Aku pernah bermimpi tersesat di hutan yang asing. Seperti kebanyakan mimpi di dalam hutan lainnya, aku tak bisa mengenali berada di hutan apa saat itu. Pohon-pohon menjulur tinggi dan lebat. Cahaya matahari hanya bisa menembus dengan samar. Di keremangan jalan setapak yang membelah hutan menjadi dua bagian, aku berjalan tergesa-gesa. Namun langkahku gontai. Kurasakan kaki kananku beku dan ngilu. Aku jatuh kemudian mendapati seekor ular melilit tulang keringku. Ia menancapkan dua taringnya tepat di bagian betis. Aku mengerang kesakitan. Entah kenapa saat itu, aku tak berpikir untuk mengusir ular itu. Sambil berjalan gontai, aku menyeret kaki ke arah pohon terbesar di ujung jalan setapak. Hingga kaki kananku mati rasa, aku pun jatuh. Namun, ada dorongan kuat yang membuatku untuk terus berjalan menuju pohon besar itu. Karena gagal berdiri, aku pun merangkak dan membiarkan kaki kananku terseret. Naas benar nasibku dalam mimpi saat itu, karena tiba-tiba aku jatuh di sebuah lubang yang tertutup rimbun rumput. Aku jatuh di lubang seperti sumur tak bertepi yang membuatku tersentak. Terjaga.
Aku bangun dengan tubuh basah keringat. Keesokan harinya, aku menceritakan perihal mimpi yang menggangguku itu pada Anjani. Sialnya, ia malah tertawa dan tak memedulikan kekhawatiranku. Hari itu, kami bertengkar hebat, lantaran sehari sebelumnya, ia tahu aku pergi dengan Astri. Kami bertemu di Malam Sastra Solo, dan menghabiskan malam itu di kedai kopi.
Apakah kau percaya akan pertanda dari mimpi? Aku pernah bertanya hal ini pada Astri. Ia menjawab bahwa orang-orang Jawa seringkali mendapat ilham rezeki dan bencana yang akan menimpa lewat perantara mimpi. Aku tersenyum sekaligus merasa nelangsa. Lantaran di hari yang sama, aku mendapat jawaban yang berbeda. Satu dari Anjani yang justru menertawakanku, dia bilang aku terlalu kuno mempercayai hal itu. Satunya, dari Astri yang begitu khusyuk mendengarkan tanpa menyela. Ia bahkan sempat bertanya kepada Pak Dhe-nya sekaligus memperingatkan suatu hal padaku.
Berbulan-bulan kemudian, aku mengamini peringatan itu. Saat itu, Astri berpesan berhati-hati terhadap hubungan yang sedang kau jalin. Akan ada hambatan besar dari orang terdekat, biasanya keluarga, begitu tuturnya.
Malam ini pun sama seperti malam berbulan-bulan yang lalu. Setelah mononton teater di Taman Budaya Jawa Tengah, aku dan Astri menghabiskan malam bersama. Kami memarkirkan motor di salah satu angkringan 24 jam. Kemudian jalan-jalan berputar-putar di sekitar benteng Vastenburg.
“Aneh memang ya, Anjani katamu masih berdarah biru. Tapi kok tidak percaya soal bergituan?” tanya Astri. Kami berjalan beriringan. Beberapa kali kami sempat berhenti duduk, kemudian berjalan lagi. Kata Astri, cara ini adalah metode paling tepat untuk melawan kantuk.
“Tapi ia begitu menentang segala hal yang dinamakan adat oleh kedua orang tuanya. Meski pada akhirnya, alasan ini yang membuat kami berpisah.” Astri menghentikan langkah, kemudian menoleh padaku. “Alasan apa?” ucapnya. “Begini ceritanya,” aku menancapkan sebatang rokok di sela-sela bibir. Kemudian menyulutnya.
***
Anjani merebahkan tubuhnya di ranjang. Ia mengeraskan alunan instrumen marriage d’amour dari ponselnya. Perlahan ia memejamkan mata. Denyut jantungnya berpacu seiring irama musik. Darahnya berdesir. Ia memaksa memejamkan mata lebih dalam. Kemudian meraih bantal dan ia benamkan wajahnya di bantal itu. Ia berteriak sekuat mungkin. Sesak di d**a tak juga hilang. Sayup-sayup suara mobil masuk ke pekarangan rumah. Ia membuka bantal, matanya telah sembab.
Sehari sebelumnya, Anjani menemui Wage di kantin perpustakaan kampus. Ia melihat lelaki itu duduk di pojok sambil menyandarkan kepala ke tembok. Pandang matanya ke langit-langit. Wage menyesap sisa ampas di cangkir, kemudian ia menyalakan lagi rokoknya. Melihat Anjani yang datang padanya, Wage memperbaiki posisi duduk.
***
“Tunggu-tunggu! Kenapa kau menyebut dirimu Wage dalam cerita ini? tidak menggunakan aku saja?” potong Astri.
“Ssstttsss! Diam dan dengarkan saja. Kau pasti akan menikmatinya.” Jawabku. Astri pun manggut-manggut. Kemudian aku melanjutkan cerita.
***
Jadi, sehari sebelumnya, Anjani bertemu dengan Wage di kantin. Saat itu, Wage terlihat benar-benar kacau. Melihat kekasihnya datang, ia lekas memberikan kode.
“Yu! Kopi dua ya!” teriak Wage.
“Ngga usah Yu! Ngga jadi. Aku hanya sebentar!” Anjani melotot pada Wage.
“Besok mereka akan datang.” Perempuan ini duduk di depan Wage dengan wajah yang tak karuan. Wage diam, kemudian menampik tangan Anjani yang akan mengambil kotak rokoknya.
“Kita ke pujangga kenalan Bapak besok bagaimana?” ketus Anjani.
“Lusa, aku sudah janjian lusa.”
“Besok tidak bisa?”
“Perkaranya….”
“Perkaranya, kalau kita ngga segera ke sana, aku bisa dibawa kawin oleh dokter itu, Wage!” potong Anjani membuat Wage diam seketika. Wage kembali meraih cangkir kopi yang kosong. Ia mencoba menyesap sisa ampas kopi yang mungkin masih bisa menenangkan pikirannya.
“Kau tidak pernah cerita kalau rumahmu menghadap ke barat…” ucap Wage sambil mengempaskan asap rokoknya ke atas.
“Kaupun juga, sejak kapan rumahmu menghadap ke timur.”
“Kau benar-benar cinta kan?”
“Untuk apa aku jauh-jauh dari rumah ke kampus, ngga ada kuliah, masuk ke sarang macan ini, apakah untuk sekadar melihat wajahmu yang belum mandi masih baik-baik saja?”
Mereka diam lagi.
“Aku khawatir padamu, kupikir kau akan bunuh diri.” lanjut Anjani lirih. Wage menatap Anjani dengan menyipitkan mata.
“Wage, aku ingin bertanya serius. Apakah benar-benar ada jalan keluar pernikahan lusan seperti…”
“Sssssttttsss….” Wage memotong sambil menggenggam tangan Anjani.
“Percayalah, pasti ada.”
“Kalau…”
“Anjani, jika pun akhirnya kau kawin dengan dokter b******k itu. Percayalah, tidak semua hal akan hilang dalam arus waktu. Kau harus percaya itu.” Anjani diam. Air matanya membasahi pipi.
“Wage, aku takut…” Anjani menarik tangannya. Ia menutup wajah dan menunduk. Wage berdiri kemudian pindah duduk di kanan Anjani. Ia memeluk kekasihnya.
“Bertahanlah untuk besok. Lusa, aku akan jemput pagi. Aku janji.”
Bagaimanapun, orang tua Anjani tidak akan bisa menerima Wage. Anjani adalah anak pertama dari keluarga terpandang. Sedangkan Wage adalah anak ketiga dari keluarga seniman. Ayahnya adalah wartawan budaya di koran lokal solo. Sedangkan ibunya membuka sanggar tari di daerah Mangkunegaran. Secara adat Jawa pernikahan mereka disebut lusan. Namun bukan perkara itu yang sebenarnya menjadi alasan orang tua Anjani lebih memilih dokter yang sudah bekerja di salah satu rumah sakit swasta Denpasar. Pertimbangan materi adalah hal utama. Meskipun Wage saat ini sudah mengajar teater di beberapa sekolah, ditambah lelaki gondrong ini juga sedang menyelesaikan skripsi di UNS, namun kedua hal ini bukanlah standar jaminan bagi orang tua Anjani.
“Coba kau bayangkan, bagaimana tanggapan calon mertuamu, jika melihat calon menantunya adalah laki-laki bertato, gondrong, bertindik, dan kesehariannya hanya mengajar teater.” suatu kali Wage pernah cerita pada sahabatnya, Baron.
“Itu yang akan aku lakukan besok. Berperang dalam keadaan tubuh compang-camping dan penuh luka. Tapi hei! Apakah kau masih percaya cinta?” lanjut Wage.
“Omong kosong! Mana ada orang tua yang berani melepas anaknya dengan janji: aku mencintai anakmu Pak!”
“a*u! Harusnya kamu memberi semangat pada sahabatmu ini lho!” mereka tertawa kemudian.
Anjani adalah anak seorang jaksa terkenal di Solo. Ada yang mengatakan bahwa ia masih keturunan darah bangsawan. Kedua adiknya kuliah hukum di Amerika. Anjani memilih mengambil jurusan kedokteran UNS. Menurut pengakuannya, ia tak bisa jauh-jauh dari Solo. Bukan karena orang tuanya yang suka membanding-bandingkan Anjani dengan anak jaksa lain. Wage adalah alasan utamanya. Anjani tidak bisa memelihara jarak yang jauh dengan kekasihnya itu.
Di satu sore yang tidak akan dilupakan oleh Anjani, Wage datang secara tiba-tiba ke rumah. Lelaki ini memarkir GL Pro 90-nya di samping deretan tiga mobil mewah keluarga Anjani. Sebelum mengetuk pintu, lelaki ini mengeluarkan bingkisan bunga dari ransel. Sayangnya, untung tak bisa diraih, malang tak bisa ditolak. Bukan Anjani yang membuka pintu ketika bel usai dibunyikan. Seorang lelaki tinggi besar dengan kumis tebal yang berdiri mantap di muka pintu. Lelaki berkumis tebal ini adalah ayah Anjani. Ia memandang Wage dari atas ke bawah, ke atas, dan ke bawah lagi. Ia mengulanginya berkali-kali dengan mata yang tajam dan raut wajah sinis. Ini tidak akan pernah berjalan mulus, batin Wage seketika.
Benar saja. Wage tidak dipersilakan masuk ke ruang tamu. Mereka duduk di kursi teras. Belum genap Wage menata napas, hujan pertanyaan bertubi-tubi mengarah padanya. Diawali dari pekerjaan, nama orang tua, pekerjaan orang tua, alamat, hingga pertanyaan menghadap ke mana rumahmu. Namun setiap kali Wage akan berbicara banyak, Ayah Anjani langsung memotongnya dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak penting.
“Maaf, Nak Wage, sekarang Anjani benar-benar tidak bisa ditemui. Ia pergi belanja keperluan menyambut tamu keluarga dokter dari Bali. Jika Nak Wage, berpikiran ingin meminang Anjani, pertimbangkan lagi. Anjani anak sulung, sedangkan Nak Wage anak ketiga, ditambah lagi rumah ini menghadap ke barat sedangkan………..” rangkaian kalimat ini sebenarnya lebih panjang lagi. Namun tak ada yang masuk satu pun di ingatan Wage. Semua penjelasan yang ada hanyalah dalih untuk memperkuat bahwa Anjani tidak akan menikah dengan Wage. Atau jika dengan bahasa kasar: pulanglah! Anjani tidak pantas untukmu. Begitulah isi pikiran Wage meninggalkan rumah Anjani. Sepanjang jalan ia habiskan dengan mengumpat. Wage paham betul, Anjani sedang di rumah. Ia anggap hari itu sedang sial. Kemudian segala yang keluar dari mulut lelaki b******k yang ternyata adalah ayah dari kekasihnya itu hanyalah omong kosong belaka. Omong kosong jika Anjani menerima pinangan dokter b******k itu. Dan omong kosong juga soal rencana silaturahmi keluarga dokter b******k itu yang jauh-jauh dari Bali.
Namun kenyataannya, perihal silaturahmi keluarga dokter yang dari Bali memang benar adanya. Hal inilah yang membuat Wage semakin meradang. Sedangkan Anjani seakan sudah pupus harapan.
Malam ini, ketika langit malam masih menyisakan gerimis. Sayup-sayup datang suara mobil di halaman rumah Anjani. Perempuan ini masih bertarung dalam gelisah di kamar. Ada setumpuk rasa sesak yang siap meledak. Tiba-tba pintu kamarnya diketuk. Ibunya meminta ia bersiap.
“Anjani, percayalah, tidak semua hal akan hilang dalam arus waktu. Kau harus percaya itu.” Anjani merasakan bisikan suara Wage begitu dekat di telinganya.
Kemudian ia meraih ponsel mengirim pesan. Anjani membuka lemari. Ia bergegas ganti baju. Di tengah malam yang dingin, ketika gerimis masih menjulurkan kaki-kakinya ke tubuh bumi, seorang perempuan cantik keluar dari jendela kamarnya. Ia berlari bertelanjang kaki menerobos kebun belakang rumah. Menerobos gerimis. Menerobos nasib yang dipaksakan oleh orang tuanya. Di lain tempat, seorang laki-laki terpaku seakan tak percaya membuka pesan di ponselnya.
“Jemput aku di depan balai desa Bekonang! Sekarang!”
***
“Lalu? kamu datang?” potong Astri lagi.
“Menurutmu?” aku mengernyitkan dahi menatapnya.
“Yaaa… siapa tahu malah engga, siapa tahu juga iseng.” Astri terkekeh kemudian. “Tapi, aku tidak akan berubah pikiran. Dan semakin mantap. Kamu harus belajar nulis prosa! Minimal cerpen!” lanjutnya. Aku diam beberapa saat.
“Aku bantu kamu belajar sampai bisa. Pak Dhe-ku bekerja di Suara Karya dan kamu harus menemuinya.”
“Ehhmmm…”
“Sudah, ngga usah pakai ahhmm ehhmm segala.”
Kukira yang ia omongkan hanya bercanda atau minimal berniat menghiburku. Ternyata tidak. Beberapa hari kemudian ia mempertemukanku dengan Pak Dhe-nya.
“Lalu, soal kecelakaan itu? Ngapain aja si kamu di jalan, bisa-bisanya menabrak truk yang berhenti di lampu merah?” pertanyaan Astri membuatku merenung. Kemudian aku ingat masih berutang satu cerita padanya. Soal alasanku untuk pulang dan kebodohanku yang ingin menyeberang melewati jembatan hidup dan mati.
***