Satu bulan telah berlalu sejak Evan memisahkan Anya dan Kekasihnya. Sambil berharap Anya tidak akan memaafkan dan memberi kekasihnya kesempatan kedua, agar dia bisa menyeruak masuk ke dalam hati gadis itu. Evan terduduk di sebuah night club yang ramai sambil menenggak minuman keras langsung dari botolnya. Di depannya, Ricco tengah memangku seorang wanita dan menggerayanginya. Wanita yang berbeda dari yang dicumbui di swimming pool rumah Evan.
Sexy ladies dengan highheels dan pakaian mini meliuk-liuk di atas meja membuat manusia berjenis kelamin lelaki melotot. Pukul satu dini hari, mata Evan tidak mengantuk padahal dia harus ke kantor besok. Ricco sendiri hanya berbisnis property dan mobil mewah dia tak perlu ngantor seperti Evan. Orang tua Ricco tak memaksanya untuk harus bekerja karena harta keluarga Ricco mungkin tidak habis sepuluh turunan. Status Evan saat ini adalah manager marketing di perusahaan offshore bonafit, tak ada yang tau bahwa perusahaan itu milik kakeknya. Ayah Evan mengurusi perusahaan di luar negeri dan paman Evan, adik papanya yang mengurusi perusahaan di Indonesia.
Evan adalah cucu kesayangan kakeknya, maklum Evan anak tunggal dari putra tertua. Sedangkan adik papanya memiliki 3 orang anak, 2 perempuan dan 1 laki-laki yang semuanya bekerja di luar negeri. Evan sendiri tidak mau ikut perusahaan yang dipegang ayahnya karena sesekali mama mengunjunginya.
Setelah bercerai, mama menjalani kehidupan orang biasa bekerja mengurus rumah makan mungil di Malang, kampung halaman mamanya. Evan membenci papanya yang sering sekali berselingkuh, Evan selalu mengirimi mama uang dan meminta mama tinggal bersamanya tetapi mamanya menolak. Uang Evan sedikitpun tidak pernah disentuh, walaupun uang itu hasil kerja keras Evan. Jadi kalau Evan di luar negeri mana sanggup mama membeli tiket untuk sering-sering mengunjungi dia.
Ricco meng-kode Evan, tampaknya dia akan segera ngamar dengan pacar terbarunya itu. Evan menelepon supirnya karena dia telah minum, Evan tidak pernah mau mengemudi setelah minum padahal dia tidak pernah sampai mabuk.
Evan meminta supir untuk melewati kos Anya. Reaksi itu, apakah hanya sekali atau memang Anyalah penyembuhnya. Jantung Evan berdetak, dia memang tertarik pada Anya sejak bicara soal kopi pahit di meja barista.
°°°
Aric telah kembali dari tournament, hari-hari Anya kembali terganggu. Di kantin, Aric selalu mengusiknya, menempel kembali terus menerus. Dia tidak peduli harga dirinya sudah jatuh di mata yang lain karena terlalu menghiba pada Anya.
Anya menepis tangan Aric tapi tenaga Aric lebih kuat, "Anya, please, aku cinta banget sama kamu. Lebih baik aku mati saja kalau kamu tinggalkan," rengek Aric.
"Ya mati saja sana!" kata Anya ketus. Sebuah BMW hitam seri terbaru menghampiri mereka, sesosok pria muncul dan memisahkan Anya dan Aric.
"Anj*ng!" Aric memaki.
"Evan." Anya tak kalah kaget melihat Evan muncul di kampusnya.
"Jangan ganggu dia," kata Evan pada Aric.
"Apa urusannya dengan lo, ha?!" teriak Aric kalap.
"Jelas ada, dia pacarku." Evan menarik Anya masuk ke mobil, sementara Aric memaki dan bersumpah serapah, tidak percaya dengan yang dia dengar.
Anya menghela nafas.
"Maaf." Mereka mengucapkan bersama. Terdiam lalu tertawa.
"Apa dia pacarmu?" tanya Evan berpura-pura.
"Mantan. Dia berselingkuh." Anya menjawab kesal.
"Aduh. Bagaimana gadis secantik ini bisa diselingkuhin?"
"Iya kan," kata Anya tertawa lagi.
"Soal tadi, gimana?" tanya Evan cepat.
"Apa?"
"Jadi pacarku?" Anya tertegun mendengar kata-kata Evan. "Aku serius loh."
"Maaf ... baru sebulan aku putus, tidak bisa secepat itu," keluh Anya.
"Pura-pura saja, gimana kalau dia menganggumu terus?"
Anya merasa tawaran itu cukup menarik. Tapi pura-pura?
"Ya nggak enak di kamu."
"Aku tertarik sama kamu. Jadi pelarian juga nggak masalah." Evan tersenyum menggoda. Anya terdiam.
"Pura-pura saja, saat kamu beneran jatuh cinta ke aku, baru kita putuskan selanjutnya. Gimana?"
"Kamu serius? Tapi aku ...."
"Apa kamu mau balikan ke mantan kamu itu?"
"Jelas enggak!" sahut Anya cepat.
Evan tertawa. "Makan dulu yuk."
Anya belum menjawab tapi memang perutnya sudah keroncongan. Evan berhenti di sebuah restaurant, yang sejak buka Anya dan Olga berencana datang ke sana tapi belum sempat.
"Tempat ini harus reservasi dulu," kata Anya.
"Sudah tuh," sahut Evan. Anya tersandung kakinya sendiri saat memasuki restaurant, hidungnya menabrak punggung Evan. Wangi mmphh ....
"Mata kaki kamu perlu pakai kacamata." Evan menggoda. Memalukan, sudah dua kali Anya tersandung sendiri di depan Evan. Pacaran dengan Evan tampaknya menyenangkan, tapi baru sebulan sejak dia putus, mana bisa secepat itu perasaannya berubah. Sementara kalau Evan memang bersedia, boleh juga tawaran itu, supaya Aric tak lagi mengganggunya.
Anya memperhatikan ke sekeliling. Memang restaurant yang bagus sekali, meja dan kursinya serba putih apalagi masih baru.
"Suka?" tanya Evan. Anya mengangguk. "Pesan apapun yang kamu suka." Evan melanjutkan.
Makan siang itu berlangsung cukup singkat, Evan mengajak Anya nonton. Anya heran dan bertanya apa Evan tidak kembali ke kantor? Evan berkata sekenanya bahwa dia sedang tugas lapangan. Anya mengangguk. Dia sudah lama ingin berjalan-jalan keluar, sejak putus dari Aric, kegiatannya hanya seputar kampus dan kos.
Evan mengantarkan Anya sampai ke kos. Tapi, Evan segera pergi karena ada urusan pekerjaan kata dia. Olga menghadangnya cepat.
"Apa?"
"Kenapa Evan nganterin?"
"Tadi dia ke kampus." Olga mengikuti Anya ke kamarnya.
"Ciee ...."
Wajah Anya bersemu, "Dia minta gue jadi pacarnya."
"Unch terus terus jawab apa?"
"Enggaklah, baru juga sebulan putus."
"Astagaaa! Ih gimana sih."
"Tapi dia bilang, pura-pura nggak apa, biar nggak digangguin Aric lagi. Pura-pura sampe gue jatuh cinta sama dia."
"OMG!" Olga memeluk Anya. "Meltinggg!!" Olga memakai piyama tidur dan sedikit tersingkap saat memeluk Anya tadi. Olga memakai lingerie di dalam.
"Kenapa penampilan gitu?"
"Psstt ada Deron di kamar. Ntar malem mau enak-enak," kata Olga.
"Awas gue laporin tante loh. Gimana kalau tau anaknya ngurung laki-laki di kamar."
"Jangan dong, byyyy, gue doain lo cepet-cepet move on dari si Aric dan jatuh kepelukan hot guy Evan. Uh kalo gue yang jadi ceweknya udah gue garap tiap hari laki se-sexy Evan."
"Gimana kalo Deron dengar?" kata Anya galak.
"Oh iya." Olga tertawa lagi.
Anya meninggalkan Olga, Anya menulisi buku catatannya. Dia suka menulis puisi terutama saat hatinya sedih. Olga waktu SMA pernah menyukai seorang laki-laki, mahasiswa yang lebih tua beberapa tahun dari mereka. Kepadanya juga Olga menyerahkan diri untuk pertama kali. Tetapi mereka putus karena ayah Olga menampar dan menghinanya. Olga menangis lama, tapi sejak saat itu Olga tidak pernah menangis lagi karena laki-laki. Yang ada, sekarang Olga berkata dia hanya memerlukan laki-laki untuk pelepasan. Deron termasuk sedikit cukup lama bertahan.
Beberapa kali penghuni kos membawa pacar mereka menginap, sama-sama paham saja dan tanggung dosa masing-masing. Tapi Olga baru kali ini, sepertinya Deron sedikit berbeda. Kamar Olga berada tepat di samping Kamar Anya. Di kos mereka kamar menempel dua-dua. Jadi apapun aktivitas di dalam ruangan hanya terdengar jelas dari kamar yang di sampingnya dan tidak terlu kentara ke kamar lain. Anya mulai mendengar bunyi aneh.
Anya mengecek w******p, pesan kemarahan dari nomor baru, marah karena bertanya tentang lelaki lain, kemudian langsung meminta maaf. Ini pasti si Aric. Anya memeriksa contact Evan dan statusnya online. Iseng Anya melakukan video call tapi buru-buru mematikannya. Selang beberapa saat Evan mem-video call-nya balik. Anya mengangkatnya.
Terlihat wajah lelaki tampan di layar handphone-nya. Dilihat berkali-kali, dia memang super ganteng. Evan menyisir rambut dengan tangan dan melambai. Di mana dia? Sepertinya di rumah. Anya bertopang dagu. Suara di sebelah terdengar semakin keras, Anya mengetok-ngetok dinding, mengingatkan. Benar- bener deh, Olga!
°°°
Evan sedang berada di apartement Ricco saat melihat misscall dari Anya. Dia buru-buru menelepon balik. Melihat wajah perempuan cantik sedang terbaring di atas bantal, sangat intim tampaknya. Sepertinya ada kemajuan atas usaha Evan yang tadi menyambangi Anya ke kampus. Bukan kebetulan, Evan memang tahu Aric masih mengganggu Anya dan dia menunggu saat yang tepat.
Evan menutup telepon itu, Ricco bersorak. "Uhuy kemajuan."
"Dia sudah tidak bekerja part time lagi. Kelelahan mungkin."
"Bagus dong." Ricco mengeluarkan undangan private party dari laci meja. "Wanna come?"
"Buat apalagi?"
"Biasanya kayak gini bakal terapi."
"Udah ketemu obatnya."
"Yakin? Ya udah gue ajak yang lain aja." Ricco menyeringai.
"Gue pulang dulu."
Evan memasuki rumahnya yang besar dan kosong. Membuka kulkas dan mengambil softdrink. Entah, sejak bertemu Anya dia mulai malas menenggak alkohol karena ada secercah harapan dia akan bisa menjadi seorang lelaki lagi.
Evan mengambil ponselnya wajah video call Anya tadi telah di-screen shoot diam-diam. Wajah polos tanpa pertahanan di atas bantal.
"Anyaaa! I need you baby." Evan berbisik. Ternyata benar, hanya Anya yang mampu membangkitkan lagi gairahnya.
°°°
Evan memasuki ruang praktek dokter Richard.
"Ada perkembangan?"
Evan mengangguk. Dokter Richard bertanya ulang kronologis pertemuan Evan dan Anya.
"Apa kamu jatuh cinta padanya?"
"Tidak tau, dok, yang pasti aku senang berada di dekatnya."
"Menurutku, tubuhmu bereaksi karena kamu mencintai wanita itu," terang dokter Richard. "Kan sudah aku katakan masalahmu terletak pada psikologis."
Evan terdiam, memang selama ini dia belum pernah tertarik pada wanita seperti pada Anya. Ah ... gadis itu siapa yang bisa tidak tertarik padanya.
***