Tiga bulan berlalu, gangguan dari Aric semakin berkurang. Hubungan Anya dan Evan juga semakin dekat. Mereka berkencan di malam minggu, Evan menelepon hampir setiap malam dan menjemput Anya dari kampus saat ada waktu luang. Perasaan Anya telah bergetar untuk Evan.
"Lo udah ciuman sama Evan?" tanya Olga saat mereka makan ramen untuk makan malam. Anya terbatuk, panas dan pedas mi ramen terasa di hidungnya. Dia buru-buru minum air putih.
"Byyyy, ngagetin tauk!"
"Masa tiga bulan belum ada perkembangan sih."
"Kami cuma pacar pura-pura."
"Sama aja kaya TTM, teman tapi meluk, teman tapi mencium, teman tapi ML," ejek Olga. "Nanti dia bosan tuh."
"Kalau bosan berarti bukan jodoh."
"Azzzz ... Trus lo bener nggak ada perasaan?"
Anya terdiam, "Waktu lo jalan sama Aric, gue juga tanya gimana perasaan lo ke dia, katanya lo cinta. Tapi, itu lebih karena lo kasian kan liat si Aric mepetin terus. Masa iya gitu lagi sama Evan?"
"Lo pasti nggak mau ngerasa salah karena terlalu cepat move on kan? Persetan lah sama omongan orang yang penting perasaan lo gimana." Olga melanjutkan.
"Kayaknya suka sih."
"Tuh kan? Gue liat-liat cara lo ngomongin dia juga beda waktu ngomongin Aric. Bukan berarti lo nggak setia ... tapiii ... memang cinta itu ada kadarnya masing-masing. Udah sih seriusin aja sama Evan. Lagian masih muda ini apa sih yang bisa terjadi paling kebobolan."
"Aishh vulgar banget sih."
Olga tertawa. "Noh Evan datang tuh," sahut Olga saat melihat BMW Evan masuk ke parkiran kos mereka. Evan masuk dan tersenyum melihat mereka sedang makan ramen.
"Gaya anak kos sekali," sapa Evan.
"Ujung bulan. Duduk, Van," sahut Olga.
"Mau dong," kata Evan. Canggung ... Anya melilitkan mie di garpu dan menyuapi Evan, mukanya langsung merona. "Thanks gorgeous."
"Kalian mau ke mana?" tanya Olga.
"Nongkrong. Mau ikut?" kata Evan.
"Jadi obat nyamuk? Ogah."
"Ya nggaklah," kata Evan. "Mau ke apartemenku?" Evan bertanya pada Anya.
Anya tertegun. Evan mengajak ke apartemen, mau apa coba? Tapi Anya mengiakan.
"Ehem mau ngapain?" goda Olga.
"Hush Olga nyaut aja," kata Anya.
"Mau masak-masak." Evan berkata sambil tertawa.
Evan telah meminjam apartemen Ricco sore itu, lagipula memang apartemen Ricco menjadi tempat kedua Evan. Salah satu kamarnya bahkan menjadi kamar Evan.
Mereka menuju ke apartemen Ricco di pusat kota, apartemen yang pasti cukup mahal.
"Berdua sama Ricco jadi patungan," sahut Evan. Apartemen itu memiliki tiga kamar bergaya modern, lebih luas dan mewah ketimbang apartemen Aric yang pernah dia masuki.
"Ricco ke mana?"
"Pacaran," sahut Evan. Mulut Anya membulat. Evan memberikan gelas minuman ke Anya.
"Evan," panggil Anya pelan. Dia mendadak canggung. "Nggak terasa udah tiga bulan pacaran pura-puranya." Evan menatapnya, uh pandangan Evan membuatnya belingsatan.
"Mmphh..." Anya bingung bagaimana mengatakannya.
"Apa kamu sudah jatuh cinta sama aku?" tanya Evan seperti tahu pikiran Anya.
"Kau aku jawab 'mungkin' kamu marah?"
"Ya nggak, itu berarti kemajuan besar." Evan menarik Anya ke pelukannya. d**a Evan yang kerap mencuri perhatian Anya terasa keras, liat dan bidang, sepertinya Evan rajin berolah raga. Tubuhnya juga atletis.
"Jadi sekarang kita pacaran beneran?" tanya Evan.
"Mmpphh ...iya," jawab Anya.
"I love you," bisik Evan sambil mengecup pipi Anya. "Kalau nggak mau jawab nggak apa." Evan tersenyum.
***
"Apa Evan gay?" Lagi-lagi Olga membuat pernyataan yang mengagetkan. Kenapa sih dia seenaknya menganalisis hubungan orang?
"Nggak mungkinlah," sahut Anya kesal.
"Empat bulan bertahan tanpa ciuman? Lelaki apa itu?"
"Itu karena dia baik, penyayang." Anya membela.
"Lelaki sebaik apapun akan berubah liar di ranjang. Aku sudah pengalaman," kata Olga. "Jumat ini tanggalan merah, berarti kita libur tiga hari. Pengen jalan-jalan tapi lagi kering." Olga merengek. "Si Deron juga payah, susah punya pacar sesama mahasiswa nggak bisa diandelin."
Ponsel Anya berdering, Evan? Tumben nggak Voice Call. Anya mengangguk-angguk kemudian menutupnya.
"Mau ke Bali?" tanya Anya.
"Meaning?" sahut Olga.
"Kata Evan weekend ini dia sama Ricco mau ke Bali terus dia ajak aku karena Ricco mau ajak pacarnya. Trus dia bilang ajak kamu dan Deron."
"Serius? Gue bokek berat nih."
"Semuanya dibayarin Evan. Tinggal bawa badan ajah. Mau nggak? Kalo nggak mau gue tinggal bilang nih."
"Stop ... stop ... of course maulaahhh ... Gila ini mah rezeki nomplok. Thank youuu, byyy. Uncchhh Evan banyak duit." Olga menciumi Anya.
"Ihhh apaan sih, sana ajak Deron."
"Udah pasti maulah kalo gue yang paksa. Wait ...." Olga mengerling nakal. "Tampaknya ini saatnya. Kita haruz shopping."
"Shopping?"
"Iya donk. Beli lingerie dan gaun yang super sexy."
"Kenapa di otak lo isinya m***m trus sih, by?"
"Pikirkan. Seorang lelaki ngajak pacarnya, temen pacarnya dan pacar temen pacarnya untuk berlibur perlu modal yang nggak dikit. Buat apa?"
"Udah ah Evan nggak gitu."
"Ah pokoknya I don't care. Keluarkan simpenan buat beli yang gue suruh." Olga menarik tangan Anya.
°°°
Olga memilihkan lingerie yang sexy dan menjejalkannya ke koper Anya. Juga berapa dalaman baru berenda dan transparan.
Nggak bakalan dipakai, rutuk Anya.
Evan menjemput mereka, Ricco sudah duluan katanya. Olga itu selebgram dia sudah punya puluhan ribu viewer di i********: tapi belakangan belum ada endorse lagi. Olga live saat mereka di bandara dan Anya mengabaikannya. Deron seperti kerbau di cocok hidungnya mengikuti Olga ke mana-mana.
Mereka mengambil penerbangan siang dengan garuda business class. Lagi-lagi si Olga pamer ke followers-nya, Anya meminta maaf atas kelakuan Olga tapi Evan malah menganggap hal itu lucu.
Karena perbedaan waktu satu jam rombongan Anya sampai di hotel hampir magrib. Evan check in di salah satu hotel di daerah seminyak. Olga masih live dan Deron menjaganya agar tidak menabrak.
Mereka bertemu Ricco di lobby, dia merangkul wanita cantik dan sexy. Mereka berkenalan, nama wanita itu Clara. Kata Evan dia ambil tiga kamar. Ricco dan pacarnya, cukup tahu sama tahu saja. Anya dan Olga, Deron nanti bersama Evan. Ricco nyeletuk nanti kalo mau boleh tukeran, seketika wajah Anya panas.
Anya dan Olga meletakkan kopernya di suite itu. Olga masih live di medsos berkeling menunjukkan kamar yang luas dengan pemandangan indah itu. Kamar itu padahal memiliki king size bed dan twin bed. Juga ruang tamu harusnya mereka berempat bisa sekamar saja untuk penghematan. Buang-buang uang saja sih, Evan.
"Byy cepetan mandi, kita udah ditungguin di bawah." Ternyata para lelaki telah menunggu di lobby sementara mereka masih membereskan pakaian. Anya mengenakan dress di atas lutut berwarna putih bagian atas lace transparan dan bagian bawah silk organza.
"Woww very cutee," kata Olga.
"Cute? Not sexy like you?" keluh Anya.
"No by, lo nggak boleh terlihat sexy. Bisa ngences semua lelaki di bawah sana nanti," kata Olga. Olga sendiri mengenakan off shoulder dress berwarna hitam ber-glitter dengan belahan di paha. Seperti model penampilan Olga, tidak terlihat anak kuliahan.
Mereka turun ke bawah. Evan menatapnya lama, Anya sampai deg-degan.
"Liat tuh, gitu doank cowok lo dah melotot gimana kalo pake baju ini," bisik Olga.
"Cantik," puji Evan.
"Makasih." Anya tersipu.
Ricco menenteng pacarnya dengan dandanan super sexy dan mini. Mereka dinner di restoran Prancis yang berkelas. Olga terus mengabadikan semua hal, untunglah Evan dan Ricco tidak terganggu oleh itu semua.
"Kamu nggak mau foto juga untuk update i********: kamu?" tanya Evan. "Sudah bilang mama kan?" Evan memanggil mama Anya dengan panggilan mama. Evan sudah tahu kalau mama seorang single parent.
"Bilang pergi sama Olga," kata Anya. "Nanti saja minta foto-fotonya sama dia, sekarang menikmati dulu."
Evan membelai rambut Anya. Dia memotongkan steak Anya, Clara pacar Ricco merengek meminta Ricco melakukan hal yang sama.
"Mama bilang apa?"
"Having fun. Mama kan tau aku kerja part time terus, malah dikirimin uang tambahan buat beli oleh-oleh dan jajan."
Evan memakan potongan steak dari piring Anya.
Mereka pulang sudah sangat larut. Anya mengganti pakaian dengan piyama tidurnya.
"By, kalau kamu mau bobok bareng Deron gue pindah ke seberang," kata Anya. Kamar dengan bed twin yang berada di seberang maksud Anya.
"No problem dear, masih ada dua malam lagi," kata Olga masih sibuk dengan smartphone-nya. Olga membuat grup khusus liburan untuk share foto-foto.
"Oh good! Byy laki lo nggak gay." Olga terpekik.
"Apa sihhh?" sahut Anya malas.
"Gue udah suruh Deron mondar mandir di depan Evan cuma pake boxer. Tapi Evan nggak bereaksi."
"Ya ampunn. Sesuka lo deh."
Olga meloncat ke tempat tidur, "Prepare your self for tomorrow, bunny bee." Olga mengerling nakal. Anya mengabaikannya dan mendengar ponselnya berbunyi.
"Good night, love." Pesan singkat dari Evan.
"Night too," balas Anya. Dia ingin menjawab love you too, tapi masih terlalu malu.
°°°
Evan memandangi foto-foto di grup yang dibuat Olga. Baru kali ini dia melihat Anya mengenakan dress seperti itu, sangat cantik. Dia sampai tidak bisa tidur memikirkannya. Evan tidur di salah satu bed twin karena Deron telah menguasai king bed.
Evan men-save foto-foto Anya di folder khusus. Evan tidak mau terburu-buru, dia ingin menjalani semua dengan perlahan yang terpenting membuat Anya mencintai dia dan tak bisa lepas lagi. Setelah itu semua akan mudah, karena tampaknya semakin hari Evan semakin menyukai gadis itu.
"Bang Evan, aku tidur duluan," jerit Deron dari kamar sebelah. Anya dan Olga saja tidak memanggilnya dengan embel-embel bang karena Evan meminta mereka begitu. Tapi Deron tidak mau, katanya sungkan karena Evan lebih tua darinya. Dari gelagat Deron dan Olga, Evan bisa tau kalau mereka telah jauh berhubungan. Evan jadi penasaran apa Anya masih 'Virgin' seperti anggapannya. Tapi apapun itu, Evan tak akan peduli.
***