Anjani tidak akan mengira, keriuhan bandara sore itu telah menjadi aliran waktu yang beku bagi Wage. Seperti rintik hujan yang jatuh dari langit, kemudian diam dalam waktu yang relatif lama. Wage merasakan menjadi salah satu rintik yang gagal jatuh. Tubuhnya diam dalam kehampaan udara. Delapan tahun bukan waktu yang sebentar. Namun belum cukup bagi Wage untuk menimbun lubang menganga di dadanya.
Anjani tidak akan mengira, bagaimana keriuhan gederang perang di d**a Wage beberapa saat sebelum mereka bertemu di bandara. Seperti perang yang ditakdirkan tanpa memunculkan akhir dan pemenang. Wage mati-matian mempersiapkan pertemuan ini. Mempersiapkan menata diri mulai dari penampilan hingga kata pertama yang akan ia ucapkan pada mantan kekasihnya.
Di sebuah hotel sebelum datang ke bandara, ia berkali-kali berhadapan dengan bayangannya di cermin. Merasakan waktu yang akan segera mengarus balik bahkan membeku dalam dirinya. Ia melihat lelaki gondrong kurus delapan tahun silam. Wage melihat lelaki itu telah mempersiapkan diri untuk menyeberang jembatan hidup dan mati.
“Tidak semua hilang dalam arus waktu,” ia berbisik sambil memejamkan mata.
Ketika membuka, ia menemukan dirinya terbungkus sosok yang mati-matian bertahan hidup delapan tahun silam. Lelaki yang hidup layaknya mayat yang berjalan. “Apakah kau siap bertemu dengannya?” Lelaki kurus gondrong itu bertanya dengan nada mengejek.
“Aku sudah lepas darimu,” balas Wage.
“Kau bilang, tidak semua hilang dalam arus waktu kan?”
Wage diam lumayan lama. Ia melihat pendar mata lelaki di cermin itu. Di dalamnya, Wage seperti melihat fragmen ingatan yang bertumpuk. Kemudian menyeruak satu per satu. Ia seperi dipaksa melihat kepedihannya dalam kurun masa silam.
“Seharusnya kau sudah mati!”
“Aku adalah kau. Dan kau adalah aku. Kita adalah satu tubuh yang berbeda dimensi waktu.”
“Tidak! Kau sudah mati!”
“Hei pengecut! Apa kau sadar, meski aliran waktu di luar tubuh kita terus berjalan. Sebenarnya, kau masih terjebak dalam kebekuan. Kapan saja waktu dalam tubuh kita bisa mengarus balik, seperti jam dinding yang rusak. Kemudian diputar mundur. Kau tak akan bisa lepas dariku.”
Wage memejamkan mata lagi. Ia meraba wajahnya. Dari pelipis, pipi, hingga dagu. Kemudian ia menghirup udara begitu dalam, seperti memastikan udara tidak beku dan hidup masih berjalan ke depan. Kemudian ia membuka mata perlahan. Melihat dirinya di masa kini utuh dalam bayangan cermin. Keringat menjalari wajahnya.
“Iya, kau sudah mati, dan akan mati lagi untuk selamanya.” gumamnya.
***
Konon, jauh sebelum manusia dilahirkan, ada dua malaikat mendatangi bumi secara bergiliran, lalu meminta izin untuk mengambil segenggam tanah dari tubuhnya. Bumi memelas-mengiba, air matanya mengembun di antara dedaunan setelah pagi. Keduanya yang tak tega lantas kembali ke langit membawa sebuah permintaan atau sebuah penolakan akan perintah Tuhan. Kemudian satu malaikat lain datang untuk menunaikan tugas yang sama—mengambil segenggam tanah dari tubuh bumi. Lalu bumi kembali mengiba, meminta agar menggugurkan tugas itu. Namun malaikat itu tak patah arang, dihentakkan tongkatnya di tubuh bumi, hingga bergetar seluruh. Menggelinjang, bibirnya terbata mengizinkan tanahnya diambil ke angkasa. Di langit, jauh sebelum kita dilahirkan, segenggam tanah itu berproses menjadi sepasang manusia, kelak kita menyebutnya Adam dan Hawa. Kemudian malaikat itu, dinobatkan Tuhan sebagai malaikat pencabut nyawa.
Pernahkah kau merasakan kematian begitu dekat denganmu. Kau bisa begitu merasakannya, sedekat nadi. Sedekat embusan napas yang masuk dan keluar begitu saja dari lubang hidung.
Bayangkanlah, di salah satu tahap kehidupanmu, seseorang yang kau bayangkan sebagai utusan-Nya datang padamu. Pada satu malam yang dingin. Malam yang sunyi tanpa suara kehidupan. Ia sekelabat mendatangimu yang terjaga. Yang barangkali sedang terbaring menatap langit-langit. Terbangun dari mimpi buruk yang tak pernah kau inginkan. Kemudian, di malam itu, sebuah embusan angin yang begitu asing menyentuh daun telingamu, mengalir, membangunkan bulu roma.
Kau pun terjaga dengan kehampaan di d**a. Seperti sebuah kehilangan yang begitu besar. Tiba-tiba kau sangat takut melihat masa lalu. Kau takut mengingat orang-orang yang kau cinta. Kau takut mengingat wajah ibu bapakmu, orang-orang yang kau anggap dekat, dan orang-orang asing yang tak kau kenali datang begitu saja. Mereka tersenyum satu per satu dengan wajah yang ganjil. Senyum kengerian yang menudingmu—menyalahkanmu. Namun kau tak paham kesalahan apa yang kau perbuat. Mereka menatapmu dengan tajam, seolah menyalahkanmu atas sebuah masalah besar yang terjadi. Kemudian terciptalah jarak yang begitu panjang antara kau dan mereka. Kesepian mengepungmu. Kengerian mantra-mantra tiba-tiba hadir satu per satu membisikkan bahwa kau sudah dekat. Kau sudah akan pulang. Kau harus segera pulang.
Bisikan-bisikan inilah yang kerap datang pada Wage, delapan tahun silam. Satu masa yang membuatnya seakan mati kemudian hidup sebagai Wage yang baru.
***