Somnabulis

1216 Kata
Sudah dua bulan, aku hidup dengan memikirkan kematian. Seakan itu sudah begitu dekat denganku. Sedekat urat nadi. Bahkan beberapa kali aku ingin sekali melakukan upaya bunuh diri. Menjerat leher dengan tali atau kawat besi misalnya. Bahkan yang lebih tragis, menjatuhkan diri dari lantai lima gedung kampus. Pernah juga aku berpikir untuk meminum obat nyamuk cair, baygon atau lebih menyedihkan lagi meminum endrin. Dan hingga saat ini, aku selalu memikirkan bagaimana cara mati yang paling baik. Semua itu belum kulakukan. Bukan perkara aku takut. Urat-urat ketakutanku telah lama putus. Pernah aku menjelajah internet untuk sekadar mencari prosesi hukuman mati paling kejam. Direbus di dalam air panas, dikurung di ruang sempit tak berudara, atau bahkan membiarkan diri kelaparan hingga sekian sangat lama. Hingga akhirnya, memikirkan cara mati paling baik telah membuatku begitu linglung. Ingin rasanya aku segera menyeberang jembatan hidup dan mati. Kubayangkan Tuhan menyediakan akses kematian semudah menyeberang jembatan penyeberangan jalan raya. Kau hanya perlu naik tangga, berjalan menyeberang, kemudian turun. Sampailah sudah. Namun kupikir bukan itu perkaranya. Bayangan kesakitan akan kematian sebenarnya sudah kalah dibandingkan bagaimana rasanya kehilangan. Aku telah banyak kehilangan. Bahkan untuk hal-hal kecil yang tak kusadari. Pernah aku berpikir apakah kehilangan adalah bagian dari alur roda kehidupan. Dan jawabannya: iya, untukku. Bisa jadi untukmu juga. Perkara memiliki kemudian hilang sudah kualami sejak lama. Untuk hal ini, beberapa kali malah aku begitu kehilangan sesuatu yang tidak benar-benar melekat padaku. Dan perasaan itu sama sakitnya dengan kehilangan untuk yang melekat. Setiap satu kehilangan serasa mencipta satu lubang hitam yang sangat dalam di d**a. Dan kurasa hari ini, dadaku sudah penuh lubang hitam. Bahkan ada yang paling besar. Sebuah kehilangan yang baru saja kualami. Sebuah lubang laten yang begitu menyiksaku ketika sengatan ingatan itu hadir. Bayangan kesakitan akan kematian memang sudah kalah telak dibandingkan banyaknya rasa kehilangan. Oleh sebabnya, aku sudah tak takut untuk menghadapinya. Barangkali hanya ketidaksabaran saja yang membuatku berpikir untuk segera mengakhiri hidup. Ketidaksabaran kapan kematian itu hadir. Meski kita tahu, soal hidup dan mati adalah urusan Tuhan. Tapi, apakah bisa kita memintanya lebih cepat? Tentu saja bisa. Atau tidak. Ah, kurasa perihal bisa ataupun tidak adalah tentang keberanian kita menyeberang melewati jembatan ketakutan. Berani untuk kehilangan adalah ketakutan paling nyata yang sebenarnya telah menjadi hantu yang melebihi rasa hormat pada Tuhan. Aku telah mengalami banyak kehilangan. Bahkan kukira untuk hal-hal kecil. Memasuki usia dua puluh dua tahun, satu hentakan yang dahsyat telah menjadi awalku kehilangan segalanya. Ketika orang lain menyambut usia dua puluhan dengan perasaan yang menggelora, lantaran akan memasuki quarter life of crisis, aku justru harus menyusun ulang kehidupanku. Menyusun ulang ingatanku satu per satu. Memungut di sebuah ruang yang sangat gelap. Dan akupun gagal melakukannya. Ada kehilangan yang begitu dahsyat. Di usia itu, aku dipaksa kembali lahir sebagai seorang bayi kecil yang menyusun satu per satu kehidupannya. Memungut sisa kehidupan di masa lampau yang hampir dipastikan tiada. Aku dipaksa menjadi diri yang baru. Aku dipaksa percaya bahwa kehilangan teman-teman yang telah kuanggap sebagai saudara adalah sebuah tahap menuju dewasa yang sempurna. Sialnya, kebanyakan orang begitu percaya. Cobaan yang besar adalah salah satu fase yang harus dilewati seorang manusia untuk menuju tahap selanjutnya. Cobaan-cobaan adalah fase manusia menjadi sempurna, secara utuh. Namun pertanyaannya sekarang adalah apakah Tuhan menciptakan manusia untuk menjalani proses menjadi sempurna? Bisa jadi iya, namun bisa jadi tidak. Kesempurnaan manusia sama halnya berkaca di air sungai yang kapan saja bisa keruh bahkan pecah oleh arus yang deras. Kesempurnaan adalah semu. Hari ini, aku menjalani hidup seperti halnya mayat hidup. Kehilangan gairah bisa jadi perkara utamanya. Ini sudah memasuki bulan keenam. Sengatan kepedihan itu terus hadir saban waktu. Puncaknya, tentu ketika malam semakin larut. Kemudian perasaan gelisah sedikit demi sedikit berjalan menuju pucuk tertinggi. Rasa-rasanya ada iblis yang lahir dari neraka. Kemudian setiap tarikan napasku, ia menampakkan wajahnya dengan begitu mengerikan. Napasku seringkali tersengal, setelahnya.  Setiap pagi datang, seringkali kudapati aku gagal memejamkan mata. Otakku terasa begitu kalut. Rasa kantuk yang dahsyat selalu menyerang hari-hariku. Sialnya, ketika tengah malam hadir, mataku terpejam, ada sebuah tarikan yang kurasakan sangat kuat dari balik ranjangku. Kemudian seakan aku benar-benar merasakan kedatangannya, ia menerobos sebuah ruang dan waktu yang asing. Kurasakan bulu romaku tiba-tiba berdiri, dengus napasnya begitu dekat di depan wajahku. Dari kegelapan pejaman mata, ia lahir sebagai pertanyaan mendasar atas sesuatu yang tak selanyaknya kuketahui, pun juga manusia sewajarnya. Kemudian wajahnya muncul, bagai momok menyeramkan yang tak kutemui sebelumnya. Aku bahkan tak bisa membayangkan ulang seperti apa wajahnya. Yang jelas saat itu, aku hanya bisa mendelik, mulutku terbuka lebar tak bisa berteriak. Lalu berdiri seluruh bulu romaku, dan napasku tersengal. Sesak. Apakah kau iblis yang datang dari tempat terkutuk? Ingin kutanyakan itu padanya. Namun percayalah, aku hanya bisa menikmati ketakutanku itu berlama-lama. Hingga tetes air mataku-lah yang meredakan semuanya. Mengembalikannya ke tempat terkutuk itu. Aneh memang. Aku selalu merasa gagal untuk tidur. Setiap malam, meski mataku terpejam, aku merasa masih bisa melihat sekeliling kamarku. Melihat gelap di tembok yang tanpa satupun hiasan. Mendengar detak jam yang berpacu mengejar detak jantungku. Berkali-kali melihat pantul cahaya yang menerobos celah korden jendela. Keriuhan suara anjing malam, teriakan dan makian pemuda mabuk di lapangan bawah. Semua bisa kurasakan, seakan aku selalu gagal untuk tidur. Padahal aku begitu sadar, mataku terpejam. Ketika lonceng penjaga berbunyi yang menandakan tengah malam, iblis itu sekonyong-konyong hadir. Membuatku terjaga dengan sesak di d**a. Awalnya aku ingin ke dokter saja atau bahkan psikolog. Namun belum genap niatku untuk ke sana, kemudian segera runtuh seketika. Tentu aku akan divonis depresi atau mengalami insomnia parah. Atau yang lebih mengenaskan lagi jika kemudian aku diberi rujukan untuk ke Rumah Sakit Jiwa. Sebuah tempat yang sebetulnya dekat dengan tempatku tinggal. Tapi hey! Aku tidak gila. Aku hanya seorang lelaki yang telah remuk hatinya yang sedang menanti waktu kematian. Setiap hari aku menjalani pagi seperti seorang somnabulis, semacam tubuh yang berjalan tanpa jiwa. Aku menjalani pagi seperti biasa. Bangun setelah alarm berbunyi. Mandi. Mengenakan pakaian yang ada. Berjalan ke kampus. Duduk berlama-lama di ruang baca perpustakaan, mencatat beberapa rujukan skripsi. Makan di kantin. Kemudian setelah perpustakaan berangsur sepi, aku berjalan pulang. Selayaknya mayat hidup, aku memilih tidak berkomunikasi dengan siapapun. Pasti bakal tak karuan yang keluar dari mulutku. Kecuali untuk sesuatu yang benar-benar penting. Kemudian, setelah sampai di kamar, aku duduk membisu di balkon kamar. Menyulut rokok, meminum s**u dari kemasan kartonnya. Kemudian, ketika dingin malam mulai menusuk. Aku pun masuk. Minum obat tidur dua kali dosisnya. Kemudian merobohkan tubuh di kasur. Sudah enam bulan lamanya, aku berhenti bermimpi. Lolongan anjing tetangga selalu mengabarkan tengah malam sebentar lagi tiba, kemudian deru lonceng penjaga yang dipukul tiga kali pun berbunyi, maka aku akan terjaga. Badanku basah oleh keringat dingin yang entah dari mana asal muasalnya. Kemudian meraih obat tidur, dan meminumnya lagi. Tidak lupa kugelondong tubuhku dengan bergelas-gelas air putih. Pagi ini aku kembali bangun dalam kesendirian di kamar. Tubuhku basah oleh keringat dingin. Seperti ada kehampaan begitu besar di d**a. Setelahnya, aku berusaha berdiri, meski agak oleng, kupaksa kujalankan tubuh lemahku menuju depan cermin. Pemandangan yang begitu menyedihkan. Kulihat seonggok mayat hidup berambut gondrong tak terawat di sana. Matanya memerah, sayu. Bibirnya telah kering. Kulihat dari hari ke hari kesedihan selalu bertengger di atas kepalanya. Apakah ia juga menunggu kematian sama sepertiku? Kemudian kutelisik ke dalam matanya yang telah memerah. Sangat sayu. Barangkali juga sepertiku. Hampir aku nyeplos padanya: Hey ada baiknya kita ke dokter saja? Kita sedang sakit. ***   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN