Putri Scheherazade dari Negeri 1.001 Malam

2014 Kata
Membayangkan kembali Astri secara utuh seringkali membuatku begitu nelangsa. Lantaran setiap kali perempuan ini berhasil tergambar dalam kepalaku, mau tak mau, sosok Anjani kembali hadir. Ah, sedang apa sekarang dia ya? Apakah ia sudah mematangkan tanggal pernikahannya? Ada yang mengatakan, jika kau sudah memilih untuk jatuh cinta, maka konsekuensinya, sediakan hatimu sebagai ladang luka. Namun aku kembali menyangsikan, apakah cinta itu pilihan? Atau tiba-tiba saja hadir di hati manusia. “Menikah itu nasib, mencintai itu takdir. Kamu bisa berencana menikahi siapa, tapi tak dapat kau rencanakan cintamu untuk siapa.” ucap Anjani kala itu. Kami duduk saling hadap di kedai kopi. Ia memesan kopi tubruk yang kental, sama sepertiku. Kami bersamaan menyulut rokok. “Itu kata-kata yang kau buat sendiri?” balasku. “Bukan, tapi Sujiwo Tejo. Aku sering menikmatinya di Twitter. Cari saja tagar talijiwo.” “Berarti, Tuhan menakdirkan aku jatuh cinta padamu?” “Tapi, belum tentu kan, suatu saat kamu memilihku untuk menikah denganmu.” Saat itu, aku hanya diam sejenak mencerna apa maksud dari ucapan Anjani. Beberapa waktu kemudian, aku baru sadar, ucapannya itu adalah sebuah pertanda. Namun nampaknya mustahil memutar balik arus waktu. Jika bisa, ingin segera kupastikan apa yang ia rasakan saat itu. Mengingat Anjani adalah mengingat segala cerita yang lahir dari bibirnya yang mungil. Inilah yang kerap kubandingkan dengan Astri. Meski mereka sama-sama penggila buku, namun Anjani selalu bisa melahirkan banyak kisah. Ia seringkali bercerita banyak hal, mulai dari apa yang sedang ia lakukan, hingga hal-hal remeh temeh perihal kesukaannya terhadap bau air hujan. Aku baru tahu darinya, kalau itu disebut petrikor. Pagi ini, setelah Astri mengantarku pulang ke Asrama, aku diam sejenak di teras lobi lantai satu. Menyulut rokok, memesan kopi. Ketika Astri pamit, ia membalikkan badan dan berjalan. Sekejap, ingatanku merekam Anjani. Kami seringkali berjalan bersama, namun Anjani selalu mencoba berjalan di depanku. Hanya beberapa kali kami berjalan beriringan. Perempuan ini kurang suka bercerita saat berjalan. Ia pasti menghentikan pembicaraan ketika lahir dalam perjalanan. Kemudian melempar pandang, mencari tempat terdekat yang paling nyaman. Namun, seringkali ia justru lebih memilih mencari kedai kopi terdekat. Seperti saat itu, setelah seharian ia membantuku mengajar teater. Kami sempat membicarakan tentang kisah Rama dan Shinta. Hingga sebuah percakapan yang panjang mendamparkan kami di kedai kopi. “Belum paham?” ucap Anjani. Aku menggeleng ragu. “Hmmm… baiklah, aku ada sebuah cerita yang menarik perihal ini. Tentang cinta dan pernikahan, yang menjadi asal muasal cerita 1.001 malam yang kita kenal hingga sekarang.” “Abu Nawas?” aku membalas sambir mengernyitkan dahi. “Duuuh… Kapan-kapan aku bawakan buku-buku bagus penulis Timur Tengah aja deh, biar kamu tahu kalau cerita dari negeria Arab dan sekitarnya ngga melulu tentang Abu Nawas atau Aladin saja.” “Terserah, yang penting bukan cerita-cerita bergambar ala Disney ya!” aku terkekeh. Kemudian ia memonyongkan bibirnya. “Dah, jangan banyak omong, mau dengar apa engga?” ketus Anjani kemudian. Aku hanya manggut-mangut sambil tersenyum. *** Konon jauh sebelum kita dilahirkan, ada dua malaikat yang diutus Tuhan ke bumi. Menjelma manusia yang utuh dengan akal dan nafsu. Kedua malaikat itu mengabdi di sebuah kerajaan yang sebenarnya rakyatnya begitu makmur. Namun Sang Raja memiliki kebiasaan yang sangat jahat dan kejam. Ia dikenal dengan nama Raja Shahriar. Setiap hari, Sang Raja memerintahkan orang kepercayaannya untuk membawa satu perempuan ke istana. Tentu yang dibawa bukanlah perempuan sembarang: haruslah berparas cantik dan bertubuh seksi. Kemudian perempuan itu akan diajak bercinta di bawah siraman kerlap-kerlip malam yang indah. Lalu begitu fajar tiba, perempuan ini akan dieksekusi mati begitu saja. Kedua malaikat itu berbagi peran. Yang satu menjelma sebagai Harut, seorang algojo kepercayaan raja. Setiap fajar menjelang, Harut memiliki tugas khusus untuk membunuh setiap perempuan yang baru saja tidur dengan Raja. Kemudian satunya sebagai Marut. Ia seorang pencerita ulung yang hidup sebagai pujangga di tengah-tengah masyarakat kerajaan itu. Marut dipercaya Raja untuk memilih dan membawa satu perempuan setiap senja ke istana. Kemudian perempuan ini akan bercinta di bawah siraman rembulan dan malam berbintang, lalu paginya akan dieksekusi mati oleh Harut. Kedua malaikat ini turun lantaran kekejaman Raja yang sudah melebihi batas. Kemudian dengan kuasa Tuhan, ia menggantikan algojo dan sang pujangga sebelumnya. Dengan akal yang dianugerahkan Tuhan, kedua malaikat ini menyusun rencana untuk menghentikan polah raja yang melebihi binatang ini. Barangkali memang benar, cinta adalah jelmaan Tuhan yang dianugerahkan di setiap jiwa manusia. Maka, jika seorang manusia telah hilang kepercayaan akan cinta, ia akan hilang pula kepercayaan pada Tuhan. Bukankah Tuhan Maha Cinta? Inilah yang menjadi alasan Raja Shahriar begitu tega membunuh setiap perempuan setelah bercinta dengannya. Sebenarnya Raja Shahriar bukanlah orang yang sejahat itu. Ia sebelumnya adalah seorang raja yang romantis dan penuh cinta. Lalu seorang perempuan yang begitu ia cinta, meruntuhkan bangunan kepercayaannya. Ialah Adara, perempuan cantik dari Persia. Konon kecantikannya melebihi kecantikan bidadari surga. Adara dianugerahi mata yang indah. Mata yang bening dan seringkali memancarkan cahaya magis bagi siapa saja yang melihatnya. Kemudian, bibirnya adalah keindahan kedua yang bahkan bisa menyebabkan siapa saja begitu ingin menciumnya. Sepasang bibir seksi yang bisa menggugah kejantanan pria. Dan suaranya yang lembut adalah seruling yang bertiup dari surga ke tujuh. Maka tak heran, ketika Raja Shahriar bertemu dengannya di sebuah perjamuan malam perayaan pergantian tahun, luluhlah hatinya. Kemudian mereka menikah dengan perayaan yang sangat megah. Lalu Adara, lekas terlihat watak serakahnya. Belum genap satu tahun menikah dengan Raja Shahriar, perempuan Persia ini meminta dibuatkan bungalow yang megah. Bungalow pribadi yang menghadap ke lautan. Menurutnya, Bungalow ini adalah simbol keagungan kecantikannya yang tak terkira. Hal ini memang benar adanya. Semua orang tentu sepakat bahwa kecantikan Adara melebihi bidadari Surga. Maka, untuk membuktikan cintanya, Sang Raja mengabulkan permintaan istrinya itu. Hingga pada suatu sore yang tak diinginkan, Sang Raja memergoki istrinya berselingkuh di Bungalow megah itu. Sebuah Bungalow yang seharusnya menjadi perwujudan cinta Sang Raja, kini menjadi tempat eksekusi perempuan-perempuan malang korban kekejaman Raja Shahriar. Di Bungalow megah yang menghadap laut ini pula, Adara dan lelaki biadab selingkuhannya dibunuh, lalu mayatnya dibuang ke laut. Sejak saat itu, Raja Shahriar berpikir bahwa tidak ada perempuan yang setia. Ia bersumpah sambil menghadap matahari senja, bahwa cinta adalah kebohongan pertama yang diciptakan Tuhan. Oleh sebabnya, untuk menuntaskan dendamnya yang tak berkesudahan itu, setiap sore, ia menyuruh pengawal kepercayaan untuk membawakan perempuan baru untuk diajak bercinta. Kemudian ketika Fajar tiba, perempuan malang itu akan dieksekusi di Bungalow megah itu dan mayatnya akan dibuang ke laut. Di suatu sore, Harut dan Marut telah sepakat untuk menghentikan kekejaman Raja Shahriar. Marut membawa seorang perempuan yang cantik jelita. Ia bernama Scheherazade. Selain dianugerahi mata yang indah dan lesung pipit yang begitu manis, Scheherazade adalah perempuan yang cerdas. Ia menghabiskan waktunya setiap hari di perpustakaan pusat Kota Baghdad. Lantaran kecerdasannya ini pula, Marut menjatuhkan pilihannya. Rencananya cukup sederhana. Layani Sang Raja sebaik mungkin. Kemudian buat ia terlena dengan bujuk rayu Scheherazade setelah bercinta. Setelah Sang Raja kejam itu terlena, Scheherazade diperintahkan untuk membunuh Raja Shahriar dengan menuangkan racun di minumannya. Malam datang. Lalu Sang Raja memanggil Marut untuk membawa perempuan baru ke Bungalow megahnya. Dengan langkah pongah, serta wajah penuh dendam, Raja Shahriar masuk ke kamar. Di ranjang berangka emas dan berselambu sutera itu, Scheherazade telah bersiap memakai pakaian serba biru. Di keheningan malam, di bawah siraman kerlap-kerlip langit yang indah, mereka bercinta. Lalu di luar kamar, seperti hari-hari sebelumnya, Harut sudah bersiap membawa kapak besar. Namun malam ini adalah malam yang berbeda bagi Harut. Jika perempuan ini gagal, pikirnya, ia akan mengayunkan kapak besarnya ini ke kepala Raja kurang ajar itu. Harut membunuh waktu dengan begitu gelisah. Ia paham betul, orang pertama yang akan keluar dari balik pintu besar berlapis emas itu adalah pemenang dalam pertempuran malam ini. Jika Scheherazade yang keluar, sudah pasti misinya berhasil. Dan Raja kejam itu pasti sudah terkapar keracunan. Namun jika yang keluar adalah Rajanya, sudah tentu kapaknya yang harus pertama kali berbicara. Berjam-jam Harut menunggu. Berjam-jam pula ia menakar langkahnya begitu pintu berlapis emas itu terbuka. Hingga kerlip cahaya di ufuk timur telah lahir. Namun belum juga pintu itu terbuka. Ini lebih lama dari biasanya, gumamnya. Kemudian fajar lahir dengan sempurna. Air laut telah berkilat-kilat memancarkan cahaya pagi. Dan pintu besar berlapis emas itu belum juga terbuka. Namun tak lama setelahnya, suara berderet lahir dari dalam kamar. Harut mengambil ancang-ancang, berjaga jika Raja kejam itu yang keluar lebih dahulu. Benar saja, langkah pertama yang muncul dari balik pintu bukanlah kaki mungil Scheherazade. Kemudian Harut berjalan ke arah pintu, ia berupaya tidak melihat wajah menjijikkan Rajanya itu. Di tangan kanan algojo itu, kapaknya telah siap diayunkan. Namun belum genap ia sampai dan belum juga ia ayunkan kapak besarnya, ia berhenti dan terdiam seketika oleh ucapan pertama Sang Raja. Jangan kau bunuh perempuan ini, bawa ia kembali besok sore, ucapnya ketus dengan wajah yang terlihat kebingungan bercampur heran. Sudah tidak karuan sebenarnya raut wajah Sang Raja. Apakah puas, kecewa, atau bingung, Harut tidak bisa membacanya. Harut pun diam seribu bahasa melihat punggung Raja Shahriar meninggalkannya. Tidak lama kemudian Scheherazade keluar dengan senyum kemenangan yang justru menciptakan tanda tanya besar di kelapa Harut. Sttssstttt…. Tidak usah berkata apa-apa, apalagi menanyakan apakah racun itu sudah kutuangkan ke minumannya, percayalah padaku, ucap perempuan itu sambil telunjuknya ia rapatkan ke bibir Harut. “Tunggu! Tapi apa yang….” “Ssttttssstt… Tuhan selalu punya cara untuk menumbuhkan cinta kan?” Keesokan harinya, disusul hari-hari berikutnya. Kejadian itu berulang. Harut dibuat cemas menunggu orang pertama yang keluar dari pintu berlapis emas itu. Dan selalu, Raja Shahriar yang keluar pertama dengan raut wajah yang begitu tak karuan. . Jangan kau bunuh perempuan ini, bawa ia kembali besok sore, ucapnya lagi dan lagi. Dan jawaban Scheherazade, selalu sama: Ssttttssstt… Tuhan selalu punya cara untuk menumbuhkan cinta kan? Sambil merapatkan telunjuknya ke bibir Harut pula. Kejadian ajaib itu, Harut ceritakan pada Marut, dan hasilnya sama: menimbulkan pertanyaan yang besar di kepala mereka berdua. Hingga akhirnya, malam-malam seterusnya pun begitu. Scheherazade menunggu di kamar, Raja masuk, —mungkin—mereka bercinta, kemudian malam menjadi ladang gelisah di d**a Harut, lalu Raja keluar, dan Scheherazade masih baik-baik saja bahkan tersenyum manis penuh kemenangan. Hari silih berganti, bulan terbit dan tenggelam, tahun pun lahir dan berjalan. Kejadian itu berulang hingga beratus malam yang tak terhitung jumlahnya. Hingga akhirnya Raja Shahriar menikah dengan Scheherazade dan dianugerahi tiga orang anak. Di hari menjelang pernikahan itu, Harut dan Marut kembali menanyakan sesuatu yang mengganjal di pikiran mereka. Mereka tak menyangka sebenarnya, Raja yang terkenal kejam itu, bisa luluh pada seorang perempuan. Tentu setelah melewati ratusan hari yang begitu kelam. Akhirnya Scheherazade bercerita pada Harut dan Marut tentang apa yang mereka lakukan di kamar. “Setiap malam, setelah kami bercinta, aku selalu bercerita pada Raja Shahriar. Namun cerita itu tidak pernah menemui akhir, kemudian Raja bertanya ‘Tunggu! Bagaimana akhir ceritanya?’ Akupun tersenyum sambil merekatkan bibirku ke bibirnya, aku berbisik, tunggu saja besok malam, akan kuceritakan kelanjutannya untukmu Yang Mulia. Begitulah seterusnya. Aku selalu membawa cerita baru saban malam, tentu saja pakaianku pun kusesuaikan dengan suasana cerita yang akan kubawakan.” Sambil menggaruk-garuk kepala, Harut mengangguk ragu. Berbeda dengan Marut yang tersenyum, kemudian membalas, maaf nona Scheherazade, bolehkah saya tulis setiap cerita yang Nona bacakan pada Raja? Scheherazade tersenyum mengiyakan. *** “Begitulah awal mulanya. Kelak cerita yang ditulis oleh Marut, kemudian kita kenal dengan cerita 1.001 malam dari negeri Arabia dengan siraman bulan dan kerlap-kerlip bintang indahnya. Dan sekali lagi, cinta adalah jelmaan Tuhan yang dianugerahkan di setiap jiwa manusia. Dengan cintalah, kekejaman Raja Shahriar berakhir. Lalu Harut pun berpindah ke negeri lain, kembali mengemban misi baru dari Tuhan. Dan Marut menyelesaikan kitab 1.001 malam yang kita kenal hingga sekarang.” pungkas Anjani. Aku tepuk tangan. “Sebuah kisah cinta yang romantis, kan?” “Aku membayangkan perempuan bernama Scheherazade itu adalah dirimu.” aku menambahkan. Sambil menyulut kembali batang rokok ketiga berturut-turut. “Ah, kau terlalu berlebihan. Cinta Scheherazade terlalu mulia jika dibandingkan denganku. ” ia membuang muka ke arah jendela. Keramaian siang itu seperti menjelma kemacetan di otaknya. Aku melihat ada bibit masalah yang tumbuh dari wajah Anjani. Saat itu, ada perasaan yang tumbuh. Semacam perasaan ganjil yang menjelma jalan panjang yang penuh rintangan. Hati kecilku merasa hubungan ini tidak akan mudah. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN