Sejak menapakkan kakinya di Mansion Barra yang sangat besar dan megah itu, Lily tetap diam dan membungkam mulutnya, berbagai rayuan Barra tidak ia perdulikan, hanya diam yang mampu ia lakukan, karna berdebat dengan sosok pria yang posesif dan arogan tidak akan pernah menemukan titik temu.
Lily sebelumnya telah berontak, ia tidak ingin tinggal di Mansion Barra, karna ingin terus melanjutkan hidupnya tanpa ada yang mengganggunya, apa lagi setelah ia tahu siapa sosok penguntitnya selama ini, Barra bukanlah orang yang sembarangan, kedudukannya sangat tinggi dan penting, Lily merasa malu jika menjadi pasangan hidupnya, ia akan seperti benalu di kehidupan pria itu, meski pun Barra telah mengambil hal yang paling berharga di hidupnya.
Pintu kamarnya terbuka, Lily yang sedang duduk di pinggir ranjang melihat kearah pintu yang terbuka, menampakkan sosok pria yang bertubuh tinggi, berkulit putih, dan bermata elang, tatapan mereka bertemu, Barra menampakkan senyum penuh pesonanya, tapi Lily melihatnya tanpa minat, dan sedetik kemudia ia memutus pandangan mereka.
Barra menghampiri Lily dan berjongkok di hadapan wanita itu, Barra mengusap lembut punggung tangan Lily dan menciumnya sekilas. "Kamu masih marah sama aku?" tanyanya dengan nada lembut.
Lily memutar matanya jengah, dan tidak memperdulikan Barra yang terus menatapnya.
"Lily,, ayolah,, sudah cukup dari tadi sore kamu mendiamkan ku, ini sudah malam, dan kau belum mengisi perut mu walau sesuap nasi, kasian calon anak kita."
Pukulan yang mendarat di kepala Barra dan suara lantang Lily menyebut namanya menggema di dalam kamar kedap suara itu.
"BARRA."
"Ku mohon, hentikan ucapan konyol mu, aku tidak sudi mengandung anak dari pria penguntit seperti mu."
Barra yang mendengar ucapan Lily menghembus nafas gusar, lalu ia tersenyum, membuat Lily mengerutkan keningnya.
"Aku sudah lama mengumpulkan keberanianku untuk bertemu dengan mu Baby, dan setelah banyak hal yang aku lalui agar selalu dapat memantau setiap gerak gerikmu, kini kamu dengan nyata duduk di hadapanku, dan aku telah memiliki tubuhmu, maka tidak ada alasan untuk kamu pergi dari sisiku."
"Kamu gila Barra, benar-benar gila, aku benci pria posesif sepertimu." bentak Lily sambil menghempaskan genggaman tangan Barra.
Kini Barra telah berdiri dan memasukkan kedua tangannya di saku celana, sambil memandang wanitanya yang akan menguji kesabarannya dan menantang jiwa posesifnya, meski mereka telah tidur bersama.
Barra menghembuskan nafas kasar, kemudian ia berjalan menhampiri Lily, membuat wanita itu terus berjalan mundur dan pergerakannya terhenti saat punggungnya telah menyentuh lemari lima pintu milik Barra.
Lily merasakan cemas di hatinya, ia takut bila Barra akan memperlakukannya seperti sebelumnya. "Apa yang ingin kamu lakukan, Barra?" tanyanya dengan wajah penuh kecemasan.
Barra tidak menjawab pertanyaan Lily, ia melanjutkan aksinya dengan cara mengunci pergerakan Lily di kedua sisi tanganny.
Barra terus menatap wajah natural Lily, tidak mengatakan apa pun, dengan posisi mereka yang hanya berjarak beberapa senti saja, membuat Barra bisa merasakan hangatnya deru nafas Lily.
Lily menjaga jarak mereka dengan memegang d**a bidang Barra dengan kedua tangannya, karna pria itu perlahan terus mendekat membuat Lily semakin cemas.
"Barra,, apa yang kamu lakukan? menjauhlah, sebelum aku menggigit lenganmu."
"Gigitlah sekuat tenaga mu, jika itu bisa membuatmu puas, dan tetap ingin berada di sisiku."
"Jangan konyol Barra, cinta tidak dapat di paksa, cinta akan berlabuh jika seseorang merasa nyaman, dan di hargai."
"Maka, belajarlah menyamankan dirimu di sisiku."
"Tidak Barra, itu tidak mungkin, aku tau siapa kamu dan latar belakang mu, dan kamu pasti tahu siapa aku, karna kamu menguntitku selama ini, kita jauh berbeda."
"Perbedaan status seseorang tidak menjadi penghalang untuk saling mencintai, Lily."
"Tapi ini tidak mungkin Barra, keluargamu pasti tidak setuju dan menentang keputusan mu, aku tidak ingin hati ku terluka Barra, aku hanya wanita sebatang kara yang di tinggal kedua orang tuaku sedari kecil."
"Aku pun sama,, Lily, aku sendiri, aku hidup sebatang kara, selama ini aku berjuang semampuku agar aku bisa memiliki apa yang aku inginkan,tanpa mencemaskan hari esok yang akan membuat perutku kelaparan, ku kumpulkan pundian uang demi bisa mencarimu, dan akan membahagiakan mu suatu saat."
Lily mengkerutkan keningnya mendengar ucapan Barra, "apa maksudmu, apa sebelumnya kita pernah saling mengenal."
Bara tidak menjawab pertanyaan itu, tangan kirinya memegang pinggang, dan tangan kanannya memegang tengkuk leher Lily, Barra memaksa mencium wanita itu meskipun mendapat tolakan, tetapi ia terus berusaha, memanfaatkan mulut Lily yang terbuka, ia langsung menjelajahi bibir Lily yang membuatnya candu dan terus merindu.
Lily memukul punggung Barra, tetapi pria itu tak kunjung melepasnya, entah setan apa yang merasuki pria itu, ciuman yang ia berikan sangat kasar, tidak seperti sebelumnya, pria itu sangat lembut memperlakukannya, mungkin karna pengaruh obat yang waktu itu ia berikan kepada Lily.
Barra melepas ciuman yang tak terbalas itu, deru nafasnya menggebu, ia menghirup oksigen lebih banyak untuk menetralkan deru nafasnya, begitu pula dengan Lily, wanita itu melakukan hal yang sama.
"Turuti kemauanku, tampa bantahan, selagi aku memperlakukanmu dengan lembut, jangan pancing aku untuk melakukan hal kasar,, ingat itu Lily, kedepannya aku tidak mau penolakan, karna kamu hanya milikku." ucap Barra penuh penekatan di setiap katanya, dan tatapan tidak menerima penolkan, lalu Barra sejenak mencium pucuk kepala wanita yang masih mencerna setiap perkataannya itu, sedetik kemudian ia melenggang keluar, tidak memperdulikan wajah mematung Lily.
Bersambung..
____iklan___
Sorry gak ada iklan, karna gak ada yang sponsor???