Bab 51: Ketakutan Itu Kembali Gelap, hitam, suram. Mungkin cuma tiga kata itu yang bisa menggambarkan betapa gue enggak bisa melihat setitik pun cahaya. Ada kain tebal yang menutupi mata gue dan ikatannya cukup kencang. Dengan sangat terburu - buru orang ini membawa gue. Menuruni tangga, melewati jalan setapak berpasir dan berbatu, sampai akhirnya menaikkan gue ke dalam sebuah kendaraan --- yang gue enggak tau ini mobil atau apa, tapi yang jelas kayak bak terbuka gitu. Tangan gue diikat ke belakang, begitu pula kaki gue. Panas gue rasakan ketika tali yang tampak tebal itu beberapa kali menggesek kasar kulit gue, lalu diikuti rasa perih setelahnya. Ah, mungkin lecet. Sama seperti telapak kaki gue yang mungkin sudah enggak karuan bentuknya. Sakit banget dan perih. Sebelumnya beber

