Melanie dan Pemilik Klakson Motor yang Membawanya Saban Siang

3246 Kata
Aku bermimpi berada di sabana yang luas. Selain di gunung Merbabu, belum pernah kutemukan sabana senyaman ini. Hamparan karpet alam yang hijau—menyegarkan. Angin tarik-menarik mencipta tarian lembut yang membelai tubuhku. Aku terbaring di tengah-tengah—kukira di tengah, lantaran aku tak bisa mengukur seberapa luas sabana ini. Langit biru cerah hampir sempurna. Di sana hanya menyisakan awan putih tipis yang menyelimuti tubuh matahari. Sayup-sayup, aku mendengar sebuah nyanyian lirih yang memanggil namaku. Kukatakan ini sebagai nyanyian lantaran suaranya mengalun lembut dan bernada yang khas. Aku pun berdiri melempar penghilatanku ke segala arah. Tepat di sudut terjauh di salah satu arah mata angin, aku menemukannya. Seorang perempuan berambut panjang mengenakan baju terusan putih tipis, berkali-kali memanggilku. Ia merentangkan kedua tangan seperti mengajakku masuk dalam pelukan. Rambutnya tergerai seirama sentuhan angin, begitu juga baju terusan putih itu. Jangan kau tanyakan siapa perempuan ini, bahkan dengan jarak yang membentang jauh ini, aku tak bisa melihat jelas wajahnya. Samar, mataku menyipit. Ia kembali memanggilku, Wage…Wage…Wage. Senyumnya, hanya itu yang kuingat. Seperti senyuman seorang perempuan yang tak asing. Hangat dan mendamaikan. Aku bergegas melahirkan langkah, berjalan, kemudian berlari. Hingga sebuah lubang yang tertutup rumput membuatku jatuh. Merangsek ke dalam. Semakin dalam. Gelap. Aku jatuh dengan posisi berdiri, namun tak merasakan sakit. Sama sekali. Meski sepertinya aku terperosok ke dalam sumur yang dalam. Kulihat ke atas, hanya ada kerdip cahaya langit. Sial! Umpatku. Belum lama aku berpijak mantap, tiba-tiba tanah pijakanku berdiri ambruk. Aku kembali jatuh semakin dalam. Namun aneh. Aku jatuh tanpa menemukan dasar untuk berpijak atau untuk jatuh. Seperti perjalanan terjatuh ke dalam lorong yang amat dalam. Semakin dalam. Semakin mengecil kerdip cahaya di atas kepalaku. Tiba-tiba udara semakin sesak. Aku kesulitan bernapas! Sial! Tolong aku! “Anjing!!!!” aku bangun, berteriak. Kemudian mengedarkan pandang. Aku berada di kamar tamu rumah Paman Bima. Tubuhku yang bertelanjang d**a basah oleh keringat. Aku masih menata napas, sebelum akhirnya alunan instrument River Flows In You terdengar dari ponsel. “Halo, aku hanya minta 15 menit saja. Selanjutnya, bisa kau tentukan sendiri.” ucap seorang perempuan tiba-tiba. Suaranya lembut. “15 menit? Siapa ya?” “Iya, 15 menit saja. Masa lupa dengan suaraku?” ini bukan suara Astri. Apalagi Anjani. Lagi pula untuk apa aku mencipta dugaan bahwa ini suara Anjani. Suaranya jauh lebih lembut. “Salah sambung!” ketusku. “Wage! Kamu Mas Wage kan?” Aku diam kemudian. Mencoba mengenali suara ini. “10 menit saja kalau begitu. Agar kita saling memahami.” “Maaf ya Mba! Bagaimana saya memahami anda, jika dari suara saja saya tak kenal……..—sama sekali. ” aku menekankan kata sama sekali dengan ketus. Tanpa sadar, akupun menggunakan kata saya, lantaran benar-benar tak tahu suara siapa ini. “Baiklah, karena ini sangat penting juga buatmu. Sekarang kamu di mana?” “Di rumah paman, Klaten.” Aku jadi merasa bodoh sekali jika menjawab setiap pertanyaannya. Kukira ini adalah penipuan, sebelum ia menyebut namaku. “Aduuuh, itu tak penting untukku. Kamu berada di mana? Di kamar, atau ruang mana?” tanya perempuan itu lagi. “Kamar,” “Wah, pas sekali. Kita berada dalam satu ruangan yang sama.” suara itu tiba-tiba terdengar lembut dan basah. Ya, basah, suara yang diselingi dengan desahan yang samar-samar. Sial! Otakku malah mulai mencipta imajinasi. “Kau tahu, aku sedang apa?” “Tidak tahu.” mengapa dia malah bertanya, batinku kemudian. “Ayolah, katanya kau penulis kan? Coba gunakan sedikit saja imajinasimu. Aku yakin sekali, kotak khayalanmu sangat luas.” Ia berkata dengan bersungguh-sungguh dengan suara lembut yang basah. Dan hei! Dari mana dia tahu kalau aku juga menulis. “Tidak tahu!” “Oke, kalau begitu aku saja yang memberi tahu. ” ujar perempuan itu. “Aku baru saja selesai mandi setelah berenang di kolam hotel. Sekarang aku berada di atas ranjang kamar lantai tiga. Tidak memakai apapun.” Sial! Aku baru sadar ia benar-benar berbicara sambil mendesah. “Mas Wage, lemari bajuku dari tadi terbuka. Tapi aku bingung, mau pakai apa. Sebaiknya aku pakai sesuatu, atau tetap seperti ini? Sek—” “Tidak tahu! Maksud saya, terserah anda! Mau pakai apa saja. Atau tetap seperti itu seharian penuh. Itu terserah anda! Namun jika anda mengajakku untuk phone s*x, maaf, saya tak ada waktu!” “Mas Wag—” omongannya terpotong. Kututup pembicaraan konyol ini. Aku membuang ponsel ke sudut ranjang terjauh. Kemudian merebahkan diri. Menatap jarum jam. Sudah 5 menit. Kira-kira 5 menit aku melayani perempuan itu. Tiba-tiba kepalaku pening. Ponselku kembali berdering. Sial. Belum menyerah juga perempuan ini. Kemudian akupun mengambil ponsel dan mematikannya. Aku berjalan ke arah jendela. Mengambil kotak rokok yang terselip di lubang angin bagian atas. Kemudian, mengambil gelas sisa kopi semalam. Kuminum setelah kubakar dan menyesap rokok. a*u! Kecoa masuk ke mulutku. Aku langsung memuntahkannya. Aku minum banyak air putih setelahnya. Ini hari ketujuh aku di rumah Paman. Dan seperti hari-hari sebelumnya, aku ditinggalkan sendiri di rumah. Rabu siang yang menyedihkan. Sebentar lagi Melanie pulang kuliah. Dan seperti hari-hari sebelumnya, ia hanya berganti pakaian, makan siang, dan keluar setelah suara klakson motor terdengar dari depan rumah. Aku tak pernah tahu seperti apa kehidupan pagi di rumah ini. Paman adalah dosen di salah satu universitas swasta di Klaten. Sedangkan bibi adalah pengusaha biro perjalanan. Meski mereka berdua sama-sama sibuk, namun tak pernah melewatkan waktu senja hingga pagi tanpa kebersamaan. Seperti ada perjanjian yang telah disepakati oleh paman, bibi, dan Melanie. Hal inilah yang membuatku tak pernah merasa sepi. Sepi. Bisa jadi itu adalah kata yang tepat menggambarkanku saat ini. Lelaki kesepian yang dibangunkan oleh perempuan sialan. Lelaki kesepian yang hampir saja memakan bangkai kecoa. Dan sialnya, perutku keroncongan siang ini. “Ayo kita makan.” Ah sial, suara j*****m itu lagi. Meski itu sama persis dengan suaraku. Sejak tiga hari belakangan, aku sudah bisa membedakan antara suaraku dan suara bayanganku sendiri. Suaranya sedikit berat. Seperti suara yang telah ditambahkan efek bass meski sangat tipis. Tapi, lama-kelamaan aku mulai mengenal warna suaranya. “Kukira kau gagal bangun hari ini.” balasku sinis. Aku menatap matanya yang merah sambil mengikat rambut gondrongku. “Bodoh! Aku sudah bersiap merancap mendengar suara perempuan tadi.” “a*u! Bahkan meski aku tak melakukannya?” “Aku bisa memaksamu melakukannya. Seperti ketika kau menelpon Astri malam itu.” ia menyunggingkan senyum yang terlihat licik. “Aku sudah tak peduli dengan apa yang kalian bicarakan.” Belum sempat ia membalas, terdengar teriakan di dapur. Akupun lekas keluar kamar menuju ke dapur. Melanie meringis kesakitan. Tangan kanannya memegang telunjuk tangan kiri yang mengeluarkan darah. Bibirnya manyun, meniup-niup jari. Tanpa pikir panjang, aku meraih jari telunjuknya. Mengulumnya cepat-cepat. Setelah itu, mengeluarkannya dan meniup-niup sama seperti yang ia lakukan sebelumnya. Ia diam saja. Tak ada gerakan. Aku berhenti kemudian melihat wajahnya. Ah, sial, kenapa aku jadi sama bodohnya dengan dia. Sejak kapan luka di jari bakal segera sembuh dengan ditiup. Ia mematung. Kemudian menarik cepat telunjuknya dari tanganku. Melanie meringis setelah itu. Aku hanya diam dengan bibir yang masih manyun. “Kukira, kau belum pulang,” kataku memecah rasa kikuk. “Ngga ada kuliah,” ia menjawab dengan tersenyum meringis. Melanie memakai cardigan abu-abu yang membungkus kaos putih tipisnya. Celana pendek abu-abu yang hanya menutupi setengah pahanya, menjadi pemandangan yang membuatku agak canggung. Ia sedang memasak. Sejujurnya, aku lupa bahwa ia bisa memasak. Namun kulihat, ia memang tidak benar-benar memasak. Maksudku benar bahwa ia memang tidak bisa memasak. Dapur masih rapi. Beberapa potong ati-ampela, wortel, dan beberapa bumbu rempah masih berjejer belum tersentuh. Di atas talenan kayu berwarna cokelat, ada beberapa potongan cabai dan sawi yang masih utuh. Tidak jauh dari kompor, ponselnya masih menyala sebuah video tutorial memasak. Ia tersenyum melihatku menyipitkan mata melihat ponselnya. “Mau bantu?” ucapnya. Aku mengangguk, “serahkan saja padaku.” Balasku kemudian. Siang itu, kami masak berdua. Melanie sempat kaget mendapatiku ternyata bisa memasak. Katanya, penampilanku tak pantas saja kalau pegang dapur. Kami makan berdua. Ngobrol berdua. Menyeduh kopi hingga menghabiskannya dengan cerita-cerita. Hanya berdua. Hingga senja lahir dan kabar keterlambatan pulang dari bibi adalah awal dari sebuah kejadian yang akan selalu kuingat. Kukira bakal diingat juga oleh Melanie. Sebelum kuceritakan, apa yang terjadi setelahnya. Ada baiknya kuceritakan dulu padamu siapa Melanie dan soal apa yang terjadi setelah ini, sungguh ini bukanlah cerita yang penting, namun aku hanya ingin menceritakan padamu. Tentu setelah kau mengenal Melanie dan tentang pemilik klakson motor yang membawanya pergi saban siang. Melanie, 21 tahun, mahasiswa semester 3 jurusan ilmu komunikasi di kampusku. Meski kami satu kampus, aku hampir tidak pernah bertemu dengannya. Bertemu satu kali dalam sebulan saja itu sudah namanya untung. Sama halnya kisah-kisah persahabatan masa kecil lelaki-perempuan lainnya, kami bersahabat sejak kecil dan sangat akrab. Sejak kapan detailnya, tidak bisa kupastikan. Yang jelas, ketika masing-masing dari kami belum memiliki rasa malu, kami sering mandi sore bersama. Pasti akan ada perasaan canggung jika kami membahas masa-masa itu. Tapi belum tentu juga bakal canggung, bisa saja menjadi cerita lucu yang hangat untuk dikenang. Entahlah, sejak SMA atau lebih pasnya, sejak kami pisah sekolah, aku sudah jarang berbicara dengannya. Bukan karena permusuhan, namun nampaknya semakin bertambahnya usia telah mengecilkan area pertemanan setiap manusia. Melanie gadis yang cantik. Aku sudah mengakui hal itu sejak kecil. Ia memiliki senyum yang manis, ditambah memiliki sifat periang. Sejujurnya, ketika kecil dulu, aku sering canggung ketika mandi bareng dengannya. Berkali-kali aku berupaya merapal mantra apa saja agar burungku tidak nongol tegang. Ah sial! Entah seperti apa jadinya jika masa itu kembali terulang di usia sekarang. Meski cantik, Melanie kecil sedikit tomboy. Aku katakan sedikit karena ke-tomboy-annya serba tanggung. Ia berani dalam banyak hal, namun juga memiliki rasa takut untuk banyak hal pula. Misalnya begini, Melanie kecil adalah perempuan yang berani untuk hal-hal tertentu. Yang paling kentara adalah soal hantu. Ia bagaikan tak memiliki rasa takut pada hal itu. Pernah suatu ketika, kita main petak umpet di kuburan. Ide gila untuk anak-anak seumuran kami saat itu tentu saja berawal dari Melanie. Seperti sebuah tantangan, kami berlima—saat itu lelaki semua, kecuali Melanie—menerima tantangan tersebut. Petak umpet dimulai. Dan sialnya, aku menjadi orang pertama yang jaga. Lantaran tahu keempat temanku sama penakutnya denganku, aku yakin mereka tak akan jauh-jauh untuk bersembunyi. Kecuali Melanie,  kutemukan empat teman penakutku dalam waktu yang tak lama. Lantaran menyerah mencari Melanie yang bersembunyi entah di mana, aku meminta bantuan keempat temanku. Namun, hingga senja lahir, kami tak bisa menemukannya. Kukira Melanie bermain curang. Kami menduga ia pulang lebih awal. Namun naasnya, ketika sampai di rumah, bibi sudah berdiri di depan pintu rumah memasang wajah marah. Sialnya lagi, Melanie belum pulang. Itu artinya aku-lah yang kena kemarahan bagai setan dari bibi. Kami mencari ke kuburan. Namun hingga petang datang, hingga paman pulang, Melanie tak juga ditemukan. Bibi yang mulai khawatir, kemudian panik. Paman mengabarkan berita kehilangan ini ke tetangga. Hingga terbentuk satuan pencarian Melanie. Kekhawatiran bibi semakin menjadi-jadi lantaran saat itu tengah ramai berita penculikan anak untuk dijual atau diambil ginjalnya. Dan hingga hampir tengah malam, meski sudah mengobok-obok area pemakaman, Melanie tidak ditemukan. Paman melapor polisi. Aku benar-benar kena marah sekaligus dikurung rasa bersalah. Selama tiga hari, aku dan keempat temanku menjadi bulan-bulanan segala pertanyaan dari siapa pun. Mulai dari pak polisi, bibi, warga lain, hingga wartawan yang datang entah dari mana. Di hari keempat, polisi mulai mengabarkan berita-berita tak menyenangkan tentang berbagai dugaan. Meski hanya sekadar dugaan yang disampaikan ke paman—aku menguping saat pembicaar ini, namun tetap saja ini membuatku semakin takut. Hingga di sore hari ketujuh, tepat sebelum adzan Maghrib, Melanie pulang ke rumah dalam keadaan utuh. Berkaos gambar ultraman-bercelana merah bata. Ia mengaku diajak mampir sebentar ke rumah Mbah Di. Menurut cerita Melanie, rumahnya berada di belakang kompleks pemakaman, tepat sebelum jembatan. Beberapa hari kemudian, aku merinding mendengar cerita yang berkembang. Lantaran Mbah Di telah meninggal jauh sebelum kami dilahirkan. Hal ini ditambah, tidak ada rumah apalagi jembatan di daerah yang diceritakan oleh Melanie. Yang adalah adalah belukar dan pohon bambu yang menutupi jalan ke sungai yang dianggap angker. Konon, di sungai ini, dulu pernah jadi tempat pembuangan mayat-mayat para pemberontak partai terlarang di Indonesia. Keberanian Melanie sangat terkenal saat itu. Namun sayangnya kesangaran cerita itu akan pudar hilang bagai debu ketika perempuan ini bertemu dengan hewan yang bernama kecoa. Ia sangat takut pada hewan purbakala ini. Bukan takut, tapi geli, katanya. Ke-tomboy-an Melanie pun lekas terkikis seiring bertambahnya usia. Dan sialnya, kecantikannya semakin menjadi-jadi. Untuk ukuran seorang perempuan, Melanie lambat meninggikan badan. Namun sukses menyuburkan d**a dan pantatnya. Hal inilah yang menjadikan ia menjadi primadona bagi om-om dan pak dhe hidung belang. Banyak yang mengira ia perempuan bayaran sejak SMA. Meski kami sudah tidak saling berbicara, aku mendengar dari cerita Paman. Lebih tepatnya kegelisahan cerita paman. Ia khawatir mengawasi pergaulan anak semata wayangnya ini. Sungguh, jika kau melihat melihat Melanie setelah masuk SMA hingga masa perkembangannya di jenjang kuliah, kau atau siapa saja pasti menduga ia adalah perempuan panggilan. Ia seringkali mengenakan celana jins ketat, berkaos oblong—juga ketat—yang dibungkus jaket denim. Melanie selalu mengikat rambut panjangnya. Sialnya, hal ini memperlihatnya lehernya yang jenjang. Aku selalu berpikir, setiap lelaki pasti bermimpi untuk mengecup leher putih mulusnya. Hingga pada satu waktu ada sebuah kejadian yang cukup mengagetkan dan mengubah cara pandangku pada Melanie. Ia bercerita detail padaku, siang ini. Selepas kami makan bersama. Sambil menikmati secangkir kopi dan beberapa potong kue ambon, cerita itu lahir dengan hati-hati dari bibir mungilnya. Melanie membiarkan rambutnya tergerai. Ia duduk bersebelahan denganku. Dua cangkir kopi dan piring kue ambon memisahkan kami. Halaman belakang rumah Paman tidak terlalu luas, namun tidak bisa juga dikatakan sempit. Di sana ada kolam ikan dengan air mengalir dari sebuah kendi berwana cokelat kayu. Gemricik air menjadi suasana syahdu yang selalu membuatku betah berlama-lama di sini—hari-hari belakangan. Satu gazebo setinggi lutut yang terbuat dari bamboo terletah bersebelahan dengan kolam. Kami duduk di gazebo itu. Di hadapan kami, adalah rerumputan seluas empat kali enam. Ada beberapa kursi lipat dan meja terbuat dari alumunium yang juga terlipat rapi di pojok dekat pintu. Di sana hanya ada satu pohon manga yang lumayan besar. Pohon ini dikelilingi oleh taman beraneka ragam tanaman. Kurasa bibi sangat telaten merawat tanaman-tanaman ini.  “Aku telah berubah sejak kejadian mengerikan itu.” ucapnya lirih. Aku menengok ke arahnya. Sekilas, tidak ada yang berubah dari Melanie. Sebelum cerita ini lahir, bisa jadi aku tak akan pernah tahu. “Mungkin aku yang bodoh, karena menganggap semua lelaki baik seperti ayah dan Mas Wage. Atau mungkin kalian bukan lelaki sejati?” Aku mengernyitkan dahi mendengarnya. Ia menoleh padaku. Sadar, tercipta kedunguan di wajahku, ia tersenyum simpul. Kemudian berkata, “semua lelaki itu b******k ya!” Tanpa sadar aku memiringkan kepalaku. “Iya, semua lelaki itu b******k!” kemudian ia mengambil kotak rokokku. Meloloskan sebatang dan menancapkannya di sela-sela bibir. Aku membantu menyalakan korek. Ia mendekatkan bibir, rokok terbakar, dan asapnya menghambur menutupi mata Melanie yang berkaca-kaca. “Aku pernah cuti satu semester dari kuliah. Aku bercerita pada ayah, bahwa aku harus magang ke luar kota. Namun sebenarnya, selama enam bulan itu, aku lari. Aku—” omongannya terputus. Ia menghirup udara lebih dalam. Tidak lupa, rokoknya ia paksa lebih keras menghasilkan asap lebih banyak. Melanie kemudian diam lumayan lama. Seperti berusaha menyusun kalimat yang pas. “Aku harus pergi 1 semester karena lelaki b******k itu.” Aku yakin bukan hal mudah bagi seorang perempuan untuk bercerita perihal yang membuat malu dirinya. Seperti membangun istana pasir di pantai yang basah. “Aku bukan mahasiswa yang pandai apalagi cerdas. Dalam banyak hal, aku kesulitan mengikuti berbagai kuliah teori. Namun, segala nilai A yang kudapat selama 2 tahun pertama, bukanlah hasil kerja kerasku. Melainkan, kerja alamiah tubuhku. Parasku.” Aku menahan mulutku berbicara. Aku tak ingin ia kehilangan suasana hati untuk bercerita. “Hingga di semester 5 akhir, aku sadar. Ketika satu nilai belum kudapat, aku harus menggadai kehormatanku untuk seorang dosen yang kurang ajar.” Aku mengangkat alis. Tak kusangka ia pernah dijamah oleh dosen yang kubayangkan sudah tua bangka namun kelebihan s****a. “Tidak! Aku belum sampai diperkosa, namun ia sudah mencederai kehormatanku di mata umum. Lebih tepatnya, di depan teman-temanku. Ia mengataiku perempuan pesanan dosen. Gampangan dan bisa disewa kapan saja. Kau pahamkan, meski itu sebuah candaan, namun sejak saat itu, semua mata lelaki b******k itu sudah tidak menunjukkan malu-malu lagi untuk menelanjangi setiap lekuk tubuhku! Seperti, aku sudah pernah tidur dengannya saja!” Ia diam lagi. Kulihat tatap matanya menatap lurus ke depan. Namun mengisyaratkan tidak ingin melanjutkan cerita ini. “Lalu, di sore terkutuk, kuliah dosen itu berakhir mendekati maghrib. Naasnya, hanya separuh kelas yang hadir. Aku sudah curiga ada yang tidak beres sejak dosen sialan ini membuat kelas dadakan. Dan benar…” Kau diperkosa? Aku membatin seakan tak percaya. Namun memang anjing benar dosen tua bangka itu. “Aku selamat dari percobaan perkosaan sore itu. Ketika aku ditugasi mengumpulkan tugas akhir semester di ruangannya, beberapa teman laki-laki kelasku sudah di sana bersama dosen anjing itu. Aku telah masuk ruangan, tiba-tiba ada yang menutupnya. Ada lima orang. Mereka awalnya bertanya tentang tugas, dan semakin mendekat mengepungku. Ruangan dosen sudah sangat sepi, aku baru sadar itu hari Sabtu, dan seharusnya bukan hal wajar kan, seorang dosen membuat kelas di hari itu.” Melanie diam lagi, kemudian menyulut rokoknya yang mati. “Kupikir berteriak pun percuma, karena di hari itu, jangankan mahasiswa, petugas bersih-bersihpun tak ada. Salah satu dari mereka pun mulai menawarku. Yang lain membalas dengan berbagai harga. Si dosen anjing itu hanya diam saja sambil senyum-senyum. Kemudian—” “Kemudian…” tanpa terasa aku mengikuti apa yang diucapkannya. “Aku mengaku sedang menstruasi dan aku berjanji pada kelima lelaki b******k di sana sanggup tidur dengan mereka secara bergilir setelah selesai.” “Mereka percaya?” “Tentu tidak. Untung saat itu aku memakai rok. Aku nekat menunjukkannya pada mereka.” “Me—nunjukkannya?” aku tidak paham dengan kata itu. “Iya, aku menunjukkan pembalut di tasku. Dan yang lebih parahnya, aku melorotkan celana dalamku, untuk menunjukkan pada mereka.” Aku mengempaskan napas mendengarnya. Ternyata jiwa ke-tomboy-annya tidak luntur. “Sialnya, sebagai gantinya, aku harus memuaskan mereka satu-satu.” Aku tersedak, mendengarnya. Kopiku muncrat dari dalam mulut. “Tak usah kau bayangkan bagaimana prosesnya. Namun berkat kejadian itu, aku punya jaminan atas keselamatanku. Aku ini orang bodoh, jadi setiap kuliah aku merekam dengan ponsel segala yang dikatakan dosen. Dan sialnya, rekamanku belum kumatikan sampai kejadian naas itu. Aku melindungi diri dengan mengancam mereka satu-persatu. Baru kutahu, si dosen sialan itu adalah suami yang takut istri. Dasar payah!” Melanie terkekeh kemudian. Aku baru sadar, akhir-akhir ini memang Melanie tidak pernah memakai pakaian terbuka di luar rumah. Seperti perempuan yang telah hijrah, hari ini ia memilih memakai rok panjang dan membiarkan rambutnya tergerai menutupi lehernya yang mulus. “Tunggu, aku penasaran soal—” “Lelaki yang menjemputku saban siang kan?” Melanie menoleh kepadaku. Aku pun mengangguk. “Ia hanyalah tukang ojek biasa.” Ucapnya singkat, tapi menggantung. “Tukang ojek biasa?” aku mengulanginya. “Mas Wage, bukan itu perkara pentingnya. Sialnya, meski aku benci pada lelaki, setelah kejadian itu, akhir-akhir aku merasakan perasaan ganjil. Seperti, merasa nyaman yang aneh pada seseorang yang bahkan tak pernah kutemui.” “Maksudmu?” “Tukang ojek itu, hanyalah orang suruhan untuk menjemputku ke kampus. ia ingin memastikan aku aman sampai tujuan. Namun sayangnya, hingga sampai detik ini, aku tak pernah bertemu langsung dengannya.” “Dengannya? Jangan katakan kau jatuh cinta pada orang itu?” kataku sambil menyipitkan mata pada Melanie. Ia membalas hanya tersenyum. ***    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN