara Evan membuyarkan lamunannya. "Ngelamun apa sih?"
Anya menggeleng sambil tersenyum.
***
Malam terakhir mereka di Bali, Mereka berkumpul di kamar Olga dan Anya sambil bercengkrama. Ricco ternyata benar-benar kocak, kepribadian yang tak disangka oleh Anya, soalnya kemarin-kemarin Ricco selalu disibukkan oleh Clara. Pukul sembilan malam Ricco mengajak Evan dan Deron keluar.
"Cepat sekali," rutuk Olga. Anya berendam di bathtub air hangat. Saat keluar Olga telah menyiapkan lingerie yang mereka beli.
"Pakai ini. Malam ini gue mau bobok bareng Deron. Bhayy honey." Olga ngeluyur pergi.
"Nooo Olgaaa!!" Jantung Anya berdetak kencang, wajahnya panas. Dia duduk di pinggiran ranjang. Siapa sangka Olga benar-benar akan change kamar. Seharusnya kalau mereka mau ber-asyik masyuk bisa di kamar seberang. Anya mengigiti bibirnya. Lingerie itu bewarna salem dan berbahan satin, bahannya menempel di kulit dengan renda di lehernya. Saat memandangi lingerie itu, bel berbunyi. Jantung Anya berdegub lebih kencang. Anya memasukkan lingerie itu cepat ke lemari dan menggunakan piyama yang disediakan hotel. Dia membuka pintu. Benarlah itu Evan, Anya merutuk kenapa juga Evan mengiakan saja pikiran m***m Olga dan Deron keluhnya.
"Habis mandi?" tanya Evan.
"Mmphh." Anya takut berbicara, karena takut suaranya gemetaran.
"Malam ini aku tidur di sini, ya."
"Eh..."
Evan telah masuk dan menghempaskan tubuhnya di atas ranjang. Tubuh Evan yang atletis tercetak nyata, Evan mengenakan kaos putih polos dan celana pendek katun selutut.
Anya merinding, please semoga Evan tidak memintanya melakukan itu. Anya belum siap. Anya akhirnya mengenakan piyama tidur lengan pendek dengan celana pendek berbahan silk bewarna baby blue.
Terlalu cepat kami bahkan baru berciuman kemarin, Anya naik ke tempat tidur.
"Mpphh...Evan," bisik Anya. Evan telah membenamkan kepalanya di bantal.
"Kamu tidur di sini, aku di depan aja."
Evan duduk, "Kenapa?" Evan tertawa saat melihat wajah dan tubuh Anya yang tegang. Evan menarik Anya ke pelukannya. Wangi Evan yang selalu dia suka.
"Nggak usah khawatirlah. Aku nggak akan ngapa-ngapain kamu," ujarnya.
Bukan seperti itu, detak jantung Evan terdengar. Anya bahkan mendengar hela nafasnya sendiri.
"Evan," kata Anya. Mendengar perkataan Evan kegugupan Anya langsung berkurang.
"Ya."
"Apa semua laki-laki selalu memikirkan s*x saat bersama wanita?"
Suasana menjadi hening, mungkin Evan kaget mendengar pernyataan Anya itu.
"Harus jawab apa?"
"Jawab sejujurnya aja, nggak akan merubah penilaianku tentang kamu."
Evan mempererat dekapannya. "Kalau saat ini jelas aku ingin sekali." Anya bergerak pelan di pelukan Evan mendengar pernyataan itu, "Tapi tidak akan, selama kamu nggak siap."
"Kalau seandainya wanita itu bukan pacarmu?"
"Big no. Aku gak tertarik pada hubungan atas nafsu semata. Harus dengan orang yang aku cintai," bisik Evan lembut.
"Kata Ricco kamu masih perjaka."
"Berandal itu."
"Apa benar?"
"Aku gemetar kamu tanya seperti itu," jawab Evan. "Kalau aku bohong kamu juga nggak tau bedanya kan?"
"Evan. Aku juga." Anya mendesah. "Evan aku takut."
"Takut?"
"Takut kamu akan mengkhianatiku juga di saat aku jatuh cinta padamu."
Evan diam, Anya tau Evan bukan tipe orang yang suka mengobral kata, membuatnya ingin meneruskan. "Mantanku yang sebelum kamu, berselingkuh dengan wanita lain, kata dia mereka nggak ada hubungan apapun."
Evan membelai rambut Anya, "Kamu ingin aku bersumpah?"
"Nggak, Evan." Anya mendesah menjaga agar air matanya tidak tumpah.
"Aku bisa menjanjikan satu hal, seandainya kita berpisah karena suatu hal aku akan terus mengejarmu, sekalipun kamu bilang nggak mencintai aku lagi aku akan terus membuatmu jatuh cinta padaku," bisik Evan.
Anya bergerak perlahan memandang wajah Evan. Matanya terlihat tulus. Bibirnya mengingatkan pada perasaan memabukkan kemarin.
"Ah Evan." Anya merintih. Evan melumat bibirnya dan Anya membalasnya dengan b*******h.
°°°
Anya tertidur di lengannya, Evan memainkan hidung gadis itu. Rambutnya wangi membuat Evan ingin menciuminya terus.
"Malam ini aku nggak mungkin bisa tidur," bisik Evan. Cantik sekali, pikirnya memandang wajah Anya yang terlelap.
Aku akan bertahan dan bersabar, Evan membelai pipi gadis itu.
Kamu milikku yang berharga.
Anya berbaring menyamping, lekuk tubuhnya membuat Evan bergetar. Sungguh sangat indah. Evan ingin terus memeluknya, kelakian Evan telah tegang sejak Anya di pelukannya tadi.
Kamu menyembuhkan aku.
Evan akan sering-sering mengajak Anya berlibur seperti ini, karena jelas itu meningkatkan keintiman mereka. Tampaknya dia harus menghadiahi Ricco karena rencana ini.
Ponselnya berdering dia lupa mengaktifkan mode silent, b*****t Ricco! jam dua dini hari. Ricco terkekeh di seberang. Evan tau dia pasti mau menganggu Evan, sayangnya yang dipikirkan Ricco tidak terjadi.
Gue nggak m***m kaya lo! maki Evan.
Evan beranjak dan memanaskan air, membuat coffee yang disediakan pihak hotel. Setiap minum kopi Evan akan selalu teringat pada Anya. Evan berbaring lagi di samping Anya dan meletakkan kopinya di atas nakas di sebelah ranjang. Evan meraih ponsel Anya yang tidak terkunci. Si b******k Aric masih terus menerornya, tampaknya dia tau Anya sedang berlibur di Bali.
Evan menelepon nomor baru itu karena terlihat statusnya sedang online.
"Anya sayang," sahut suara di seberang.
"Ini gue."
"Bangsattt!! Mana Anya?"
"Dia lagi tidur di sebelah gue. Bisa nggak ganggu dia lagi?" Evan mengganti mode voicecall dengan videocall memperlihatkan Anya yang sedang terlelap di lengannya.
"Berani lo ganggu dia lagi, gue hajar!" bentak Evan. Sumpah serapah terdengar dan Evan mematikan sambungan itu. Evan mencium puncak kepala Anya. "Sorry love. Aku nggak bisa biarkan kamu memikirkan lelaki itu lagi. Sekarang, cuma aku saja yang harus kamu pikirkan." Anya bergerak pelan di lengannya.
***
Olga masuk ke kamar sudah pukul 10 siang.
"Heeiii beibeee..." kata Olga dengan suara dibuat-buat. "I wanna ask about your status today?"
"Apa sih." Anya tertawa. "Nothing happened." Yaaahhh keluh Olga. Tapi Anya memeluknya.
"Thank you honey udah minta Evan buat change kamar."
"Wait. Katanya nggak terjadi apa-apa terus kenapa bilang terima kasih?"
"Very quality time."
"Good. Tapi bukan gue kok yang minta change kamar. Evan yang minta."
Anya menatapnya heran.
"Helloww senafsu-nafsunya gue pengen bercinta di Bali gue nggak mungkin minta Evan selaku sponsor utama buat change kamar dan enak-enak di kamar dia kan?"
"Oh ya?"
"Makanya gue kirain kalian udah..." Olga menempelkan dan menggerakkan ujung-ujung jarinya.
"Dia bilang tunggu aku siap."
"Gosh!! Lelaki macam itu jarang ada."
"Ada kok. Laki di sekitar lo aja yang doyan gituan semua. Nyosor," ejek Anya sambil tertawa.
"Eh gila mantan lo byy. Si Aric, dia DM gue di i********: maki-maki gue, katanya gue buat lo terjerumus."
"Maksudnya apaan?"
"Nggak ngerti nggak gue bales DM-nya. Paling juga dia liat story gue yang ada lo sama Evan. Tau kan kalo sepasang kekasih liburan bareng, jarang juga nggak ngapa-ngapain."
"Bukan urusan dia lagi."
"Iyawhh."
Minggu sore mereka telah kembali ke kos dan membagi-bagi oleh-oleh ke penghuni kos yang berjumlah 10 orang selain mereka berdua.
"Gilak gue nggak keluar duit sepeserpun semua ditanggung Evan. Thanks God telah mempertemukan Evan dengan Anya." Olga tak henti-hentinya mengoceh.
"Olga, gue pusing tau berisik."
Olga tertawa.
***