Ini hari Sabtu. Kukira Reda akan pulang kampung dan aku bebas di kamar sendirian. Namun dugaanku salah. Sejak pagi ia sudah bersih-bersih kamar. Tanpa memedulikan aku yang masih terlelap, ia menyapu, mengepel, dan mengelap kaca jendela. Aku pun lantaran mendengar lagu Sheila On 7 yang diputar dilagu yang sama berulang kali. Aku lupa judulnya, yang begitu familiar adalah warna nada dan sedikit liriknya.
“Di saat kita bersama, di waktu kita tertawa menangis termenung oleh cintaaaaa” sial, kenapa Reda memanjangkan rima ‘aaa’ dan suaranya sungguh hancur berantakan. Kalau kau pernah mendengar penjual jasa patri panci atau penjual ember, nah kurang lebih seperti itu suara Reda.
Aku memaksa tubuhku untuk bangun. Berjalan dengan langkah gontai meraih cangkir, memasukkan kopi sachet, dan menjarang air dengan hitter.
“Kalau minum kopi, mbok yo langsung dibersihkan.” logat medoknya kental. Aku hanya mengangguk sambil meringis. Kemudian mengambil sebatang rokok, menancapkan di sela-sela bibir, dan menyulutnya sambil berjalan keluar. Tidak lama kemudian, aku masuk kembali, menuang air panas ke cangkir dan keluar lagi. “Wage! Jangan bawa rokok ke dalam kamar!” teriak Reda.
Aku menuju lobi lantai 1. Berjalan hanya mengenakan kolor merah dan kaos oblong putih yang kebesaran. Tidak lupa memakai topi dan ponsel. Di halaman depan gedung, ada sekelompok perempuan sedang bermain voli. Aku duduk di teras lobi, minum kopi, dan merokok sambil menikmati pemandangan indah pagi ini.
Akhir bulan Mei yang panas kurasa. Kemudian, seorang petugas kantor pos datang. Mengantar surat surat pada seseorang yang tinggal satu gedung asrama denganku. Aku bertanya untuk siapa, Reda Afriza Joko Prasetyo, katanya.
“Titipkan padaku saja mas,” ucapku kemudian. Ia memberikan amplop berwarna cokelat sebesar kertas HVS. Kemudian berniat undur diri. “Ngga ngopi dulu mas? Satu batang rokok kukira ngga terlalu lama kan?” petugas ini kulihat masih terlihat muda. Kutaksir usianya kira-kira dua atau tiga tahun di atasku. Ia membalas dengan tersenyum kemudian duduk di sebelahku. Aku beranjak memberikan kode, tunggu sebentar, lalu kupesankan kopu di kantin Yu Nah.
“Makasih mas, untungnya ini masih pagi.” Jawabnya sambil tersenyum.
“Wage, ” ucapku sambil memberikan segelas kopi.
“Yudhi, Mas. Mas Wage, mahasiswa UNS?”
“Mahasiswa kritis, Mas.” ia kemudian tersenyum.
“Heleh, tidak apa-apa Mas, yang penting segera lulus. Sayang juga kan uangnya.”
“Mas, sudah lama bekerja di kantor pos?”
“Lumayan Mas, 5 tahunan, tapi pindah-pindah.”
Aku mengernyitkan dahi, kukira petugas kantor pos jarang berpindah-pindah. Ia mengeluarkan kotak rokok merk Marlboro merah, kemudian mengambil sebatang dan menyulutnya. Aku sempat geleng-geleng heran, kurir kantor pos rokoknya Marlboro. Ia menawariku, kemudian aku ambil sebatang.
“Mas jangan heran, aku cuma petugas yang magang.” ucapnya sambil melihat perempuan-perempuan di depan kami bermain voli.
“Magang?”
“Iya, aku cuma magang. Maaf, bukan bermaksud apa-apa. Tapi aku cuma mau cerita, semoga bisa jadi inspirasi buat mas yang kuliahnya molor.” ia terkekeh. Aku paham ini bukan ejekan, semacam bercanda untuk mengakrabkan.
“Aku sama dengan Mas, kuliah molor, bahkan hampir DO kalau bukan berkat bantuan ayahku.”
“Kok bisa?”
“Aku sedang menjalani hukuman, Mas. Ternyata menjadi anak direktur kurir logistik memang jauh dari kata menyenangkan.” Ia menunduk. Aku menangkap kisah pilu pengasuhan di keluarganya.
“Lantaran kuliah molor dan banyak ekspetasi ayah yang tidak tergapai, aku dipaksa magang di kantor pos. Tapi jadi kurir. Katanya, ah… aku sebenarnya merasa ucapan ayah agak naif.” Mendengar itu, aku pun manggut-manggut.
“Eh, mas, dari pada kita ngobrol pengalaman buruk, gimana kalau mas menceritakan pengalaman paling mengesankan mas ketika mengantar surat? Pengalaman yang paling asik mungkin.” Mendengar itu, ia tersenyum meski terlihat dipaksakan.
“Sungguh, Mas ingin mendengarnya?” matanya berbinar tiba-tiba. Aku pun mengangguk. Kemudian menyulut batang rokok selanjutnya.
***
Aku mengusap pipiku yang telah banjir oleh air mata. Sungguh, dari sekian banyak pekerjaan mengantar surat, dari yang terjauh, tempat paling terjal, hingga alamat paling sulit ditemukan, ini adalah pekerjaan paling sulit yang harus kulakukan. Ini adalah pekerjaan paling sulit sekaligus paling kejam jika tidak kuantarkan surat ini. Sepucuk surat beramplop merah untuk seorang perempuan bernama Sore Anjani.
Aku yakin sekali, seharusnya aku bukanlah orang yang cengeng, apalagi untuk hal-hal seperti ini. Namun, tembok besar ketidak-cengeng-anku runtuh sudah, ketika nekat kubuka sepucuk surat ini, kemudian k****a tuntas. Sebuah surat dengan amplop dengan warna merah. Sebuah surat yang di salah satu sudutnya ada bercak seperti pulau, aku mengiranya darah yang mengering, atau sebuah kesedihan yang mengerak.
Amplop surat ini sudah tidak begitu rapi, beberapa lipatan dan kotoran sudah membungkus tubuhnya. Kemudian di bagian pucuk penutupnya sudah ditambal oleh sobekan isolasi. Mungkin saja, surat ini sengaja ditutup kembali setelah ada orang lancang lain selain aku yang mencoba membuka surat ini.
Kini aku dirundung kebimbangan yang sangat dalam. Aku adalah seorang petugas pos. Seorang petugas pengantar surat, pengantar kabar-kabar yang seharusnya baik. Namun kini tubuhku mematung di depan pagar rumah kayu berwarna coklat muda. Kulihat di teras rumah itu ada sepasang kursi, sepasang cangkir teh, dan setoples biskuit. Aku bisa melihatnya dengan jelas, persis yang tertulis di surat ini. Kemudian di halaman rumahnya ada sebuah pohon mangga, rerumputan yang kokoh, dan tentu saja sebuah kotak surat yang kulihat sudah berkarat. Apakah rumah ini sudah hilang ditelan bumi, hingga bahkan sepertinya tak ada satu suratpun mampir di tubuh kotak surat itu, pikirku kemudian.
Tiba-tiba kudengar ada yang suara dari dalam rumah, secara reflek aku bersembunyi di balik pagar. Aman, pikirku. Sepeda kumbangku sengaja kuparkir jauh dari rumah ini. Aku yakin, ini adalah momen terberat dalam hidupku.
Tepat! Persis seperti yang ada di surat ini. Seorang perempuan dengan rambut sebahu yang berjalan menggandeng anaknya, kemudian di gendongannya ada seorang bayi mungil. Katanya, matanya bening, indah sekali sama seperti ibunya. Lekas kukenal perempuan itu sebagai Sore, perempuan yang sudah pasti sedang menunggu sepucuk surat yang kubawa ini. Tanpa sadar kupeluk erat surat ini, kemudian air mataku kembali meleleh. Sambil mengusap pipiku sendiri, mataku menerawang ke langit, senja telah lahir. Kemudian pelan-pelan kudengar suara anak kecil yang berlari riang di halaman yang kupunggungi ini. Senja telah lahir, seharusnya pekerjaanku telah usai, namun surat ini begitu mengganjalku. Seharusnya tidak kubuka surat ini, kemudian lekas kuserahkan saja pada perempuan bernama Sore itu. Lalu pulang dengan hati riang dan menunggu pagi datang lagi.
Namun malang tak bisa ditolak. Terkadang rasa penasaran bisa menjebakmu dalam pilihan-pilihan yang lebih sulit dari seharusnya. Dan inilah yang kualami, sebuah perasaan bersalah, sedih, dan sebuah keinginan menunaikan tugas sebagai pengantar kabar, bercampur baur jadi satu. Tidak keruan.
Seharusnya kusadari hal ini dari awal. Ketika kuambil surat ini dari departemen luar negeri. Dari seorang staf kedutaan luar negeri, yang matanya telah basah oleh air mata juga. Aku tak mengenalnya. Kukira, ia adalah staf baru di sana, atau memang staf yang mengalami mutasi jabatan lantaran sedang gonjang-ganjingnya perpolitikan di negara ini. Ah, aku tidak terlalu peduli dengan hal itu. Kudatangi departemen luar negeri seperti biasa, karena ini memang tugasku, mengantar segala kabar baik dari dalam maupun luar negeri.
Di sepanjang sejarah ingatanku, seorang pengantar pos adalah jelmaan malaikat Tuhan yang dengan hati riang dan gembira mengantarkan kabar-kabar baik. Hal ini tentu bisa dilihat dari banyak pelangganku selama ini. Ketika kudatangi rumah mereka dengan membunyikan lonceng di sepeda kumbangku, sudah pasti ada seseorang yang berlari dengan wajah riang dari dalam rumah. Di mana saja, bahkan di pucuk desa yang terkadang untuk menjangkaunya, minimal aku harus menjadi wartawan yang baik demi menemukan sebuah alamat. Namun tentu saja akan terbayar ketika melihat si penerima surat yang tersenyum kemudian menitipkan pesan: terima kasih Pak Pos. Sebuah kata ajaib yang menggerakkan energiku saban hari, saban waktu. Namun tidak hari ini, kutemukan kesedihan mencengkram sepucuk surat lecek berwarna merah ini. Kemudian, seorang staf departemen luar negeri yang baru itu pun juga mengantarnya dengan sebuah prosesi kesedihan, layaknya pemakaman yang begitu mengharu biru.
“Tidak ada kesedihan yang lebih sedih di dunia ini jika dibandingkan dengan tugas mengantar surat ini kepadanya, kan?” perempuan itu berbicara sambil menahan sesenggukan di d**a. Suaranya sudah parau, kemudian kulihat kedua staf resepsionis dan satpam di lobi bangunan itu membuang muka. Kurasakan kesedihan juga melingkupinya. Belum genap aku menangkap sinyal di sana, yang kutahu, surat ini harus kuantar pada seseorang yang kuyakin sudah tidak sabar menunggunya.
“Aku tak akan menghalangi tugasmu untuk mengantarnya. Namun ketahuilah, terkadang kita harus melakukan hal-hal buruk untuk menjaga sebuah kebahagiaan.” perempuan itu menambahkan.
“Meski itu hanyalah sebuah topeng dan bom waktu,” pungkasnya sambil menyerahkan sepucuk surat lecek berwarna merah itu.
Dengan tanda tanya besar yang menggantung di atas kepala, akupun pergi meninggalkan ruangan yang hening diselimuti kesedihan itu. Lekas kukayuh sepeda kumbangku menembus keramaian kota. Aku hapal betul alamatnya, namun tidak pada rumah yang tertera pada surat yang kubawa ini. Di sepanjang ingatanku, dari sekian banyak rumah yang bermukim di daerah itu, rumah yang tertera di alamat surat ini adalah kali pertama kuantar sejak aku pindah tugas di kota ini, lima tahun yang lalu.
Tidak perlu waktu lama dan banyak bertanya lekas kutemukan rumah itu. Sebuah rumah berpagar coklat muda dengan pohon besar di halamannya. Namun kali ini diluar kebiasaanku, kuparkir sepeda kumbangku di halaman pertokoan, entah mengapa ingin saja kulakukan itu. Barangkali ingin kunikmati hamparan trotoar yang diselimuti pohon-pohon rindang di depanku, padahal kutahu hari sudah hampir habis.
Ingatanku kembali terbuka pada mata yang basah, ruangan yang mengharu biru, dan sepucuk surat lecek beramplop merah ini. Kurang satu rumah lagi aku akan sampai. Namun tiba-tiba rasa penasaran di dadaku terasa ingin meledak jika tidak kubuka surat ini. Kuraba saku celanaku, masih ada lem, gumamku. Kemudian, dari balik pohon besar sebelum rumah berpagar coklat muda itu, kuputuskan untuk berhenti. Dadaku berdebar menimbang hal besar yang akan kulakukan: menelanjangi kabar dari pelangganku sendiri.
Pelan-pelan kuraba amplop merah itu, dari ujung yang terdapat bercak merah mengering berbentuk pulau, telunjukku berjalan menyusur. Pada isolasi yang dipaksakan menempel, prangko berwarna biru pucat, kemudian menyusur ke bawah hingga keempat sudutnya selesai kujelajahi. Hanya berisi surat, gumamku.
Perlahan kukeluarkan pisau kecil yang selalu ada di dalam tas pinggangku. Kukerat ujung amplop itu, kukerat isolasi yang menempel di sana dengan hati-hati. Aku masih ada lem untuk menutupnya kembali, pikirku. Dengan tangan gemetar, kuselesaikan menelanjangi amplop merah yang telah lecek itu.
Akupun berhenti sejenak, kurasa sudah telanjang amplop merah itu. Kuhentikan aktivitas gila ini. Kuhisap dalam-dalam sisa udara yang ada di sekitarku, agak sesak terasa di d**a. Ini memang perbuatan yang sangat gila buatku. Kututup mataku sejenak, kemudian kutengok ke kanan, kiri, kusandarkan kepalaku di tubuh pohon besar itu. Sial! Berat sekali rasanya.
Dengan perasaan yang tidak karuan, kuambil sebuah kertas di dalam amplop. Ini adalah kali pertama kutelanjangi kabar pelangganku. Tanganku gemetar mengeluarkan secarik kertas yang sudah kusam dari tubuh amplop merah ini. Sangat hati-hati. Kemudian dengan hati yang berusaha kubendung gelisah yang menjeratnya, aku membacanya. Sepucuk surat beramplop merah yang telah lecek untuk perempuan bernama Sore Anjani.
***
“Apa isi suratnya?” ucapku ketus. Ia hanya menggelang. “Kukira aku tak patut jika menceritakan surat penuh kesedihan ini.” kulihat ia mengusap mata. Sial. Kenapa ia jadi seperti terharu. Tanda tanya besar lahir di kepalaku. Namun seketika buyar, ketika salah satu perempuan yang main voli di depan kami memintaku untuk melemparkan bola yang menggelinding di depanku.