Minggu malam, dari pada menjemput dengan jalan kaki, aku memilih bertemu langsung di lokasi. Ternyata Astri pun sudah di Teater Arena sejak sore, sedangkan pementasan dijadwalkan jam 7. Malam yang cerah kurasa. Berbeda dengan malam kemarin yang terus dirundung mendung. Seperti biasa, Teater Arena selalu ramai. Tempat ini terletak di dalam Taman Budaya Jawa Tengah—ada pula yang menyebutnya sebagai Taman Budaya Solo. Selain Bentara Budaya di Jalan Slamet Riyadi, Taman Budaya Jawa Tengah dikenal sebagai tempal berkumpulnya budayawan dan sastrawan dari segala kalangan. Bahkan banyak juga yang dari luar kota. Maka aku pun sengaja datang mepet dengan jadwal pementasan. Sejujurnya, aku menghindari kalau-kalau bertemu teman-teman penulis yang ikut nonton. Apalagi dari komunitas Masastro. Ah semoga saja tidak ada yang ikut nonton.
Taman Budaya Jawa Tengah tak pernah lepas dari sosok Mbah Kodok. Seniman yang konon ceritanya merupakan salah satu teman Rendra. Kapan-kapan kuceritakan padamu tentang sosok yang katanya menikah dengan peri ini. Yang terpenting sekarang adalah Astri datang menghampiriku yang duduk merokok di parkiran. Ia mengenakan celana kulot abu-abu tiga per-empat, atasan kaos putih lengan panjang yang terlihat agak kebesaran dan membawa tote bag hitam polos yang semalam dibawa.
“Harus menunggu dijemput dulu?” ia tersenyum kemudian berdiri tepat di depanku. Aku pun membalas senyumnya, “Sekarang?” balasku sambil menjatuhkan sisa rokok ke dekat sepatu, kemudian menginjaknya. Ia mengangguk. Akupun berjalan di sampingnya. Astri mengikat rambutnya. Terlihat dua tahi lalat berjejer di lehernya yang jenjang dan putih.
Kami pun menerobos antrean dan masuk begitu saja. Nampaknya Astri memiliki tiket khusus, sehingga ia bisa masuk tanpa harus antre. Ketika bertemu penjaga pintu masuk gedung, Astri tersenyum sambil mengedipkan satu matanya. Kemudian lelaki gondrong berbadan tambun penjaga pintu membalas senyumnya dan membuat celah untuk masuk kami berdua. Berbeda dengan Astri, yang kudapat bukan senyuman manis namun tatapan sinis. Dasar lelaki pemuja s**********n, pikirku seketika. Aku mengambil tempat timur panggung di barisan tengah, sudah ada dua kursi kosong. Aku tak paham, nampaknya segalanya telah dipesan oleh Astri. “Kamu punya tiket khusus?” bisikku setelah duduk. Ia tersenyum padaku, kemudian berkata, “Aku dimintai tolong jadi tim make up mereka.” Aku pun mengangguk paham.
Pentas lakon yang sebenarnya sudah tak asing untukku: Bunga Rumah Makan karya Utuy Tatang Sontani. Aku paham betul penulis lakon yang coba dihapuskan oleh pemerintah ini. Utuy dikenal beraliran kiri, atas alasan itulah ia harus hilang dari sejarah. Satu setengah jam kami menikmati pentas. Tidak jarang kami bertukar pikiran ketika ada adegan selingan. Nampaknya Astri tidak terlalu mengenal Utuy. Ia sempat kaget juga, mendengar bahwa Utuy adalah salah satu orang Lekra.
Begitu pertunjukkan selesai, Astri menarik tanganku menerobos keramaian Teater Arena. Katanya ia agak malas ikut dalam perayaan pasca pentas. Terlalu lama dan lebay, begitu katanya. Aneh memang. Momen setelah pentas bagi kebanyakan orang adalah momen yang sangat spesial. Apalagi bagi sutradara dan pemain. Di sinilah hujan pujian hingga air mata kebahagiaan akan datang. Di saat kru lain sibuk mengambil foto dan saling bertukar pujian, perempuan ini malah mengajakku nangkring di Hik Pak Min. Hik adalah istilah untuk angkringan di area Soloraya. Dan Hik Pak Min dikenal sudah melegenda di kalangan mahasiswa. Bukan perkara sajiannya, bagiku Pak Min-lah yang menjadikan Hik ini begitu dekat bagi mahasiswa pecinta hik dan obrolan kopi semacam aku.
“Aku benci keramaian. Apalagi jika berada di tengah-tengah orang yang tak kukenal.” begitulah ia membuka percakapan. “Kamu sepertinya juga begitu kan?”
“Tidak terlalu sebenarnya. Namun jika boleh memilih, ya aku lebih baik mencari tempat sepi.” kataku. Ia tersenyum.
“Aneh ya, aku seringkali merasa orang-orang asing menatapku dengan begitu ganjil. Seolah menuding hal-hal buruk yang sebenarnya tidak kulakukan.” kata Astri. Akunya mengangguk. “Kamu paham kan?”
“Sedikit.” Kataku, kemudian Astri mengernyitkan dahi.
“Entahlah, aku hanya suka membaca. Kau tahu, setiap aku membaca buku, selalu kubayangkan, aku sedang mengobrol langsung dengan penulisnya. Asiknya lagi, beberapa kali aku bertanya pada penulis itu tentang hal-hal yang menganggu atau bahkan tidak kupahami, kemudian ia menjawab pada halaman lain. Maka, kupikir, untuk apa aku berbicara dengan orang yang tidak membuatku menjadi lebih pintar?” aku mengambil sebatang rokok, menancapkannya di sela-sela bibir, kemudian membakarnya.
“Sejak kapan kau gila baca?”
“Entahlah, kurasa sudah lama. Bahkan semakin menggila sejak kepergian Bapak. Dan hal itu kupikir seharusnya sangat menyakitkan.”
“Se-ha-rus-nya?” ia mengeja kata dengan hati-hati.
“Iya, seharusnya. Aku selalu merasa ada banyak ingatan masa laluku yang memang layak untuk dilupakan. Semacam kenangan pahit.”
“Enak sekali ya.” Astri menerawang ke langit. “Lagi pula siapa juga yang mau hidup di masa lalu. Ya kan?” ia menyonggol lenganku dengan sikutnya. Aku mengangguk tersenyum simpul.
Malam kian larut. Bercak cahaya kerlap-kerlip masih betah di angkasa. Bulan yang separuh menahan cahayanya tetap menyala. Kerlap-kerlip di langit, tak jauh beda dengan kerlap-kerlip di mata Pak Min. Beberapa kali ia terlihat menguap. Katanya, seharian ia belum tidur lantaran anaknya kena tipes. Ia pun harus menutup warung lebih dini. Maka tandanya, kita harus pamit, mencari warung lain, atau pulang ke kos masing-masing. Namun Astri mengajakku mencari warung lain. Kau berutang cerita soal kebodohanmu di Klaten dan tentang Utuy, katanya.
Hukum hubungan laki-laki dan perempuan yang kuyakini selalu begini: laki-laki selalu haus akan pengakuan sedangkan perempuan selalu haus akan perhatian. Namun itu tak kutemukan pada Astri. Meski ia terlihat feminim dan terkesan perempuan manja dari penampilannya, Astri adalah pendengar yang baik. Ia pandai berbagi peran antara sebagai pendengar maupun sebagai pencerita. Itulah sebabnya aku tak bosan barang satu detik pun. Kami berpindah dari Hik Pak Min ke Warmindo (Warung Makan Indo Mie) belakang kampus.
Ia memesan teh s**u dan omelet, sedangkan aku, secangkir kopi. Kau masih berutang cerita tentang Utuy lho ya, kalimat pertama yang ia lontarkan.
“Hal pertama yang kuingat tentang Utuy adalah soal kedai kopi Mira. Tempat segala permasalahan hidup tercurah di sana. Setiap aku datang ke warung kopi atau Hik, kubayangkan ada sosok Mira yang duduk dibalik meja. Ia mengepang rambutnya menjadi dua, mengenakan baju terusan berwarna merah bunga-bunga, kemudian duduk menjajakan kopi sekaligus menjajakan senyumannya. Kopi di kedai itu sebenarnya tidak terlalu enak apalagi jajanannya, bisa dikatakan dingin. Namun kau tahu, berkat Mira-lah kedai kopi itu selalu ramai. Orang-orang lebih suka memilih membayar senyuman Mira daripada kopi buatan ibunya—Ibu Mira. Yang namanya Mira tetaplah Mira, meskipun digambarkan sebagai sosok yang cuek, sebenarnya ia butuh cinta. Dan cinta itu menitis pada sosok Awal. Naasnya, seorang Mira terlalu gengsi untuk mengakui cintanya. Kemudian Awal, ia begitu mencintai Mira. Bahkan melebihi cintanya pada diri sendiri. Permasalahan inilah yang menjadi benang merah cerita naskah lakon Awal dan Mira. Sekaligus menjadi salah satu karya monumental Utuy.”
“Secantik apa Mira itu?”
“Lebih cantik dari pada Dian Sastro kurasa.”
“Hmm…” ia berdehem sambil memonyongkan bibirnya. “Lalu soal pementasan tadi?”
“Iskandar adalah gelandangan yang merdeka. Ia menganggap dirinya sebagai orang bebas yang tidak berhak dikekang bahkan diperintah oleh siapapun. Iskandar menolak hidup sebagai boneka, sama halnya Awal dalam naskah Awal dan Mira yang menolak hidup sebagai badut-badut. Ia menganggap boneka sebagai manusia yang kehidupan emosionalnya ditentukan oleh moralitas yang munafik dari orang lain. Puncaknya tentu di akhir cerita. Ketika Ani yang cantik jelita sadar bahwa hidupnya dimanipulasi oleh orang lain dan memutuskan meninggalkan pekerjaannya di warung nasi untuk hidup bersama Iskandar.”
Astri tersenyum sambil tepuk tangan. Malam yang larut meninggalkan kami berdua dan dua pasang mahasiswa lainnya di Warmindo. “Kamu penggemar sastrawan kiri juga?”
“Tidak terlalu, aku tidak suka rasis pada latar belakang mereka.” Astri manggut-manggut sambil menyuapkan potongan omelet ke mulutnya. “Selain Utuy? Siapa lagi yang kamu kenal?”
“Ya lumayan banyak, tapi aku lebih memilih tidak terlalu fanatik.”
“Kamu masih nulis puisi?”
“Ini interogasi?”
“Oh engga, hanya ingin tahu saja. Barangkali mau beralih ke novel atau cerpen.”
“Hmm… Pernah terpikir sebenarnya.”
“Nah! Aku akan menjadi penggemar pertamamu.” Astri tersenyum sambil mengedipkan satu matanya.
Malam itu kami menghabiskan pagi dengan bertukar cerita tentang kegemaran baca masing-masing. Astri, mahasiswa seni pertunjukkan yang gila buku. Ia sangat gandrung pada karya yang berbau feminisme. Ayu Utami dan Djenar Maesa Ayu adalah idolanya selain Laksmi Pamuntjak. Dua tahun lalu, aku menganggap semua laki-laki itu b******k, sebelum akhirnya bapak menyadarkanku, ucapnya dengan tatapan tajam kepadaku. Bisa jadi inilah alasan ia begitu menggilai karya-karya berbau feminisme. Kemudian ia bercerita tentang pengalamannya membaca Saman dan Larung.
“Bisa jadi memang benar, menjadi sepertimu mungkin adalah salah satu anugerah Tuhan yang tidak terkira.” ucap Astri, akupun mengernyitkan dahi menatapnya lekat-lekat. “Iya, bukankah tidak enak hidup dalam cengkraman masa lalu yang selalu menjadi ekor pikiran.” ia tersenyum kecut, sambil memandang gelas teh susunya.
“Apa ada, ramuan khusus untuk menghapus ingatan ya?” ia memandang gelas sambil tangannya memutar sendok. Aku pun mengangkat kedua bahu. Kemudian ia menatapku lekat, “Kalau perempuan?”
Aku pun mengernyitkan dahi.
“Iya, apakah kamu masih punya ingatan dengan seorang perempuan? Seorang kekasih barangkali?” pertanyaan dari Astri menjelma sengatan di salah satu bilik kepalaku. Ingatanku tertambat pada sosok Anjani. Dan semestinya aku sudah tak lagi memikirkannya. Seketika aku diam. Mencoba menerawang apa-apa saja yang kuingat. Ada sosok perempuan berambut panjang mengenakan baju terusan putih tipis, berkali-kali memanggilku. Ia merentangkan kedua tangan seperti mengajakku masuk dalam pelukan. Rambutnya tergerai seirama sentuhan angin, begitu juga baju terusan putih itu.
Aku teringat mimpiku di rumah paman. Hal penting yang masih rumpang di kepalaku. Entah apa. Dan Astri masih bergeming menatapku lekat. Nampaknya ia menunggu jawaban.
“Baiklah, kupikir kau ingat dengan perempuan bernama Anjani kan?” aku membuka percakapan. Astri nampak serius menyimak.
***