“Dari dulu? Dulu itu kapan, Ma?” Kini mata Mas Gala sudah memicing, terlihat sekali kalau dia sedang menungguku menjawab pertanyaannya. Aku sendiri mendadak bingung. Aku betul-betul tak sadar telah keceplosan. Kalau jawaban jujur, ‘dulu’ di sini sejak aku masih awal koas. Namun, aku terlalu malu untuk mengaku. Rasanya sulit sekali menurunkan gengsiku yang terlanjur menyentuh langit. “Ma? Salma?” “Ya dari koaslah!” aku memang mengaku, tetapi aku sudah mempersiapkan alasan. “Aku merasa Mas Gala paling memihak kami semua. Awal-awal koas itu, kan, Dokter Arga masih sulit didekati dan dikit-dikit berasa mau nerkam orang. Nah, Mas Gala paling telaten ngasih arahan ini dan itu sampai Dokter Arga akhirnya terlihat lunak. Makanya, aku selalu excited kalau mau ketemu Mas Gala. Berasa ada dukunga

