Asrama Mahasiswa, Awal dari Pertemuan Bermula

3357 Kata
  Aku pulang ke solo di hari ke delapan. Setelah sehari sebelumnya puas berbagi cerita dengan Melanie. Kemarin sore, Melanie bercerita banyak hal. Mulai dari perubahan besar dalam hidup hingga perasaan cinta ganjil yang ia alami. Aneh memang, bagaimana mungkin kau bisa memiliki perasaan pada seseorang yang belum pernah kau temui? Aku seringkali mendengar banyak kasus penculikan hingga pemerkosaan yang bermula sebuah perkenalan di media sosial. Namun untuk kasus ini, Melanie berbeda. Ia kenal bahkan kurasa mulai jatuh cinta pada seseorang yang hanya ia kenal melalui i********:. Sialnya, orang ini begitu misterius. Bahkan ia belum pernah mengirimkan foto aslinya. Meskipun berkali-kali Melanie memberikannya foto-foto yang ia minta secara cuma-cuma. Akun instagramnya pun hanya berisi foto pemandangan dan objek-objek lain hasil jepretannya. Kukira ia adalah fotografer. Dan sialnya, dari ratusan foto yang terpajang, tidak ada satupun yang menampakkan wajah aslinya. Aku bahkan ragu, apakah ia laki-laki atau perempuan dengan kecenderungan penyuka sesama. Ah sial, memikirkan hal ini bisa membuatku pusing. Melanie memang bisa dikatakan seorang perempuan lugu dalam hal percintaan. Setelah begitu lama ia bercerita, sore itu, tiba-tiba ada suara ambulan datang. Kukira suara itu dekat dengan rumah Paman. Baru aku tahu siang ini, ada orang meninggal di sana. Eh, salah. Kurasa yang lebih tepat, orang bunuh diri. Dari hasil berita yang k****a, orang ini sudah meninggal tiga hari yang lalu. Dari hasil analisis petugas, ada dugaan pembunuhan. Namun sebetulnya, sore itu aku tidak begitu peduli akan hal itu. Jika pun ternyata yang datang adalah petugas kebakaran yang memadamkan api di sebelah rumah paman sekalipun, kami tidak akan peduli. Lantaran, secara mengejutkan, tiba-tiba kami berciuman. Ia menciumku setelah begitu sendu menceritakan kisah cintanya yang nelangsa. Aku anggap ini sebagai ucapan terima kasih atas jasaku sebagai pendengar yang baik.   Delapan hari di rumah paman menjadi momen yang sangat penting untukku. Delapan hari yang lalu, aku adalah lelaki malang yang sudah enggan menjalani hidup. Lelaki malang pesakitan yang terluka begitu dalam. Dan yang lebih mengenaskan, aku adalah lelaki yang ditinggal kekasihnya. Ia hendak kawin dengan lelaki lain. Apa kau pernah mendengar butterfly effect? Kurasa ini yang kualami. Maksudku, kecelakaan di malam sialan itu, adalah bagian dari butterfly effect. Aku pernah mendengar hal ini dari Pak Tanto bahwa sebuah perubahan kecil pada satu tempat dalam suatu sistem taklinear dapat mengakibatkan perbedaan besar dalam keadaan kemudian. Dan inilah yang kualami, secara sadar aku mengakui: aku selamat dari keinginan bunuh diri akut. Delapan hari di rumah paman membuatku sadar akan satu hal: seberat apapun masalahmu, percayalah, itu adalah rencana Tuhan untuk menaikkan derajat hidupmu. Mungkin terdengar klise. Aku pun terkekeh pada diriku sendiri yang manggut-manggut diceramahi paman habis-habisan. “Kau masih punya ibu yang harus kau bahagiakan. Seburuk apapun kau menilai Mbah Ningsih—ibuku. Dan, ingat, anakku juga menganggapmu sebagai panutan.” ucap paman kala itu. Ya benar, aku masih mempunyai ibu yang masih sibuk bekerja. Mengerjakan urusannya sendiri. Seorang ibu, yang sejak ditinggal bapak menjadi linglung, seakan kehilangan segalanya—termasuk anaknya. Aku berniat pulang ke Jogja, bukan untuk menemui ibu, namun ke pemakaman bapak di Gunung Kidul. Sejak dulu, bapak selalu menjadi tempat paling nyaman untuk bersandar bahkan makamnya pun juga demikian. Hari ini, aku kembali menata ulang kehidupanku yang porak poranda setelah dua bulan mendekam dalam lorong yang gelap. Dan hal pertama yang kulakukan adalah memotong rambut gondrongku hingga plontos. Aku ingin menjadi diri yang baru: Wage yang baru. Kemudian pindah kos, kembali ke asrama mahasiswa. Aku ingin membentuk lingkaran hidup yang baru. Meski aku memang jarang bergaul, namun tak salah kan, membuka diri untuk orang lain. Untungnya, aku masih punya kartu mahasiswa, dan kampusku masih sudi mengakui mahasiswa semester lanjut yang senantiasa menjadi donatur lantaran skripsi yang tak kunjung usai. Hari ini adalah hari pindahan. Sejak pagi, aku sudah menata seluruh barang-barangku yang sebenarnya tidak seberapa banyak kecuali tumpukan buku. Ada lima kerdus indomie, empat diantaranya  berisi buku. Selama di Klaten aku menghubungi Pak Naryo—penanggung jawab asrama. Ini adalah bulan empat, tentu asrama sedang beberes menyambut mahasiswa baru. Meski ada sebuah gedung baru berlantai tujuh, sialnya kebanyakan kamarnya sudah masuk boking. Berbekal rayuan ala mahasiswa kere serta sedikit tipuan soal kedekatanku dengan pak wakil rektor, aku berhasil mendapatkan kamar. “Kamu nanti sekamar dengan Reda. Dia mahasiswa baik-baik. Jangan kau racuni macam-macam.” ketus Pak Naryo. Kemudian aku diberi kontaknya. Berita baiknya, Reda membantuku membawa barang dari kos lama. Namun, kelak aku baru sadar, Reda ternyata adalah mahasiswa aneh yang justru membuatku dijauhi penghuni asrama. Reda berkaca mata tebal. Sangat tebal. Tubuhnya terlihat bungkuk dan berjalannya selalu menunduk. Awalnya ia menyambutku dengan hangat. Kemudian mempersilakan masuk ke kamar. Di dalam kamar inilah, aku seperti menjadi mahasiswa baru yang diospek senior. Sial betul. “Ini aturannya ya!” Reda menempelkan HVS berlaminating di tembok dekat pintu. Kamar ini cukup luas. Kira-kira berukuran 6x8. Ada dua kasur lantai, dua lemari kayu, dan dua meja belajar lengkap dengan tempat duduknya. Ia memilihkan posisiku di dekat jendela. Aku pun mengiyakan tanpa protes. “Ingat, tidak boleh merokok dalam kamar, apalagi minum. Tidak ada juga main kartu, apapun. Uno juga ngga boleh.” Aku hanya manggut-manggut saja. Ada dua foto dinding. Yang pertama seperti lukisan dari cat air bergambar lanskap sawar dengan latar belakang gunung yang biru. Ada satu gubung di tengah-tengah sawah hijau itu. Satunya, adalah gambar lanskap laut biru dengan latar belakang senja. “Tidak boleh mengganti gambar dinding, apalagi menempel gambar dinding lain.” Aku tertegun. Kukira Reda memang lebih kejam dari pada ibu kos. Kami ngobrol sedikit setelah beberes kamar siang itu. Aku tertegun mendapati bahwa ia adalah jurusan DKV. Bahkan aku mengulang pertanyaan itu tiga kali, hingga kurasa ia tersinggung. Setelahnya, aku keluar kamar dan merokok di lobi. Kukira hari-hari sialku baru saja dimulai. Aku menerawang ke langit-langit saat ponselku tiba-tiba berdering. “Haloo, Wage?” “Iya?” “Hari ini jadi pindahan?” “Iya—” “Duhhh… Maaf ya, aku ngga bisa bantu, ini udah mulai padat deadline akhir bulan.” “Iya,” “Iya? Kamu marah?” aku mengernyitkan dahi, memindah ponselku dari telingan kanan ke telinga kiri. “Pliss, jangan marah ya! Aku janji deh, bakal traktir kamu. Eh! Besok ketemu ya!” “Engga, engga, di mana?” “Kafe Librarie aja ya! Aku jemput kamu jam 7 malam ya! Asrama kan?” “Eh tap—” telepon ditutup. Aku hanya diam memandangi layar ponsel. Astri menelponku. Aku kembali terbayang wajahnya. Senyumnya ketika menjagaku di rumah sakit. Samar-samar. Ketika di Klaten, kami begitu intens komunikasi. Ia akan ujian skripsi. Setelah hampir dua bulan lebih kami tak pernah bertemu, akhirnya ia lulus. Dulu, Anjani seringkali mencurigai Astri sebagai selingkuhanku. Kami beberapa kali jalan. Meski tidak memiliki status hubungan apa-apa, kurasa Astri dan aku memiliki hubungan yang terlihat spesial. Meski aku menganggapnya biasa saja, inilah salah satu sumber pertengkaranku dengan Anjani.   Aku belum lama mengenal Astri. Kira-kira enam bulan yang lalu. Saat itu, mendung menggelayut di langit pagi Kota Solo. Seperti seorang bayi yang menahan tangis lantaran popoknya sudah basah, langit Solo juga sedang menahan air matanya untuk jatuh. Dan yang menyebalkan dari cuaca seperti ini adalah udara akan bertambah panas. Sedangkan angin biasanya tak ada. Akupun lebih memilih mengurung diri di kamar, berteman dengan laptop, dan buku-buku. Baru saja aku membuka laptop, ponselku berbunyi. Telepon dari nomor yang tak ada namanya. “Halo? Wage?” suara perempuan namun tampak asing bagiku. “Iya?” “Kamu masih menulis kan?” “Menulis?” “Aku minta tolong jadi kontributor puisi di majalahku ya?” “Siapa ya?” “Heleh, masa lupa, aku Astri…” akupun diam sejenak, mengingat nama Astri. “Astri komunitas Wicarasastra. Yang bulan lalu ketemu di Masastro. Masa lupa,” “Oh ya… Berapa?” “Fee-nya? Nah ini yang mau aku jelaskan, ini…” “Bukan, berapa puisi?” “Oh… Tiga ya? Kalau bisa tema pembaruan, eh diri yang baru. Intinya ini menyongsong terbitan tahun baru. Kami baru merintis.” “Ya…” “Maaf, ini kerja bakti dulu ya, ngga papa kan?” “Santai saja.” “Nanti kalau udah,” “Ssststsss… udah-udah ngga papa, nanti WA aku emailnya ya!” “Sippp… Makasih lho ya…” “Ya… eh,” tut…tut…tut… Sial terputus, ternyata batereku habis. Dengan kata kunci Masastro sekelebat ingatanku kembali mengingat Astri. Perempuan berambut panjang lurus, berponi. Ia berkaca mata dan entahlah setiap melihat perempuan berkaca mata selalu menarik perhatianku. Dalam penglihatanku, perempuan berkaca mata selalu manis. Kuambil sebatang rokok, kemudian menyulutnya. Kuisap dalam, kemudian asap pun mengepul. Bersama asap yang lepas, lepaslah ingatanku tentang Astri di acara Masastro—Malam Sastra Solo. Acara ini sangat populer bagi para penyair Solo. Mulai dari penyair yang sudah sering urun nama di media, hingga penyair kamar dan buku harian. Acaranya cukup sederhana. Kau cukup datang dan menikmati sajian pembacaan puisi. Orang-orang yang datang selalu antusias untuk berandil membaca puisi. Dan Masastro adalah rumah yang paling ramah bagi mereka. Jika kau datang dan tak membawa puisi, kau bisa hanya duduk, menikmati sajian pembacaan sajian pembacaan puisi bersama secangkir kopi. Namun jangan kaget, jika namamu dipanggil untuk turut membaca. Jangan panik, kau bisa meminjam puisi siapa saja. Dan malam itu, ketika peserta lain datang untuk membaca puisi, Astri datang untuk melagukan sebuah puisi. Sebuah sajak yang kukenal betul. Kemudian akupun terkenang sosok Sapardi Djoko Damono. Kubiarkan cahaya bintang memilikimu. Kubiarkan angin yang pucat dan tak habis-habisnya. Gelisah, tiba-tiba menjelma isyarat, merebutmu. Entah kapan kau bisa kutangkap. Dengan alunan nada yang digunakan Ari—Reda, Astri menampilkan warna suara yang sangat lembut. Berbinar matanya mengulang sajak itu dalam alunan lagu sebanyak tiga kali. Nokturno adalah malam. Apakah Astri terperangkap di dalamnya. Kelembutan suara Astri samar-samar hadir di telingaku. Kemudian, akupun membuka arsip lama. Puisi-puisi kamar yang sudah mengerak. Kupilihkan tiga puisi yang cocok. Lalu kukirimkan padanya. *** Langit sore yang muram masih mengurung Solo. Seperti yang kukira, ketika langit menahan air matanya tumpah, maka mendidihlah udara di sekujur tubuhnya. Sore yang gerah. Kejenuhan mulai menyerangku di kamar. Oleh sebabnya, kuputuskan pergi ke Café Librarie. Kedai kopi bersetting ala Perancis ini memang menjadi salah satu tempat nongkrong favorit. Meski letaknya agak jauh dari kampus, namun tak sedikit mahasiswa yang datang ke sini. Sebuah kedai kopi dengan konsep perpustakaan bernuansa Perancis. Meskipun menawarkan desain ruangan dengan hiasan serba Perancis, kedai ini malah menjajakan jajanan khas Indonesia. Bahkan tak jarang di beberapa waktu ada menu spesial jajanan tradisional. Aku kenal betul dengan pemiliknya. Ialah Pak Tanto, salah satu dosen di kampusku. Kedai ini memiliki dua lantai dengan tiga ruangan utama. Satu aula pertemuan di lantai dua. Tempat ini seringkali digunakan untuk diskusi-diskusi. Kemudian lantai satu terbagi dua: kedai tempat menikmati kopi dengan interior tembok dikepung perpustakaan dan ruangan kecil ber-AC ukuran 8 x 8 untuk ruangan privat atau lebih sering kulihat untuk menerima tamu penting. Oh ya, tidak lupa, tempat favoritku, taman depan yang ditata dengan meja kursi, di masing-masing sudut terdapat satu rak buku berkaca. Tempatnya sangat nyaman dengan tema Go-Green. Seperti biasa, aku akan mengambil tempat luar paling dekat dengan jendela buku. Selain karena aku harus merokok, lagi pula di dalam terlihat penuh berjubel. Kedai ini tak pernah sepi. Ada sabuah hiasan Menara Eifel di tembok utama belakang barista. Di sana tertulis Café Librarie dengan hiasan buku. Kulihat Pak Tanto berada di tengah-tengah meja diskusi dengan mahasiswa. Kuterka mereka mahasiswa pergerakan. Aku mengenal salah satu di antara mereka. Pak Tanto adalah dosen yang supel dan sederhana. Ia tak segan berbagi ilmu hingga diskusi terbuka dengan mahasiswanya. Buku yang kuambil kali ini adalah epos Mahabharata. Buku yang sangat menggambarkan kedunguanku. Buku yang dengan polosnya kupinjamkan, sampai tak pernah kembali. Setelah kopiku datang, kutancapkan sebatang rokok di bibir, kemudian kusulut dengan korek. Pusss… Asap menghambur seketika. Menghamburlah segala yang ada di d**a. Saat-saat seperti inilah, aku siap untuk menjelajah ke dunia epos Mahabharata. Menilisik lebih jauh kisah tentang Bhisma. “Nah, ini dia penyair kita.” aku pun menoleh ke arah sumber suara, Pak Tanto menghampiriku. Aku lekas tersenyum dan menjabat tangannya. Ia memakali kaos putih berkerah, bercelana kain hitam, setelan santai untuk seorang dosen penting. Kemudian ia menoleh ke kanan dan ke kiri, seolah mencari sesuatu. “Astri!” kemudian ia berteriak sambil melambai ke satu titik. Astri? Aku jadi ikut menoleh, kulihat seorang perempuan barambut pendek sebahu, berkaca mata berjalan sambil tersenyum. Kali ini Astri mengenakan celana kulot warna pastel, atasan kaos panjang warna hitam. Rupanya ia memotong rambutnya. Astri duduk tepat di sampingku, kemudian Pak Tanto berada di seberang kami berdua. “Astri sendiri?” Pak Tanto membuka percakapan. “Oh, engga Pak, seharusnya sama rombongan komunitas, tapi…” ia tersenyum sambil garuk-garuk rambutnya. Aku sangat paham. Penyakit komunitas dan orang yang mengaku sastrawan adalah soal tepat waktu. Ironisnya, penyakit ini sudah melekat dan dikenal sebagai prinsip hidup anak-anak komunitas dan sastra oleh masyarakat. Maka ketika mengundang salah satu dari mereka dan telat, selalu ini begini pembenarannya: ah anak sastra telat kan wajar. Sungguh ironis. Padahal aku paham betul, bagaimana Haruki Murakami menjalani proses menulisnya hingga menghasilkan karya yang fenomenal seperti Norwegian Wood. Haruki adalah sosok pekerja keras. Dalam sejumlah wawancara yang pernah diterbitkan The Paris Review dan The New York Times, ia mengaku mengatur betul jadwalnya dalam menulis. Haruki mengibaratkan menulis buku sama halnya dengan bermimpi dalam keadaan terjaga. Karena dalam keadaan terjaga, maka seorang Haruki bisa mengendalikan mimpinya itu. Oleh sebabnya ia mengatur betul jadwalnya dalam menulis. Setiap pagi Haruki bangun pukul empat pagi, kemudian ia menulis selama empat sampai enam jam, dan berhenti setiap harinya. Ia akan melanjutkannya esok hari. Selain itu, ia secara rutin jogging atau berenang setiap sore sejauh 1.500 meter. Di samping itu, ia juga menyibukkan diri untuk membaca dan mendengarkan musik. Maka jangan heran, di setiap karyanya selalu disuguhkan referensi musik dan bacaan. Berbeda dengan kebanyakan sastrawan atau penulis kita yang suka begadang, Haruki justru tidur pukul sembilan setiap malam. Hal ini ia percaya untuk menjaga rutinitas dan yang paling utama adalah mengatur untuk selalu fokus! Tidak sampai di sini saja. Setiap menulis novel, ia membutuhkan waktu untuk menyelesaikan draft pertama selama enam bulan. Kemudian tujuh hingga delapan bulan setelahnya ia gunakan untuk merevisi. Bayangkan saja, untuk tahap revisi. Karena yang kudengar, tahap yang paling penting dalam penulisan justru pada tahap revisi. Di sinilah, kesabaran dan kepekaan penulis diuji betul. Haruki mengaku butuh sampai empat sampai lima kali revisi untuk menghasilkan satu novel. Dan tentunya, satu novel berkualitas. Kurasa etos inipun dimiliki oleh kebanyakan  sastrawan besar kita, semacam Eka Kurniawan, Arafat Nur, hingga yang lainnya. Namun ironisnya, hal yang begitu kontras justru terpampang jelas di budaya para pemula. Akupun termasuk pemula, namun jangan salah, aku tak suka membuat orang lain menunggu. Apalagi untuk perempuan semanis Astri, tak akan pernah kubuat ia menunggu barang sedetik. Ah apa si. “Ini lho yang mau aku kenalkan ke kamu, Tri,” dengan tatap matanya, Pak Tanto mengisyaratkan menunjukku. Kemudian Astri tersenyum. “Oh Wage tho, aku malah sudah kenal Pak! Sudah dekat malah, ya kan?” Astri menyenggol lengan kiriku, sambil matanya berkedip ke arahku. Kenal dekat? Aku hanya bisa tersenyum dan tertawa dalam hati. Satu kali pertemuan di Masastro, terus satu kali pertemuan dalam dialog telepon sudah bisa dikatakan sebagai dekat ya? “Oh bagus itu, kalau sudah dekat. Ini lho Wage, Astri kan suka musik dan suka kover-kover lagu, kalian harus kolaborasi. Puisinya dari Wage, musiknya dari Astri. Oh ya, Astri juga bisa fotografi juga kan?” sangat halus ucapan Pak Tanto. Dan sejujurnya aku baru tahu juga kalau Astri juga bisa fotografi. Ya bagaimana lagi, kami bertemu dua kali, satu di Masastro, satunya di dialog telepon. “Kolaborasi lho ya, bikin-bikin projek bareng. Siapa tahu bisa kita kembangkan jadi program besar.” Pak Tanto dan Café Librarie adalah satu tubuh yang tak bisa dipisahkan. Dalam Café Librarie jiwa Pak Tanto seakan hidup di tengah hiruk-pikuk kesibukannya di kampus. Ia juga seringkali mempertemukan satu kelompok dengan kelompok yang lainnya untuk berkolaborasi. Tidak pernah sepeserpun Pak Tanto menyumbang uang. Ia urun program dan urun menyalakan pikiran. Dengan gaya bicara dan pola pikirnya yang mengikuti perkembangan generasi sekarang inilah yang menjadi magnet Café Librarie digemari oleh berbagai kalangan. Dan setiap malam, Pak Tanto akan berkeliling. Pindah dari satu meja ke meja lain. Tidak pernah lama, seperti sekarang ini. Setelah mengenalkan aku dengan Astri, ia pamit pindah meja. Kami pun mengangguk sambil tersenyum. “Satu kali bertemu dan satu kali berdialog dalam telepon sudah dikatakan dekat ya? Wah konsep baru nih.” Aku menoleh padanya. Kemudian ia hanya tersenyum meringis. Ah sial, kenapa aku baru sadar, ia memang benar-benar manis. Ia memilik sepasang mata yang ekspresif. Meski terbungkus oleh kaca matanya, binar pupilnya yang hitam pekat tidak berkurang sedikitpun. Rambutnya yang sebahu ia biarkan tergerai. Meski berbeda dengan penampilannya di Masastro bulan lalu, namun aura ke-feminim-annya masih terpancar. “Eh… Ngomong-ngomong makasih ya untuk puisimu. Top!” sambil mengacungkan dua jempolnya. “Langsung lolos tanpa kurasi.” tandasnya. Kemudian ia mengambil secangkir kopiku meminumnya. Seketika wajahnya merengut, ia menjulurkan lidahnya. “Kopi macam apa ini? Pahit sekali.” Aku hanya tersenyum menanggapinya. “Hey, bulan depan datang ya di launching majalah komunitasku.” “Oh ya, berkabar saja.” “Sejak kapan baca epos?” “Oh ini, lagi penasaran sama kisah Bhisma saja.” “Oh… Bhisma,” ia mengangguk, entah paham atau pura-pura paham. “Memang kamu tahu?” “Sedikit-sedikit, kamu cari apanya? Kisah cintanya atau kesaktian bertempurnya, atau yang lain?” “Percintaan?” akupun mengernyitkan dahi, “Bukannya Bhisma tidak menikah?” “Bukan itu, ini kisah lama, kisah dendam Amba yang menitis pada Srikandhi,” “Ah… Bukan itu yang kucari.” kataku ketus. “Sssttss… Bacalah dulu, pasti kamu suka.” ia mengeluarkan buku dari tote bag berwarna hitam polos. Novel berjudul Amba karya Laksmi Pamuntjak. “Laksmi kurasa salah satu sastrawan jempolan, hampir semua tokoh di novelnya menggunakan nama pewayangan. Dan bagusnya lagi baik kisah maupun karakter yang diangkat pun sama. Ya semacam adaptasi. Kamu harus baca ya…” aku mengangguk, lalu kuraih buku itu. Kubuka, kubalik, k****a biodata penulisnya. Kemudian aku manggut-manggut. “Eh… Kampus kita sebelahan, dan kamu anak sastra kan? Kok aku ngga pernah lihat kamu?” ia melepas kaca matanya, kemudian mengambil tisu di meja. Dengan hati-hati mengusap-usap kaca matanya. Ia berbicara sambil menunduk, fokus pada dua tangannya. Kemudian melayangkan pandangan kepadaku yang tidak juga merespon. Akunya masih meneliti buku Amba. “Hey!” agak keras ia berbicara. “Aku FKIP,” kataku singkat. “Semester?” “Kritis,” “Ah… Gimana si kamu ini, harusnya kamu pentingkan dulu kuliahmu itu.” aku berpindah pandang menatap wajahnya. Apa pedulimu, batinku kemudian. “Iya, harusnya, meskipun kita bergelut di dunia sastra, bukan berarti mengabaikan kuliah kan? Coba contohlah sastrawan besar, mereka tekun dan tepat waktu dalam segala hal. Termasuk studi.” Akupun mengernyitkan dahi. Kembali kuingat Haruki Murakami, tekun dan tepat waktu. Kemudian ia menoleh ke belakang. “Eh… teman-temanku sudah datang. Aku ke sana dulu ya!” ia pamit. Ketika beranjak entah energi apa menggerakkan tanganku untuk menahan tangan kanannya. “Eh… kita bisa bertemu lagi kan?” ah, bodohnya aku, pertanyaan macam apa ini. “Apa si, kayak FTV banget.” Ia membanting tanganku pelan namun secara otomatis tanganku melepaskan. Sambil tersenyum manis, “Tentu saja boleh-lah… lagi pula aku masih utang tiga puisi padamu. Santai saja, jangan kangen aku dulu ya.” Ia menutup dengan senyum lagi sambil mengedipkan satu mata. Kemudian ia beranjak, tubuhnya lekas termakan keramaian Café Librarie. Hari semakin malam, itu artinya para nokturnal lekas berdatangan. Tidak lama kemudian ia mengirimkan gambar melalui pesan What’s App. “Besok nonton ini yuk!” pamflet pementasan teater di Taman Arena Taman Budaya Jawa Tengah. “Oke!” “Jemput, aku ya!” “Share lokasi ya!” Ia membalas dengan stiker jempol. Beginilah awal mulanya. Ada yang mengatakan cinta lahir dari pertemuan-pertemuan sebelum akhirnya runtuh oleh perpisahan. Sejak saat itu, kami sering bertemu. Pertemuan-pertemuan ini terjadi ketika hubunganku dengan Anjani merenggang. Aku dan Anjani sama-sama tahu, kami berdua sedang dalam titik kritis hubungan. Namun sebenarnya bukan ini sebab muasal perginya Anjani. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN