bc

Ziarah Kenangan

book_age18+
77
IKUTI
1K
BACA
second chance
journalists
bxg
serious
campus
multiple personality
like
intro-logo
Uraian

Pernahkah kau merasakan kematian begitu dekat denganmu. Kau bisa begitu merasakannya, sedekat nadi. Sedekat embusan napas yang masuk dan keluar begitu saja dari lubang hidung.

Bayangkanlah, di salah satu tahap kehidupanmu, seseorang yang kau bayangkan sebagai utusan-Nya datang padamu. Pada satu malam yang dingin. Malam yang sunyi tanpa suara kehidupan. Ia sekelabat mendatangimu yang terjaga. Yang barangkali sedang terbaring menatap langit-langit. Terbangun dari mimpi buruk yang tak pernah kau inginkan. Kemudian, di malam itu, sebuah embusan angin yang begitu asing menyentuh daun telingamu, mengalir, membangunkan bulu roma.

Wage (penulis, 30 tahun) pernah merasakan kematian begitu dekat dengannya. Hal ini disebabkan sebuah goncangan konflik cinta yang rumit. Orang-orang menyebutnya dengan lusan atau pernikahan anak pertama dengan anak ketiga. Akibat hancurnya hubungan Wage dengan kekasihnya—Anjani, memaksa lelaki ini untuk bertarung dengan depresi hingga keinginan bunuh diri yang amat dalam. Layaknya kupu-kupu yang telah bermetamorfosa, tahap ini juga dialami Wage. Ia melewati depresi ini dan menjadi diri yang baru. Meskipun begitu, masih ada konflik besar yang membuatnya harus kembali menziarahi kenangannya bersama mantan kekasihnya, Anjani.

chap-preview
Pratinjau gratis
Percakapan Di Tengah Bandara
Wage duduk di pojok ruang tunggu bandara Soekarno Hatta. Sambil mendengarkan alunan piano Rivers Flow in You dari ear phone, ia membuka buku panduan perjalanan. Kemeriahan Oktoberfest di Jerman telah membayang di benaknya. Orang-orang berkumpul mengenakan tracht (pakaian tradisional Bavaria), makanan yang melimpah, wahana hiburan yang tak kenal waktu, musik folk berkumandang di mana-mana, dan yang tak kalah penting adalah bir yang tumpah ruah bisa dinikmati siapa saja. Wage membayangkan akan mampir ke Kota Munchen sebelum akhirnya ia datang di Frankfurt Book Fair. Jerman yang hangat, pepohonan yang hijau, dan tumpukan buku-buku di pameran Frankfurt telah lama menjadi impiannya. Seorang perempuan berambut sebahu berkacamata berjalan ke arahnya. Ia mengenakan celana kulot warna pastel, atasan kaos panjang warna hitam. Tidak semua hal  hilang dimakan arus waktu Wage, suara itu menggema di benak Wage. Tidak ada yang berubah dari Anjani. Meski delapan tahun mereka tak berjumpa, senyum perempuan ini masih hangat dalam ingatan. “Sudah siap?” kata pertama dari Anjani. “Harus siap.” Anjani duduk tepat di sebelah kanan Wage. Perempuan ini mengeluarkan laptop dan membukanya. Mereka diam agak lama. “Jerman berbeda dengan Indonesia lho ya?” Penerbangan ke Jerman hari ini adalah kali pertama Wage ke Eropa. Selain Jepang, tidak ada negara lain yang pernah Wage datangi. Berkat rekomendasi Anjani, Wage mendapatkan tiket gratis ke Frankurt Book Fair. “Jerman berbeda dengan Indonesia lho ya?” Anjani mengulang perkataannya. Ia memandang Wage sambil menyipitkan mata. Percakapan yang hambar sebenarnya. Beberapa kali Wage memperbaiki posisi duduk. “Iya, paham. Segala yang kau masukan dalam list, sudah aku bawa.” balas Wage. Anjani kembali memandang layar laptop. Wage mengeluarkan buku Norwegian Wood edisi sampul abu-abu dengan ilustrasi seorang perempuan, pohon dengan guguran kupu-kupu, dan bulan yang merah dari ranselnya. “Kau masih menyimpannya?” perempuan ini berkata sambil memandang layar laptop. “Aku bahkan sudah hapal setiap adegan, setiap percakapan, hingga tak ada satu kata yang luput dari ingatanku.” “Kau terlalu berlebihan.” “Tidak semua hal hilang dalam arus waktu, kan?” Anjani menoleh ke arah Wage. Keduanya saling tatap dalam diam yang lumayan lama. Keramaian pengunjung bandara, suara pesawat yang datang dan pergi menjadi waktu yang beku saat itu. Ada sengatan ingatan yang tiba-tiba menjalar di salah satu bilik kepala Anjani. Mereka adalah sepasang kekasih delapan tahun lalu. Keduanya bisa dikatakan mahasiswa yang susah bergaul. Wage adalah mahasiswa penyendiri yang dikenal sebagai kutu buku. Ia selalu memimpikan mempunyai teman yang banyak, pergaulan yang harmonis, dan yang utama adalah teman ngobrol yang tepat. Berbeda dengan Anjani, meski ia seharusnya tidak kesulitan memilih teman, perempuan ini cenderung banyak pertimbangan dalam memilih siapa-siapa saja yang ia ajak berteman. Bukan perkara sombong, namun Anjani memiliki kepekaan hati yang luar biasa tinggi. Popularitasnya di kalangan mahasiswa membuatnya kesulitan mencari teman yang benar-benar tulus pada Anjani. Mereka berkuliah di UNS. Keadaan solo yang tenang adalah pertimbangan utama dari Wage. Sedangkan Anjani adalah perempuan asli Solo. Konon, di tubuh perempuan ini masih mengalir darah bangsawan. Namun percayalah, tidak sedikitpun ada kebanggaan di d**a Anjani. Ia bahkan menyebutnya sebagai pembawa sial. Selain karena terlalu banyak aturan di keluarganya, perkara soal inilah yang menjadi cikal bakal putusnya hubungan Anjani dengan Wage. “Kau masih sama saja.” Anjani tersenyum kecut. Ia memalingkan wajahnya kembali ke layar laptop. Wage terpaku menatap Anjani dari samping. Ia meneliti setiap jengkal wajah perempuan ini. Memang benar, tidak semua akan hilang, batinnya. Wage melirik ke layar laptop ketika Anjani menutup email. Terlihat foto Anjani dengan kedua anaknya. “Sebuah momen yang indah kan?” tanpa sadar pertanyaan itu lahir dari mulut Wage. Anjani menatap Wage dengan tajam. Dahinya berkerut. “Maksudku, foto yang indah,” ucap Wage berusaha meralat. Anjani tersenyum setelahnya. Pukul 13.00 di bandara Soekarno Hatta, sebuah pengumuman berkumandang. Pesawat yang membawa Anjani dan Wage ke Munchen mengalami penundaan penerbangan. Itu artinya mereka harus menunggu sampai pengumuman berikutnya. Entah berapa lama. “Sangat menyebalkan,” Anjani mendengus. “Iya.” “Bagaimana denganmu?” “Aku?” “Iya, apakah kau sudah menjalin hubungan?” Kini giliran Wage yang mendengus lumayan kencang. “Ini terlalu rumit.” “Maaf, aku tidak bermak…” “Oh tidak masalah, kita tahu ini bukan salahmu.” Mendengar hal itu, kembali membuat Anjani mengerutkan dahi. Tatap matanya tetap tajam meski dalam bungkus kaca mata. “Apa kau sudah berhenti merokok?” Wage menyambung. Anjani membalas dengan menggelengkan kepala. “Sepertinya kita membutuhkan sedikit kopi untuk menunggu penundaan terbang ini.” ucapan Wage ini lekas membuat Anjani menutup laptop kemudian memasukkan ke dalam ransel. Mereka berjalan beriringan menerobos ruang tunggu bandara yang ramai. Hiruk pikuk di bandara menciptakan ruang sunyi di d**a masing-masing. Seperti dendam kesumat yang tak terbalaskan, ada satu hal yang mengganjal di d**a mereka. Mereka paham, namun tak ada yang berani memulai pembicaraan perihal itu. *** Seperti rintik hujan yang jatuh ke bumi, begitulah waktu berjalan. Ia jatuh dalam arus yang lurus dan tidak berbalik. Kemudian meresap ke tanah, menciptakan kisah-kisah. Air rintik hujan tidak akan berhenti di tanah begitu saja. Ia akan mengalir ke sungai, laut, atau telaga yang asing. Ia mengalir seperti rentang kisah yang terus berlanjut. Seperti lorong kereta api yang gelap, waktu begitu misterius untuk diterka. Namun bagi Wage dan Anjani, ia merasakan waktu berhenti mengalir. Seperti bau tanah kering yang tertimpa hujan, ingatan itu menyeruak, menciptakan sengatan kisah lama. Wage yang kini berada di hadapan Anjani sebenarnya bukanlah lelaki yang ia kenal dulu. Terjangan perpisahan di antara mereka menciptakan sebuah lubang kehilangan yang amat besar di hati Wage. Bertahun-tahun yang lalu, berkali-kali ia mempertimbangkan diri untuk menyeberang jembatan kematian. Sebuah luka laten yang tidak bisa disembuhkan. Hingga detik ini, bisa jadi Wage menahan luka itu. Melumatnya masuk ke dalam palung hati terdalam. Karena hanya dengan cara inilah, Wage mampu untuk duduk berseberang meja dengan mantan kekasihnya. “Jadi, sejak kapan kau punya kantor cabang di Frankurt?” “Bukan kantor cabang, tepatnya mitra.” Meski Anjani lulusan kedokteran, ia lebih tertarik mengembangkan bisnis biro perjalanan. Hal ini sempat membuat orang tuanya meradang. Kemampuan manajemen dan pengelolaan keuangan menjadi modal Anjani sejak kecil. Satu hal penting yang Wage pelajari ketika mereka menjalin hubungan dulu. “Sayangnya aku tak bisa menemanimu sampai selesai di Frankfurt nanti. Aku harus pulang dulu. Tapi aku sudah pastikan kau akan terjamin di sana.” “Tidak masalah,” “Ingat ya, jangan meremehkan hal-hal kecil. Barang bawaanmu utamanya. Semoga penyakit pelupamu sudah sembuh.” di kafe ini percakapan mereka lebih cair dari sebelumnya. Mereka menikmati kopi masing-masing. Wage memesan secangkir kopi hitam, sedangkan Anjani masih dengan secangkir Cappucino. Untuk yang satu ini juga tak berubah. Selepas mereka menyulut rokok masing-masing, Wage menanyakan perihal yang begitu sensitif bagi Anjani. “Suamimu apa kabar? Kudengar, ia semakin cemerlang karirnya.” Seketika Anjani bungkam. Kemudian mendengus kencang. “Oh maaf, aku tidak bermaksud…” Wage memotong, sebelum perempuan di hadapannya berbicara. “Oh tidak apa-apa, kau tak patut disalahkan lantaran pertanyaan bodohmu itu.” “Kau pasti tahu, kau tak harus menjawab pertanyaanku.” “Aku sudah berpisah dengan lelaki b******k itu.” Anjani berbicara sambil mengempaskan asap rokok. “Aku sempat berhenti merokok ketika kami menikah. Berhenti minum kopi. Tidak pernah begadang. Tidak pernah pergi ke luar kota. Tidak pernah… Ah… kukira memang benar, pernikahan hanya membuat seorang perempuan menjadi b***k rumah tangga.” Anjani diam sebentar. Ia menyulut kembali batang rokok selanjutnya. “Maaf, kau tak harusss…” “Ssttttsssttt… berhentilah memotong ceritaku Wage.” mendengar hal ini, Wage diam seketika. “Jika bukan karena rasa cintaku pada Kavita, tentu lelaki itu sudah kutinggalkan sejak aku hamil muda yang pertama.” Anjani membuang muka ke samping. Matanya menerawang keramaian kafe bandara. “Berjanjilah padaku Wage, jika kau menikah nanti, jangan kau perlakukan istrimu seperti ini.” Seperti ini? Batin Wage bertanya maksud Anjani. Namun ia memilih diam. Menunggu giliran. “Aku dibenci oleh suamiku sejak malam pertama kami. Kau tahu sebabnya apa?” Anjani kembali menatap Wage tajam. Wage mengenggeleng kepalanya pelan. “Ayolah, bukankah kau seorang penulis? Gunakan sedikit imajinasi liarmu…” kali ini ada nada mengejek keluar dari mulut Anjani. “Kau tidak bisa memuaskan suamimu?” Wage berkata dengan berhati-hati. “Imajinasimu terlalu menghinaku.” Wage kembali mengangkat bahu dengan ragu. Kemudian, Anjani mengangkat badannya, menyeberang meja. Ia berusaha berbisik pada Wage: Ia tahu, kalau aku sudah tidak perawan lagi. Mendengar hal itu, Wage mendelik, alisnya terangkat, dan dahinya berkerut. Ketika Anjani kembali duduk di posisi semula, Wage masih menatap perempuan ini lekat-lekat. Tanpa sadar ia memiringkan kepalanya. Oktober yang basah, di bandara Soekarno Hatta. Dua orang, laki-laki dan perempuan patah hati bertemu dan akan melakukan perjalanan ke Jerman. Celakanya, mereka adalah mantan kekasih. Keberangkatan mereka ini adalah rencana matang dari bulan sebelumnya. Wage seorang penulis dengan karir yang sedang cemerlang, baru saja patah hati oleh sebab yang belum diketahui. Sedangkan Anjani, direktur salah satu biro perjalanan besar di Indonesia adalah yang merencanakan keberangkatan ini. Berita buruknya, perempuan ini memiliki dendam kesumat pada mantan suaminya. Dan sekali lagi, berita baiknya, mereka bertemu dalam keadaan yang sama. Sepasang mantan kekasih yang telah kehilangan dan sedang menyusun percakapan di tengah bandara yang ramai. Mereka sepakat akan melakukan perjalanan ke Frankurt, Jerman. Ketika gerimis kian tajam menusuk-nusukkan kakinya pada bumi, kedua orang ini sedang menimbang kabar pesawat mereka yang belum juga tiba. Namun nampaknya gemuruh di hati masing-masing  lebih riuh dari pada keramaian bandara saat itu. *** 

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Everything

read
283.6K
bc

FINDING THE ONE

read
34.7K
bc

The Naughty Girl

read
101.3K
bc

Billionaire's Baby

read
285.9K
bc

DIA UNTUK KAMU

read
39.9K
bc

Love Match

read
180.3K
bc

Sacred Lotus [Indonesia]

read
54.0K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook