“Lain kali, kalau lagi keluar berdua denganku, jangan malah fokus dengan laki-laki lain. Aku beneran enggak suka. Paham?” Senyumku lagi-lagi merekah lebar begitu ingat kalimat yang tadi Mas Gala katakan. Saking senangnya, aku sudah bolak-balik berguling di atas ranjang. “Dia cemburu-kah? Eh, tapi aku enggak boleh kepedean. Anggap aja, dia ngomong gitu biar aku menghargainya. Udah seneng, kok. Semoga lain kali memang ada maksud lebih!” Aku berguling sekali lagi, lalu berteriak tertahan. Tentu, ini masih efek euforia dilamar sungguhan dan segala perhatian Mas Gala hari ini. Sungguh dar der dor! Meski begitu, aku masih tetap menurunkan ekspektasi. Itu karena aku paham betul kalau Mas Gala sudah terlanjur berkomitmen ingin menjadi suami yang baik. Besar kemungkinan semua perhatiannya itu h

