“Jika suatu saat ada titik di mana kamu enggak bisa lagi bertahan, kamu boleh buang cincin ini atau kembalikan lagi padaku—dan aku yang akan membuangnya. Begitu, ya, Ma?” Aku langsung mengangguk tanpa rasa ragu sedikit pun. Aku merasakan tangan Mas Gala meremas tanganku pelan, dan itu membuatku tersenyum. “Aku bener-bener akan mengusahakan untuk terus memakai cincin ini selama yang kubisa. Karena kita menikah dengan kesepakatan, tentu toleransiku jauh lebih tinggi. Ekspektasiku juga udah kuturunkan sebanyak yang kubisa. Aku enggak akan menuntut selain dua hal yang pernah kujadiin syarat mutlak. Artinya, andai aku sampai bener-bener ngembaliin, Mas Gala udah keterlaluan banget.” “Ya, aku mengerti.” “Aku enggak mau terkesan egois, Mas. Jadi, misal yang terjadi justru sebaliknya— aku biki

